-*-*-*-
Gianna menutup matanya dan menarik nafasnya panjang-panjang.
“Tenang … tenang … tenang … ,” ujarnya berusaha menetralkan jantung yang berdetak tak wajar.
Gianna pun hanya bisa menetralkan jantungnya, sementara Kenan kini berkumpul dengan rombongannya.
‘Dia sebenernya kenapa sih? Heran gue,’ batin Gianna kesal dengan pipinya yang memerah.
*
Setelah beberapa saat menunggu di samping mobil, Kenan akhirnya selesai bicara dengan rombongannya dan menghampiri Gianna.
“Yuk berangkat!” ajak Kenan dengan semangatnya mengejutkan Gianna yang tengah memainkan kerikil yang ada di kakinya.
“Eh? Udah?” tanya Gianna pada Kenan yang senyum cerahnya masih belum sirna sejak terakhir kali ia meninggalkan Gianna. Entah mengapa terkadang Gianna tak sadar kalau Kenan itu sebenarnya cukup tampan. Bahkan kali ini entah mengapa Gianna berdebar menatap Kenan yang senyumnya terlihat sangat manis.
“Iya udah, nanti kita ngikut di belakang atau dari tengah rombongan juga bisa,” jawab Kenan seraya menatap rombongannya yang mulai bersiap untuk berangkat, bahkan ada yang sudah menaiki sepeda motor maupun mobilnya masing-masing.
‘Apa karna dia cium pipi gue tadi ya? Dia kok jadi keliatan ganteng gini,’ batin Gianna sedikit terpana menatap sisian kiri wajah Kenan yang terlihat sangat cantik untuk dipandang.
“Ayo masuk, kita juga berangkat … ,” -Kenan berhenti bicara saat tau Gianna kali ini sedang menatapnya. Tanpa sadar, entah mengapa Kenan justru merasa canggung.- “Kenapa?” tanyanya sedikit terkekeh canggung di tatap begitu.
“Ngga papa sih. Pengen aja natap kamu,” -ujar Gianna menjawab asal. Tanpa aba-aba ataupun bicara, ia tiba-tiba maju dan tangannya naik menggapai puncak kepala Kenan dan mengacak-acaknya.- “Ayo berangkat,” ajaknya seraya tersenyum, kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobil Kenan.
Kali ini, Kenan yang terdiam. Tanpa sadar ia terkekeh dan membuang mukanya menatap awang.
‘Ya Tuhan, kenapa dia bisa seimut itu?’ batinnya sedikit salah tingkah.
Namun karena tak mau tertinggal rombongan dan membuat Gianna menunggu, Kenan segera masuk ke dalam mobilnya.
*
Di jalan, Kenan dan Gianna sempat saling diam begitu meningalkan area kampus. Tak ada yang berani memulai pembicaraan karena masih saling merasa salah tingkah.
Namun kemudian Kenan yang memulai pembicaraan.
“Oh ya, Ji,” ucapnya.
“Ya?” kata Gianna menoleh.
“Masih inget kan tadi kita mau omongin soal Suzuna?” lanjutnya dan di balas anggukan kepala Gianna.
“Jadi Tia cerita ke gue, soal Suzuna yang bikin kalian sempet ada konflik dan saling menjauh beberapa hari lalu,” -tuturnya memulai penjelasan.- “Selain itu, gue rasa lo udah tau kalo sebelumnya dia itu model gue, tapi gue berhentiin dia,” ujarnya menatap sekilas Gianna yang sedang menyimak. Gianna pun kembali menjawab dengan anggukan kepala.
“Sebenernya setelah Suzuna berhenti, gue sempet ada konflik juga sama dia. Meskipun gue udah maafin hal itu, begitu tau dia bikin elo sama Tia menjauh, gue makin hilang respek sama dia. Begitu tau kalo hari ini dia jadi relawan buat Christo, gue kaget. Kenapa dia harus balik ke dunia permodelan di jurusan gue?” jelas Kenan panjang lebar dengan mata yang fokus menatap ke depan mengikuti rombongannya.
Gianna terdiam, ia teringat dengan ucapan Suzuna yang mengatakan kalau Kenan memberhentikannya dengan alasan untuk kebaikannya, tapi tidak mengatakan kalau sempat ada konflik dengan Kenan.
‘Apa ini? Kenapa beda? Siapa yang bohong?’ batin Gianna.
“Gue liat, sewaktu gue jemput lo buat minta tolong bantu koreksi kerjaan kelas gue, dia ada sama lo,” ucap Kenan menyadarkan Gianna yang sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Ah, iya,” Gianna kembali menatap Kenan yang masih fokus menatap jalan.
“Kalo boleh tau, dia ngomong apa sama lo?” tanya Kenan kembali menatap Gianna meskipun hanya sekilas.
“Dia minta tolong sama gue buat jadi model lo,” jawab Gianna jujur.
Sementara Kenan seketika tertawa saat itu juga begitu mendengar jawaban Gianna. Gianna pun heran melihat Kenan yang tiba-tiba saja tertawa.
“Terus lo jawab apa?” lanjut Kenan begitu selesai tertawa.
“Gue bilang, ‘ngga mau, minta aja sendiri.’ Soalnya gue juga kan cuma model yang bantuin elo, gue ngga ngerti apa-apa soal pemotretan dan gue rasa gue ngga ngga ada hak buat bujuk-bujuk elo minta dia jadi model,” jelas Gianna yang lagi-lagi membuat Kenan tertawa. Hal itu membuat Gianna kembali merasa heran.
“Pinter-pinter, udah seharusnya emang buat lo nolak aja,” -kata Kenan masih sedikit terkekeh.- “Ohya, soal konflik antara gue sama Suzuna, gue rasa kurang tepat sih buat di sebut sebagai konflik. Soalnya gue cuma kecewa dan kesel sendiri sama dia dan gue rasa dia ngga tau soal itu,” jelas Kenan tersenyum masam.
“Ah … kecewa ya,” Gianna mengangguk-angguk mengerti.
‘Kecewa soal apa? Dia pernah suka sama Suzuna?’ batin Gianna kembali bertanya.
“Tapi tenang aja, gue sama dia bukan konflik masalah percintaan kok,” kata Kenan menatap Gianna dengan senyum yang menenangkan.
Gianna pun kaget, entah mengapa sejak awal bertemu dengan Kenan, ia selalu merasa Kenan menjawab semua pertanyaan yang ada di kepalanya.
“Ken!” Gianna tiba-tiba memanggil Kenan dan membuatnya harus menoleh pada Gianna. Namun karena kebetulan lampu sedang merah, Kenan bisa menatap Gianna sedikit lebih lama.
“Apa?” katanya menjawab Gianna.
“Coba tebak apa yang gue pikirin sekarang,” ujarnya menatap Kenan serius.
Kenan menatap Gianna sebentar dengan pandangan heran.
“Jangan bilang sekarang lo lagi ngira kalo gue bisa baca pikiran lo?” tanya Kenan.
“Iya. Tau ngga sih, dari pertama kita ketemu, gue ngerasa kalo elo itu selalu jawab semua yang ada di otak gue, yang gue pertanyakan saat itu juga,” ujar Gianna.
“Hahaha,” -Kenan tertawa lagi. Tak tau sudah berapa kali ia tertawa hari ini.- “Gini loh, sayang … ,”
Deg
Jantung Gianna seketika terasa berhenti berdetak, matanya menatap Kenan tanpa berkedip akan tetapi telinganya seakan berubah tuli secara tiba-tiba.
‘Dia bilang apa? S-sayang?’ batinnya tak percaya dengan apa yang di ucapkan Kenan. Semua ucapan Kenan seakan langsung dalam mode bisu begitu Kenan megucapkan kata ‘Sayang’.
“... gue itu bukannya bisa baca pikiran elo, tapi gue cuma bisa tebak keadaan dan apa kemungkinan yang elo pertanyakan saat itu juga,” jelas Kenan sementara Gianna sedang melamun dalam dunianya. Kenan sudah selesai bicara, namun Gianna hanya mengangguk-angguk seperti orang linglung.
“Paham?” tanya Kenan sembari menjalankan mobilnya karena lampu sudah hijau.
“Ngga-eh iya paham,”
Bohong, sebenarnya Gianna tak mendengar apa-apa tadi, tapi ia tentunya tak berani meminta Kenan mengulang.
Kenan pun hanya bisa terkekeh. Sepertinya ia tidak tau kalau Gianna salah tingkah hanya karena Kenan memanggilnya dengan sebutan ‘Sayang’.
“Hahaha, gimana sih, pokoknya, intinya gue ngga bisa baca pikiran lo, cuma kebetulan bisa tau keadaan dan kemungkinan yang elo pertanyakan saat itu juga,” ujarnya.
“Oke sekarang gue paham,” Gianna mengangguk lagi pertanda ia mengerti.
Kali ini ia sungguh-sungguh mengerti, akan tetapi, demi menutupi rasa salah tingkahnya yang masih tersisa, Gianna memilih menatap keluar jendela dan melihat apa saja yang mereka lewati.
‘Baguslah kalo elo emang ngga bisa baca pikiran, apalagi untuk saat ini,’
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-