-*-*-*-
Gianna kini berjalan beriringan dengan Sasami mengikuti Tatiana dari jarak yang cukup jauh.
“Kok bisa sih elo tahan di omongin kayak tadi? Dari pertama kali elo baca buku ya, mereka ngga berhenti ngomongin elo,” ujar Sasami tanpa menoleh pada Gianna karena mereka sedang berjalan.
Gianna seketika menoleh kaget.
“Dari gue baca buku? Kok gue ngga denger apa-apa?” tanya Gianna heran.
“Gue ngga tau, elo keliatannya tadi fokus banget baca buku cerita, jadi mungkin elo ngga denger apa yang mereka omongin,” jelas Sasami menanggapi.
“Ah ya, bener juga,” Gianna mengerti, karena selama ia membaca tadi ia benar-benar masuk kedalam cerita sampai tak sadar dengan sekelilingnya.
“Iya. Padahal tadi mulut mereka kayak toak, sampe gue yang bukan target gibahan mereka aja tau siapa yang mereka omongin,” cibir Sasami kesal mengingat mulut kedua mahasiswa tadi sama sekali tidak memiliki filter.
“Gue berusaha cuek sebenernya. Tapi ternyata ngga bisa, sampe gue kesedak roti,” balas Gianna sedikit terkekeh dengan terpaksa,
“Iya gue liat kok. Gue sebenernya juga marah, tapi kayaknya Tia udah ngga bisa tahan lagi emosinya sampe ngelakuin hal nekat kayak tadi,” Sasami geleng-geleng kepala dengan tangan tersilang di depan daada.
Mereka terus mengobrol membicarakan Tatiana yang begitu berani melakukan hal yang cukup nekat di tempat ramai tersebut. Entah mengapa bukannya senang, Gianna justru khawatir dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Setelah beberapa saat melangkah, mereka sampai di halaman dan menemukan Tatiana suda duduk di bangku panjang kosong.
Baru saja Gianna dan Sasami mendekat, Tatiana justru menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Apapun yang mau kalian bahas, tolong jangan bahas soal foodcourt!” seru Tatiana menutupi wajahnya dan tubuhnya membungkuk menghadap ke lantai.
Gianna dan Sasami seketika saling pandang melihat apa yang dilakukan Tatiana.
Kemana kesatria wanita nan gagah tadi? Kenapa sekarang yang dilihat oleh Sasami dan Gianna adalah seekor kucing yang tengah menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Ah … okay?” Gianna menjawab begitu namun sedikit ragu sampai jawaban dari sahabat Tatiana sendiri membuat Tatiana emosi.
“Dih, elo yang berbuat elo yang malu?! Elo yang berbuat elo juga yang bertanggung jawab,” semprot Sasami yang seketika menerima tatapan penuh kebencian dari Tatiana.
“Bener kan?” tanya Sasami dengan wajah tidak berdosa.
“Ngga peduli! Sini Jian sama gue aja, duduk, jangan sama dia, malu!” tanpa ragu, Tatiana menarik tubuh Gianna agar duduk bersama.
Gianna kebingungan dengan semua yang terjadi. Sebenarnya apa yang sudah di lakukan Geno sampai Tatiana langsung berubah seperti hari ini.
Gianna pun hanya bisa duduk dengan rasa akward, memikirkan hal-hal random.
Sadar Gianna terlihat terkejut dan melongo dengan semua yang terjadi, Tatiana tersadar dan mencoba menjelaskannya lagi.
“Elo kaget ya, Jian?” -tanya Tatiana kemudian, namun belum sempat Gianna membalas, ia lebih dulu berusara.- “Sorry ya Jian, kalo beberapa hari sebelumnya gue bersikap ngga bener ke elo, gue minta maaf,” katanya dengan wajah menyesal menatap Gianna.
Mendengar kata-kata itu Gianna justru terdiam menatap Tatiana, ia bahkan menjadi sedikit gugup
“I-iya Na, ngga papa. Makasih udah jujur,”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-