-*-*-*-
“Minum dulu,” ujarnya dengan tangan terulur pada Gianna dan botol minum berisi air yang dipegangnya.
Gianna menoleh dan menemukan botol berisi air di hadapannya dan tanpa sengaja ia melihat Kenan yang sedang menatap lurus ke depan tanpa menoleh padanya. Karena tidak ingin membuat Kenan semakin marah, Gianna menerima botol minum itu.
“Thank’s,” ucapnya.
Gianna pun meminumnya dan mencoba menetralkan tenggorokannya. Tak lama setelahnya Gianna mencoba untuk menceritakan semuanya sesuai permintaan Kenan.
“Gitu. Gue minta maaf,” ucapnya kembali tertunduk tak berani menatap Kenan.
Tak lama kemudian ia mendengar Kenan yang mendesah kasar.
“Lo ngapain minta maaf, itu bahkan bukan salah lo,” -ujar Kenan menutup matanya seperti berusaha menahan sesuatu yang meronta ingin keluar.- “Justru gue yang salah udah marah-marah sama lo,” imbuhnya menekan kedua pelipisnya dengan ibu jari dan jari telunjuk.
“Tapi kan … yang jatohin gue … harusnya gue ngga pegang-pegang sembarangan,” balas Gianna mulai sesenggukan.
“Udah-udah please, stop nangis, nanti gue makin ngerasa bersalah udah marah sama lo sampe ngediemin elo,” sahut Kenan menoleh pada Gianna, tetapi Gianna masih menunduk.
“Udah jangan nangis lagi,” kata Kenan berusaha menenangkan Gianna dengan ibu jarinya yang mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Namun bukannya berhenti menangis, tangis Gianna justru semakin kecang dan ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Hng … gue takut banget kalo sampe lo marah sama gue … gue beneran ngga sengaja, harusnya gue ngga sentuh-sentuh barang berharga lo,” serunya sambil menangis.
Kenan mulai bingung. Padahal yang jatuh kameranya, tetapi kenapa justru Gianna yang menangis seakan itu kameranya?
“Please jangan nangis, itu bukan salah lo, oke? Udah-udah,” Kenan mau tak mau hanya bisa mengusap-usap punggung Gianna.
Tanpa Kenan duga dan cukup membuat terkejut, Gianna tiba-tiba saja mendongak dengan wajah yang sudah basah karena air mata.
“Terus? Sekarang kameranya gimana? Rusak parah ngga? Soalnya tadi jatohnya serem banget, gue ngga tau apa-apa soal kamera dan katanya kamera itu barang yang jangan sampe jatoh, gimana?” tanpa jeda, Gianna menghujankan semua pertanyaannya pada Kenan.
“Astaga … ,” Kenan geleng-geleng kepala mendengar semua pertanyaan Gianna.
Ia kemudian mengambil scarf saputangan yang ia taruh di tempat penyimpanan di samping setir.
“Kameranya ngga papa, Ji. Tadi emang mati, tapi itu cuma karna batrainya geser, dan lensanya cuma kena gores, yang penting memorinya aman, ngga ada kerusakan,” jelasnya sembari mengusap air mata Gianna yang membasahi seluruh wajahnya.
Mata Gianna seketika membulat mendengar kata ‘lensa yang tergores’.
“Hah?! Lo bilang ngga papa? Lensa kan yang paling penting!” seru Gianna seraya meraih tangan Kenan dan menyingkirkannya sedikit dari wajahnya. Walapun Gianna memang buta dengan dunia fotografi dan kamera, setidaknya ia bisa tau kalau lensa adalah bagian terpenting. Bahkan ia pernah mendengar kalau lensa bisa lebih mahal di banding kamera jika ingin membelinya terpisah.
“Ya … iya sih,” Kenan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tentunya tidak bisa menyangkal hal itu karena memang itu benar adanya.
“Hik … hng … maafin gue Ken, nanti pasti gue ganti … t-tapi kan itu kamera pertama lo … ngga bisa di gantiin … hng … gue harus gimana?? Gue minta maaf … ,” Gianna kembali menangis dan hal itu membuat Kenan kembali bingung.
Gianna seakan-akan seperti sedang menggantikannya menangis atas kameranya saat ini, karena Kenan hanya bisa diam dan bingung harus bagaimana menanggapi Gianna.
“Ji, ini bukan salah lo,” -ucap Kenan sembari memegang kedua bahu Gianna agar menghadap padanya.- “Lo ngga perlu minta maaf dan lo ngga perlu ganti rugi apa-apa. Itu cuma barang Ji, bisa rusak kapan aja. Terlepas lo jatohin atau ngga, suatu saat dia juga pasti bakal rusak. Entah rusak karena jatoh atau rusak karna dimakan usia, dia bakal tetep rusak, jadi please jangan nyalahin diri lo terus, oke?” jelas Kenan menatap dalam-dalam mata Gianna.
“Tapi … hik … ,” Gianna kembali sesenggukan dan ingin menyangkal, tetapi ia tak bisa.
“Yaudah, gini, gue terima maaf lo, tapi abis itu lo berhenti nangis, gimana?” tawar Kenan seraya tersenyum lembut.
“Hiks … ,” -Gianna mengangguk.- “Tapi kamera lo perlu berapa? Biar gue ganti,” ujar Gianna masih berusaha untuk bisa mengganti kerugian yang di alami kamera Kenan.
“Ngga usah, di bilang bukan kesalahan lo, masih aja,” tolak Kenan menggeleng kuat-kuat.
“Tapi Ken-”
“Kalo lo maksa mau ganti gue bakal marah loh Ji,” ancam Kenan menatap serius mata Gianna.
Gianna seketika terdiam dan menggigit kedua bibirnya ke dalam. Ia tak berani bicara lagi.
“Oke, makasih,” -Kenan tersenyum dan mengusap puncak kepala Gianna.- “Ayo gue anter pulang,” ajaknya seraya menghidupkan mobilnya.
Gianna hanya mengangguk dan memasang seat belt.
Sejenak mereka saling diam dalam perjalanan menuju rumah Gianna. Namun beberapa detik kemudian Kenan memulai pembicaraan.
“Masih inget kalo gue bakal ceritain soal siapa Suzuna?” katanya.
Gianna menoleh lalu mengangguk. Entah mengapa begitu mendengar nama itu membuatnya sedikit emosi.
“Maksud gue kecewa sama dia itu, sebelumnya dia pernah jadi model gue, cukup lama, mungkin sekitar 2-3 bulan? Kita lumayan akrab dan ya … menurut gue dia ada bakat jadi model- gue ngga bakal membandingkan kalian berdua, karna bagi gue, kalian sama-sama punya bakat di dalam kesan dan cara yang beda.” -ujarnya berusaha menjelaskan agar Gianna tak salah paham.- “Terus di suatu waktu, gue ada perlombaan di luar jurusan dan dan temanya makhluk hidup. Karna gue ada model, pastinya gue ajak dia dong? Sehabis itu, dia setuju dan kita pun ngelakuin pemotretan,” jelas Kenan menjeda sejenak ceritanya untuk mengambil botol minum yang sempat ia berikan pada Gianna.
‘Wait,’ mata Gianna membulat melihat pemandangan Kenan yang minum dari mulut botol yang sudah ia minum sebelumnya.
‘Dia ngga sadar ya?’ batinnya bertanya, namun ia tak berani bertanya langsung karena Kenan akan lanjut bercerita.
“Kita ngelakuin pemotretan sekitar 4-5 lima hari sebelum deadline pengumpulannya. Awalnya lancar aja, sampe tiba-tiba di hari deadline dia minta berhenti jadi model gue dan bilang kalo dia ngga mau jadi model buat perlombaan gue,” -lanjut Kenan fokus menatap ke jalanan di depan yang kemudian ia berhenti karena lampu merah.- “Gue kaget, karena dia kabarin gue di sore hari yang tengah malemnya udah deadline, gue bingung dan tanya apa alasan dia mau berhenti sampe ngga mau fotonya diikuti lomba. Jawaban dia, dia bilang itu alasan pribadi dan gue ngga perlu tau,” begitu lampu merah berubah hijau, Kenan kembali menjalankan mobilnya.
“Karna dia bilang pribadi, gue ngga berani tanya dan gue berusaha untuk maklum, tapi yang gue heran, dia ngga minta maaf sama gue. Akhirnya gue pun terpaksa berhentiin dia dan bilang ‘semoga lo berhenti ini bisa buat kebaikan elo kalo emang lo ngga ngerasa nyaman jadi model gue’. Selesai gue bilang begitu, dia bener-bener berhenti,” Kenan menghela nafas, sepertinya ia benar-benar kecewa hari itu.
“Malem itu gue bingung, apa gue harus batal ikut lomba? Suzuna bilang dia ngga mau, jadi ngg amungkin gue pasang foto dia, gue malem itu hampir aja batal ikut, tapi akhirnya gue tetep ikut. Gue motret malem itu juga meskipun gerimis,” ujarnya membuat Gianna semakin terkejut mengetahui kalo ia rela memotret bahkan di saat hujan.
“Kok sampe hujan-hujanan gitu sih?” ujar Gianna merasa Kenan seharusnya tak sampai seperti itu.
Namun Kenan hanya terkekeh.
“Ngga masalah, itu harga yang murah buat tau apa yang sebenernya terjadi sampe Suzuna minta gue berhentiin,”
“Ohya?” Gianna mulai antusias mendengarnya.
“Yup. Gue tau alasan Suzuna berhenti mendadak,”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-