Masalah dan Rasa Takut

1288 Kata
-*-*-*- ‘Gimana ini,’ Gianna ketakutan. Ia gemetar membayangkan bagaimana jika Kenan marah padanya nanti, mengingat kamera ini adalah benda berharga. Wajah Gianna seketika pucat pasi. Ia benar-benar merasa bersalah dan ketakutan. “Heh! Gue bilang urusan kita tadi belum selesai,” Kalimat itu seketika menyadarkan Gianna dari rasa takutnya. Ia kemudian meletakkan kembali kamera Kenan ke dalam mobil dan menoleh. “Apaan sih?! Kenapa lo ganggu gue dari tadi?!” seru Gianna tersulut emosinya. “ ‘Apaan?’ kata lo? Gue udah bilang urusan kita belum selesai, gue masih ngga terima. Bahkan lo ngga kasih tau alasan lo jadi modelnya Kenan,” keluhnya dengan wajah kesal menatap sinis Gianna. “Astaga ya Tuhan,” Gianna mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan tak penting itu. Ia masih saja membahasnya, sebenarnya apa masalah hidupnya sampai mengurusi Gianna segitunya? “Gue perlu tau kenapa dia bisa pilih elo yang bukan apa-apa! Lo bahkan ngga cantik, image elo pun ngga bagus, kenapa bisa dia pilih elo?! Jawab gue!” serunya tak ingin dibuat menunggu. Gianna terdiam mendengar semua ucapan yang dilontarkan Suzuna. Sakit? Pasti. Tetapi Gianna tak ingin menjadi gadis menye-menye dulu untuk saat ini. Kepalanya masih di penuhi dengan kamera Kenan yang tidak ia tau bagaimana keadaannya sekarang. “Lo sebenernya punya masalah hidup apa hah?! Gue bukan fotografer! Mana gue tau alasan pasti Kenan pilih gue! Emangnya kenapa kalo gue jadi modelnya Kenan hah?! Apa pengaruhnya buat lo yang ngga ada hubungannya sama dia?!” Gianna meledak, hal itu seketika membuat Suzuna sedikit memundurkan tubuhnya. Tidak, Suzuna bukan mundur karena teriakan Gianna, “Gu-gue … ,” “Ji?” Pemilik suara itu yang membuat Suzuna tak jadi melanjutkan ucapannya dan berniat pergi, akan tetapi Gianna yang sudah tersulut emosi kembali mengeluarkan amarahnya dan menahan Suzuna. “Sekali lagi lo tanya hal semacem tadi, gue pastiin tangan gue ikut campur saat itu juga!” tegasnya tepat di hadapan wajah Suzuna. Ia berbalik dan sedikit terkejut melihat Kenan sudah berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan yang pandangan yang sulit dijelaskan. Namun yang pasti, ia hanya fokus menatap Gianna. Gianna kemudian memutar ke depan mobil dan masuk dari pintu penumpang depan. ‘Sialan, ternyata banyak orang yang liat,’ batin Gianna sedikit kaget saat melihat orang-orang menontonnya. ‘Oh please, sekarang bukan waktunya mikir itu! Kamera Kenan gimana?!’ Gianna merasa stres, ia bingung harus memikikan yang mana dulu. Sementara itu di luar. Orang-orang yang datang karena mendengar suara berisik dari balik mobil Kenan kebingungan. Mereka juga sebenarnya penasaran dengan apa masalahnya karena mereka tak terlalu mendengarnya. Mereka juga tak tau apa-apa tentang masalah Gianna dan Suzuna. Sedangkan Kenan yang sempat mendengar perdebatan Gianna dan Suzuna, setelah memastikan Gianna masuk ke dalam mobilnya, kini ia menatap Suzuna yang masih membeku di tempat. Ia kemudian menghampiri Suzuna. “Gue udah anggep kita ngga ada hubungan apa-apa, Suzuna, tapi kayaknya elo pengen buat masalah,” ucap Kenan seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. “Ngga gitu Ken, lo liat sendiri dia tadi yang ngancem gue,” elak Suzuna membela diri. “Gue denger omongan kalian,” sahut Kenan yang seketika membuat bibir Suzuna bungkam. “Denger ya, siapapun dan apapun alasan gue pilih model foto gue, semua itu urusan gue. Bukan elo, atau siapapun itu yang berniat ikut campur,” -tutur Kenan memberikan penegasan.- “Dan jangan ganggu Gianna lagi, karna dia ngga tau apa-apa. Tapi kalo sampe elo ganggu gue atau Gianna lagi, gue ngga jamin kalo gue bakal diem aja,” ancamnya. Tanpa basa-basi lebih lanjut, Kenan meninggalkan Suzuna dan orang-orang yang ada di situ kedalam mobil. Ia tidak peduli. “Ji,” panggil Kenan. Begitu ia masuk, ia menemukan Gianna memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di dalamnya. “Ji, elo tadi ngga di apa-apain kan?” Kenan mulai khawatir, tangannya menyentuh bahu kanan Gianna. “Maaf kalo dia tadi ngomong begi-” “Maafin gue Ken!” seru Gianna membuat Kenan sedikit kaget. “Hah? Buat apa?” tanya Kenan heran. Perlahan, Gianna mendongak dan menoleh pada Kenan. Mata dan pipi di bawah matanya terlihat basah. “Hei … ,” tangan Kenan kemudian maju dan megusap air mata Gianna. Namun Gianna menepisnya perlahan. “Gue minta maaf, Ken,” ucap Gianna dengan nada suaranya yang bergetar. Kenan semakin bingung, tetapi ia tidak tau apa alasan Gianna terus meminta maaf. “Minta maaf soal apa? Bilang sekarang, jangan bikin gue bingung,” Gianna terisak, kemudian mengusap air matanya. “Gue, gue ngga sengaja … ,” -Gianna menggigit bibirnya. Ia semakin takut untuk mengaku.- “Gue … gue ngga bakal cari pembelaan dan menurut gue ini kesalahan gue, tapi gue bener-bener minta maaf. Gue … gue ngga sengaja jatohin kamera lo sewaktu mau gue masukin ke dalem tasnya,” jelas Gianna terisak berusaha menahan tangisnya. Sejenak Kenan terdiam berusaha mencerna ucapan Gianna. “Kamera? … kamera?” wajah Kenan terlihat berubah menjadi sedikit kaget dan langsung mencari kameranya. Gianna semakin takut begitu melihat Kenan yang terkejut dan langsung mencari keberadaan kameranya. Tubuhnya semakin gemetar dan wajahnya langsung menunduk. Kenan segera mengecek kameranya begitu menemukannya. Sejenak kesunyian menyelimuti mereka dan hanya terdengar isakan Gianna yang sesekali bisa terdengar. Tak lama kemudian, terdengar suara desahan kasar Kenan. Ia juga membanting tubuhnya pada sandaran setelahnya dan itu membuat tubuh Gianna semakin lemas karena ketakutan. Ia sudah menyiapkan diri jika Kenan memang akan marah padanya. Meskipun ia sangat takut dan khawatir, ia akan berusaha menerimanya, karena baginya itu adalah kesalahannya. Mereka masih sama-sama diam, sampai akhirnya Kenan memulai bicara. “Kita ke tempat service dulu,” katanya seraya menyalakan mobilnya. Gianna hanya diam dan masih tertunduk, bahkan setelah Kenan mulai menjalankan mobil, ia tetap tidak berani untuk mendongakkan wajahnya. Bahkan untuk sekedar meliriknya pun tidak. Sepertinya tadi kamera Kenan tidak mau menyala. Saat hampir memasuki jalan besar, Kenan menyadari Gianna belum memakai sabuk pengamannya. “Pakai seat belt!” ujar Kenan pelan namun tegas. Suara Kenan bahkan tak besar, akan tetapi Gianna tetap terkejut dan langsung memasang seat beltnya. Sepanjang perjalanan, mereka terus diam. Bahkan Kenan yang biasanya selalu memulai pembicaraan agar bisa bicara dengan Gianna pun tak ada niatan sedikit pun untuk melakukannya. Sudah Gianna duga. Kamera itu memang penting bagi Kenan. Tentu saja. Kamera itu adalah benda pertama yang ia dapatkan dari hasil usahanya sendiri. Jika itu sampai rusak oleh tangan oleh tangan orang lain tentunya ia akan sangat marah. Kesunyian terus berlangsung, sampai akhirnya mereka sampai di tempat service kamera yang tempatnya sebenarnya cukup jauh. Kenan dan Gianna masih diam sampai Kenan keluar dari mobil pun tidak mengucapkan sepatah katapun. “Astaga … ,” lirihnya penuh dengan penyesalan. Ia benar-benar takut. Gianna rasanya ingin berteriak saat itu juga. Gianna menunduk dan menangkup wajahnya diatas kedua telapak tangannya. Ia tidak berani melakukan apa-apa, bahkan untuk keluar dari mobilpun ia tak berani. Setelah beberapa saat berlalu dan cukup lama, Kenan kembali ke mobil dengan wajah yang masih sama. Kenan masuk dan menutup pintu mobil. Sejenak ia diam, begitupula dengan Gianna, matanya hanya menatap lurus keluar kaca mobil. Detik berikutnya ia mulai bicara pada Gianna tanpa menoleh. “Coba cerita semua yang terjadi begitu gue ninggalin elo sendirian di mobil tadi!” ucapnya masih dengan nada pelan dan sedikit tertahan. Mungkinkah ia menahan diri untuk tidak membentak Gianna? Napas Gianna memburu. Hanya mendengar suara Kenan saja sudah membuat pelupuk matanya penuh dengan air dan tangannya gemetar. Bahkan mungkin tangannya saat ini sudah sedingin es. “Mm … tadi gue- eghem!” tenggorokan Gianna seperti tercekat, rasa takutnya membuatnya kesulitan untuk sekedar bicara. “Hah … ,” Kenan kembali mendesah dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Gianna. “Minum dulu,” ujarnya dengan tangan terulur pada Gianna dan botol minum berisi air yang dipegangnya. -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN