Hanya Itu Jawabanmu?

1254 Kata
-*-*-*- Setelah beberapa saat menangis dalam pelukan Geno. “Ambilin gue tisu!” pinta Tatiana dengan suara yang sesengukan di dalam pelukan Geno. “Oke-oke,” Geno segera mengambil beberapa lembar tisu dalam beberapa kali tarikan dan memberikannya pada Tatiana. Tatiana pun membersihkan wajahnya dari sisa air matanya. “Udah baikan?” tanya Geno Tatiana menjawab dengan anggukan. Sejenak mereka saling diam dengan Geno yang menatap Tatiana yang menunduk. “Gue harus apa disaat semua omongan lo ada benernya?” ujar Tatiana dengan nada yang sedikit bergetar. Geno mengernyitkan kedua alisnya setelah mendengar semua ucapan itu dan segera memperbaikinya “Omongan gue bener, bukan berarti elo ngga boleh bersuara, Ina,” ujar Geno mengusap puncak kepala Tatiana. Tatiana kembali diam dan memilikirkan jawaban yang akan ia ucapkan. “Gue minta maaf udah bersikap jahat sama kalian,” -ujar Tatiana dengan wajah tertunduk.- “Tapi jelas gue memang cemburu dan gue harus apa?” Tatiana terlihat sangat sedih mengucapkan semua itu. “Cemburu itu wajar, Ina. Yang ngga wajar itu kalo elo tau itu cemburu dan elo bersikap semau lo atas dasar rasa cemburu,” -ujar Geno menatap Tatiana lekat.- “Kalo elo kesepian, hubungin gue aja, gue siap temenin elo,” “Sorry, tolong sampein maaf gue ke Jian sewaktu lo pulang nanti,” ujar Tatiana seraya menoleh dan mendongak dan menatap kedua matanya. “Of course, untuk selanjutnya begitu lo cape, elo istirahat dan hubungin gue,” ucapnya tersenyum menatap mata Tatiana. Tatiana terkekeh mendengar ucapan Geno, ia pun seketika menganggap ucapan Geno hanyalah omongan belaka. “Dasar playboy,” serunya lengkap dengan senyuman penuh ledekan. “Playboy waktu sama lo aja kok,” Geno pada akhirnya terkekeh saat senyum Tatiana. “Ih, jadi playboy kok bangga,” balas Tatiana meledek. “Dibilangin, playboy cuma kalo ketemu elo kok. Bangga dong,” Geno seketika mengeluarkan senyuman yang cukup menyebalkan. Kurang lebih, Geno sepertinya berhasil membuat Tatiana setidaknya sadar kalau tanggapan nya terhadap rasa cemburunya itu tidak benar. Kini Tatiana sudah tersenyum lebar dan sedikit lebih ceria dan di banding saat Geno menemuinya saat di kampus tadi. “Ikut gue yuk,” ucap Geno tiba-tiba. Tatiana memasang wajah kaget mendengar itu. “Kemana?” katanya. “Kemana aja yang penting asik,” ujar Geno seraya berdiri dengan menggandeng tangan Tatiana. * ‘Kira-kira Geno berhasil ngga ya?’ Gianna yang mendapat kabar langsung dari Geno kalau ia menemui Tatiana hari ini membuat perasaannya gelisah. Kali ini, Gianna sedang duduk di bawah pohon di halaman belakang yang sedikit sepi bersama dengan laptopnya. Sepertinya ia sedang mengerjakan tugasnya. Gianna melamun cukup parah sampai seseorang datang ia tak menyadarinya. “Lo ngetik apa? Kok jadi huruf ‘m’ semua itu sampe akhir?” Gianna kaget dan langsung menoleh begitu mendengarnya. “Astaga Ken,” ujar Gianna sembari mengusap-usap dadanya berusaha menenangkan jantungnya yang kini sedang berlari kesana kemari. “Ngelamun lagi pasti lo ya? Sampe gitu doang kaget,” balas Kenan terkekeh seraya duduk tepat di sebelah Gianna. “Udah tau ngelamun malah di kagetin,” -balas Gianna sedikit merengut. Ia kemudian melihat layar laptopnya dan kembali terkejut melihat huruf ‘m’ sudah memenuhi satu lembar di tempat tugasnya.- “Astaga ngga sadar gue,” Gianna langsung menghapus semua huruf ‘m’ yang ada lembaran tugasnya. “Makanya jangan ngelamun!” sahut Kenan sembari mencubit perlahan pipi kiri Gianna. “Ih, sakit,” Gianna menepis cubitan tangan Kenan dan menoleh untuk memberikan tatapan tajam. Namun yang ia dapat justru sebuah ekpresi wajah yang tersenyum seperti tak ada beban dosa. Tanpa sadar, mata Gianna bergeser pada bibir Kenan. Ia pun teringat saat Kenan mencium pipinya beberapa hari yang lalu. Tanpa sadar dan tanpa di perintah, Gianna mengalihkan pandangannya dengan jantung yang tak karuan rasanya. Degh-degh-degh Gianna justru tersipu sendiri dengan ingatan yang dengan sembarangan melintas di kepalanya. “Ngapain lo disini?!” kata Gianna dengan ketusnya berusaha mengalihkan suasana. “Kangen,” Jdar! Jantung Gianna seakan meledak hanya dengan satu kata yang di ucapkan Kenan. Tanpa ia sadari ia justru menoleh pada Kenan dan mengernyitkan keningnya tanda tak paham maksud dan tujuan Kenan bicara begitu padanya. “Maksud?” “Berapa hari ini kita ngga ketemu sama sekali, gue malah jadi mikirin elo,” ungkap Kenan menatap lekat kedua manik mata Gianna. ‘Apa-apaan,’ Gianna bungkam, ia tidak tau harus menanggapi apalagi sehingga ia memilih untuk menatap layar laptopnya lagi. “Apaan sih, lo ngga jelas,” balas Gianna sedikit gugup. “Iya ngga jelas gara-gara mikirin elo,” ucap Gianna membuat Gianna seketika menarik nafas berat. “Astaga Ken,” Gianna menoleh dan lagi-lagi yang ia dapatkan adalah senyuman cerah. “Sebenernya maksud semua sikap lo ke gue apa sih? Lo bertingkah seakan lo … ,” bibir Gianna kelu, tiba-tiba saja ia tak sanggup untuk melontarkan pertanyaan yang mengganjalnya.  Namun ia mencoba memberanikan diri, karena jika ia tidak melakukannya mungkin ia akan terus penasaran dan Kenan hanya akan terus bertingkah begitu tanpa ada kepastian. “Seakan gue apa?” tanya Kenan membuat Gianna tersadar dari gugupnya. Gianna awalnya menatap Kenan, namun detik berikutnya ia menoleh ke arah lain. “Seakan lo suka sama gue,” lanjutnya dengan nada sedikit lirih. Mendengar itu seketika Kenan terkekeh dan membuat Gianna langsung menoleh. “Apa yang lucu?” tanya Gianna menatap heran pada Kenan. “Gue baru tau kalo elo ternyata ngga sepinter yang gue bayangin,” ucapnya membuat Gianna harus berfikir lagi. “Maksud lo?” pada akhirnya hanya itu yang bisa di ucapkan Gianna. “Setelah semua yang gue lakuin, elo ngga tau apa maksudnya?” ujar Kenan menatap Gianna begitu lekat dan juga gemas. “Gue tau!” bantah Gianna, entah mengapa ia tidak ingin di anggap bodoh. “Apa kalo gitu?” sahut Kenan kembali meledek. “Gue paham … tapi gue takut kalo gue ternyata cuma kepedean,” ujar Gianna ragu-ragu. “Astaga Ji,” salah satu tangan Kenan maju dan perlahan meraih rahang kanan Gianna kemudian dengan lembut mengarahkannya agar menoleh padanya. “Elo bener, Ji. Elo ngga kepedean! Gue emang suka sama lo,” pada akhirnya, kalimat itu di lontarkan juga dari bibir Kenan. Gianna terdiam mendengar itu, pupil matanya membulat dan pipinya yang semula putih, kini memerah sedikit demi sedikit. “Apa?” dan dengan bodohnya justru itu kata yang keluar dari mulutnya. Kenan lagi-lagi terkekeh. Ia suka saat Gianna seperti ini. Baginya ia terlihat lebih imut di saat seperti ini. “Gue suka sama elo, Ji,” ujar Kenan mengulang pernyataannya. Mata Gianna mengerjab beberapa kali, lalu dengan kikuk ia kembali menatap layar laptopnya. “O-oke,” balas Gianna gugup. Tangannya seketika berubah dingin dan gemetar. Ia benar-benar gugup. Baru pertama kalinya ia merasa seperti ini seumur hidupnya. “ ‘Oke’?” -mendengar Gianna menjawab itu seketika ia berniat menggoda Gianna lagi.- “Gue udah nyatain perasaan gue dan jawaban lo cuma ‘oke’?” tanya Kenan terlihat tak mempercayai apa yang sudah ia terima, tetapi bibirnya sendiri tak bisa berhenti tersenyum. “Ngga usah ngeledek gue, Ken!” seru Gianna mulai kesal. Kesal karena gugup. “Tapi serius. Baru kali ini gue tau kalo jawaban dari 'Gue suka elo' itu 'Oke',” ujar Kenan masih betah meledek. Tak sanggup di ledek lebih lanjut, Gianna pun langsung membalas Kenan dengan sangat tegas. “Gue juga suka sama elo! Puas?” Usai Gianna berkata begitu, tak ada respon ataupun jawaban dari Kenan. Hal itu seketika membuat Gianna bingung. 'Kenapa dia diem aja?' batinnya Akan tetapi detik berikutnya, Gianna justru dikejutkan dengan satu sapaan yang tidak ia duga. Cup Kenan mencium pipinya. -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN