Sebuah Siraman Rohani

1302 Kata
-*-*-*- Seperti hari-hari sebelumnya, Gianna hari ini datang ke kampusnya untuk mengikuti kuliah. Namun tidak seperti hari-hari sebelumnya, Gianna kini ingin mencoba datang ke foodcourt seorang diri. Sebelumnya ia akan takut untung datang ke tempat yang sedikit ramai, akan tetapi kali ini Gianna akan datang dan makan disana. Disamping itu, ia sedang bahagia sejak kemarin, sehingga ia merasa memiliki rasa percaya diri yang cukup kali ini. Dengan langkah yang normal seperti hari-hari biasa ia berjalan, Gianna memasuki kawasan foodcourt dan memesan pada yang bertugas menjual makanan hari itu. Gianna sedang tidak ingin makan makanan berat, sehingga ia memilih membeli dua buah donat dengan rasa berbeda dan satu buah roti yang berisi sosis dengan saus dan mayones di atasnya. Selesai bertransaksi, Gianna duduk di tempat kosong yang jauh dari keramaian. Kebetulan hari ini ia membawa novel dari rumah yang belum pernah ia baca, sehingga tidak akan terlalu aneh jika ia duduk dan makan sendirian jika sambil membaca. Ia kemudian mulai memakan roti isi sosis sembari mulai membaca bukunya. Detik-detik pertama Gianna membaca, masih terasa normal dan Gianna tidak merasakan hal aneh. Beberapa saat selanjutnya pun Gianna masih bisa memakan rotinya sampai habis setengahnya. Namun ketika ia berhenti sejenak dari membaca untuk meminum air, sesuatu menarik perhatiannya. “Iya tumben, dia sekarang sendirian. Kenapa dia ngga nempelin Alfa lagi?” Kalimat yang Gianna dengar dengan jelas itu membuat jari-jari tangannya yang berniat untuk membuka botol air minumnya lemas seketika. Gianna membeku dan matanya fokus menatap botol air minumnya. Ia tak berani menoleh kemana-mana. ‘Kemana aja gue selama ini? Kemana aja sampe gue baru sadar kalo gue masih mahasiswi terbully?’ Gianna benar-benar lupa kalau selama ini rumornya belum hilang dan masih banyak orang yang membicarakannya. “Mungkin ‘belum’, biasanya juga dia bakal seharian nempelin Alfa, pake tampang murahannya” sahut mahasiswi lainnya menanggapi tanpa rasa ragu suara akan didengar oleh Gianna. ‘Kenapa mereka masih dengan mudahnya buat kesimpulan, padahal mereka ngga tau apa-apa?’ batin Gianna tak percaya dengan ucapan yang dengan lantangnya membicarakan Gianna tanpa rasa takut. ‘Se-sering apa gue pergi sama Kenan sampe gue ngga pernah denger omongan-omongan semacam ini beberapa hari kebelakang?’ Gianna berusaha acuh. Ia membuka botol minumnya dan meneguknya karena kerongkongannya mulai terasa kering dan dadanya sesak karena menelan roti tanpa bantuan air minum. Gianna pun berniat melanjutkan membaca buku novel dan memakan rotinya, untuk beberapa saat Gianna masih bisa memakan rotinya meskipun perutnya sedikit tak nyaman. Kepalanya pun sesungguhya tak tau apa yang sedang dilihatnya meskipun mata pikirannya membaca setiap kata yang ada di atas lembaran buku novelnya. Namun semua usahanya untuk bersikap tak peduli itu hancur begitu saja ketika sebuah kalimat muncul dan menusuk telinga serta jantungnya. “Dia masih jual diri mungkin?” “Uhuk!!” seketika Gianna tersedak roti yang sedang ia kunyah. Gianna seketika panik dan meminum air. Roti yang ia makan itu pedas, sehingga tenggorokannya pun seketika terasa sakit dan terbakar. “Uhuk-uhuk-uhuk!” meski sudah meneguk banyak air minum, tenggorokan Gianna masih belum terasa lega dan ia terus saja batuk. “Pfft! Liat geh, dia emang nguping dari tadi,” ucap salah satu dari mereka menahan tawa saat melihat Gianna yang tengah panik sendirian. “Pura-pura tuuli aja dia ta-” SPLASH! “Akh!” mahasiswa itu tiba-tiba saja berdiri dan berteriak membuat Gianna seketika melihat ke depan. Gianna melihat seorang gadis dengan wajah dan rambut basah, serta blouse dan celana putih yang sudah bercorak kuning kini tengah menatap tubuhnya tak percaya dengan mata melotot. “Anj*ng lo ya! Apa mau lo, hah?!” bentaknya masih menatap tubuh dan menyentuh rambutnya yang terlihat basah dan juga lengket. Semua orang yang mendengar teriakannya seketika melihat padanya dan memasang wajah penuh tanya, tak sedikit pula yang justru bersemangat dan siaga dengan kamera ponsel. “Maksud lo apa?! JAWAB!” teriaknya yang kini menatap orang di hadapannya yang dipisahkan dengan meja darinya. Seperti orang lain yang ada disana, Gianna hanya bisa menonton dalam diam, akan tetapi ia merasa tak asing dengan orang yang sedang di teriaki. “Maksud gue? Nyuci mulut lo yang ngga punya filter! Sayangnya gue ngga bawa hand sanitizer, jadi gue siram pake apa yang ada,” jawabnya. Gianna seketika melebarkan matanya karena ia sadar kalau wanita itu adalah Tatiana. ‘Ana, lo ngapain?!’ batin Gianna berseru. Tak jauh dari Tatiana, tepatnya disisi kiri dengan jarak beberapa langkah, ada Sasami yang menoleh padanya. Dengan santainya ia melambaikan tangan pada Gianna dan meringis. Gianna tak paham arti senyuman Sasami. Sekedar senyuman menyapa Gianna atau senyuman menahan malu melihat kelakuan sahabatnya? Gianna yang masih terkejut tak bisa merespon apa-apa dan kembali melihat Tatiana dengan mahasiswa yang sudah ia siram dengan … mungkin milkshake buah mangga? Astaga, jika benar pasti akan sangat lengket! Belum lagi pakaian yang di pakai berwarna putih, pasti akan susah untuk hilang, bahkan mungkin tidak bisa. “Apa maksud lo?! Emangnya gue bilang apa hah?!” mahasiswi kembali berteriak karena tak terima dengan apa yang sudah di lakukan Tatiana. Sementara temannya yang duduk di sebelahnya hanya bisa diam dan sedikit menjauh agar tidak terjadi sesuatu pada dirinya. “ ‘Lo bilang apa?’ Sebenernya elo pikun atau mulut lo itu udah terbiasa kotor? Gue dari pertama kali lo duduk sama temen elo ini ya, yang gue denger dari mulut kalian, semuanya cuma omongan kotor dan tuduhan yang ngga ada bukti ke temen gue!” -balas Tatiana. Seraya menunjuk teman mahasiswi itu juga. “Apaan sih?! Kapan gue sama dia ngomong yang kayak gitu hah? Kapan gue ngomongin temen lo? Gue sama temen gue cuma ngobrol dan elo tiba-tiba siram gue,” bentaknya dengan wajah penuh amarah. Sementara Tatiana hanya menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. “ ‘Ngga ada asap kalau ngga ada api.’ Gue ngga bakal siram lo dengan air itu kalo elo ngga ngomongin gue dan dia dengan tuduhan yang ngga ada buktinya,” bantah Tatiana seraya menunjuk Gianna yang tengah terdiam di tempatnya. Gianna seketika terkejut begitu Tatiana tiba-tiba menunjuknya. “Hah apaan sih? Gue cuma omongin dia! Nama lo bahkan ngga ada gue sebut satu kali pun! Kenapa lo tambah-tambahin? Lagian kenapa lo ikut campur? Mana buktinya?! Jangan asal tuduh kalo elo ngga ada bukti!” cerocosnya tanpa henti dengan nada tinggi. “Bukti? Barusan lo ngomong sendiri kok buktinya,” balas Tatiana. “Hah? Apa?” “Astaga, lo barusan tuuli atau bodoh sebenernya?” -ujar Tatiana menatap dengan pandangan mengejek. Tatiana kemudian menoleh pada teman perempuan itu.- “Lo tadi kayaknya semangat banget gosipin Gianna, kenapa sekarang lo kicep?” ujar Tatiana. Dalam seperkian detik, Tatiana mengambil gelas berisi minuman milik gadis itu dan beranjak menyiramnya. “Kyaa!” perempuan itu berteriak dan memasang tameng menggunakan kedua tangannya. Namun tak terjadi apa-apa. Ia perlahan membuka mata dan mengintip. Rupanya Tatiana hanya menakut-nakuti. Tatiana kemudian meletakkan gelasnya dan menatap remeh. “Besok lagi kalo lo berdua mau ngatain orang, mending cari tempat! Berasa keren kali lo berdua ya, bisa fitnah hal pake suara keras-keras di depan orangnya? Kasian banget, get well soon!” ujar Tatiana dengan tatapan jijik pada kedua mahasiswi itu yang kali ini sudah bungkam. Merasa tak ada lagi yang perlu di sampaikan, Tatiana pergi tanpa sepatah kata pun. Semua orang yang ada disana tak ada yang berkomentar dan hanya bisa diam menonton sejak awal. Sementara Gianna, ia juga tak jauh berbeda dengan reaksi orang-orang. Ia bengong melihat Tatiana yang perlahan semakin menjauh dan menghilang. Tepat saat Gianna menoleh pada mahasiswi yang sudah membicarakannya, mahasiswi itu tengah menatapnya dalam diam dengan pandangan yang kesal. Sementara Gianna hanya mengedikkan bahunya dan memasang wajah polos menanggapinya, karena ia sendiri juga tak menyangka kalau Tatiana akan melakukan hal itu. “Ayo pergi! Di sini auranya negatif,” Sasami tiba-tiba saja datang di hadapan Gianna dan mengajaknya pergi. “Oh iya, oke!” Gianna mengangguk-angguk dan membereskan barang-barang serta makanannya dan meninggalkan foodcourt untuk menyusul Tatiana. -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN