-*-*-*-
“Malem itu gue bingung, apa gue harus batal ikut lomba? Suzuna bilang dia ngga mau, jadi ngga mungkin gue pasang foto dia, gue malem itu hampir aja batal ikut, tapi akhirnya gue tetep ikut. Gue motret malem itu juga meskipun gerimis,” ujarnya membuat Gianna semakin terkejut mengetahui kalo ia rela memotret bahkan di saat hujan.
“Kok sampe hujan-hujanan gitu sih?” ujar Gianna merasa Kenan seharusnya tak sampai seperti itu.
Namun Kenan hanya terkekeh.
“Ngga masalah, itu harga yang murah buat tau apa yang sebenernya terjadi sampe Suzuna minta gue berhentiin,”
“Ohya?” Gianna mulai antusias mendengarnya.
“Yup. Gue tau alasan Suzuna berhenti mendadak,”
“Apa?” lanjut Gianna semakin penasaran.
“Wait, kok kayaknya elo penasaran banget?” Kenan menoleh dan sedikit terkekeh menatap Gianna yang terlihat sangat penasaran.
“Ah? Apa iya?” Gianna menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Mau berhenti di kafe dulu? Biar bisa lebih nyaman ceritanya, atau mau di rumah lo juga boleh,” tawar Kenan kembali fokus menyetir.
“Jangan di rumah!” seru Gianna buru-buru melarang.
Kenan sedikit terkejut dan lansung menoleh.
“Kenapa?”
“Ada Geno. Gue males. Kalo cuma ada mama atau papa ngga masalah, mereka ngga bakal ikut campur atau mau tau, tapi kalo Geno … nonono,” Gianna menggeleng kepala kuat-kuat membayangkan Geno akan merusuh dan meledeknya yang sudah menjadi pacar Kenan.
“Oh, Geno, hahaha. Yaudah, berarti mau di kafe aja?” tanya Kenan memastikan.
Gianna hanya mengangguk.
“Mau di kafe mana?” lanjutnya masih fokus menatap ke depan.
“Mm … kafe mana aja terserah atau mau kafe yang deket sini begitu kita liat nanti juga ngga masalah,” kata Gianna sembari melihat keluar jendela untuk mencari tau apakah ada kafe atau tidak.
Tak lama kemudian, mereka bisa melihat kafe yang tidak terlalu ramai.
“Ah, kenapa ngga disini aja? Kayaknya ngga rame,” ucap Gianna menyarankan.
“Oh iya itu, gue liat,” sahut Kenan. Perlahan, setelah memberi tanda, Kenan menepi ke pinggir jalan ke depan kafe, kebetulan sekali orang yang sebelumnya parkir baru saja pergi dan terlihat sudah agak menjauh.
Mobil Kenan kemudian terparkir di tempat kosong itu.
“Eh?” Gianna tiba-tiba saja terlihat sedikit kaget dan Kenan langsung menoleh.
“Kenapa?” ujarnya penasaran.
“Ini kafe yang pernah kita datengin sama Ana sama Geno kan?” balas Gianna menunjuk kafe itu seraya menatap Kenan.
Kenan sedikit merunduk untuk melihat lebih jelas bagian depan kafe itu dan ternyata ia memiliki ingatan yang sama dengan Gianna.
“Oh iya, hahahaha, waktu kita masih baru kenal,”
Kenan dan Gianna kemudian melepas seat belt dan keluar dari mobil. Begitu di dalam, mereka duduk di kursi yang tepat bersebelahan dengan dinding kaca yang bisa melihat jalanan secara langsung.
Setelah memesan minuman masing-masing dan sepiring kentang goreng.
“Jadi?” Gianna dengan semangat kembali menunggu Kenan bercerita sembari meminum milktea hangatnya.
“Astaga semangatnya,” -kekeh Kenan yang baru saja meneguk coklat panasnya.- “Ntahlah, gue heran sebenernya juga heran, kenapa dia sampe ngelakuin ini waktu itu. Intinya, malem itu kan gue foto lagi dan gue tetep ikut lomba. Setelah gue kumpulin, tiga hari setelahnya pengumuman. Gue, dapet juara dua,” jelas Kenan tersenyum terdengar puas.
“Waw, keren dong masuk juara utama,” -Gianna tersenyum ikut merasa senang.- “Terus si Suzuna itu?” Gianna kembali menagih membuat Kenan semakin terkekeh seakan kabar kameranya yang rusak sebelumnya sudah berlalu hilang.
“Gue kan dateng ke perlombaan itu dan elo mau tau siapa yang juara tiga?” ujar Kenan bertanya membuat Gianna segera menjawab.
“Suzuna?!” jawabnya dengan semangat dan penuh keyakinan.
“Exactly!” -sahut Kenan yang langsung disambut dengan reaksi Gianna yang seakan-akan terkejut dengan kenyataan.- “Eh. Sebenernya kurang tepat sih kalo dibilang dia yang menang, karena yang ikut lomba itu orang lain,”
“Gimana maksudnya?” kedua alis Gianna bertaut heran.
“Ini bikin gue kaget sebenernya. Padahal dia bilang itu urusan pribadi, tapi ternyata dia cuma mau pindah jadi modelnya fotografer lain, jadi, dia jadi model fotografer rival gue di perlombaan itu, tapi untungnya dia juara tiga sih, hahaha,” Kenan tertawa dan kembali menyesap coklat panasnya.
“Ah … ,” -Gianna mengangguk-angguk paham.- “Terus yang elo bilang kecewa? Lo kecewa dia jadi model orang lain?” tanya Gianna yang ikut meneguk milkteanya dan mengambil sepotong kentang goreng.
“Itu salah satunya sih, tapi lebih ke … kenapa dia ngga jujur aja kalo dia lebih tertarik jadi model orang lain? Kenapa dia harus bohong? Selain itu, setelah perlombaan, dia dateng ke gue dan minta jadi model gue, setelah gue berhentiin dia dengan jelas sebelumnya,” tutur Kenan menghembuskan nafas berat.
Gianna terdiam sejenak menatap Kenan. Ia baru tau kalau Suzuna seperti itu. Padahal pada awalnya ia kira Suzuna adalah mahasiswi biasa yang tertarik dengan dunia model dan pose.
“Tapi bagus sih, dia juara tiga dan elo juara dua,” -sahut Gianna mendukung Kenan.- “Soalnya elo berbakat, dengan ataupun tanpa model berbakat, elo pasti bisa masih bisa berkarya,”
“Apasih,” Kenan justru terkekeh mendengar pujian Gianna dan mengacak-acak rambutnya.
“Ih,” -Gianna menyingkir dari tangan Kenan.- “Seneng banget ngacak-ngacak rambut gue,” tukas Gianna merengut.
“Hahaha, salah sendiri,” balas Kenan.
“Apa?” sahut Gianna menantang.
“Salah sendiri bikin tangan gue otomatis ngacak-acak rambut lo,” kilah Kenan tak bisa menjawab.
“Ih, ngga nyambung kan,” cibir Gianna seraya meneguk milkteanya yang sudah berkurang banyak.
“Ngga papa, lagian rambut lo emang wajib buat gue acak-acak,” sahut Kenan ikut meneguk minumannya.
“Kok bisa?” balas Gianna heran.
“Ya soalnya, kurang aja gitu kalo ngga acak-acak rambut lo,” kata Kenan tersenyum jahil.
“Kalo gitu, gue boleh acak-acak rambut lo?” tanya Gianna tak mau kalah.
“Hmm … boleh,” Kenan mengangguk menyanggupi.
“Halah, bohong,” decih Gianna mencibir.
“Beneran boleh,” -sahut Kenan terdengar yakin, namun ia memberi jeda dan mencondongkan tubuhnya sedikit.- “Kalo lo nyampe,” lanjutnya di akhiri dengan senyuman yang memamerkan jajaran giginya.
“Kan!”
Tuk!
Gianna menjitak kening Kenan sampai berbunyi.
“Akh!” pekik Kenan langsung memundurkan tubuhnya.
“Nyebelin!” ujar Gianna membuang muka.
“Jahat banget,” sahut Kenan sembari mengusap-usap keningnya.
Gianna kemudian melirik Kenan yang sedang mengusap-usap keningnya. Seketika ia merasa bersalah.
“Sakit banget?” tanya Gianna tak tega.
“Lumayan,” kata Kenan dengan nada biasa saja, ia pun berhenti mengusap keningnya. Kemudian tanpa dia duga, tangan Gianna maju dan mengusap keningnya.
“Sorry, tangan gue tadi spontan,” ucapnya sembari menatap kening Kenan yang sedikit merah di bagian tempatnya memukul tadi.
Kenan melirik Gianna yang yang fokus menatap Keningnya, lalu meraih pergelangan tangan Gianna.
“Ngga papa, udah ngga sakit,” ucapnya tersenyum lembut.
Gianna terdiam di tatap Kenan. Pipinya sedikit menghangat, namun detik berikutnya ia tersadar.
“Apasih!”
Plak!
“Aw!”
“Akh! Sorry!”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-