-*-*-*-
Setelah selesai berpakaian, memakai make-up tipis dan sedikit parfum yang mereka bawa, mereka keluar.
“Udah selesai?” itu Kenan yang bertanya begitu mendengar suara percakapan mereka bertiga perlahan keluar.
Kenan yang melihat Gianna memakai hoodienya yang kebesaran membuatnya terpaku karena seperti biasa, Gianna selalu terlihat imut dimatanya.
“Oh, ternyata hoodie gue ngga terlalu kebesaran dipake sama lo,” ucap Christo bersuara mewakili Kenan yang masih bungkam karena melihat Gianna. Sementara Tatiana hanya bisa melirik Kenan yang sedang dalam masa kasamaran itu.
“Oh, jadi ini hoodie ini punya lo,” -balas Tatiana seraya melihat ulang hoodie yang dipakainya.- “Gue pinjem dulu ya,” lanjutnya.
“No Problem,” kata Christo tersenyum.
*
“Ji,” panggil Kenan.
“Hm?” jawab Gianna tak menoleh, karena ia sedang berada di tangga dengan Kenan, mereka berdua baru saja meninggalkan kamar mandi karena sudah tidak ada lagi yang di urus.
“Gue boleh makan lo ngga?” ujar Kenan spontan.
“Hah?!” Gianna pun juga spontan langsung menoleh karena kaget. Matanya memasang pandangan menghujat dan mempertanyakan maksud dari perkataan Kenan.
“Iya … lo gemes banget soalnya, gue ngga kuat, pengen gue kunyah tau? Hiiiih,” saking gemasnya, Kenan sampai meremas wajah Gianna menggunakan kedua tangannya.
“Ihh!” -sementara Gianna yang merasa risih seketika menangkis tangan Kenan dari wajahnya.- “Apaan sih Ken? Gue bukan adonan!” kesalnya seraya mengusap-usap pipinya yang beru saja di sentuh Kenan.
“Kebiasaan, pelit banget,” sahut Kenan pura-pura merengut.
“Ngga pedulii … ,” kata Gianna dengan nada mengejek.
“Dasar!” Kenan tak bisa merengut terlalu lama, sampai akhirnya ia tersenyum juga dan mengacak-acak rambut Gianna yang setengah basah dan Gianna hanya diam saja ketika Kenan mengacak-acak rambutnya.
“Lo bakal ceritain semuanya kan, gimana ceritanya gue biarin lo ikut Sasami, tapi begitu gue samperin, elo malah basah kuyup?” ujar Kenan menagih.
Gianna mengangguk ia memang akan langsung menceritakannya pada Kenan, namun tentunya ia harus lihat tempat.
“Mau cerita dimana?” tanya Gianna.
“Mau di halaman belakang? Kayaknya disana lumayan sepi, tapi tetep bakal ada orang yang lalu lalang disana,” saran Kenan. Sejenak Gianna memutar mata, ia berusaha mengingat tempat itu. Ia pun teringat kalau terakhir kali ia datang ke tempat itu saat Kenan mengambil sebelah earphone yang ia pakai ketika sedang mendengarkan musik.
“Mm … boleh,” ia masih ingat dengan jelas bagaimana teman Kenan bisa datang dan mengejutkan mereka hari itu.
“Oke,” Kenan pun setuju dan mereka akhirnya pergi ke tempat itu.
Begitu sampai di tempat tujuan mereka, mereka duduk di atas bangku panjang yang kosong, mereka tidak lagi duduk di bawah pohon dan ternyata benar adanya, tempat itu sepi, sama seperti saat mereka duduk bersama saat itu.
“Jadi?” Kenan sudah siap di tempatnya, bersandar dan menatap Gianna untuk menunggunya bercerita.
“Biasa aja kali natap gue, gue berasa jadi tersangka bakso boraks,” tukas Gianna melirik sinis.
“Hahaha!!” -Kenan seketika terbahak mendengar ucapan Gianna.- “Astaga, boraks, kenapa sih ajaib banget pemikiran elo,” kata Kenan masih terkekeh sambil memegangi perutnya yang sempat tegang karena tertawa terlalu kuat.
“Lagian elo, yaudah lah, gue cerita sekaranga aja,” tak ingin mengulur waktu, Gianna segera saja memulai ceritanya.
Berawal dari ia menanyakan, apakah Kenan masih ingat dengan saat Tatiana menyiram mahasiswi di foodcourt sampai apa yang terjadi pada Tatiana begitu ia datang ke kamar mandi tadi. Gianna pun menceritakan bagaimana ia bisa basah, begitu pula dengan Gianna. Ia juga menceritakan bagaimana mahasiswi itu mengatainya dengan sebutan buruk dan bagaimana ia membalas serta mengancamnya. Ia ceritakan semuanya sampai akhir dengan begitu detail.
“Terus abis itu elo dateng sama Christo,” Gianna mengakhiri ceritanya.
Sejenak terjadi keheningan diantara mereka. Sampai Gianna yang sebelumnya bercerita dengan menghadap ke depan menoleh untuk mencari tau apa reaksi Kenan.
Ia menatapnya. Kilatan matanya nampak begitu dalam menatap kedalam kedua manik hitam Gianna.
“Gue minta maaf,” pada akhirnya mengucapkan itu dan hal itu membuat Gianna bingung.
“Buat?”
“Buat lo yang harus ngalamin banyak hal buruk semenjak elo ketemu sama gue,” lanjutnya menatap Gianna dengan tatapan merasa bersalah.
“Hey … ngga Ken,” melihat tatapan bersalah Kenan justru membuat Gianna tak enak hati. Padahal itu semua bukan salah Kenan.
Tangan Kenan kemudian maju dan menggenggam telapak tangan Gianna.
“Gue padahal tau lo ngalamin semua itu gara-gara gue, tapi gue egois, gue pengen terus deket sama lo, gue pengen tetep ada di samping elo,” ungkap Kenan masih dengan rasa bersalah.
“Stop Ken! Lo ngga bersalah! Gue justru bersyukur deket sama lo. Gue bersyukur lo selalu ada disamping gue, lo sendiri bisa liat, gimana gue berubah semenjak gue deket sama lo. Gue jadi lebih berani dan ngga lagi menyendiri buat nangis,” tutur Gianna balas menggenggam tangan Kenan.
“Ah … ya juga, elo membaik dibanding pertama kali kita ketemu,” kekeh Kenan mengingat pertemuan pertama mereka.
“Pokoknya elo ngga salah Ken,” imbuh Gianna tersenyum menatap Kenan dan Kenan pun otomatis membalas senyuman itu.
“Hahaha, thank’s, Ji,” Kenan tersentuh dengan ucapan itu.
Sejenak, keheningan timbul di antara mereka dan akhirnya mereka merasa canggung.
“Udah ah!” -Gianna melepas tangannya dari Kenan.- “Malah jadi canggung gini hawanya,” ujarnya kembali menghadap ke depan dan menutupi kedua sisi wajahnya dengan telapak tangannya.
“Hahaha, iya aneh rasanya,” kekeh Kenan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Btw, elo ngga ada kelas lagi?” tanya Gianna berusaha mengalihkan suasana. Ia kemudian bersandar pada sandaran bangku dan menoleh pada Kenan yang masih mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertumpu pada kedua pahanya menggunakan siku.
“Ah, ngga sih, cuma kadang-kadang gue ke kelas cuma buat bahas pemotretan sama temen yang lain,” sahut Kenan ikut bersandar pada sandaran bangku.
“Hm … ,” -Gianna mengangguk-angguk.- “Btw, lo ada minum ngga? Gue haus sehabis mandi tadi,” tanya Gianna, ia kali ini tidak sekedar menormalkan suasana, ia memang haus.
“Ada,” -Kenan langsung membuka ranselnya dan mengambil air minum kemasan miliknya yang sudah ia minum sebelumnya.- “Nih,” ujarnya menyodorkan botol berisi air minum pada Gianna.
Gianna mengulurkan tangannya untuk menerima air minum tersebut.
“Thank’s,” Gianna menerimanya di tangannya, namun belum sempat ia memegangnya dengan benar, entah mengapa Gianna kira Kenan tak sengaja menjatuhkannya. Belum sempat ia bereaksi, tiba-tiba saja Kenan menarik tangannya dan ia memajukan tubuhnya.
Cup
Mata Gianna seketika membulat saat itu juga, karena Kenan mencium bibirnya.
Gianna membeku. Ia tidak tau bagaimana ia harus bereaksi dengan bibir Kenan yang berada di bibirnya.
Beberapa detik setelahnya, Kenan melepaskan ciuman itu, akan tetapi wajah mereka masih cukup dekat. Mereka saling menatap untuk beberapa saat dalam keheningan. Terutama Gianna, ia benar-benar kaget dan tak tau apa yang harus di lakukannya.
Namun tak lama kemudian, reaksi Gianna ia menjauhkan tubuhnya dan mengalihkan wajahnya membelakangi Kenan. Ia melipat kedalam kedua bibirnya.
‘A-apa itu tadi?’ batin Gianna masih tak percaya dengan apa yang dialaminya.
Melihat reaksi Gianna yang menjauh, membuat Kenan merasa bersalah.
“Ah … sorry. Gue spontan lakuin itu … elo … ngga suka ya?” tanya Kenan dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa terdengar.
Gianna seketika menoleh, namun tak berani menatap Kenan sehingga akhirnya ia salah tingkah.
“Ngga-ngga gitu, bukan gue ngga suka, tapi … gue-gue cuma kaget,” kata Gianna terbata-bata.
“Harusnya gue minta izin ya tadi?” tanya Kenan.
“Mungkin?” jawab Gianna yang ia sendiri tak yakin dengan jawabannya.
*
Geno
-Temenin gue nonton
Tatiana mengerutkan keningnya menatap pesan masuk itu.
‘Random banget ni bocah,’ batin Tatiana.
Ia kemudian mengetik pesan balasan.
Tatiana
-Jemput
‘Tapi ngga papa deh, gue juga lagi bosen,’
Tak sampai 30 detik berlalu, Geno sudah membalas pesan Tatiana.
Geno
-Otw, lo di kampus kan?
Tatiana
-Ya.
Tak ada balasan lagi yang menandakan Tatiana tinggal menunggu Geno di gerbang kampusnya.
*
“Mau nonton apa?” tanya Tatiana begitu mereka sampai di dalam bioskop.
“Yang lagi rame aja deh,” kata Geno seraya melihat poster dan layar kaca yang ada di belakang kasir yang menunjukan film-film yang sedang ramai di tonton dan juga beberapa film terbaru.
“Loh? Lo baru mau milih? Gue kira lo udah milih mau nonton,” sahut Tatiana bingung.
“Niatnya gitu, tapi gue mikirin elo, takutnya ngga suka nonton film yang mau gue tonton,” balas Geno.
“Loh, namanya juga gue nemenin elo, ya elo nonton aja yang mau elo tonton,” ujar Tatiana tak mempermasalahkan.
“Serius?” tanya Geno.
“Ya … selama itu bukan film yang nyerang mental ataupun berhubungan sama darah sih,” jawab Tatiana memberi syarat.
“Oh! Bukan kok, cuma film action,” sahut Geno terdengar senang.
Tatiana terkekeh melihat Geno yang berseru senang.
“Bocah,” celetuk Tatiana membuat Geno menoleh.
“Heh, bukan ya,” sahut Geno.
“Hahahahaha, iya iya, sana pesen tiket,” kekeh Tatiana melihat Geno yang kesal dengannya.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-