Berhenti Mengganggu!

1800 Kata
 -*-*-*- “Baguslah kalian berdua kena semua, gue ngga perlu susah-susah cari nih lont* satu buat disiram,” ucap seorang wanita yang Gianna kenal suaranya. Tatiana dan Gianna terdiam mendengar ucapan itu, lalu Tatiana yang membelakangi perlahan berbalik dengan tatapan mata tajam, begitu pula dengan Gianna yang tak terima. “Apa?” kata Gianna perlahan maju mendekat. Orang itu masih menatap remeh saat Gianna mendekat dan sedikit tertawa. Begitupula dengan temannya di belakang. “Lon-t*,” ucapnya lagi masih tertawa. Dalam sekejap, tanpa basa-basi, tangan Gianna maju dan mencengkeram rambut wanita itu. Dia adalah orang yang sama dengan yang tempo hari mengatainya gadis yang menjual diri hanya karena dekat dengan Kenan. “Akh!!” wanita itu memekik seketika Gianna menarik rambutnya, sementara temannya hanya melotot karena terkejut. “Muka lo, badan lo, itu semua mahasiswa, tapi kenapa kelakuan lo masih kayak bocah SMA? Lo kebanyakan nonton drama ya? Kalo lo iri, diem! Rasain sendiri! Lo udah ngerasa iri aja udah ngga bener! Bukannya malah ngelampiasin rasa kesel, rasa iri lo kayak gini! Ngga guna!” bentak Gianna kuat-kuat di sebelah gadis itu. Sementara tangannya berusaha melepaskan tangan Gianna. “Denger ngga lo? Hah?” serunya saat mengetahui kalo wanita itu seperti tak mendengarkannya dan berusaha melepaskan diri, tapi Gianna tak peduli. Sedangkan temannya hanya bisa terdiam memandang. “Lo!” tunjuk Gianna padanya dengan tangan masih mencengkeram. Wanita itu sekedti sedikit tersentak mendapat bentakan dari Gianna. “Lo sebenernya lo ngapain ngikutin dia mulu hah? Cuma bisa diem setiap di bales! Dia ngomongin gue, lo ikut, dia ngelabrak, lo ikut ngelabrak, dia kena siram, gue jambak, lo ngga bantu sama sekali. Sebenernya guna lo apa?” seru Gianna panjang lebar dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Wanita itu bungkam, ia seketika tak bisa menjawab. “Ampas,” cibir Gianna mendecih. “Elo! Denger, kalo sampe elo ngelabrak gue, Ana, atau siapapun yang berhubungan sama gue, gue berani jamin bakal lapor lo ke dosen wali lo! Ngga ada bukti? Bakal gue cari! Jadi mulai sekarang berhenti jadi bocah kemaren sore yang selalu memulai masalah dan cuma bisa main labrak. Ngerti? Gue muak ngadepin orang-orang kayak kalian yang selalu bikin perkara padahal gue ngga ada salah apa-apa!” tegasnya pada wanita yang masih ia cengkeram rambutnya. Namun ia nampaknya tak mendengarkan dan masih mencoba melepaskan diri. “Lo denger gue ngga?” -ujar Gianna tepat di telinganya.- “Atau lo sebenernya mau langsung gue lapor sekarang juga? Kita udah mendekati UAS kan? Menurut lo, lo bisa lulus, kalo dosen-dosen lu tau soal ini?” tanya Gianna dengan nada ancaman. Wanita itu terdiam, ia seketika nampak mempertimbangkan. “Gimana? Denger ngga? Perasaan gue jambak rambut lo ngga pake tenaga yang sampe bikin lo ngga bisa ngomong,” ujar Gianna. Gianna sejenak diam menunggu jawaban. Sampai beberapa detik kemudian dia menjawab. “Oke,” “Oke apa?” sahut Gianna cepat. “Oke, gue ngga akan ganggu lo!” jawabnya dengan nada tinggi. “Dan?” Gianna menunggu kelanjutan ucapannya karena ia tidak hanya memerintahkan hal itu. “Gue ngga akan ganggu lo atau siapapun yang berhubungan sama lo! Puas?” bentaknya dengan wajah kesal menahan amarah yang tak bisa ia luapkan. “Astaga, yang di labrak siapa, yang kesel siapa? Sakit lo?” -cibir Gianna seraya menatap tajam mata wanita itu.- “Asal lo tau, begitu gue masuk kesini, gue udah rekam semua ini, gue bisa aja pasang ini di media sosial. Mau?” ancam Gianna dengan senyuman yang menantang. Orang itu seketika menelan kasar salivanya, ia ingin mencari celah kebohongan di mata Gianna, tetapi ia tak mendapatkannya. Hingga akhirnya ia menyerah. “No,” jawabnya pasrah. “Oke, gue harap lo berhenti ngelakuin hal kekanakan semacem ini lagi,” ujar Gianna seraya melepaskan cengkeraman tangannya dan seketika mereka keluar dari dalam toilet itu. Sedangkan Tatiana yang sejak tadi diam di tempatnya, ia hanya bisa menatap tak percaya pada sosok Gianna yang ada di hadapannya saat ini. “Lo tadi ngga di apa-apain kan?” tanya Gianna yang merasa canggung di tatap Tatiana seperti itu. “Gue oke, gue oke. Dia mah cuma gede mulut aja, dia nyiram gue tadi pun cuma karena dia kesel ngga bisa bantah omongan gue,” jawab Tatiana masih memandang Gianna dengan tatapan yang tak percaya. Bagaimana tidak? Pertama kali mereka bertemu, Gianna terlihat seperti anak lemah yang butuh terus di dampingi. Siapa sangka ia kini sudah berhasil melawan kelemahannya? “Biasa aja dong mandang gue, gue malu,” Gianna berpaling dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Yaampun! Sayang banget gue tadi ngga bisa liat langsung!” Sasami tiba-tiba saja masuk dan mengejutkan Tatiana. “Elo! Ngapain bawa-bawa Gianna? Gue suruh pergi, juga,” kesal Tatiana melihat kehadiran Sasami. “Dih! Makasih kek temen lo ini ngga ninggalin elo sendirian! Kalo ngga ada Gianna lo bisa aja kalah, satu lawan tiga!” kesal Sasami mendapat tanggapan begitu dari Tatiana. “Hahaha, Ana mah kuat, dia sendirian juga tadi kayaknya masih bisa, soalnya mereka ngga berani main tangan,” bela Gianna, ia tidak ingin dianggap seperti penyelamat atau semacamnya. “Tapi gue makasih banget, Jian. Elo mau dateng, setidaknya gue jadi ngga basah sendirian,” balas Tatiana. “Hahaha, dasar lo! Cuma ngga mau basah sendirian,” kekeh Gianna. “Oh iya, kalian di siram beneran? Gue kira ngga kena, pas gue dengerin dari luar,” celetuk Sasami yang baru menyadari kalau Gianna dan Tatiana sudah basah kuyup karena air satu ember. “Entahlah, gue juga ngga nyangka kalo dia berani nyir- AKH! NGAPAIN LO MASUK- ” -Tatiana yang melihat dua sosok laki-laki masuk ke dalam membuatnya menjerit. Namun tak ia lanjutkan saat melihat wajahnya.- “Oh … elo,” ujarnya begitu tau itu adalah kembarannya dan temannya. “Kalian, ngga di apa-apain kan?” tanya Kenan menatap Gianna dan Tatiana bergantian. “Lo ngga liat kita basah? Lagian lo sama temen lo ngapain masuk hah? Mau bikin perkara?” bentak Tatiana. “Oh, jadi ini kamar mandi cewek,” Christo justru memperhatikan sekeliling dan tak memperhatikan Gianna maupun Tatiana. “Udah jangan bawel! Nih!” Kenan menyodorkan tas Gianna dan Tatiana yang sudah ia bawa. “Oh, bagus, kirain lo kesini tangan kosong,” Tatiana langsung menerima tasnya, begitupula Gianna. “Didalemnya ada baju ganti, sabun, sama shampoo, kalian ganti gih,” ujar Kenan memberitahu. “Lo tau darimana kita butuh sabun?” ucap Gianna sedikit terkejut. “Gue yang suruh,” celetuk Sasami mengangkat tangannya. “Ah … thank’s Sasa,” ujar Gianna tersenyum. “Yaudah buru gih kalian keluar, sebelum orang-orang liat!” seru Tatiana mengusir. “Iya-iya ini gue keluar,” kesal Kenan, tapi sebelum itu, ia sempat menoleh pada Gianna. “Thank’s,” kata Gianna tersenyum. “Urwell,” kata Kenan balas tersenyum. Kenan dan temannya kemudian keluar. Begitu di luar. “Ada masalah apalagi?” tanya Christo pada Kenan. Mereka tidak pergi, mereka menunggu di luar dan berjaga. “Hah?” -Kenan mendongak.- “Gue ngga tau, masalah cewek, tapi kalo gue ngga salah tebak, ini kelanjutan masalah yang ada ada foodcourt kemarin,” kata Kenan menebak. “Oh … ,” -Christo mengangguk-angguk.- “Cewek lu famous ya,” imbuh Christo menanggapi. “Gue justru kasihan. Kayaknya semenjak gue deketin dia, masalah dia banyak bertambah. Gue jadi ngerasa bersalah,” ujar Kenan tersenyum masam. “Ngapain lo ngerasa bersalah? Yang salah ya orang-orang yang cari masalah itu, kalian bahkan ngga ngerugiin siapa-siapa,” balas Christo tak setuju dengan Kenan yang harus merasa bersalah. “Iya sih, tapi ngga tau kenapa gue jadi mikir gitu,” kata Kenan. “Denger ya, elo suka sama dia, dia suka sama lo, udah. Kalian ngga membuat kerugian apa-apa, mereka yang ngelakuin hal-hal ngga bener itu cuma iri dan cari hiburan, walaupun gue juga ngga tau apa asiknya cari masalah kayak gitu,” -sahut Christo tak setuju dengan rasa bersalah yang dirasakan Kenan.- “Yang jelas, lo sama cewek lo itu ngga salah,” “Hahaha, thank’s,” Kenan terkekeh mendengar nasehat Christo yang merupakan kakak tingkatnya itu. “Apaan sih, lebay,” namun Christo justru memandang jijik mendengar Kenan berterimakasih. “Gue ngehargain nasehat lo anji*r,” kesal Kenan yang malah menerima pandangan julid. “Btw, itu cewek-cewek di dalem kenapa teriak-teriak sih?” celetuk Christo heran mendengar percakapan dari dalam toilet yang cukup ramai. “Biasa, cewek,” sahut Kenan. * Sementara itu di dalam begitu Kenan dan Christo keluar dari kamar mandi. “Gercep banget lo tadi bilang ke Kenan,” ujar Tatiana dari dalam bilik kamar mandi. Tempat itu memang toilet, namun sudah termasuk dengan kamar mandi, sehingga mereka langsung saja mandi di dalam. “Iyalah! Begitu gue denger suara air nyiram tadi gue langsung telfon Kenan,” balas Sasami sedikit berteriak. “Gitu dong, berguna,” kata Tatiana masih mengguyur tubuhnya dengan air. “Gue selama ini memang berguna, elonya aja yang ngga peduli!” kesal Sasami sembari memainkan ponselnya. “Udah weh, kalian mah berantem mulu,” celetuh Gianna yang sedang mencuci rambutnya. “Marahin aja tuh Jian, dia mah ngga pernah nganggep gue ada!” balas Sasami. “Bilangin dia Jian, gue ngga butuh!” sahut Tatiana. “Astaga kalian ini,” Gianna hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar mereka berdua. Setelah beberapa saat, sudah saatnya mereka berganti, beruntungnya mereka karena air tidak tembus sampai kedalam, sehingga pakaian dalam mereka tidak ikut basah. Begitu Gianna membuka tas, ia menemukan satu hoodie hitam besar yang bisa Gianna tebak adalah milik Kenan, ia kenal aromanya. Ia juga menemukan satu rok putih pendek di dalamnya. “Rok ini punya siapa?” tanya Gianna. “Punya gue, pake aja, kebetulan gue sama Tia bawa rok buat di pake, tadi, sekarang udah ngga di pake lagi,” sahut Sasami. “Oh, oke, thank u,” ujar Gianna. “Ini hoodie punya siapa lagi, gue jamin bukan punya Kenan deh,” ujar Tatiana terdengar heran. “Kayaknya punya temennya deh, gue tadi minta tolong bawa dua hoodie soalnya,” sahut Sasami. “Ah, gue ngga kenal lagi sama temennya yang tadi, kenapa dia ngga sama si Ravi aja?” kesal Tatiana pada Kenan. “Mau tukeran aja tah, Ana? Ini gue dapet punya Kenan,” sahut Gianna menawarkan hoodie yang sudah ia pakai. “Jangan lah Jian! Elo udah bener make punya Kenan, kalo make punya cowok lain malah jadi masalah nanti,” -ujar Tatiana.- “Gue heran aja kenapa Kenan bawain gue hoodie cowok yang ngga gue kenal,” “Udah pake aja! Bawel lo!” kesal Sasami dari luar. “Eh bacot! Coba lo yang make! Mau ngga?” tantang Tatiana. “Ngga sih, hahahaha!” Sasami seketika tertawa meledek Tatiana. “Si Kenan gebl*ek emang,” umpat Tatiana, namun ujung-ujungnya ia pakai juga. Setelah selesai berpakaian dan memakai make-up tipis dan sedikit yang mereka bawa, mereka keluar. -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN