-*-*-*-
Gianna terdiam memandang keluar jendela mobil Kenan, melihat setiap gedung-gedung berukuran random yang terus ia lewati dengan warna redup yang mulai dihiasi dengan lampu malam, dengan Kenan. Tanpa sengaja, ia teringat kembali dengan kamera Kenan.
“Ken,” katanya pelan tanpa menoleh.
“Hm,” sama seperti Gianna, Kenan pun menjawab pelan tanpa menoleh.
“Mm … ,” -Gianna awalnya ingin menanyakan bagaimana perasaanya saat ini mengenai kameranya, akan tetapi ia ragu dan pada akhirnya ia tak jadi menanyakannya.- “Ngga jadi deh,” imbuhnya membuat Kenan menoleh padanya.
“Loh?” -Kenan sedikit tertawa melihat Gianna tak jadi bertanya.- “Kenapa?”
Gianna berhenti menatap ke sisi kirinya dan menghadap ke depan.
“Mau tanya, tapi kayaknya lebih baik ngga usah,” ujarnya yakin.
“Kenapa sih? Jangan bikin penasaran,” sahut Kenan menoleh pada Gianna sejenak.
Gianna menoleh dan balas menatap Kenan.
“Besok lagi Ken,” -ucapnya lembut. Melihat tangan kiri Kenan menganggur, entah mengapa ia berinisiatif mengambil dan menggenggam tangan itu.
Kenan seketika semakin heran dengan hal dilakukan Gianna.
“Lo … Gianna kan? Lo ngga kerasukan, kan?” tanya Kenan menatap Gianna dalam keremangan. Mengingat ia baru saja melewati pergantian siang dan malam, ntah mengapa ia tiba-tiba terlintas hal seperti itu.
“Hih!” Gianna seketika mencubit tangan Kenan.
“Ah-ah-ah, ternyata ngga, hahaha,” -Kenan seketika terkekeh dan detik berikutnya ia justru menarik tangan Gianna yang menggenggamnya dan dibawanya keatas pahanya.- “Kenapa? Hm?” Kenan mulai paham kalau Gianna sepertinya sedang khawatir dengan perasaannya.
“Dibilang besok aja kok,” sahut Gianna yang menatap lurus ke jalan depan dan bersandar.
“Yaudah kalo mau cerita besok, jangan pasang muka sedih dong,” balas Kenan mengusap tangan Gianna dengan ibu jarinya.
“Kata siapa gue pasang muka sedih?” tanya Gianna berdalih.
“Kata gue gitu loh,”
“Ih, sok tau,”
“Lah, malah dibilang sok tau,”
Mereka pun terus mengobrol, sampai akhirnya mereka tiba di rumah Gianna.
Di depan rumah Gianna, Kenan berhenti di luar gerbang.
“Boleh mampir dulu kan?” tanya Kenan sembari melepas seat belt.
“Iya kenapa ngga boleh? Lagian elo tanggung jawab nganter gue, lo harus ketemu mama gue dulu, biar dia tau bentukan orang yang nganter gue kayak gimana,” balas Gianna yang sedang merapihkan beberapa barangnya dan memastikan tak ada yang tertinggal.
“Ya maksud gue juga gitu, siapa tau lo mau ngusir gue dan ngga ngebolehin gue masuk,” sahut Kenan.
Gianna tak menjawab dan hanya keluar dari mobil dan disusul oleh Kenan. Begitu keluar dari mobil, tak lupa Kenan mengunci mobilnya.
Mereka pun memasuki halaman rumah Gianna.
“Daripada ngusir elo, gue lebih takut di usir mama gue kalo yang nganter gue ngga jelas gimana bentuk rupanya,” ucap Gianna tiba-tiba saat mereka berjalan beriringan menuju pintu depan rumah Gianna.
“Dasar,” Kenan otomatis mencubit pipi Gianna sekilas dan membuat Gianna melirik sinis dan menyingkir dari tangannya.
“Astaga galaknya itu muka,” sahut Kenan yang justru tertawa melihat ekspresi kesal Gianna.
“Lagian … ,” balas Gianna menggantung sembari mempercepat langkahnya menuju pintu rumahnya.- “Maaa!” serunya setelah membuka pintu dan masuk.
“Udah jam segini, darimana aja lo … ,” -Geno yang baru berjalan dari ruang tamu melihat Kenan yang berdiri di belakang Gianna dan sedikit kaget.- “Loh? Elu ngikut masuk?” ujar Geno.
“Yo, what’s up,” sapa Kenan.
“Mama mana?” tanya Gianna menghampiri Geno setelah melepas sepatunya dan menaruhnya di rak.
“Ada di belakang,” kata Geno seraya menunjuk ke dapur.
“Oh, ayo masuk, Ken, gue panggil Mama gue dulu,” ajak Gianna mempersilahkan Kenan masuk dan langsung menuju ke dapur.
“Abis lu bawa kemana tuh bocah?” tanya Geno mulai menginterogasi.
Ia tau kalau Gianna pergi bersama Kenan, tapi ia tidak tau kalau bisa sampai malam.
“Ada something di tempat hunting tadi, nanti gue cerita di chat,” -jawab Kenan menepuk bahu Geno.- “Gua ngga bawa dia kemana-mana, ngga usah khawatir,”
“Gua pegang ya tuh omongan,” ujar Geno menatap Kenan dengan pandangan menyebalkan.
“Lu kenapa sih? Lu sendiri bawa adek gua kan tadi? Lu bawa kemana dia tadi hah? Coba cerita!” balas Kenan ikut menginterogasi Geno dengan wajah menyebalkan.
“Dih! Ikut-ikut! Gua mah cowok baik-baik, kembaran lo itu, gua anter sebelum siang abis,” jawab Geno penuh percaya diri.
Baru saja Kenan ingin membalas omongan Geno, sebuah suara menghentikan mereka.
“Geno, itu Kenan ngga di ajak duduk,” ujarnya begitu lembut dengan membawa segelas minuman dan sedikit snack instan.
“Ah, dia mah ngga perlu duduk tan,” sahut Geno sembari menghampiri mama Gianna.
“His, ngga sopan! Duduk dulu, Ken,” ujar mama Gianna begitu lembut.
“Ya tante,” jawab Kenan tersenyum.
Kenan pun mengobrol dengan Mama Gianna dan Geno di ruang tamu yang tak lama kemudian disusul Gianna yang baru saja menaruh barang-barangnya di kamar.
Mereka terus mengobrol untuk beberapa saat dan Mama Gianna kemudian meninggalkan ketiga anak muda itu untuk mengrobrol lebih leluasa.
Setelah beberapa saat mengobrol, Kenan izin pamit dan ia pun berpamitan pada Mama Gianna. Gianna pun mengantar Kenan sampai ke mobilnya.
“Thank’s udah nganterin gue,” ucap Gianna begitu mereka akan melewati gerbang depan rumah Gianna.
“Apaan sih, lo kayak di anter pejabat aja, dikit-dikit makasih, sekali aja!” balas Kenan.
“Yaudah iya, besok-besok gue bilang makasih sekali aja,” kata Gianna mengangguk-angguk.
“Hahahaha, canda, terserah elo itu mah mau bilang makasih berpa kali aja,” kata Kenan sedikit terkekeh.
“Yaudah buru pulang, nanti di cariin ortu lo,” ujar Gianna mengingatkan. Kini mereka hanya berdiri di gerbang dengan Gianna bersandar pada dinding gapura menunggu Kenan meninggalkan rumahnya.
“Loh? Ngusir?” tanya Kenan menatap pada Gianna.
“Iya gue ngusir, syu syu! Pergi gih,” balas Gianna ikut bercanda.
“Yaampun beneran di usir, sakit ati gue,” ujar Kenan memegang dadanya.
“Apasih,” Gianna tertawa melihat tingkah Kenan dan otomatis hanya memukul bahunya. Kenan pun ikut tertawa, namun ia belum beranjak juga dari tempatnya.
“Ngga mau pergi,” ujarnya kemudian.
“Yaudah tidur di mobil aja semaleman,” sahut Gianna.
“Ngga gitu!” sangkal Kenan menatap Gianna sebal.
“Terus?”
“Masih pengen ngobrol sama lo,” ucapnya masih menatap Gianna.
Gianna diam balas menatap Kenan. Entah mengapa kali ini Gianna sedikit merasa berdebar berdekatan dengan Kenan. Apakah karena ini sudah malam?
“Mm … ekhem, ya terus gimana, udah malem,” ucap Gianna membuang muka, ia takut salah tingkah terus bertatapan dengan Kenan.
“Boleh peluk?” tanya Kenan yang berhasil membuat jantung Gianna hampir melompat.
“Hah?” baru saja Gianna menoleh Kenan sudah mendekapnya kedalam pelukannya. Tubuh Gianna tenggelam di dalam tubuh Kenan yang lebih besar dan tinggi darinya. Mata Gianna membulat namun ia tidak protes, ia justru membalas pelukan itu perlahan sampai akhirnya ia memejamkan mata dan menikmati hangatnya pelukan itu.
“Good night,” bisik Kenan pada telinga Gianna dan kemudian melepas pelukannya.
Bisikan itu membuat Gianna membeku, sampai Kenan melepas pelukannya pun, ia masih berdiri di tempatnya..
“Dah, jangan kelamaan disini, udah malem,” -tawa Kenan mengusap puncak kepala Gianna.- “Lo masuk gerbang dulu gih, baru gue pergi,” ujar Kenan yang di balas dengan anggukan Gianna.
Gianna pun masuk ke dalam gerbang di tunggu oleh Kenan. Begitu Gianna masuk, Kenan pun melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil.
Beberapa saat setelah menghidupkan mobilnya, Kenan menjalankan mobil itu dan meninggalkan rumah Gianna.
Gianna tersipu mengingat pelukan dan ucapan Kenan yang diberikan padanya. Ia pun melangkah masuk sebelum malam semakin larut.
“Lo jadian?” tanya Geno yang tiba-tiba saja menyeletuk di ruang tamu saat Gianna baru saja masuk.
“Gue kira dia udah cerita ke elo,” ujar Gianna balas bertanya.
“Ngapain dia cerita ke gue?” Geno bertanya lagi.
“Ya siapa tau, kirain kalian udah jadi bestie,” balas Gianna mendudukan dirinya di sofa yang bersebelahan dengan Geno.
Geno hanya diam, begitu pula dengan Gianna.
Sampai akhirnya Geno seperti teringat sesuatu.
“Oh iya, gue inget,” katanya.
“Apa?” kata Gianna tanpa menoleh dari layar tv.
“Gue udah denger cerita lo sama Tatiana waktu di kampus,” -ucapnya membuat Gianna langsung menoleh.- “Tentang siram-siraman,” lanjutnya.
“Ah … ya. Terus kenapa?” tanya Gianna.
“Mulai besok, lo sama dia jaga-jaga gih, gue takut ada apa-apa,” ujarnya dengan pandangan serius.
Mendengar itu, pandangan Gianna pun ikut berubah menjadi serius.
“Hah? Emang kenapa, kok elo bisa kepikiran begitu?” tanya Gianna mulai khawatir.
“Kan Tatiana baru aja nyiram anak orang, gue perhatiin, kayaknya mahasiswi di kampus lo banyak yang agak aneh dan lumayan bar-bar, gue takut mereka ngga berhenti di siram-menyiram itu aja,” jelas Geno membuat Gianna mendengarkan dengan serius.
“Iya sih,” -Gianna mengernyitkan keningnya.- “Lo bikin gue takut,” ujarnya kembali menghadap tv.
“Ya jangan takut, gue cuma minta lo jaga-jaga,” pesannya.
‘Semoga aja perkiraan Geno ngga bener, dia juga belum tau soal Suzuna lagi, duh, gue harus apa?’ batin Gianna bingung.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-