-*-*-*-
“Udah nunggu lama? Suzuna?”
‘Suzuna? Dia dateng?’ batin Gianna sedikit tak percaya dengan apa yang sudah di lihatnya.
“Belum kok kak,” suara Suzuna yang begitu lembut keluar bersama dengan senyuman manisnya yang mampu membuat hati siapapun berbunga dan nyaman saat melihatnya.
“Hahaha, oke deh. Btw, Ken, Jian. Dia yang gue maksud jadi relawan mau bantu gue jadi model,” ujar Christo menghadap Kenan dan Gianna yang sedang menatap dengan pandangan yang masih sedikit kaget dan tak percaya.
“Ah … ya … hai,” sapa Kenan sekedar formalitas.
“Hai, Suzuna,” sapa Gianna tersenyum sedikit terpaksa. Ia tidak tau harus bersikap bagaimana.
“Hai Ken,” tanpa Gianna duga, ia hanya membalas sapaan Kenan dan hanya tersenyum pada Gianna, itupun senyuman yang Gianna rasa kurang ikhlas, bahkan bisa di sebut palsu.
Tanpa sadar, tangan Gianna otomatis meraih kaus Kenan dan menjepitnya dengan jari tangannya serta sedikit menggeser tubuhnya mendekat pada Kenan. Terlihat seperti kucing.
Kenan yang menyadari itu seketika melepas tangan Gianna dari kausnya. Hal itu sempat membuat Gianna kaget dan menatap Kenan. Namun detik berikutnya Kenan membuat Gianna sedikit berdebar karena Kenan menggandeng tangannnya.
Suzuna yang melihat itu senyumnya sedikit pudar, bahkan sedikit memperlihatkan wajah kaget.
“Ah … kita berangkat sekarang kak?” tanya nya mengalihkan pembicaraan.
Sementara Christo, entah mengapa ia merasakan ada yang sedikit aneh dengan atmosfir di sekitarnya.
“Ah ya, kuta berangkat sekarang aja, kayaknya udah banyak yang ngumpul. Yuk,” ajak Christo berjalan lebih dulu dan segera di susul oleh Suzuna. Christo tak ingin ikut campur, pun hanya bisa bersikap ala kadarnya saja dan tak mengatakan apa-apa.
Kenan dan Gianna pun ikut menyusul di belakang Suzuna. Sejenak Gianna tersadar dan ingin melepas pengangan tangannya dengan Kenan. Namun Kenan justru mempererat pegangannya. Gianna menatap Kenan dengan alis bertaut dan ingin protes, akan tetapi Kenan tak peduli.
“Nanti,” katanya.
Gianna pun menengok ke depan di mana Suzuna berada, Suzuna seperti tak peduli dan hanya menghadap ke depan dan berjalan mengekori Christo.
Gianna menoleh pada Kenan lagi dengan tatapan yang seakan mengatakan.
‘Tapi kan dia ngga liat!’ serunya di dalam batin, tetapi masih bisa terdengar dari ekspresi wajahnya. Namun tentu Kenan dengan sifat jahilnya tak mempedulikan hal itu dan tetap menggandeng tangan Gianna.
“Nanti dulu,” katanya dengan suara pelan hampir berbisik.
“Hish!” -Gianna mulai kesal karena tau ini hanya akal-akalan Kenan. Ia pun melepas dengan paksa dan melotot menatap Kenan.- “Ngga usah aneh-aneh!” bisiknya begitu tajam.
“Oke-oke! Sorry gue nyerah,” balas Kenan yang masih tetap berbisik dan bibir yang tersenyum menahan tawa. Entah mengapa ia suka sekali menggoda Gianna
Gianna memutar bola matanya dan kembali berjalan menghadap ke depan.
‘Btw ... Kenan kok reaksinya sama kayak gue tadi? Dia tau soal Suzuna sama Ana? Atau emang ada problem pribadi? Kalo gue tanya gimana?’
Gianna kemudian menoleh dan menatap Kenan, ia kini fokus menatap ke depan dan tidak rusuh padanya.
Namun karena sadar Gianna menatapnya, Kenan menoleh.
“Kenapa? Mau gandengan?” katanya dengan senyuman yang menurut Gianna menyebalkan.
“Ngarep!” balas Gianna seraya melipat kedua tangan ke depan dadanya.
‘Gue tanya nanti-nanti aja deh,’ batinnya.
Setelah terus berjalan keluar dari gedung kampus, Gianna dan Kenan bisa melihat orang-orang di dekat pelataran parkir yang tengah berkumpul, cukup banyak.
“Hoi! Jemput kok lama amat, mampir kemana dulu sih?”
Suara seorang laki-laki yang begitu sering Gianna dengar, tiba-tiba saja datang dan mengejutkan Gianna.
“Bac*t ya,” -balas Kenan menanggapi candaan Ravindra.- “Lo sendiri gimana? Sendiri?” tanya Kenan.
“Nope,” -jawabnya menggeleng.- “Gue sama orang yang kemaren jadi model foto gue,” lanjutnya.
“O-oh … ,” -Kenan sedikit kaget dan otomatis melihat Gianna yang saat ini sedang melihat kesana kemari memperhatikan setiap orang yang datang.- “Lu yang ngajak?” tanya Kenan kembali menoleh pada Ravindra.
“Iya, masa lu sama cewek, gue jadi kameramen? Ogah banget,” balas Ravindra dengan wajah mengejek.
“Hahaha, kan dari awal gue emang cocok sama posenya Gianna, lu sendiri yang ngga nyari model,” Kenan tak mau mengalah membalas mengejek Ravindra.
“Iya itu kan kemaren. Sekarang gue udah ada,”
Seperti percakapan pada umumnya, mereka mengobrol selayaknya sahabat pada umumnya, sementara Gianna pun asik pada dunianya melihat kesana kemari memperhatikan setiap orang yang ada dan beberapa kali bertambah, bahkan rupanya ada anak yang satu jurusan dengannya yang ikut menjadi model, terlihat dari mereka yang berdiri di sebelah orang yang membawa kamera.
Ketiga orang itu awalnya hanya bersantai dan menunggu keputusan kapan mereka akan berangkat, sampai akhirnya sesuatu mengalihkan perhatian mereka.
“Hai Ken-Ken,”
Panggilan itu membuat mereka bertiga seketika menoleh pada asal suara.
‘Ken-Ken? Dia manggil Kenan?’ batin Gianna sedikit kaget, sebisa mungkin ia memasang wajah datar.
“Oh, hai Zuzu, lo masih aja manggil kita begitu,” jawab Ravindra, dengan senyuman ramah.
“Hai,” Kenan hanya membalas sedapatnya dan terlihat tak terlalu tertarik,
‘Ohiya, Kendrick,’ Gianna mengangguk-angguk di dalam batinnya mulai paham.
Gianna teringat kalau Suzuna pernah menjadi model Kenan, jadi mungkin saja mereka pernah dekat dan itu adalah nama panggilan yang di buat oleh Suzuna untuk Ravindra dan Kenan.
“Iya lah! Tiap liat kalian berdua gue pasti harus manggil begitu,” balasnya dengan senyuman cerah.
Gianna tak munafik, Suzuna adalah salah satu wanita yang cukup cantik yang pernah mengobrol dengannya. Mata bulat hitam mengkilap dengan rambut hitam panjangnya itu membuatnya terlihat seperti gadis polos dan anggun.
Gianna tak sadar, padahal dirinya juga sebenarnya tak kalah cantik dengan cara yang berbeda, ia juga memiliki kesan gadis polos, tetapi imut dan menggemaskan. Tubuhnya yang mungil juga semakin menambah kesan ingin melindungi bagi laki-laki yang memandangnya.
Apalagi jika ia bersanding dengan Kenan yang tingginya 185cm membuatnya terlihat semakin mungil walaupun hanya selisih 22cm.
“Lo jadi model lagi?” tanya Ravindra kemudian, Gianna dan Kenan hanya menyimak.
“Mmm … yah … ,” Suzuna tampak menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga sembari menatap Kenan. Gianna pun otomatis melirik Kenan pula.
‘Ni anak kenapa?’ batin Gianna. Sejak pertama ia bertemu Suzuna, entah mengapa ia selalu merasa ada yang mengganjal, seperti kerikil.
“Lagi pengen aja, kan udah lama juga ngga ikut hunting,” jelasnya balik menatap Ravindra, sedangkan Ravindra ikut melirik Kenan.
“Ah … yayaya,” Ravindra menganggguk-angguk menanggapi dan tersenyum untuk menutup rasa awkward yang tiba-tiba saja terasa.
“Gue pergi dulu ya, mau nyamperin si Chiko,” kata Kenan seraya menghadap Gianna dan bersiap mendorongnya menjauh dari sana.
“Okay,” jawab Ravindra dengan cepat,
“Eh, Ken, nanti mau satu mobil ngga sama gue sama kak Christo?” tiba-tiba saja Suzuna bicara dan membuat Kenan tertahan untuk pergi dari sana. Gianna yang sudah siap untuk di dorong Kenan otomatis menoleh pada Kenan dan menatapnya.
“Thank’s, tapi gue naik mobil sendiri aja,” jawab Kenan kemudian segera beranjak meninggalkan tempat itu sembari mendorong Gianna.
Gianna yang tak suka, segera menyingkir.
“Udah di bilang gue risih, seneng banget dorong-dorong gue,” ujar Gianna yang telah berdiri di samping Kenan.
“Ngga papa sih, biar jalannya cepet,” kata Kenan sedikit terkekeh.
Seperti biasa, Gianna hanya mencebikkan bibirnya untuk menanggapi. Namun di batinnya ia sudah gatal ingin bertanya mengenai Kenan dan Suzuna.
“Gue tau, lo pasti penasaran soal dia, tapi nanti ya ceritanya,”
Ucapan Kenan seketika membuat Gianna menoleh dengan mata melebar, alis menyatu dan mulut terbuka.
“What?!” pada akhirnya hanya itu kata-kata yang bisa ia ucapkan.
“Hahaha! Lucu banget sih reaksi lo,” jari tangan Kenan otomatis mencubit hidung Gianna gemas.
Namun Gianna segera menyingkir.
“Ngaku! Lo bisa baca pikiran?” tanya Gianna tak terima pikirannya terjawab tanpa harus susah-susah bertanya.
“Keliatan Ji, bukan gue yang bisa baca,” kata Kenan tersenyum menatap Gianna yang masih saja bisa terlihat imut di matanya.
“Oh,” Gianna membuang muka dan kembali berjalan menghadap ke depan.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-