-*-*-*-
“Tapi biar gue yang lakuin dulu. Gue bakal coba ngobrol sama Ina,”
Geno mengatakan itu kemarin, akan tetapi Gianna sama sekali tidak tau apa yang akan di lakukan Geno. Geno mengatakan, kalau Gianna bisa diam dan menunggu saja. Geno bahkan tidak melarang Gianna menemui Kenan.
‘Apa dia bakal temuin Ina hari ini?’ batin Gianna menatap kosong pohon di depannya.
Gianna saat ini sedang duduk di bangku halaman kampus yang sedikit ramai. Ia baru saja mengikuti satu mata kuliah dan akan mengikuti kelasnya yang kedua sekitar dua jam lagi. Sepertinya ia sedang suntuk, sehingga ia ingin suasana baru, tidak hanya di dalam perpus seperti hari-hari biasanya.
Ia pun tenggelam dalam suasana halaman yang agak ramai. Matanya kosong menatap ke depan, namun pikirannya penuh dengan segala macam hal acak.
“Hai Jian! Kok sendirian? Nunggu siapa?”
Sebuah suara yang tiba-tiba saja datang dengan lantang membuat Gianna sedikit tersentak dan menoleh.
“Ya?!” sahutnya dengan tubuh yang membeku dan memasang kuda-kuda waspada.
“Astaga tadi ngelamun ya? Jangan ngelamun ih!” rupanya itu adalah Sasami. Ah, kapan terakhir kali Gianna melihatnya? Sudah sangat lama mereka tidak berjumpa, bahkan sekedar berpapasan pun Gianna tidak ingat apakah itu terjadi atau tidak.
“Ha-hai Sasa,” Gianna yang masih terkejut melambaikan tangannya tanpa sadar.
“Hahaha, lo kaget ya? Boleh duduk disini?” ujar Sasami, seperti biasa, seperti saat mereka bertemu pertama kali. Masih ceria dan penuh senyuman.
Gianna seketika mengangguk, karena jujur saja ia masih terkejut dengan kedatangan Sasami yang tidak ia duga.
“Doyan banget sendirian deh. Ngga ada niat cari temen gitu?” tanya Sasami setelah mendaratkan tubuhnya di sebelah Gianna.
Gianna yang sudah mulai sadar dari keterkejutannya, mulai bisa menanggapi dengan normal.
“Bukan ngga mau, Sa. Tapi gue masih belum berani,” ujarnya jujur. Ucapan itu seketika di balas anggukan paham dari Sasami.
“Iya sih, susah. Masalah lo termasuk lama bisa ilangnya,” balasnya. Ia tentunya paham, mengingat ia pernah berteman dengan salah satu orang yang andil dalam pergosipan Gianna, yang bahkan tidak hanya sekedar menjadi pendengar.
“Btw, elo apa kabar?” celetuk Gianna mengalihkan arah pembicaraan. Ia tidak ingin membahas lagi hal yang bisa menjadi tambahan beban pikirannya.
“Always good,” -jawabnya dengan cepat lengkap dengan senyuman andalannya.- “Lo sendiri gimana? Gue perhatiin ada yang ngeganjel ya?”
Tebakan Sasami yang benar adanya itu entah mengapa membuat Gianna bingung.
“Mm … sedikit?” ujarnya ragu-ragu. Gianna sepertinya sedang tidak ingin terbuka.
“Ah … gue tau, lo pasti ngga nyaman kalo cerita masalah pribadi sama orang yang ngga deket sama elo,” ucap Sasami membuat Gianna seketika merasa tak enak karena merasa sudah salah bicara.
“Ngga, ngga gitu Sa! Maksud gue,” Gianna yang berusaha menyangkal dihentikan Sasami yang ikut angkat bicara.
“Hei-hei, slow!” -Sasami justru terkekeh melihat Gianna yang panik.- “Lo ngga salah kali, kalo ngga mau cerita ke orang yang bersangkutan. Gue juga salah kalo tiba-tiba kepo sama masalah orang yang baru gue kenal,” tutur Sasami membuat Gianna bingung dan meloading untuk sesaat.
“Emm … terus? Yang mau lo sampein sebenernya apa?” tanya Gianna masih tak mengerti.
“Gue ngga tau, lo saat ini lagi mikirin masalah yang gue tau atau ngga, tapi gue cuma mau kasih tau, kalo gue tau sesuatu dan mungkin jadi bagian yang mungkin aja jadi masalah buat lo, terlepas itu udah terjadi atau belum saat ini,” ungkapnya menatap Gianna dengan tatapan yang memancarkan rasa bersalah.
Gianna seketika berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan. Sampai pada akhirnya begitu ia mengerti, ia segera mengumpulkan segala spekulasi dan logika dan mendiskusikannya di dalam kepala yang pada akhirnya ia menemukan sebuah kepastian.
“Lo tau apa soal Ana?” ujarnya balas menatap Sasami dengan pandangan serius dan tanpa sadar, tatapan Gianna membuat Sasami sedikit gugup.
“Oke, gue ngga bakal mengelak atau membela diri karena menurut gue, gue juga bersalah,” -Sasami menelan salivanya sejenak sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya.- “Jadi kemarin … ,”
Sasami menceritakan, kalau kemarin ia sedang istirahat bersama Tatiana di foodcourt. Mereka bersantai di sana seperti hari-hari biasa mereka jika sedang beristirahat atau sekedar ingin makan. Mereka sedang mengobrol sampai akhirnya seseorang yang mereka kenal datang.
Mereka memang mengenal orang itu, tetapi sebuah hal yang sedikit langka jika mereka duduk bersama dan mengobrol, karena mereka tidak seakrab itu untuk duduk bersama.
Orang itu memulai basa-basi dengan menyapa dan menanyakan kabar Sasami dan Tatiana, mereka pun mengobrol dengan segala percakapan formalitas yang sedikit canggung, sampai akhirnya orang itu memulai pembicaaran yang sedikit serius, atau mungkin lebih tepatnya ia sudah selesai berbasa-basi dan mengutarakan niat awalnya mendatangi Sasami dan juga Tatiana.
Mungkin lebih tepatnya, tujuannya adalah Tatiana, karena semua inti pembicaraan yang di utarakan mengacu pada Tatiana dan juga Kenan.
Mendengar nama Kenan di sebut, Gianna semakin yakin kalau yang akan di ceritakan Sasami memang berhubungan dengan hal yang sudah membuatnya berpikir begitu berat.
Orang itu tetap mengawalinya dengan berbasa-basi, akan tetapi, entah mengapa Sasami merasa kalau semua pembicaraan yang di bawa orang itu memiliki tujuan yang bukan sekedar ‘bertanya dan memberitahu’.
Sasami yang tidak tau apa-apa dan tidak terlibat dalam pembahasan pun hanya bisa menyimak saat itu.
Sampai akhirnya Sasami menyadari kalau pemikirannya benar.
Orang itu memang datang bukan untuk berbasa-basi. Ia datang dengan membawa pemantik dan juga minyak.
Sasami yang sadar akan hal itu berusaha menengahi dan tidak ingin Tatiana tersulut, akan tetapi rupanya Sasami tidak memberi pengaruh dan Tatiana pada akhirnya terbakar. Sasami tidak bisa berbuat apa-apa hari itu dan hanya bisa diam sementara orang yang datang dan membuat kacau itu terus berada disini Tatiana dan membuat semuanya hangus.
“Apa kamu tau apa yang di bahas orang itu?” tanya Sasami kemudian saat melihatGianna begitu fokus mendengarkan ceritanya.
Gianna mengangguk. Ia paham benar dengan semua yang di ceritakan Sasami. Di tambah dengan pesan yang di tunjukkan oleh Geno kemarin, semuanya menjadi sangat jelas.
“Terlalu jelas,” -ucap Gianna. Ia paham benar kalau yang menjadi inti pembicaraan orang yang di maksud Sasami adalah dirinya dan Kenan.
“Gue ngga ngerti apa mau orang itu sampe buat Tia cemburu dan marah sama elo. Apalagi dia sampe motret elo diem-diem cuma buat di tunjukin ke Tia,” -Sasami sejenak diam, ia nampak mengingat-ingat sesuatu.- “Gue tau, ini mungkin bikin lo panas, tapi gue rasa, elo perlu tau.”
Gianna yang sedang serius menatap ke depan kemudian menengok begitu mendengar ucapan Sasami.
“Apa itu?”
“Dia bilang, kalo dia sempet minta tolong ke elo buat ngomong ke Kenan kalo dia mau jadi modelnya lagi, tapi katanya elo nolak itu karna elo udah merasa jadi model yang penting dan ngga mau tersingkir,” tutur Sasami menatap Gianna dengan raut wajah merasa bersalah.
“Pfft!” -Gianna justru tertawa mendengar itu.- “Utama? Ngga mau tersingkir? Oh please, gue bahkan ngga tau apa yang gue lakuin selama Kenan motret gue, apalagi gue ngga ngerti soal seni dari pemotretan. Apa yang bisa gue banggain? Gue cuma ngerasa kalo yang gue lakuin ke Kenan itu cuma sekedar bantuan sebagai sesama mahasiswa di kampus yang sama,” cerocos Gianna merasa sedikit kesal dengan fitnah yang sudah di buat untuknya.
“I know right? Sebagai orang yang kenal Tia dan Kenan cukup lama, gue ngga bisa percaya itu semua, gue tau betul gimana Kenan yang memang super pemilih dan lengket ke elo,” sambut Sasami ikut mendukung Gianna.
“Ah, lengket?” -entah mengapa mendengar yang satu itu Gianna terlihat terkejut.- “Dia keliatan begitu di mata lo?”
“Siapa pun yang liat langsung tau kalo Kenan yang selalu nempel ke elo, Jian. Lo cuek jutek gitu gimana caranya bisa dianggep nempelin Kenan?” sindir Sasami, namun Gianna tak sakit hati akan hal itu.
“Orang-orang yang bilang kalo elo yang ngedeketin Kenan, mereka itu cemburu dan cara mereka udah nunjukin cara cemburu yang salah,” tutur Sasami dengan lembut.
“Jian, elo ngga pernah ngelakuin hal salah dari semua tuduhan yang elo terima. Elo berhak deket sama siapa pun, lo berhak lakuin apapun yang elo mau, selama itu ngga merugikan siapapun termasuk diri lo sendiri,”
“Semua mulut yang nge-hakimin elo, mereka semua yang ngga tau apa yang mereka lakuin yang otomatis mereka ngga tau kalo itu sesuatu yang salah. Jadi please. Jangan sedih berlarut-larut karna lo ngga berhak buat tangisin kesalahan yang ngga elo lakuin,”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-