-*-*-*-
Mendengar kata-kata itu Gianna justru terdiam menatap Tatiana, ia bahkan menjadi sedikit gugup.
“I-iya Na, ngga papa. Makasih udah jujur,” Gianna hanya mengangguk-angguk.
“Harusnya gue ngga cemburu kalaupun ada yang mau deketin Kenan ataupun sebaliknya. Gue cuma saudaranya harusnya ngga berhak begitu sama orang-orang yang ada di sekitar Kenan,” ujar Tatiana kembali menunduk tak berani menatap Gianna akibat rasa bersalah.
“No no no, lo salah,” -bantah Gianna sembari menghadap Tatiana dengan benar. Tatiana kemudian menoleh karena tak paham dengan maksud Gianna.
“Oke, lo emang salah kalo elo ngelampiasin rasa cemburu lo ke orang-orang yang ada di sekitar Kenan dengan cara kayak kemarin. Tapi lo berhak buat bantu Kenan pilih siapa yang bisa ada di sekitar dia, dalam artian lo bantu pilih yang emang punya niat baik atau ngga baik. Yang kemungkinan bisa bawa dampak positif ataupun bawa pengaruh buruk. Lo berhak buat ngasih tau Kenan dalam hal itu, karena dia saudara kandung elo,” ungkap Gianna menyadarkan Tatiana agar tidak terlalu merasa bersalah.
“Okay,” Tatiana hanya mengangguk-angguk.
“Tapi lagian Tia ngga sepenuhnya salah kok!” celetuk Sasami yang sejak tadi menyimak.
Gianna langsung menoleh mendengar ucapan Sasami, begitu pula dengan Tatiana.
“Gimana maksudnya?” Gianna sedikit tak paham.
“Lo inget kan kalo kapan hari pas gue ngobrol sama Tia ada cewek yang tiba-tiba dateng dan ngobrol sama kami?” ujar Sasami sembari duduk dengan santainya di atas rumput di depan Tatiana dan Gianna. Gianna mengangguk sementara Tatiana memasang wajah yang sedang mengingat-ingat sesuatu.- “Kalo waktu itu dia ngga manas-manasin Tia, mungkin hal kayak tadi ngga bakal kejadian,” tuturnya memasang wajah kesal mengingat kedua mahasiswa yang sudah membuat resah mereka bertiga.
“Ah, ngga juga. Kalo waktu itu gue sadar diri dan ngga sumbu pendek, Jian ngga bakal ada masalah,” Tatiana kembali menunduk, antara merasa bersalah dan malu. Ia tak berani menatap Gianna.
“Udah, Anna! Jangan salahin diri lo mulu! Gue justru seneng banget waktu lo belain gue tadi, makasih banget,” ujar Gianna tersenyum manis. Ia sejak awal memang tidak marah pada Tatiana. Tatiana adalah orang yang sudah membantunya dan membuatnya sadar dari jatuhnya akibat bully’an yang menimpanya, jadi sedikit mustahil Tatiana marah padanya tanpa alasan, sehingga Gianna memilih berpikir positif.
“Thank’s, Ji,” balas Tatiana ikut tersenyum tipis dan sedikit canggung.
“Dih! Apaan sih kalian? Kayak orang pacaran aja,” cibir Sasami yang bisa melihat keduanya dari depan secara langsung.
“Sembarangan kalo ngomong!” Tatiana tiba-tiba saja mendorong bahu Sasami pelan, tetapi masih mampu menggoyahkan tubuhnya.
“Lagian lo berdua ngapain ih bilang makasih sambil senyum-senyum malu kek orang baru jadian pertama kali,” lanjut Sasami masih mencibir.
“Udah-udah ngga usah di bahas!” Gianna yang merasa malu segera mencegah agar tidak berkepanjangan.
Mereka pun terus melanjutkan perbincangan mereka dan membahas semuanya secara acak.
*
Gianna sudah selesai mengobrol dengan kedua temannya dan kini ia harus mengikuti kelasnya yang kedua dan segera menuju ke kelasnya.
Tak ada masalah selama kelasnya berjalan, mahasiswa dikelasnya pun tidak ada yang tiba-tiba berubah menjadi wartawan yang menanyainya dengan segala macam pertanyaan-atau mungkin belum, karena tepat saat Gianna datang, dosennya juga datang dan langsung memulai perkuliahan.
Ditengah-tengah perkuliahan, ponsel Gianna bergetar.
Chat
-Ken-
Kenan
-Ji
-Nanti gue samperin ke kelas, boleh?
Pesan singkat itu seketika membuat Gianna tersenyum. Namun karena sadar masih didalam kelas, Gianna langsung membuang senyumannya dan mengetik balasan.
Gianna
-Menurut lo bakal jadi masalah ngga?
Gianna justru balas bertanya mengingat di foodcourt sempat terjadi masalah. Ia ingin tau, apakah Kenan yang bukan tukang gosip itu bisa mengetahuinya atau tidak.
Kenan
-Makanya gue temenin
-Biar lo selamat dari wartawan
Gianna
-Lo tau?
Kenan
-Yang jadi omongan kembaran sama pacar gue,
-Masa iya gue ngga tau
Seluruh jari-bahkan tubuh Gianna membeku.
‘Pacar gue’
Kata-kata itu berhasil membuat senyuman Gianna lepas kendali. Ia benar-benar tak bisa menahan senyumannya kali ini.
Gianna
-Ah … iya
Terlihat cuek dan tenang, akan tetapi keadaan hati Gianna jauh berbeda. Hatinya penuh dengan bunga yang bermekaran bahkan mungkin sampai tembus keluar dari pucuk kepalanya membentuk sebuah bucket bunga yang cantik.
Kenan
-Oke nanti gue samperin
-Selesai jam berapa?
Gianna
-3o menit lagi mungkin
-Kalo dosennya ngga ngaret
Kenan
-Oke deh
-See youDia beneran jadi beda di banding waktu pertama ketemu. Siapa sangka kalo dia bisa se cute ini?’
Gianna pun memilih untuk tidak membalasnya dan mengikuti kuliahnya.
*
Tiga puluh menit sudah berlalu dan dosen masih belum menunjukkan tanda-tanda akan menutup perkuliahan.
Satu menit … dua menit … tiga menit …
Tepat sepuluh menit mengulur waktu, dosen Gianna akhirnya mengucapkan salam penutup.
“Hahhh … ,” Gianna menghembuskan nafasnya panjang-panjang. Ia kemudian membereskan buku catatan beserta alat tulisnya dam memasukkannya kedalam tasnya.
Begitu dosennya keluar, beberapa detik kemudian, bersamaan dengan mahasiswa yang sudah bersiap untuk menghampiri Gianna, Kenan masuk dan menghampiri Gianna.
“Udah selesai kan?” ucapnya di sebelah Gianna.
Gianna pun kebingungan harus menanggapi siapa, karena semua mata menuju padanya. Namun karena tak ingin menjadi narasumber dadakan, Gianna memilih berdiri dan meninggalkan kelas dengan Kenan yang menyusul di belakang.
“Hei! Kok gue ditinggal?!” seru Kenan di belakang Gianna. Gianna seketika menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Oh ya, gue lupa,” ucapnya seraya menghadap Kenan yang menatapnya tanpa berkedip.
“Lupa? Jahat!” balas Kenan dengan nada sok polos.
“Ih! Beneran ada yang lupa!” seru Gianna kesal seraya mendongak agar bisa menatap Kenan.
“Eh sorry, jangan bentak gue,” -sahut Kenan sedikit terkejut karena Gianna tiba-tiba membentaknya.- “Apa yang ketinggalan?” tanya Kenan kemudian.
“Hp gue tadi masih di meja,” ujar Gianna.
“Oh, tunggu di sini, gue ambil,” kata Kenan seraya beranjak berbalik ke kelas Gianna.
Gianna seketika teringat sesuatu dan menahan Kenan.
“Eh jangan-jangan-jangan! Kayaknya gue aja deh,” tahannya.
“Udah, lo disini aja, nanti lo malah di tanya sana sini,” Kenan tak memperdulikan cegahan Gianna dan tetap melangkah meninggalkannya.
‘Duh, mudah-mudahan dia ngga liat,’
Kenan pun terus melangkah menuju kelas Gianna dan begitu sampai, ia segera mengambil ponsel Gianna, masih ada beberapa orang disana, tetapi mereka tidak terlalu memperdulikan keberadaan Kenan dan tetap fokus pada kegiatannya.
Setelah mengambilnya, Kenan pun keluar dari kelas itu dan berniat kembali pada Gianna.
Pada awalnya masih aman, Kenan tidak terpikir apa-apa saat membawa ponsel Gianna. Namun saat ponsel Gianna bergetar, otomatis Kenan melihatnya.
Kenan pun seketika terpaku saat melihat layar ponsel Gianna.
Screensaver Gianna yang membuatnya terdiam. Namun detik berikutnya Kenan tersenyum lebar dan menyimpan ponsel Gianna dalam saku celananya.
“Hp ku masih ada kan tadi?” ucap Gianna begitu Kenan datang.
“Masih dong. Di kelas lo aja ada CCTV, siapa yang berani ngambil?” ucap Kenan seraya menyodorkan ponsel Gianna. Namun tidak sesimpel itu, Kenan masih sempat ingin menggoda Gianna terlebih dahulu dengan menekan tombol power. Tepat saat Kenan menyerahkan dengan layar yang menghadap pada Gianna, layarnya terbuka dan menampilkan foto mereka berdua sebagai screensaver.
Mata Gianna seketika membulat dan berniat merebutnya, tetapi kalah cepat dengan Kenan.
“Waah, apa nih?” Kenan langsung menarik lagi ponsel Gianna dan berakting kalau ia baru saja melihatnya.
“Ih Ken! Jangan di diliat! Balikin!” seru Gianna.
Untung bagi Kenan, Malang bagi Gianna.
Rupanya saat Kenan menekan tombol power dengan layar menghadap Gianna, sensor keamanan Gianna yang mendeteksi wajah sepertinya aktiv, sehingga yang Kenan lihat saat ini adalah foto mereka berdua saat Kenan memeluk Gianna dan bersandar pada bahunya.
“Akh!” Gianna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan berjongkok. Ia seketika merasa malu.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-