-*-*-*-
“Hei, sorry lama,” ucap seorang wanita yang baru saja datang menghampiri Ravindra.
“Oh hei. Tenang, belum berangkat,” ujar Ravindra seraya menengok, yang nyatanya orang itu adalah Aghata.
Aghata hanya mengangguk, lalu sadar ada keberadaan Suzuna disitu.
‘Siapa ni orang,’ batinnya.
Namun ia tak terlalu memperdulikannya dan hanya memainkan ponselnya sembari menunggu.
“Oh iya, dia model baru lo, Rav?” ucap Suzuna kembali memulai percakapan.
Sejak tadi, Suzuna belum juga beranjak dari tempatnya dan terus mengobrol dengan Ravindra. Entah kemana Christo, antara Suzuna yang tak mengikutinya, atau memang ia di suruh menunggu.
“Ah, iya,” Ravindra hanya mengangguk-angguk saat melihat yang di maksud Suzuna adalah Aghata. Sementara Aghata, yang mendengar namanya di sebut segera memasang telinga meskipun ia terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.
‘Kenapa dia tiba-tiba nanya,’
“Lo sama Kenan masih pemilih ya kalo mau nyari model?” tanya Suzuna lagi.
Ravindra sejenak diam, tak paham maksud ucapan Suzuna.
“Maksudnya?”
“Eh, tapi kayaknya cuma Kenan yang pemilih ya? Ini dia yang minta sama lo buat jadi model lo pasti kan? Secara kan, elo ngga pemilih kayak Kenan,” ujarnya seraya tersenyum menatap Aghata yang masih fokus dengan ponselnya.
Ravindra dan Aghata sama-sama tak paham. Mereka tak mengerti apa sebenarnya tujuan Suzuna bertanya begitu. Namun entah mengapa nada bicaranya sedikit membuat tak nyaman.
“Mm … ngga sih, kali ini gue ikut-ikutan Kenan,” jawab Ravindra. Suzuna dan Aghata seketika bingung. Suzuna menatap Ravindra dengan pandangan bertanya, sementara Aghata masih pura-pura tak peduli.
“Gue yang minta dia jadi model buat gue, karena gue tau, dia juga bisa jadi model yang berpose baik,” tutur Ravindra jujur.
Hal itu membuat respon berbeda yang di munculkan oleh dua orang pendengar yang sejak tadi menyimak ucapan Ravindra. Suzuna yang kaget dan tak percaya dengan ucapan Ravindra dan Aghata yang sedikit campur aduk hatinya antara senang dan sakit hati. Senang karena Ravindra mau memandangnya dengan baik, dan sakit hati karena teringat Kenan yang menolaknya beberapa kali.
“Ah … apa penilaian lo ke dia sama kayak lo nilai gue waktu gue masih jadi model Kenan?”
Pertanyaan Suzuna seketika berhasil membuat Aghata teralih perhatiannya.
‘Model Kenan?’ batin Aghata sedikit tersadar, ia pun perlahan mendongak dan melihatnya.
Mereka kemudian saling pandang dan Suzuna tersenyum pada Aghata. Aghata pun balas tersenyum canggung.
‘Pendek,’ batin Aghata saat melihat Suzuna yang terlihat lebih pendek darinya yang tingginya 174cm. Suzuna memang sedikit lebih tinggi dari Gianna. Namun jika di bandingkan dengan Aghata, tubuhnya tetap terlihat lebih pendek.
‘Ah … apa ini alasan Kenan ngga mau nerima gue jadi modelnya?’ batin Aghata berpikir konyol, menduga-duga.
‘But, wait … ,’ Aghata seperti ingat akan sesuatu dan kembali menoleh pada Suzuna.
‘Gue kayaknya pernah liat dia entah dimana. Kapan ya?’ batinnya ragu seperti samar-samar mengingat.
“Ntahlah, Zu, menurut gue tiap model punya warnanya sendiri dan mereka bisa jadi model yang berpose pakai cara mereka,” -jelas Ravindra membela Aghata. Ucapannya itu seketika membuat Aghata menatapnya. Sementara Ravindra hanya meliriknya sekilas.- “Selain itu, mereka yang kita anggep ngga ada bakat, bukan berarti mereka ngga punya, bisa jadi itu memang bukan bidangnya, jadi kita ngga bisa bandingin,” lanjutnya.
“Ah … okay,” Suzuna tersenyum canggung, mendapat jawaban begitu dari Ravindra.
‘Aw, anak rese ini bisa ngerti perasaan cewek juga ternyata,’ batin Aghata sedikit senang karena Ravindra membelanya.
*
“Biasanya kalian bakal hunting kemana?” tanya Gianna pada Kenan yang saat ini sedang mengotak-atik kameranya seperti biasa.
Saat ini, mereka tengah bersandar di balik mobil Kenan yang tak jauh dari rombongan.
“Mmm … mungkin kali ini kita bakal foto di samping gereja,” jawab Kenan tanpa menoleh.
“Wah? Gereja? Gereja yang mana?” tanya Gianna penasaran dengan mata berbinar.
Sadar Gianna terlihat bersemangat, Kenan beralih dari kameranya dan menatap Gianna.
“Semangat banget?” tanya Kenan heran melihat wajah Gianna terlihat penuh dengan ekpektasi.
“Ngga tuh, apa keliatannya kayak gitu?” tanya Gianna seraya merubah ekspresinya menjadi lebih datar.
“Hahaha, langsung berubah,” -tangan Kenan seperti biasa, otomatis maju dan mencubit pelan pipi Gianna. Entah mengapa kali ini Gianna hanya diam saja Kenan mencubit pipinya. Kenan pun bingung kenapa Gianna tak menyingkirkan tangannya seperti biasa.- “Tumben. Kok diem aja,”
Sejenak Gianna diam dan menatap Kenan dalam. Tangannya tersilang didepan d**a dan pandangannya terlihat serius.
“Gue cuma heran. Kenapa lo suka banget cubit pipi gue? Apa setiap cowok begitu ke cewek? Tujuannya apa juga, sampe sekarang gue ngga paham,” jelasnya seraya menunjut jari-jari tangan Kenan yang masih mencubit pipinya.
“Oh, ini?” -Kenan terkekeh sembari menggoyang pipi Gianna yang masih ia cubit.- “Ngga tau ya? Gue juga otomatis aja gitu pengen cubit,” jelasnya seraya menambah cubitan di pipi Gianna yang lain.
“Astaga … ,” -Gianna menutup matanya menghela nafas berat. Bisa-bisanya Kenan menambah tangannya yang lain.- “Elo kok ngelunjak ya Ken? Lepas ngga?” ancam Gianna memberi peringatan.
“Ngga mau,” tentu saja tak semudah itu, Kenan yang jahil tak akan secepat itu mau mendengarkan Gianna jika Gianna belum kesal. Entah apa tujuannya melakukan itu semua.
“Ken … ,” Gianna membuka matanya dan menatap Kenan dengan kilatan rasa kesal yang mulai beranjak menjadi amarah.
“Apa?” Kenan justru tersenyum dan masih saja ingin menggoda Gianna.
“Lepas!” ujar Gianna pelan namun penuh dengan penekanan.
“Coba sendiri,” Kenan justru menantang balik dan itu membuat Gianna semakin kesal, karena Kenan pasti akan melakukan hal yang lain yang lebih mengesalkan dari ini.
“Ngga mau, lo mau ngapain nanti?” tanya Gianna waspada.
“Loh kok malah ngga mau? Katanya minta lepas?” Kenan seketika terkekeh melihat Gianna yang paham dengan niat jahilnya yang lain.
“Kan ketawa kan, pasti ini. Udah sih lepasin aja,” kesal Gianna yang mulai lelah dengan semua perbuatan jahil Kenan.
“Yaudah ngga jahil, sekarang coba lepas tangan gue,” kata Kenan masih tak bisa berhenti terkekeh melihat wajah kesal Gianna.
“Hish!” Gianna sudah lelah, sehingga pada akhirnya ia mengalah dan mencoba melepas tangan Kenan dari wajahnya dengan mulut merengut. Sungguh, tak tau sudah berapa kali mulut merengut menghiasi wajahnya setiap kali ia bersama Kenan.
Gianna berhasil melepas tangan Kenan dari wajahnya, akan tetapi begitu tangan Kenan turun dari wajahnya, Kenan otomatis meraih lekukan tubuh Gianna dan memeluknya sampai tubuh Gianna terangkat. Mata Gianna membulat. Tentu saja ia sangat kaget.
“What? Ken?! Lo ngapain sih?!” seru Gianna sembari memukul punggung Kenan.
Untuk beberapa saat Kenan tak menjawab. Namun detik berikutnya tanpa Gianna duga, Kenan mengecup pipi kirinya dan itu membuat Gianna membeku.
Setelah melakukan itu, tanpa penjelasan maupun basa-basi, Kenan menurunkan Gianna, mengusap puncak kepalanya dan meninggalkannya. Ia bahkan masih sempat meninggalkan senyum manis sebelum akhirnya menghilang dari balik mobil, karena ia pergi ke tempat rombongan berada.
Gianna menutup matanya dan menarik nafasnya panjang-panjang.
“Tenang … tenang … tenang … ,” ujarnya berusaha menetralkan jantung yang berdetak tak wajar.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-