Apa Ini Masalah?

1148 Kata
 -*-*-*- “Dia barusan ngapain … ,” lirih Gianna masih tak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun detik berikutnya ia justru sadar dan pipinya perlahan merona. Kedua tangannya seketika menutup mulutnya demi menahan senyumannya.   ‘Dia cium pipi gue?!’ serunya berteriak di dalam batinnya.   *   Di dalam kelas, Gianna sedikit tidak bisa fokus. Bayang-banyang saat Kenan mencium pipinya membuatnya tidak bisa lupa.   *   Selesai kelas, Gianna masih terbayang-terbayang dengan perbuatan yang dilakukan Kenan. Ia pun keluar dari kelasnya dengan hati yang berbunga. Ia pun sampai di tangga dan akan menuruninya. Ada beberapa mahasiswi yang akan lewat berpapasan dengan Gianna dan Gianna pun menepikan tubuhnya agar tidak bertabrakan.   Namun meskipun ia sudah berusaha menjauh, seseorang menyenggolnya dan itu membuat ponsel pintar yang di bawa orang itu jatuh. Namun beruntung, refleks Gianna sedang berfungsi dengan maksimal hari itu. Ia menangkap ponsel orang itu.   ‘Astaga, hari ini kenapa sih? Kenapa gue nabrak orang mulu? Sampe tiga kali pula,’ Gianna yang kemudian menoleh pada orang sudah ditabraknya.   “Sorry ya, ini hp elo-” -Gianna berhenti bicara begitu melihat orang yang di tabraknya adalah Tatiana.- “Eh, Ana?” Gianna seketika ternsenyum.   Namun respon Tatiana tidak seperti biasanya, ia merebut ponselnya yang di sodorkan Gianna sedikit kasar dan segera meninggalkan Gianna tanpa sepatah kata pun.   Gianna seketika bingung, perasaan bersalah tak berdasar seketika mendarat di hatinya. ‘Dia kenapa?’ batin Gianna menatap punggung Tatiana yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang.   Gianna kembali menuruni tangga dengan perasaan yang yang aneh. Ia benar-benar tak tau mengapa Tatiana bersikap begitu.   *   Seperti biasa, Gianna akan diam di dalam perpustakaan untuk menghabiskan waktunya. Entah untuk sekedar membaca atau mengerjakan tugas, ia akan melakukannya di perpustakaan.   Kali ini Gianna melakukannya karena ia memikirkan sikap yang di lakukan Tatiana padanya.   Segala pertanyaan timbul di benaknya dan ia mulai menyusun semua momen-momennya bersama Tatiana. Ia ingin tau apa kesalahan yang sudah di buatnya sampai Tatiana bersikap seperti itu padanya.   Namun nihil, ia tidak pernah merasa melakukan hal yang berlebihan dan sembrono. “Gue ngelakuin apa sampe dia marah begitu ke gue?” ujar Gianna lirih.   *   Setelah semua jamnya selesai, Gianna pun berniat pulang. Saat di gerbang, entah mengapa ia melihat mobil Geno yang sudah berdiam dengan Geno yang berdiri di depan pintu mobil, ia memakai pakaian casual dan memainkan ponselnya.   Gianna sedikit berlari menghampiri Geno. “Lo ngapain?” tanya Gianna.   Geno mendongak mendengar suara Gianna. “Lo darimana aja sih? Gue telfon ngga lo angkat?” balas Geno menjawab pertanyaan Gianna dengan wajah yang sangat kesal. Sepertinya ia sudah menunggu Gianna dalam waktu yang cukup lama.   “Hp gue mode silent, soalnya tadi di perpus, terus ada kelas juga,” -jawab Gianna dengan tubuh waspada seperti merasa takut pada Geno.- “Kenapa?”   Mereka dekat dan sering berkelahi, tapi tetap saja, Geno seorang laki-laki dan terkadang bisa menakutkan dan entah mengapa kali ini pandangan Geno membuat Gianna takut, seperti ada aura amarah yang terpancar dari wajahnya dan itu bukan sekedar kesal biasa.   “Ayo pulang, gue mau cerita,” ujar datar namun tegas. Geno kemudian menegakkan tubuhnya dari sandaran.   “O-oke … ,” Gianna mengangguk paham. Ia kemudian mengikuti perintah Geno dan melangkahkan kakinya menuju mobil Geno.   “Ji!” seseorang tiba-tiba saja memanggil Gianna membuat Gianna dan Geno berhenti. Gianna kemudian menoleh dan ternyata itu Kenan.   Gianna berniat balik menyapa, tapi entah mengapa, ia tak jadi melakukan hal itu karena melihat Tatiana yang berdiri di sebelah Kenan. Wajahnya masih sama seperti saat ia bertemu Gianna di tangga.   Namun saat Gianna akan menjawab, Geno tiba-tiba saja sudah berada di sebelah Gianna dan menggandengnya. “Nurut sama gue dan masuk ke mobil sekarang, nanti gue jelasin di mobil,” ujar Geno berbisik di telinga Gianna dan Gianna seketika kebingungan serta merasa aneh dengan tingkah Geno.   “Hai juga Ken! Gue ada perlu sama Gianna, jadi besok lagi deh ya elo ngobrol sama Gianna, bye!” Geno mewakili Gianna menjawab sapaan Kenan.   “Elo kenapa sih?” Gianna seketika protes dengan tingkah Geno, tapi ia tetap menurut dan mengikuti Geno yang membawanya.   “Masuk dulu deh ke mobil,” Geno hanya menjawab sedapatnya dan melepaskan genggaman tangannya dari Gianna. Ia membiarkan Gianna masuk sendiri ke dalam mobilnya.   Gianna seketika merengut dan mengomel. “Apasih ngga jelas, dateng-dateng marah,” kesal Gianna seraya masuk ke dalam mobil.   Didalam mobil, entah mengapa sepanjang jalan mereka terdiam.   Gianna yang merasa masuk ke dalam mobil dengan paksaan seketika merasa kesal karena sejak tadi Geno hanya diam dan tak berkata-kata dengan wajah menahan amarah. Tidak tahan, Gianna memulai pembicaraan lebih dulu. “Lo kenapa sih? Dari tadi ngga jelas. Katanya mau ngomong, tapi sekarang lo diem aja kayak batu,” sindir Gianna dengan mata menatap keluar jendela. Ia malas menatap Geno.   Sejenak Geno terdiam, namun saat lampu merah menyala, ia mulai menarik nafas dan membuangnya beberapa kali.   “Sebelum gue cerita, gue mau tanya,” ujar Geno seraya menatap Gianna yang masih membuang muka.   “Hm,” karena Gianna sudah merasa kesal, ia hanya menjawab seadanya saja.   “Ceritain apa yang udah terjadi sama elo dan Ina dan ceritain apa aja yang udah lakuin ke elo! Baik buruk, apa pun itu ceritain!” pinta Geno dengan nada suara yang serius. Kemudian tepat saat lampu hijau, Geno kembali menjalankan mobilnya.   “Tsk!” meski tak tau apa alasannya, Gianna menurut dan menceritkan semua yang berhubungan dengan Tatiana dan tak lupa mengikutsertakan yang terjadi saat mereka di tangga.   “Agh!” -selesai mendengarkan Gianna, Geno mengusap kasar wajahnya dengan tangannya.- “Kita berhenti di kafe, di rumah masih ada Austine dan gue ngga mau kita di kepoin,” usai bicara begitu, Geno mencari kafe yang cocok dan jauh dari kawasan kampus Gianna. Gianna hanya diam dan tetap membuang pandangan matanya keluar jendela.   Saat sampai, mereka masuk dan memesan minuman saja, karena mereka bukan berniat untuk nongkrong, melainkan diskusi.   “Jadi itu udah semua yang terjadi sama elo dan Ina?” tanya Geno dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Gianna yang sedang meminum milkshake coklatnya seketika melirik.   “Iya!” jawab Gianna sedikit berseru. Ia masih kesal.   “Lo ngga usah emosi, cukup gue aja,” ujar Geno masih dengan wajah yang serius.   “Oke-oke!” balas Gianna masih dengan nada tingginya.   “Tsk … ,” -Geno memijat keningnya dengan tangan kanannya, ia  sepertinya tengah meregenarasi seluruh rasa sabarnya agar tidak berakhir menyakiti Gianna. Gianna memang menyebalkan.- “Oke, jadi gue mau tunjukin ini,” Geno menyodorkan layar ponselnya.   “Apa ini?” tanya Gianna tanpa ada niat mendekat dan hanya melihat dari kejauhan.   “Ina kirim chat ini ke gue,” kata Geno.   Gianna mulai penasaran mendengar nama ‘Ina’. Ia kemudian meraih ponsel Geno dan membacanya.   Gianna terdiam membaca itu dan mecoba mencerna semuanya. “Apa-apan ini??” kata Gianna tak percaya dengan apa yang ia lihat.     -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN