-*-*-*-
“Apa-apan ini??” kata Gianna tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Dari semua cerita elo dan chat itu, gue yakin ada yang beres sama Ina,” celetuk Geno, menatap Gianna serius.
Gianna mendongak menatap Geno kemudian kembali pada layar ponsel.
Chat
-Ina-
Ina
-Gue cuma mau bilang sama elo
-Kalo emang Kenan dan Jian udah ngga ada keperluan pemotretan
-Gue muak liat mereka berdua pergi bareng
-Terutama pagi ini
Gianna terdiam membaca keempat pesan terakhir yang dikirim oleh Ina dari seluruh percakapan.
“ ‘Terutama pagi ini’,” -Geno teringat pesan itu dan menatap Gianna cukup tajam.- “Emang kalian berdua ngapain?” tanya Geno membuat Gianna harus mendongak lagi dan menatap Geno.
“Hah?” -Gianna mendengar pertanyaan itu seketika teringat dengan yang sudah dilakukan Kenan padanya terakhir kali.- “Kayaknya ngga ada kejadian yang di pergokin sama Ana pagi ini,” ucap Gianna kikuk sembari mengembalikan ponsel Geno.
“Ngga ada yang di pergokin, mungkin itu cuma pendapat lo. Siapa yang tau kalo ternyata ada orang lewat yang ngga elo liat?” bantah Geno. Ia tidak butaa. Ia tau Kenan dan Gianna sudah sangat dekat, sehingga tidak mungkin setiap mereka pergi, mereka hanya akan mengobrol. Belum lagi, Geno dan Kenan adalah sesama laki-laki. Geno bisa mengetahui niat Kenan hanya dengan melihat gerak-geriknya.
“Elo … tau apa? Kenan bilang sesuatu sama elo?” dengan polosnya Gianna bertanya seperti itu dan membuat segalanya jelas.
“Ampun, Jian. Gue bukan anak kecil. Cuma ngeliat elo sama Kenan jalan bareng aja gue bisa tau apa aja yang udah kalian lakuin, meskipun gue ngga tau jelasnya, se’engaknya gue paham hubungan kalian kayak apa,” tutur Geno masih dengan wajah seriusnya. Entah mengapa Gianna tak suka itu.
“Oke-oke! Jadi yang mau elo sampein apa?” tanya Gianna mempercepat. Ia ingin membuat semuanya jelas.
“Ina, cemburu sama elo,” sahut Geno. Ia terlihat yakin menjawab itu sementara Gianna justru mengernyitkan dahi.
“Hah? Ngapain? Mereka kan saudara kandung. Kenapa harus cemburu?” sanggah Gianna tak percaya. Dengan pendapat Geno.
“Justru itu! Mereka saudara kembar dan kalian sama aja anak yang baru lulus SMA, masih labil. Menurut lo, emang mereka bisa, ngga ada kepikiran rasa sayang ‘yang berbeda’ ke saudara mereka? Mungkin bisa dan banyak yang ngga ada pikiran rasa semacam itu ke saudara kandung mereka sendiri. Tapi tetep aja itu ngga menutup kemungkinan ada yang punya perasaan begitu ke saudara kandung mereka sendiri, karena mereka itu manusia normal yang bisa suka sama lawan jenis,” jelas Geno panjang lebar membuat Gianna terdiam mendengarkan.
“Jadi … menurut lo Ana cemburu?” tanya Gianna setelah dirasa semuanya masuk akal setelah ia memikirkannya baik-baik.
Geno mengedikkan bahunya
“Ya, kurang lebih,” katanya.
“Terus gue harus apa?” Gianna bingung. Ia tidak tau jika Tatiana akan cemburu padanya setelah semua yang mereka lakukan bersama. Disamping itu, Gianna tidak terpikir kalau Tatiana akan cemburu dengan saudara kandungnya sendiri. Ia benar-benar tidak terpikirkan hal itu sama sekali.
“Untuk sekarang ngga ada. Karna keberadaan elo di kampus dan ketemu Kenan aja udah jadi masalah bagi dia. Dia itu cuma seorang adik yang ngga mau kakaknya di ambil sama orang lain. Keliatan egois emang, tapi dia cuma adik yang belum tau apa-apa, alias labil,” jelas Geno terdengar begitu bijak dan masuk akal sehingga Gianna bisa mengerti dengan mudah.
Gianna bingung, ia tidak bisa berkata-kata mendengar semua itu, karena ia sendiri masih kaget dengan sikap Tatiana yang begitu kepadanya, padahal sebelumnya Tatiana lah yang mendekati Gianna lebih dulu dan membuat hubungan baik antar teman.
“Jadi gue diem aja? Apa gue harus jauhin Kenan?”
“Itu juga susah sih. Gue tau lo sama Kenan saling suka,” sahut Geno membuat Gianna melebarkan mata mendengarnya.
“Heh! Ngga!” seru Gianna buru-buru menyanggah dengan tegas.
“Kalo bukan suka apa hah? Lo kira gue butaa? Orang asing aja pasti tau kalo mereka ngeliat lo waktu berdua’an sama Kenan,” jelas Geno tepat sasaran membuat Gianna bungkam. Ia memang merasakan hal itu, tetapi ia tidak ingin terlalu percaya diri dan kecewa, sehingga ia memilih untuk bersikap biasa-biasa saja.
“Iya gue juga ngerasa gitu, gue cuma ngga mau kepedean aja. Gue takut kalo udah ngerasa seneng, ternyata cuma gue sendiri yang ngerasa begitu,” tutur Gianna sembari menyesap minumannya.
“Oke lo bener, gue juga ngga bisa yakinin perasaan lo seratus persen, karena gue cuma ngomong berdasarkan feeling. Tapi satu hal yang mau gue kasih tau. Minta kepastian dan kejelasan,” -ujar Geno memberitahu.- “Lo bener. Elo ngga pengen kepedean, tapi elo harus inget! Elo jangan selamanya merasa begitu dan diem aja, itu sama aja nyakitin diri lo sendiri,”
Mendengar semua ucapan Geno membuat Gianna terdiam lagi. Ia tau Geno itu memang lebih tua darinya meskipun saat ini menurut tingkatan kelas, Geno adalah adik kelasnya. Kenapa bisa lebih tua? Karena Geno memang terlahir dua tahun lebih dulu dari Gianna. Geno yang saat ini masih berada di bangku SMA terkadang membuat Gianna lupa kalau Geno sebenarnya lebih tua darinya.
“Gue kadang lupa kalo lo itu lebih tua dari gue, jadi setiap elo bicara bijak kayak gini bikin gue speechless,” kata Gianna. Hanya itu yang bisa dia ucapkan karena ia memang di buat terdiam setiap kali Geno bicara sesuatu yang agak berat.
“Apaan sih,” -Geno membuang muka dan menatap acak apa saja yang bisa di lihatnya.- “Tapi jujur, gue suka kalo elo bisa sama Kenan,” ucap Geno kemudian mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa?” Gianna seketika menyahut.
“Kalian cocok di mata gue,” -ujarnya.- “Lo tau sendiri kalo elo itu ngga pernah cerita sebelumnya tentang masalah elo. Gue yang bela-belain dateng dari luar aja ngga elo tanggepin, padahal gue udah berusaha ngebuat lo cerita sama gue,”
“Tapi dia? Baru aja ajak elo kenalan, tau-tau lo udah cerita semua masalah lo sampe ke akar-akarnya. Kalo bukan cocok apa namanya? Di samping itu, gue lebih suka lo yang sekarang semenjak elo ketemu Kenan. Gue ngga tau gimana perasaan elo dan apa yang lo bakal lakuin ke depannya, tapi please, tetep jadi Gianna yang sama kayak saat ini. Jujur sama perasaan dan ngga pendem masalah sendirian,” ungkap Geno.
Gianna seketika tersenyum mendengarnya.
“Thank’s. Sorry juga kalo selama ini gue bikin elo susah karna ngga pernah cerita sama elo,” ujarnya.
Sejenak, keheningan menghampiri mereka dan hanya bisa terdengar sedikit suara dari interaksi para pengunjung lain di dalam kafe yang jaraknya berjauhan dari mereka. Namun detik berikutnya setelah semua keheningan itu, Gianna sadar dan memulai pembicaraan.
“Jadi menurut lo, gue harus lakuin apa buat selesai’in masalah ini?”
“Untuk saat ini ngga ada,” -balas Geno seraya meminum minumannya.- “Tapi biar gue yang lakuin dulu. Gue bakal coba ngobrol sama Ina,”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-