-*-*-*-
Gianna terdiam selama perjalanan ke kampusnya di dalam mobil taksi online pesanannya. Ia masih teringat dengan ucapan Geno semalam mengenai hati-hati selama di kampusnya.
‘Gue malah inget sewaktu gue masih terbully dulu, apa maksud Geno harus hati-hati takut gue terbully kayak waktu itu?’ batin Gianna menebak-nebak.
Gianna terus memikirkan itu sampai tiba di kampusnya. Begitu di kampus, tidak terjadi hal yang buruk padanya. Orang-orang pun masih bersikap normal pada umumnya saat melewatinya.
“Syukurlah normal,” Gianna menghembuskan nafas lega dan bisa berjalan seperti biasa menuju kelasnya.
Namun begitu sampai di kelas, keadaan seketika menjadi aneh. Gianna lupa, kalau ia satu kelas dengan Suzuna kali ini dan dia ada di kelas dengan tatapan tajamnya begitu Gianna masuk.
‘Ah, gue lupa kalo dia ada,’ batin Gianna berusaha untuk bersikap normal dan tidak memulai pertengkaran.
Tidak ingin terima resiko, Gianna berjalan menjauh dan menuju bangku paling belakang, sementara Suzuna berada pada dua paling depan.
‘Syukurlah, disitu aja lo! Ngga usah pindah,’ batin Gianna sembari meletakkan tasnya dan mengeluarkan segala isinya yang berhubungan dengan kuliah.
Seperti yang diharapkan, Suzuna memang hanya duduk di depan dan tidak berpindah kemana-mana. Bahkan begitu pula saat dosen mereka datang. Ia terlihat tenang dan tidak banyak tingkah.
‘Hmm, syukurlah dia banyak diemnya,’ ucap Gianna dalam batinnya melihat Suzuna yang tak banyak bertingkah dan hanya mengikuti kuliah seperti mahasiswa pada umumnya.
Kuliah di kelas Gianna berlangsung normal dan Gianna mengikutinya dengan fokus seperti hari biasa ia mengikuti kuliah. Sampai sebuah pesan masuk kedalam ponselnya dan getarannya membuatnya sedikit teralih perhatiannya.
Kenan
-Mau makan bareng?
Pesan itu membuat Gianna seketika mengulas senyum. Gianna pun segera membalas pesan itu.
Gianna
-Kantin?
Kenan
-Ditunggu sandwichnya, sebuah suara mengejutkannya.
“Jian!”
Gianna seketika menoleh dan tidak jadi melahap makanannya.
“Sasami?” -ujar Gianna melihat Sasami datang dengan wajah yang sedikit panik dan berkeringat.- “Lo kenapa hey?” seru Gianna seketika terkejut melihat Sasami yang terlihat panik.
“Tarik nafas-tarik nafas!” seru Kenan ikut bicara melihat Sasami yang mulai kehabisan napas.
Sasami menurut, ia mulai menarik dan membuang napasnya agar bisa kembali normal. Setelah dirasanya sudah membaik, ia mulai bicara.
“Jian, ikut gue, sekarang!” perintahnya seraya memegang pergelangan tangan Gianna.
“Ke-kemana?” Gianna sedikit kaget Sasami ingin mengajaknya.
“Nanti gue kasih tau, sekarang lo ikut gue!” pintanya dengan wajah panik dan juga khawatir.
“Hey, gue ikut,” ucap Kenan menahan.
“Ngga dulu, Ken, ini masalah cewek, nanti aja gue minta Jian cerita ke elo,” -sahut Sasami terlihat terburu-buru.- “Ayo, Jian!”
Gianna menoleh pada Kenan.
“Gue pergi dulu,” pamitnya yang kemudian langsung pergi dari sana tanpa tau Kenan menjawab atau tidak.
“Kenapa, mi?” tanya Gianna begitu sudah cukup jauh dari Kenan.
“Tia tadi di bawa cewek yang pernah dia siram,” jawab Sasami memasang wajah khawatir.
“WHAT THE-” -Gianna spontan menutup mulutnya karena hampir saja berteriak.- “Sekarang dia dimana? Emang ngga papa, dia lo tinggal begini?”
“Dia di kamar mandi cewek lantai dua. Itulah! Gue tadinya ngga mau ninggalin dia, tapi dia maksa nyuruh gue pergi, gue akhirnya nurut tapi ngga mungkin dong gue cuma diem nunggu dia balik?” omelnya dengan cepat dalam keadaan panik.
“Yaampun, kenapa dia nekat banget sendirian?” sahut Gianna ikut merasa kesal.
“Ngga tau! Sok jagoan banget emang! Awas aja kalo dia sampe kenapa-napa, marah gue,” kesal Sasami masih terus mengomel.
Gianna tidak menyahut dan hanya bisa berharap Tatiana baik-baik saja. Mereka terus berjalan dan akhirnya mereka sampai di depan kamar mandi yang Sasami katakan kalau di situ Tatiana berada.
Tanpa Gianna tanya pun ia bisa langsung mengetahuinya karena terdapat satu wanita yang Gianna tidak asing dengan wajahnya sedang berdiri di ambang pintu menghalangi orang lain masuk.
“Minggir lo!” seru Sasami pada orang itu.
“Dih, ogah, siapa lo?!” balas wanita itu.
“Lo-”
“Mi! Dengerin gue!” -Gianna memotong seruan Sasami dan mendekatkan telinga Sasami ke depan bibirnya.- “Kita berdua tarik dia, gue masuk, terus elo urus dia di luar, bisa?” bisik Gianna bertanya dan langsung dijawab dengan anggukan yang sangat yakin.
“Oke!” Gianna juga yakin, karena jika tidak begitu, mereka tidak akan pernah bisa lewat.
Tanpa bicara lebih banyak lagi, mereka secara bersamaan maju.
“Mau nga-pain lo berdua? Hah?! Gue bilang ngga boleh masuk- Hey!!!” wanita itu kalah tenaga dengan Gianna dan Sasami sehingga mereka berhasil menariknya keluar.
Seperti kesepakatan, Gianna tak peduli lagi dan langsung masuk. Begitu masuk, Gianna bisa mendengar perdebatan suara wanita.
Gianna sejenak sedikit gemetar, sebelumnya ia sendiri korban pembullyan, hal seperti ini membuatnya kembali teringat dengan dirinya di masa lalu apakah dia bisa mengatasinya?
Gianna tak peduli, ia harus melawan, mau sampai kapan ia hanya diam dan menangis? Ia hanya akan terjebak jika tak mencoba untuk melawan.
Dengan langkah yang sudah terniat, Gianna maju dan besiap menolong Tatiana.
Tidak bisa Gianna duga, baru saja kakinya melewati ambang pintu menuju ruang bagian dalam. Ia mendapat sambutan berupa air.
SPLASH!
Air beraroma karbol seketika mengguyur tubuhnya yang baru saja tiba.
Orang-orang yang berada di dalam seketika melongo melihat kedatangan Gianna yang tidak mereka duga.
“Lo ngapain disini Jian? Udah bener gue ngehindar biar ngga kena, kenapa malah elo yang nerima?” seru Tatiana yang langsung menghampiri Gianna dan mengusap wajah Gianna menggunakan outernya yang ia lepas.
“Mana gue tau kalo bakal ada air,” sahut Gianna memutar bola matanya.
Namun selagi mereka bicara, satu siraman menyusul dan itu mengenai Tatiana.
“Shiit!” Tatiana seketika terkejut mendapati ia akhirnya juga basah dengan air beraroma karbol yang tentunya bisa kalian tebak bekas apa air itu.
“Baguslah kalian berdua kena semua, gue ngga perlu susah-susah cari nih lont* satu buat disiram,” ucap seorang wanita yang Gianna kenal suaranya.
Tatiana dan Gianna terdiam mendengar ucapan itu, lalu Tatiana yang membelakangi perlahan berbalik dengan tatapan mata tajam, begitu pula dengan Gianna yang tak terima.
“Apa?” kata Gianna.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-