-*-*-*-
Untung bagi Kenan, malang bagi Gianna.
Rupanya saat Kenan menekan tombol power dengan layar menghadap Gianna, sensor keamanan Gianna yang mendeteksi wajah sepertinya aktif, sehingga yang Kenan lihat saat ini adalah foto mereka berdua saat Kenan memeluk Gianna dan bersandar pada bahunya.
“Ah … ,” tanpa Kenan sadari, pipinya sedikit menghangat melihat foto itu di pasang sebagai wallpaper.
Sementara Gianna?
Ia masih berjongkok dan menutup wajahnya.
“Gue bakal ganti fotonya kalo lo ngga suka,” ucap Gianna. Namun karena ia bicara dengan tangan yang menutup wajahnya, hal itu membuat suaranya kurang jelas untuk di dengar.
“Ha?” -Kenan menoleh dan baru tersadar kalau Gianna saat ini tengah berjongkok.- “Lo ngapain jongkok? Tadi lo bilang apa?” tanya Kenan ikut berjongkok dan menatap Gianna yang wajahnya tertutup dengan kedua tangan.
“Malu. Kalo lo ngga suka, gue bakal ganti fotonya,” ulang Gianna masih menutup wajahnya, namun kali ini suaranya lebih jelas.
“Kenapa gue harus ngga suka?” tanya Kenan heran.
Gianna membuka tangannya dan menatap Kenan.
“Lo ngga malu?”
“Tadi ngga suka, sekarang malu. Gue harus apa?” tanya Kenan sedikit terkekeh.
“Ih, serius! Lo malu ngga kalo gue pasang foto itu buat wallpaper? Atau mungkin lo juga ngga suka?” ucap Gianna memperjelas.
Ia benar-benar malu saat Kenan mengetahui ia memasang foto mereka sebagai layar utama.
“Astaga Ji,” -Kenan makin terkekeh. Ia kemudian meraih tangan Gianna dan mengembalikan ponselnya.- “Ini hp punya lo, lo berhak lakuin apa aja. Lagian kenapa gue harus malu atau ngga suka? Kan gue pacar lo, wajar kalo elo mau pasang foto kita,”
Blush!
Pipi Gianna semakin terbakar dan kembali memerah.
“Ngga usah di perjelas bisa?” ujar Gianna sedikit kesal dengan mulut merengut.
“Hahahaha … apanya yang jangan di perjelas?” ledek Kenan masih terkekeh dan membuat Gianna makin sebal melihatnya.
“Ngga tau,” Gianna seketika berdiri dan meninggalkan Kenan.
“Yaampun gemesin banget sih!” Kenan segera berdiri dan menyusul, kemudian berjalan beriringan dengan Gianna.
“Bodo amat ngga denger!” Gianna menutup telinganya dengan telapak tangan dan menepuk-nepuknya dengan kuat seraya berjalan lebih cepat agar tak bisa melihat wajah Kenan.
Gianna terus berjalan tanpa henti dan tak menghiraukan Kenan yang berusaha memanggilnya. Sampai akhirnya
“Hei-hei-hei mau kemana?” cegat Kenan seraya menahan lengan Gianna.
Gianna pun berhenti dan menoleh.
“Pulang lah,” sahutnya.
“Mau langsung pulang? Lo ada urusan lain tah?” kata Kenan kembali bertanya.
Gianna sejenak nampak memutar bola matanya mengingat-ingat apakah ia ada urusan lain atau tidak.
“Kayaknya ngga ada sih,” -ujarnya.- “Cuma kayaknya nanti gue mau nungguin Geno di depan buat jemput gue. Kenapa?” tanya Gianna.
“Temenin gue yuk?” -pinta Kenan dengan senyum manis andalannya.- “Gue bisa bilang nanti sama Geno,” ajak Kenan.
“Terus nanti gue pulangnya?”
“Sama gue,”
Gianna sejenak terdiam dan teringat pada Tatiana.
“Bukan gue ngga mau, tapi nanti Ana sama siapa?” tanya Gianna menatap pada mata Kenan. Ia sedikit trauma mengingat Tatiana marah padanya ketika ia bersama dengan Kenan.
“Ada Geno,” senyum Kenan sedikit mengedikkan bahunya.
“Kok gitu? Kan dia kembaran elo, kenapa lo ngga anter dia dulu aja?” ujar Gianna berusaha meyakinkan pikiran Kenan agar tidak memilih langkah yang salah.
“Biar dia pdkt sama Geno,” -cengir Kenan.- “Udah yuk, nanti kita ketinggalan!” Kenan membalik tubuh Gianna dan mendorong bahunya dari belakang.
Sejenak otak Gianna melambat, namun ia kemudian tersadar dan berbalik.
“PDKT?!” serunya dengan mata membulat dan mulut menganga tak percaya.
“Iyaaa, ceritanya panjang. Nanti aja gue cerita, sekarang kita jalan dulu,” Kenan kembali membalik badan Gianna yang masih memasang wajah tak percaya dan mendorongnya agar kembali berjalan.
Gianna masih tak mengerti dan hanya bisa memasang wajah bingung.
“Ngga usah dorong-dorong ih!” Gianna menyingkir dari tangan Kenan dengan wajah merengut dan berjalan seperti biasa.
“Yaampun merengut lagi. Doyan banget sih merengut? Gue ngga punya permen sih,” melihat Gianna yang merengut membuat Kenan kembali bersemangat untuk meledek.
Gianna kemudian hanya melirik dengan tatapan sinis.
“Masih berani ngeledek, gue pulang pake taxol,” ancam Gianna melirik semakin tajam.
“Astaga ngancem. Oke gue berhenti,” ujar Kenan menyilangkan tangan di d**a berjalan tegak menghadap ke depan.
Gianna pun hanya mengangguk-angguk dan berjalan dengan normal. Namun tidak sampai lima menit mereka berjalan, tiba-tiba Kenan merangkul bahu Gianna dan membuatnya sedikit terperanjat.
Gianna kemudian menoleh dengan mata melotot menatap Kenan.
“Lepas ngga?” -ancam Gianna.- “Lo ngga liat kita masih di kampus?” lanjutnya.
“Yaampun, tau ngga sih kalo gue ngga megang lo tuh rasanya gue takut lo ilang?” balas Kenan yang menurut Gianna tak nyambung dengan apa yang sudah di ucapkannya.
“Gue minta lo lepas, bukan tanya alasan elo meluk gue,” sahut Gianna masih dengan mata melotot.
“Galak banget sih? Ngga berubah, masih judes aja kayak pertama ketemu,” balas Kenan dengan mulut merengut.
“Iya gue emang galak, jadi mending elo lepas tangan lo sebelum gue pukul!” ancam Gianna sembari mengacungkan tangan yang sudah ia kepal ke depan Kenan.
“Wah wah wah,” -tiba-tiba saja terdengar suara yang tak asing bagi Gianna dan Kenan dari balik tembok- “Kalian ini kadang romantis kadang gelud, jadian aja sana!” ujarnya sedikit terkekeh.
Gianna dan Kenan sejenak saling pandang, kemudian bersamaan menatap Christo lagi.
Christo kemudian menatap Kenan dan Gianna bergantian.
“Kenapa?” -sejenak Christo balas menatap sedikit bingung. Namun kemudian ia tersadar akan sesuatu.- “For real?” ujarnya kemudian dengan tatapan sedikit kaget.
“Uhm … ,” Gianna memasang ekpresi bingung, tak tau harus bereaksi seperti apa.
“Ya … gitu, hahahaha,” Kenan pun tertawa canggung pula. Namun selagi Kenan tertawa, Gianna menyingkirkan tangan Kenan dari pundaknya dan menatap Christo serius.
“Tolong jangan bilang siapa-siapa ya,” ujar Gianna. Hal itu seketika membuat Kenan dan Christo menatap Gianna. Tatapan Kenan seketika berubah penuh tanya.
“Kenapa?” tanya Christo dan Kenan hampir bersamaan.
“Lo mau backstreet?” itu Kenan yang lanjut bertanya.
“Ngga,-” Gianna segera menggeleng.
“Terus?” belum selesai Gianna bicara, Kenan sudah memotongnya. Ia benar-benar tidak sabar.
“Gue ngga minta jadi rahasia, cuma maksud gue jangan koar-koar aja, kalo emang ada yang tanya ya jawab apa adanya, kalo ngga ada ya … cukup diem aja, gitu. Gue cuma ngga mau jadi pusat,” jelas Gianna meringis sembari menggaruk-garuk tengkuknya.
“Ah … ,” Kenan dan Christo mengangguk-angguk mengerti.
“Tenang aja Jian, ngapain juga gue pake tebar-tebar berita begitu? Gue bukan bandar gossip,” kekeh Christo sembari tersenyum kemudian menatap kameranya yang sejak tadi tergantung di lehernya.
Gianna mengangguk-angguk dan balas tersenyum tipis.
“Thank’s,”
“Chill,” -sahutnya.- “Ohya, yang lain kayaknya udah banyak yang ngumpul, kita nyusul sekarang yok,” ajak Christo pada Kenan.
“Oh? Iya?” -sahut Kenan.- “Yuk Ji,” Kenan mengajak Gianna yang kini menatapnya bingung.
“Emang kita mau kemana? Kak Christo juga ikut?” tanya Gianna heran.
“Kita sebenernya bakal hunting, satu kelas jurusan gue sama beberapa kating, salah satunya Christo,” jelas Kenan. Mereka kemudian secara alami berjalan mengikuti Christo yang berjalan lebih dulu.
“Jurusan lo? Terus ngapain gue ikut heh?! Gue bahkan ngga ikut kegiatan lens club dan segala macem yang ada hubungannya,” protes Gianna tak mengerti apa tujuan Kenan mengajaknya.
“Kan elo kemarin jadi modelnya Kenan, Jian, jadi Kenan di bolehin ajak modelnya buat ikut, anak-anak yang lain juga gitu kok. Bahkan ada yang bawa anjing peliharaannya, karna kemarin jadi objek foto,” jelas Christo sembari berjalan mundur menatap Gianna dan Kenan.
“Tuh,” imbuh Kenan membenarkan penjelasan Christo.
“Mmm … ,”Gianna mengangguk-angguk.
“Gue juga bakal bawa model kok, ada yang jadi relawan buat gue,” ujarnya.
“Siapa tuh? Lo ketemu siapa?” sahut Kenan penasaran.
“Nanti gue kenalin, dia kayaknya udah nunggu di bawah tangga,” kata Christo kembali menghadap ke depan.
Mereka kemudian sama-sama menuruni tangga, sejenak Gianna dan Kenan sempat saling bicara kemudian kaget saat mendengar suara Christo.
“Udah nunggu lama?”
Kenan dan Gianna sama-sama menoleh ke depan dan mereka pun sama-sama terkejut.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-