Ayo Kita Kencan!

1171 Kata
 -*-*-*- Siang ini, Geno memutuskan untuk datang ke kampus Gianna, karena sekolahnya tengah mengadakan rapat guru.   Sebelumnya, ia sudah menghubungi Kenan agar bisa bertemu Tatiana, karena Tatiana terlalu slow respon membalas semua pesan Geno.   Kenan sama sekali tidak tau mengenai masalah yang terjadi antara Tatiana dan Gianna, sehingga ia tidak terlalu heran dan ingin tau saat Geno ingin menemui Tatiana.   Kini Geno sedang berdiri di depan mobilnya seperti saat ia menjemput Gianna tempo hari.   Chat -Kenan-   Kenan -Gue ngga tau kapan kelas Ina selesai -Tapi coba elo masuk aja -Hubungin aja, gue sekarang lagi ada quiz   Geno -oke, - thanks bro   Geno menutup roomchatnya dengan Kenan dan memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia masuk dengan pedenya dan bertingkah seperti seorang mahasiswa yang kuliah di sana.   Beberapa saat berjalan, Geno memilih untuk duduk di bangku halaman terdekat. Geno mengeluarkan ponselnya lagi dan ia memutuskan untuk menghubungi Tatiana.   Awalnya pesan Geno tak mendapat balasan, meskipun terlihat status yang berada di bawah nama ‘Ina’ tertulis ‘online’.   “Dia emang lagi ada kelas atau sengaja cuekin gu-” Geno tak melanjutkan ucapannya saat ia mendongak dan bertemu mata dengan orang yang sedang ia tunggu.   Tatiana.   Ia melebarkan matanya terkejut karena melihat Geno yang tengah duduk di bangku panjang dengan mata yang sama terkejutnya. “Sejak kapan lo ada di kampus?” ucapnya spontan masih dengan mata melotot.   “Haha! Baru aja! Kenapa lo ngga bales chat gue?” Geno justru terkekeh karena ia tidak perlu usaha lebih untuk mencari Tatiana ke seluruh penjuru kampus.   “Gue baru aja keluar kelas,” jawab Tatiana jujur. Ia memang baru saja keluar dari kelas dan membuka ponselnya. Akan tetapi, ia memang berniat menghindari Geno hari ini.   “Oh,” Geno mengangguk paham bertingkah seakan ia sepenuhnya percaya.   “Lo sendiri kenapa disini? Bolos ya?” tanya Tatiana dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.   “Gue bukan anak yang senakal itu ya, guru di sekolah gue ada rapat,” -sahut Geno dengan wajah sewot.- “Kencan yuk,” ajaknya kemudian seketika merubah ekspresi wajahnya dengan senyuman yang menyebalkan bagi Tatiana.   “Hah?!”   *   Seperti yang Geno rencanakan, ia berhasil membawa Tatiana ke kafe yang sedikit jauh dari kampus.   “Mau ngomongin apa lo? Tumben banget ngajak gue keluar?” tanya Tatiana masih belum mengetahui apa tujuan Geno membawanya. Saat ini, posisi mereka berada di dalam kafe yang sudah di pilih oleh Tatiana.   “Menurut lo apa yang mau gue bahas?” ucap Geno dengan nada yang masih biasa. Mendapat jawaban begitu, Tatiana langsung menatap wajah Geno karena sedikit terkejut.   Pada awalnya Tatiana masih diam dan menatap wajah Geno, namun setelah beberapa saat, wajah Geno ternyata berubah ia merubah ekspresinya menjadi lebih serius tanpa terlihat jelas.   “Bahas … ,”Tatiana sedikit merasa takut begitu melihat wajah Geno yang sekarang. Ia sudah sepenuhnya menjadi Geno yang serius.   “Ngga usah takut, gue bukan mau ngehukun atau semacemnya,” ujar Geno mulai merasakan rasa takut terpancar dari wajah Tatiana.   “Apa gue harus jawab? Kayaknya gue tau sekarang, apa yang mau kita bahas,” balas Tatiana sedikit menjauh dari meja dan bersandar pada kursinya.   “Yakin?” sementara Tatiana menjauh, Geno justru mencondongkan tubuhnya keatas meja dan bertopang dagu.   “Masalah gue sama … Gianna?” lirih Tatiana tak berani menatap lurus mata Geno.   “Lo sendiri bisa tau kalo itu masalah ternyata,” balasnya dengan nada suara yang cukup pelan hampir tak terdengar.   “Ah … bener?” tanya Tatiana.   “Oke gue mau tanya. Kenapa elo begitu?” Geno balas bertanya sembari menyesap air minumnya dari sedotan.   “Kenapa gimana maksud lo?” Tatiana mulai ikut memasang wajah seriusnya.   “Kenapa cemburu sama Gianna dan tiba-tiba bilang begitu ke gue lewat chat?” tanya Geno menatap wajah Tatiana serius.   “Hahaha, kenapa lo bilang?” -Tatiana terkekeh dengan tawa menghina.- “Semenjak Kenan ketemu Gianna, Kenan makin sering pergi sendiri, Kenan jadi ngga ada waktu sama gue! Gianna tuh bawa pengaruh buruk buat gue dan Kenan,”   “Pengaruh buruk? Apa sebelumnya Kenan selalu pergi sama lo? Tiap waktu?” Geno mencoba bersabar karena Tatiana sudah mulai memakai kata-kata yang kurang baik.   “Selalu dong … ” suara Tatiana sejenak hilang dan wajahnya kosong seperti sedang berusaha mengingat kembali.   “Se-sering apa sampe elo nganggep Gianna pengaruh buruk? Apa sikap dia sekarang berubah, semenjak ketemu Gianna?” lanjut Geno berusaha menjajahi Tatiana dengan banyak pertanyaan.   “Pokoknya gue ngga suka!” seru Tatiana sembari meminum minumannya dan membuang mukanya ke tempat lain.   “Kenapa lo cemburu sama sodara sendiri? Apa itu ngebuat status Kenan sebagai kakak lo berubah?” tanya Geno, suaranya melembut kali ini.   Tatiana tak menjawab, ia masih membuang mukanya.   “Boleh gue duduk si sebelah lo?” tanya Geno kemudian karena tak mendapat jawaban dari Tatiana. Tatiana masih tak menjawab dan tanpa izin, Geno langsung saja duduk di sebelahnya.   Mengetahui Geno duduk di sebelahnya pun Tatiana masih tak peduli dan tetap membuang mukanya.   “Hei … gue tau. Kalo elo sebenernya cuma ngga ikhlas kalo satu-satunya sodara lo pergi sama orang lain, terlebih itu cewek, lo pasti cemburu. Tapi apa elo sadar? Kalo semua itu ngga perlu lakuin karna Kenan bakal tetep jadi sodara lo sampe kapanpun. Dia bakal tetep jadi sodara yang ada buat lo. Dengan lo bersikap kayak gini, kalo Kenan tau, dia mungkin bakal ngga suka dan bahkan mungkin bakal menjauh dari elo,” tutur Geno berusaha membuat Tatiana berhenti membuang muka.   “Kalo elo kesepian, bilang ke Kenan, minta waktu buat kalian pergi bareng. Dia pasti ngga mungkin nolak permintaan sodaranya sendiri. Gue paham sama karakter Kenan dan elo pasti lebih paham daripada gue,” jelas Geno mengucapkan semua kata-katanya selembut mungkin agar Tatiana tak salah paham menangkapnya.   Sejenak, tak ada reaksi dari Tatiana, sampai pada akhirnya Geno penasaran dan mulai memanggil Tatiana. “Hei … Ina?” panggilnya perlahan, namun tak ada jawaban.   “Ina? Lo ngga papa kan?”   “Ina … ,” panggilan yang ketiga, Geno membalik tubuh Ina agar menghadap padanya dan ia mendapati mata dan pipi Tatiana sudah basah.   “Hei-hei … kenapa lo malah nangis?” Geno seketika kaget dan sedikit panik. Namun bukannya menjawab, tangisan Tatiana justru pecah. Air matanya semakin deras dan suara tangisannya mulai tersedu-sedu.   “I’m sorry!” tak tau harus apa, Geno spontan memeluk Tatiana dan menyembunyikan wajah Tatiana dalam dekapannya. Fyi, tubuh Geno jauh lebih tinggi dan lebih besar dari Tatiana meskipun Geno merupakan adik kelas, sehingga mudah saja Geno menyembunyikan wajah dan tubuh Tatiana dalam dekapannya.   Geno sedikit menyesal sudah bicara sebanyak itu, ia merasa sudah terlalu keras. “I’m sorry. Gue udah bersikap kasar ya? Maafin gue,” Geno otomatis mengusap puncak kepala Tatiana dan juga pungungnya bermaksud agar Tatiana berhenti menangis. Akan tetapi tangisan Tatiana justru semakin kencang.   Pengunjung dan juga pegawai kafe seketika menaruh mata padanya dan juga Tatiana, namun Geno tak memperdulikan hal itu dan tetap memeluk Tatiana guna menyembunyikan wajahnya dari orang-orang dan juga demi menenangkannya.   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN