Lebih Istimewa Darimu

1126 Kata
-*-*-*- Gianna sedikit terpana begitu melihat tempat yang mereka datangi. Rupanya itu adalah gereja yang sudah tidak terpakai, tetapi lingkungannya masih terawat dan sangat bersih. Tak jauh dari lingkungan itu terdapat beberapa rumah sederhana yang kemungkinan besar Gianna duga sebagai rumah orang yang merawat lingkungan gereja. “Mau tunggu disini atau ikut gue?” tanya Kenan membuyarkan lamunan Gianna yang tengah melihat-lihat sekitar. “Gue tunggu aja disini, lagian lo masih keliatan kok dari sini,” jawab Gianna di akhiri dengan senyuman. “Oke,” Kenan mengangguk dan menghampiri rombongannya. Sepertinya akan ada yang disampaikan lagi. Sembari menunggu Kenan, Gianna melihat-lihat sekitar dan masih seperti anak remaja pada umumnya, Gianna mengambil ponselnya dari saku celana dan memotret setiap hal yang menarik perhatiannya. Gianna tak berhenti tersenyum. Ini adalah kali kedua ia merasa cocok dengan tempat yang ia datangi bersama Kenan. Masih sibuk memotret, seseorang memanggilnya dan membuatnya terkejut. “Hei!” serunya. Gianna yang merasa seruan itu tertuju padanya pun segera menengok. “Ya?” Gianna tak berselera untuk menjawab sehingga ia hanya menjawab sedapatnya dan karena tidak terlalu peduli, ia pun kembali memotret dengan kamera ponselnya. “Lo kayaknya makin deket sama Kenan, kali ini ini elo yang ngikut kan, pasti?” ujarnya yang rupanya ia adalah Suzuna. Gianna hanya menghela nafasnya. “Kenapa ngga tanya sendiri aja? Biar puas,” jawabnya sembari berbalik menatap Suzuna. “Kan ada elo disini, Jian. Masa iya gue susul Kenan kesana? Rame gitu, malu gue diliatin,” balasnya. “Oh iya, pasti malu ya kalo tiba-tiba masuk,” balas Gianna mengangguk-angguk. Ia kemudian lanjut memotret tempat-tempat yang lain. “Lo ngga mau jawab pertanyaan gue?” lanjut Suzuna mengikuti Gianna. “Emang kenapa? Penasaran banget?” balas Gianna tak mempedulikan Suzuna yang masih mengikutinya. “Tinggal jawab apa susahnya sih?” mulai kesal, nada bicara Suzuna sedikit meninggi. Gianna kaget mengetahui Suzuna kesal padanya, ia kemudian berbalik dan melihat Suzuna sudah benar-benar di belakangnya. “Lo marah? Slow down,” sahut Gianna menatap heran dengan keuda alisnya yang bertaut. Suzuna menutup mata. Ia menghela nafas yang terasa berat dan membuangnya. “Gue, ngga, marah,” ucapnya dengan penekanan. Tak ingin memancing keributan, Gianna kemudian menjawabnya. “Kenan yang ajak,” katanya seraya kembali memotret. Kali ini ia berjalan cepat meninggalkan Suzuna, dengan harapan ia bisa sendirian sejenak sebelum Kenan mengajaknya lagi untuk di potret. “Oh ya?” tanya Suzuna tak yakin masih mengikuti Gianna. Mendengar Suzuna masih mengikutinya, Gianna menghembuskan nafasnya kasar. “Buat apa juga gue bohong,” jawab Gianna tak peduli. “Yakin bukan elo yang minta ikut? Soalnya … gue denger-denger … ,” -Suzuna menjeda ucapannya bermaksud membuat Gianna penasaran, tetapi Gianna tetap tak peduli.- “Gue denger-denger, elo suka nempel sama Kenan? Makanya gue kurang yakin kalo bukan elo yang minta ikut ke sini,” lanjutnya yang kini berhasil membuat Gianna berhenti berjalan dan mematung. Gianna mulai tak tahan dan akhirnya ia berbalik untuk menghadap Suzuna. “Sebenernya tujuan lo apa sih?” tanya Gianna menatap Suzuna yang berdiri cantik di hadapannya dengan senyum manis. “Tujuan? Ngga ada sih. Gue cuma penasaran, sebenernya apa yang menarik dari elo sampe Kenan milih lo jadi modelnya,” ujarnya seraya melangkah mendekat pada Gianna. Sementara Gianna hanya diam di tempat dan menyimak semua yang di ucapkan oleh Suzuna. “Gue kan udah bilang, kalo penasaran, kenapa lo ngga tanya langsung sama Kenan?” jawab Gianna tak peduli dengan Suzuna yang sekarang begitu dekat berada di hadapannya. “Hahaha, lucu. Seakan-akan semuanya murni Kenan yang milih elo,” kekeh Suzuna tersenyum remeh menatap Gianna. “Kalo iya gimana?” balas Gianna menantang. “Hahahahaha, lucu banget, itu mustahil. Ngga percaya gue,” “Yaudah terserah lo, gue juga ngga minta lo percaya kok,” sahut Gianna cuek balas menatap remeh pada Suzuna. Pandangan Suzuna seketika berubah menjadi datar. “Emang lo pikir, elo se istimewa apa sampe sepede itu?” ujarnya yang tanpa Gianna duga, Suzuna mulai berani dengan mendorong bahu kiri Gianna dengan jari telunjuknya. Mata Gianna membulat dan kedua alisnya bertaut menatap bahunya yang sempat di sentuh. Matanya kemudian beralih menatap Suzuna yang kini sudah berubah serius ekspresi wajahnya. “Jawab gue!” serunya. Dengan sedikit rasa kesal, Gianna membalas dengan menatap tajam mata Suzuna. “Setidaknya lebih dari elo,” balasnya tegas. Mengingat sebelumnya jika ia diam saja tak menyelesaikan apa-apa ketika dirinya di pojokkan, Gianna ingin berubah. Ia mencoba untuk lebih berani lagi. Mendapat jawaban itu wajah Suzuna berubah lagi. Ia mungkin menjadi kesal sekarang. “Apa maksud lo? Emang lo pikir lo siapa? Hah?” makin berani, Suzuna mengatakan itu semua bersamaan dengan jari telunjuknya yang terus mendorong bahu kiri Gianna sampai mau tak mau Gianna melangkah mundur. Namun itu tak berlangsung lama, karena Gianna kemudian menyingkir dan membuat tubuh Suzuna sedikit limbung ke depan. “Tolong jangan kayak bocah SMA, kita sama-sama Mahasiswa,” balas Gianna. Wajah Suzuna semakin kesal akibat Gianna yang menghindarinya dan membuatnya hampir terjatuh. Namun baru saja mulutnya terbuka untuk bicara, Gianna langsung memotongnya. “Siapa pun gue, elo ngga perlu tau. Yang perlu lo tau, siapa pun orangnya, mereka berhak jadi apapun yang mereka mau, selama itu ngga merugikan orang lain,” tandas Gianna penuh penekanan. Ia kemudian berbalik dan beranjak meninggalkan Suzuna. Namun begitu ia berbalik, ia menemukan Kenan dan Christo yang sedang melangkah menuju dirinya dan Suzuna. “Kenan,” ujar Gianna. “Ngapain disini, gue cariin … ,” -senyuman Kenan sejenak pudar saat mengetahui Gianna tak sendirian.- “Lo … sama dia ngapain disini?” tanya Kenan begitu sampai di hadapan Gianna. “Kalian ngobrol kok jauh amat, untung ngga hilang,” imbuh Christo yang di maksudkan untuk Suzuna. “Hahahaha, ngga papa kok kak, gue sama Gianna cuma liat-liat,” jawab Suzuna dengan senyuman cerah, secerah matahari pagi. ‘Aw … lihatlah aktingnya. Padahal baru aja beberapa detik lalu dia keliatan mau cakar muka gue,’ batin Gianna melihat kemulusan Suzuna dalam menutupi hal yang baru saja terjadi. Detik berikutnya tanpa persetujuan Gianna, Kenan menggandeng tangannya dan membawanya pergi dari sana. “Ah, lo ngagetin,” ujar Gianna berusaha menyeimbangi langkah Kenan Kenan tak membalas ucapan Gianna, ia kemudian membawa Gianna ke tempat yang agak jauh dari namun masih bisa terlihat oleh orang-orang. “Kalian ngomongin apa aja tadi?” tanya Kenan seraya bersandar pada batang pohon menghadap pada Gianna dengan tangan yang masih menggenggam tangannya. Gianna diam sejenak mendengar pertanyaan itu, detik berikutnya ia tertawa masa dan tertunduk. Melihat tangan Kenan yang berada dalam genggamannya, entah mengapa ia otomatis menggenggamnya lebih erat. Menyadari itu, Kenan sedikit kaget dan berubah sedikit khawatir wajahnya. “Hei … kenapa?” tanya Kenan. “Hahaha, ngga papa kok,” -Gianna mendongak dan menatap Kenan.- “Gue cuma kaget,” -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN