Kesayangan Baru

1396 Kata
-*-*-*- Menyadari itu, Kenan sedikit kaget dan berubah sedikit khawatir wajahnya. “Hei … kenapa?” tanya Kenan. “Hahaha, ngga papa kok,” -Gianna mendongak dan menatap Kenan.- “Gue cuma kaget,” ujar Gianna tersenyum. “Yakin?” tanya Kenan tak percaya. “Iya yakin kok,” Gianna mengangguk masih tersenyum. “Bohong, ketahuan,” -ujar Kenan masih tak percaya. Gianna terkekeh. Ia tau kalau terkadang ia memang tak bisa membohongi Kenan.- “Kan, malah ketawa. Ayo cerita,” pinta Kenan seraya mengayunkan tangannya yang bergandengan dengan Gianna. “Hahaha, jangan disini, nanti yang lain denger, bisa jadi gosip berjamaah,” tawar Gianna tersenyum menahan tawa. “Terus dimana?” “Nanti, pas kita pulang,” sarannya. “Oke, nanti cerita loh ya, kalo ngga gue tagih terus sampe lo cerita,” ujar Kenan seraya berdiri tegak ke hadapan Gianna. Gianna hanya mengangguk mendengarnya. Seperti biasa, tangan Kenan kemudian maju dan mengusap puncak kepala Gianna. Karena gemas, Kenan juga berniat untuk memeluk Gianna. Namun karena Gianna sadar akan hal itu, ia langsung mundur waspada. Wajahnya seketika menjadi serius dan kedua alisnya bertaut. “Jangan ambil kesempatan lo ya,” tukas Gianna ketus. “Astaga, pelit banget,” Kenan seketika memasang wajah merengut mendapat penolakan dari Gianna. “Ngga pokoknya,” Gianna menggeleng kuat-kuat dengan tegas menolak. “Yaudah deh. Lagian juga nanti masih bisa,” Kenan mengangguk-angguk, kali ini ia mengalah untuk tidak jahil dulu. Ia juga sedang mendapat tugas untuk memotret. Ia tidak ingin mengurangi waktu. Mendengar ucapan Kenan, mata Gianna seketika memicing sinis. Namun ia tidak ingin memperpanjangnya. Ia juga sadar kalau Kenan saat ini sedang dalam kegiatan jurusan, ia tidak ingin menjadi beban. “Kesana yuk, kayaknya belum banyak yang ke situ,” ajak Kenan menunjuk pada terowongan pohon berbunga yang baru di datangi dua sampai empat orang dari jurusan Kenan. Gianna mengangguk, mereka pun berjalan beriringan mendatangi terowongan itu. Sesampainya di sana, Kenan mulai memotret Gianna dan seperti biasa, Gianna bersikap apa adanya seperti tak ada kamera. Terkadang Kenan memanggilnya agar Gianna bisa menatap kamera tanpa ia sadari. Tak hanya Gianna, Kenan juga memotret tempat-tempat yang lain. Ia bahkan juga memotret beberapa model lain yang merupakan model teman-teman satu jurusannya. Beberapa dari mereka yang memintanya, beberapa juga merupakan permintaan Kenan. Kenan memang pemilih dalam menjadikan seseorang sebagai modelnya tetapi bukan berarti ia tidak mau memotret orang lain. Jika momennya memang sedang tepat dan cocok, ia akan dengan senang hati memotretnya, bahkan dengan senang hati menerima permintaan orang yang ingin di potret olehnya. Hanya mengingatkan, kalau memotret sudah jadi hobi Kenan dan ia senang menjalaninya. Beberapa menit sudah berlalu dan Kenan sudah mengambil beberapa foto. Mereka pun memutuskan untuk istirahat karena sudah sedikit lelah. “Nih,” Kenan menyodorkan sebotol air minum dari dalam tasnya yang ia ambil dari dalam mobil. “Makasih,” kata Gianna tersenyum. Kenan kemudian duduk di batu besar di depannya, sementara Gianna duduk di jok mobil Kenan bagian kemudi. Kenan yang memintanya untuk duduk di disitu. “Sama-sama, eh-” Kenan seperti teringat sesuatu dan menghentikan Gianna yang hendak meneguk air minumnya. “Ke-kenapa?” Gianna sedikit kaget karena Kenan tiba-tiba saja bicara dan berdiri. “Ngga jadi, gue kira lo ngga bisa buka botolnya,” ucap Kenan kembali duduk dan memeriksa hasil fotonya. “Ih, cuma buka botol gue mah bisa Ken,” sahut Gianna sedikit tertawa melihat tingkah Kenan. Ia kemudian lanjut meminum air mineral itu. “Siapa tau kan,” Kenan ikut terkekeh tanpa menatap Gianna. Sejenak mereka saling diam, karena Kenan yang memeriksa gambar hasil tangkapannya sementara Gianna hanya memperhatikannya. Gianna hanya diam menatap dengan kepala yang bersandar pada dinding mobil. Sepertinya melihat Kenan yang sedang serius memeriksa foto-foto di galeri kameranya sudah menjadi hobi baru baginya. Melihat rambut Kenan yang sedikit berantakan dan pipinya yang sedikit berisi bisa membuat Gianna otomatis tersenyum. Untuk beberapa saat, Gianna masih dalam posisinya menatap Kenan. Namun beberapa detik kemudian ia sedikit penasaran dan ingin ikut melihat isi kamera Kenan. Ia kini berjongkok di hadapan Kenan dengan tangan tersilang di atas lututnya. “Banyak banget kayaknya yang udah lo ambil,” ujar Gianna. “Ah?” -Kenan mendongak ke depan sekilas kemudian kembali menunduk.- “Lumayan sih, disini lumayan banyak spot yang bagus soalnya,” kata Kenan tersenyum. “Oh … ,” Gianna mengangguk-angguk mengerti. “Kenapa? Bosen ya? Bentar lagi kita pulang kok, tunggu ya,” ujar Kenan tanpa menatap Gianna. “Eh? Ngga, ngga gitu. Gue cuma penasaran sama lo gimana ngeceknya,” Gianna buru-buru menyanggah karena kenyataannya ia cukup senang berada disitu karena tempatnya cukup cocok untuknya. “Oh, ngecek biasa kok, mau liat juga?” tawar Kenan seraya menyodorkan kameranya. “Em … lo aja yang pegang, gue liat dari sini,” cengir Gianna. Kenan pun hanya tersenyum dan lanjut memeriksa foto-fotonya. “Mmm … btw, ini bukan kamera lo ya?” tanya Gianna penasaran. Pasalnya kamera itu sedikit berbeda dari kamera Kenan yang biasanya ia lihat. “Ini kamera gue kok, cuma yang ini kesayangan,” jawab Kenan sedikit memutar-mutar kameranya untuk menunjukkan keseluruhannya pada Gianna. “Spesial?” “Iya, kamera ini yang pertama gue dapetin dari usaha gue sendiri. Hadiah lomba pemotretan sewaktu gue masih SMA,” jelas Kenan sedikit bercerita. “Ah, pasti kesayangan ya,” Gianna mengangguk-angguk mengerti. “Ya … begitulah,” -Kenan hanya tersenyum menanggapi hal itu. Namun kemudian ia mendongak menatap Gianna.- “Sekarang kesayangan gue nambah satu,” ujarnya. “Hm? Maksud-” Gianna tak jadi melanjutkan kata-katanya saat matanya dan mata Kenan bertemu. “Iya nambah satu,” Kenan tersenyum manis dan membuat pipi Gianna menjadi hangat. “Apasih Ken,” Gianna membuang muka karena takut pipinya menjadi merah dan Kenan melihatnya. “Yaampun, gimana ngga jadi kesayangan kalo tiap hari tingkahnya kayak gini,” dengan rasa gemas, Kenan menangkup wajah Gianna dengan kedua tangannya dan memainkan pipinya. “Kan kan kan, kebiasaan,” Gianna segera menyingkir dari tangan Kenan karena ia tak ingin di lihat oleh orang-orang. “Ckckckck, emang lo pelit banget,” cibir Kenan sedikit memandang julid. “Lagian, elo kayak gitu ngga tau tempat,” kesal Gianna. “Jadi kalo tau tempat, boleh?” tembak Kenan membuat Gianna terdiam. “Ya … ngga juga … ,” Gianna seketika menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Hahahaha, oke-oke, gue bakal usaha buat ngga begitu,” ujar Kenan. “Bener?” tanya Gianna langsung menatap Kenan dengan pandangan berbinar. “Tapi ngga janji,” kata Kenan seketika menjulurkan lidahnya. “Hih, kan,” Gianna otomatis memukul bahu Kenan yang cukup lebar itu dengan kesal. Kenan meraih tangan Gianna dan tertawa senang berhasil menggodanya. “Hahahahaha, yaudah gue mau ke rombongan dulu, kayaknya udah mulai kumpul lagi,” kata Kenan seraya berdiri dan mengangkat Gianna dengan tangannya yang masih ia pegang. Kenan kemudian mematikan kameranya dan menaruhnya di jok mobilnya. “Tunggu disini ya, jagain sebentar,” titip Kenan seraya tersenyum dan tak lupa mengusap puncak kepala Gianna. “Hm,” Gianna hanya menjawab seadanya tanpa membalas senyuman Kenan dan itu membuat Kenan semakin terkekeh. “Yaampun, ugh!” Kenan semakin gemas menatap Gianna. Namun ia hanya bisa mengangkat kedua telapak tangannya seperti akan mencakar Gianna tanpa berani melakukannya kemudian meninggalkan Gianna. “Anak itu perlu obat kayaknya,” ujar Gianna yang heran dengan sikap absurd pacarnya. Ia kemudian melihat ke dalam mobil dan melihat kamera Kenan yang tergeletak tanpa pembungkus di atas jok. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kamera itu, Gianna menoleh kesana kemari mencari tas yang biasanya menjadi tepat pelindung kamera itu. Ia kemudian menemukannya berada di atas rumput di samping batu tempat Kenan duduk tadi. Gianna kemudian mengambilnya dan berniat menaruh kamera Kenan di dalam tas itu. Saat sedang memasukkan kamera itu kedalam tas, seseorang mendorong tubuhnya dan membuat Gianna menjatuhkan kamera ke lantai mobil dan menggelinding jatuh ke tanah. Mata Gianna seketika melebar, mulutnya terbuka dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. “Urusan kita tadi belum selesai ya,” ucap orang yang sudah mendorong Gianna. Gianna tidak dengar, ia hanya fokus pada kamera yang sekarang tergeletak di tanah keras dan mengambilnya. ‘GILA! GUE BARU AJA JATOHIN KAMERA KENAN?! SERIUS?!’ batin Gianna seketika berteriak melihat keadaan kamera Kenan. Kamera Kenan terlihat normal, tapi Gianna tidak tau dalamnya. Mengingat cerita Kenan mengenai kamera itu seketika membuat jantung Gianna memburu, nafasnya sesak dan tangannya gemetar. ‘Gimana ini,’ -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN