Kenapa Harus Dia?

1355 Kata
 -*-*-*- Mata Gianna melebar begitu sapaan itu mendarat di pipinya.   Namun ia tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa melipat kedua bibirnya agar senyumannya tidak mengembang dengan mudahnya. Meskipun jantungnya saat ini benar-sudah di luar jangkauan dan sudah bergetar semakin tidak wajar.   “Yaampun gemesin banget sih!” Kenan menusuk-nusuk pipi Gianna menggunakan jari telunjuknya berusaha menggoda Gianna yang sedang tersipu.   “Apasih!” Gianna menepis tangan Kenan, tetapi Kenan justru menangkap tangannya.   Gianna selalu terkejut setiap kali hal semacam ini terjadi dan jika sudah seperti ini, Gianna dan Kenan akan saling pandang dalam beberapa saat. “K-kenapa?” Gianna seketika gugup mendapati Kenan menatapnya begitu dalam, sembari menggenggam tangannya.   “Jangan balik jadi Jian yang murung ya? Sekarang kan udah ada gue,” ujar Kenan tersenyum sembari mengusap-usap tangan Gianna.   Gianna hanya bisa diam menatap Kenan dan tak menjawab. Namun detik berikutnya, yang bisa ia lakukan hanya mengangguk patuh.   Kenan tersenyum semakin lebar mendengar semua itu, detik berikutnya ia menyandarkan kepalanya pada bahu tanpa izin dari Gianna.   “Nah kan, kebiasaan banget sih elo. Suka banget sandaran di bahu!” seru Gianna masih dengan pipinya yang perlahan mulai menghilang semburat merahnya.   “Ngga papa. Selama itu sama elo,” sahut Kenan sembari menatap pada layar ponselmya.   Gianna menggenggam tangannya sendiri dengan kuat dan berniat memukul Kenan menggunakan tangannya. Namun, Gianna tak jadi melakukannya karena ia hanya menakut-nakuti Kenan.   Gianna kemudian berusaha acuh dengan Kenan yang saat ini sedang scrooling beranda tanpa Gianna bisa melihat apa yang sebenarnya sedang dilihat oleh Kenan dan melanjutkan tugasnya.   Mereka sejenak saling diam diposisi masing-masing. Gianna mengerjakan tugas, Kenan memainkan ponselnya. Beberapa saat setelahnya, Gianna sudah berhasil menyelesaikan tugasnya.   “Akhirnya … ,” ucapnya seraya beranjak mematikan laptopnya setelah selesai mengumpulkan tugasnya via online.   “Udah selesai?” tanya Kenan seraya melirik laptop Gianna yang udah di tutup.   “Iya barusan,” -jawab Gianna yang kini memasukkan laptopnya kedalam tasnya.- “Kenapa?” tanya Gianna tanpa menoleh.   “Foto yuk!” ajak Kenan yang tiba-tiba saat ini duduk dengan tegak.   Mendengar itu Gianna sedikit terkejut dan menoleh pada Kenan. “Eh?” serunya dengan wajah terkejutnya.   “Iya! Masa hari pertama jadian ngga foto,” kata Kenan menampilkan senyumannya yang cukup lebar.   Sepertinya Kenan sangat bahagia bisa menyatakan perasaannya pada Gianna.   ‘Jadi kita beneran udah jadian?’ batin Gianna masih sedikit tak percaya.   “Ayuk! Deketan dong!” perintah Kenan dengan sangat semangat. Gianna bahkan sampai tidak sadar kalau Kenan sudah menyipkan hp dengan kamera menyala.   “O-oke!” Gianna yang masih sedikit canggung mendekat dengan cara mencondongkan tubuhnya tanpa bergeser.   “Ngga gitu, Ji! Kurang deket!” sanggah Kenan.   Tanpa Gianna duga, detik berikutnya Kenan justru merangkul pinggangnya dan menggeser tubuh Gianna padanya dan kali ini mereka sudah tidak memiliki jarak satu sama lain.   Gianna memekik pelan saat Kenan melakukan hal itu, ia pun spontan memukul d**a Kenan karena kesal sudah di buat terkejut.   “Hahaha, sorry, salah sendiri elo malu-malu ngedeket sama gue,” elak Kenan membela diri dengan memasang wajah yang mulai terlihat menyebalkan.   “Dasar nyebelin!” ujar Gianna seraya memukul d**a Kenan lagi.   “Udah, daripada marah-marah, mending kita foto sekarang,” kata Kenan mengingatkan tujuan awal mereka duduk berdekat-dekatan.   Gianna tak merespon dan hanya mengikuti apa yang dilakukan Kenan.   Kenan pun mulai berpose dengan tangan yang masih merangkul pinggang Gianna.   “Oke, satu, dua, tiga!” detik ketiga yang di ucapkan Kenan, mereka sama-sama tersenyum pada kamera dengan cerahnya.   “Liat!” seru Gianna dengan lantangnya begitu gambar mereka berhasil di tangkap.   Kenan pun terkekeh mendengarnya dan menunjukkan fotonya. Hasil foto itu terlihat sangat cantik di mata Gianna.   “Ih! Cantik!” seru Gianna dengan mata berbinar melihat fotonya bersama Kenan terlihat begitu bahagia dengan wajah yang sama-sama tersenyum.   “Iya elo emang selalu cantik,” ucap Kenan membuat Gianna seketika bungkam.   Untuk menutupi salah tingkahnya, Gianna mencubit perut Kenan yang terbalut kaus dan kemeja. “Apasih, Ken,” kata Gianna tanpa berani menoleh.   “Ahk! Sakit!” pekik Kenan sedikit terkejut. Namun Gianna justru tertawa.   “Ayo foto lagi!” Gianna spontan mengatakan itu sembari membetulkan posisi duduknya dan merapikan rambutnya.   Kenan tersenyum mendengar ucapa Gianna dan tentunya dengan senang hati, ia menuruti permintaan gadisnya.   Mereka kembali mendekat dan berpose dengan ala kadarnya, mereka baru saja ‘jadian’ jadi tentu pose yang mereka buat masih terlihat apa adanya dan sedikit malu-malu kucing.   Setelah mengambil beberapa foto, Gianna meminta untuk melihatnya lagi dan lagi-lagi ia sangat suka dengan hasilnya.   “Kok bisa sih dari tadi bagus banget hasilnya? Apa karna di pengang fotografer ya?” ucap Gianna dengan mata yang fokus melihat hasil fotonya dengan Kenan di dalam galeri hp Kenan.   Kenan segera menggelengkan kepalanya tak setuju. “Ngga, Ji! Itu semua karna elo pinter berpose, ngga cuma karena gue,” kata Kenan berusaha agar tetap rendah hati.   “Ih, ngga ah! Gue mah biasa aja!” sanggah Gianna cepat. Entah mengapa ia masih merasa canggung jika Kenan memuji tentang bakatnya dalam berpose.   “Ngga percaya?” -ujar Kenan menatap Gianna dan dibalas tatapan pula olehnya.- “Coba elo yang ambil foto, pasti bisa bagus,” saran Kenan sembari menyodorkan ponselnya.   “Nanti kalo jelek gimana?” tanya Gianna.   “Kalo menurut lo jelek ya berarti tinggal di hapus dong?” kata Kenan.   “Ya … iya sih,” ucapan Kenan memang benar dan Gianna hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal menanggapinya.   “Nih,” Kenan memberikan ponselnya pada Kenan dala posisi kamera yang menyala.   Gianna mengambilnya dan ia pun memposisikan kameranya di hadapan mereka berdua dan siap mengambil gambar.   Saat Gianna sedang memikirkan posenya, Kenan tiba-tiba memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Gianna.   Mata dan jantung Gianna seketika tidak bisa di kondisikan.   Hari ini Kenan sudah berhasil membuat Gianna jantung Gianna seakan naik rollercoaster entah untuk yang keberapa kalinya. Kenan benar-benar di luar dugaan. Mungkin orang-orang tidak akan percaya jika Gianna menceritakannya pada orang-orang, mengingat Kenan adalah orang yang sedikit cuek jika berhadapan dengan orang-orang yang kurang di kenalnya.   Menyadari Gianna yang terdiam, Kenan mendongak. “Kenapa diem?” tanya Kenan.   “Eh? Oh, sorry. Gue cuma kaget,” ujar Gianna tersadar dari keterkejutannya dan berusaha bersikap normal. Karena tidak ingin terlihat canggung, Gianna memilih untuk menyandarkan kepalanya pada kepala Kenan.   Gianna pun menangkap gambar mereka dalam sekali jepretan dan begitu mereka melihat hasilnya. “Kan, gue bilang apa, Ji. Lo juga bisa motret. Bagus kan?” puji Kenan.   “Haha, iya,” Gianna terkekeh melihat hasil fotonya dengan Kenan.   Gianna sendiri sebenarnya tidak yakin, yang membuat foto mereka bagus sebenarnya karena orang yang mengambil foto, atau karena mereka yang sedang bahagia sehingga semuanya terlihat cantik?   Entahlah, yang terpenting mereka bahagia.   “Kirim ya ke gue,” kata Gianna kemudian seraya mengembalikan ponsel Kenan.   “Oke wait,” -Kenan kemudian membuka aplikasi yang biasanya digunakan untuk mengirim dan menerima. Tanpa Gianna sadari, saat ini Kenan sebenarnya masih memeluknya dengan satu tangan, karena tangan yang satunya lagi di gunakan untuk memegang ponsel.- “Nih, pilih sendiri yang mau di kirim,” kata Kenan menyerahkan ponselnya.   Tanpa banyak bicara, Gianna menerimanya dan mulai memilih foto yang ingin ia kirim sementara Kenan memeluknya menggunakan kedua tangannya tanpa ragu dan tanpa Gianna sadari.   Gianna pun melihat ada foto-fotonya yang pernah di ambil oleh Kena. “Boleh gue minta yang ini juga?” ujarnya menunjuk pada foto-fotonya yang pernah di ambil oleh Kenan.   “Ngapain tanya? Kan itu aslinya juga punya elo, Ji,” jawab Kenan.   “Oh, iyaya? Hahaha … ,” Gianna hanya terkekeh dan mulai mengirim.   *   Sementara itu, di kejauhan, Aghata melihat semua yang sudah terjadi.   Tempat itu memang bukan tempat rahasia, sehingga siapapun bisa datang dan pergi melewatinya. Aghata merupakan salah satu mahasiswa yang di maksudkan,karena sialnya itu terjadi disaat Aghata baru akan melintas. Aghata hanya bisa diam di tempat dan melihat dari kejauhan.   Batinnya begitu sakit. Padahal ia sudah berusaha untuk lupa dan menjauh. Akan tetapi yang ia dapat ia hanya memergoki Kenan dan Gianna yang bermesraan, karena tak ingin sakit berkelanjutan, Aghata meninggalkan tempat itu dengan mata yang hampi mengeluarkan air mata.   ‘Kenapa harus elo lagi, Gianna?’   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN