Bukan Modus

1396 Kata
 -*-*-*- Tatiana terdiam menyimak film yang ditontonnya dengan Geno. Memang benar adanya itu film action, itu tentang polisi dan juga detektif yang mengejar buronan. Ia yang awalnya hanya berniat menemani tanpa memperhatikan, kini justru sangat fokus menonton sampai tak memperhatikan Geno yang malah sedang menontonnya. “Ina,” bisiknya di sebelah telinga Tatiana. “Hm?” balas Tatiana tanpa menoleh. “Fokus banget,” kata Geno masih berbisik. “Lah, elo sendiri ngga nonton?” tanya Tatiana masih belum menoleh karena fokus menonton. “Nonton kok, nonton lo,” jawab Geno masih berbisik. Tatiana menoleh setelah mendengar itu dan yang ia dapat kini adalah wajah Geno yang begitu dekat dengannya. Geno seketika tersenyum pada Tatiana. “Kok malah ngeliatin gue? Lanjut nonton gih, gue nonton lo aja,” katanya. “Apaan sih, yang ngajak siapa yang nonton siapa,” sahut Tatiana kembali menonton, ia tak mempedulikan Geno, karena filmnya terlalu seru baginya. Geno pun tetap menatap Tatiana, entah apa tujuannya, tetapi Tatiana tak peduli dan membiarkannya. Geno pun terkekeh karena Tatiana tak terganggu sama sekali. * Mereka akhirnya selesai menonton dan mereka beranjak keluar. Entah mengapa, begitu mereka berdiri, orang-orang yang lain mulai ikut berdiri dan keluar hingga akhirnya membuat padat jalan yang harus Tatiana dan Geno lalui. “Astaga, kenapa malah jadi berebut gini, mau balik di belakang juga udah desek-desekan semua,” ujar Tatiana pelan, namun Geno bisa mendengarnya. “Awas jatoh, sini pegang tangan gue,” kata Geno menjawab ucapan Tatiana. “Ngga mau,” balas Tatiana begitu singkat dan padat. Geno terkekeh mendengar penolakan itu, padahal ia memang berniat membantu Tatiana agar tidak terjatuh. Seorang wanita dari belakang Geno dan Tatiana tiba-tiba menerobos dengan bar-bar dan tanpa permisi langsung menarik bahu Tatiana agar menyingkir dari jalannya. “Hey!” tak hanya Tatiana, orang-orang yang ia paksa minggir pun berseru menegur semua. Tatiana yang sempat di tarik bahunya dan terdorong dari depan dan belakang seketika oleng dan akan terjatuh. Tetapi Geno dengan sigap menangkap pergelangan tangan Tatiana dan menariknya sampai merapat pada tubuhnya. “Tadi katanya ngga perlu gue pegangin,” ujar Geno bicara pelan tepat di samping telinga Tatiana. “Tsk!” Tatiana segera menjauh dari Geno, tetapi saat ia ingin melepas tangannya, Geno tak mau. Tatiana menoleh dan bermaksud menanyakan apa maksudnya dari tatapannya. “Nanti lo jatoh lagi,” jawabnya seraya merubah pegangannya menjadi menggenggam tangan Tatiana. Tatiana memutar bola matanya. “Modus,” ujarnya seraya kembali menghadap ke depan. “Hahaha, ini ngga modus, Ina,” -kekeh Geno melihat ekspresi wajah Tatiana.- “Modus tuh gini,” Geno kembali menarik tubuh Tatiana dan kini ia memeluk perut Gianna. Tatiana sedikit memekik mendapat pelukan yang amat tiba-tiba itu. Ia seketika menoleh protes pada Geno. “Gimana? Mau gue modusin?” ucapnya menatap mata Tatiana. Tatiana tak peduli, ia buru-buru melepas pelukan Geno dan langsung berjalan lebih dulu karena saat ini kerumunannya sudah berkurang dan sedikit lagi mereka keluar dari dalam bioskop. “Tungguin gue, Na,” kekeh Geno melihat tingkah Tatiana yang menjaga jarak darinya. “Males, lo rese,” balas Tatiana tanpa menoleh, kini mereka sudah di luar bioskop. Geno tak acuh dengan sikap Tatiana dan langsung menggandeng tangan Tatiana. Tatiana seketika menoleh karena terkejut. “Ayo kita kencan lagi,” senyum Geno begitu cerah lalu tanpa izin memimpin langkah Tatiana dengan menggenggam tangannya. “Astaga, batu banget ya elo,” ucap Gianna menanggapi sikap Geno yang tak berhenti semaunya. “Hahaha, lo harus cerita ke gue gimana ceritanya lo sama Anna bisa kena siram,” ucap Geno seraya berjalan mundur agar bisa menatap Tatiana. “Tau darimana lo?” sahut Tatiana sedikit kaget kaget, Geno bisa mengetahuinya secepat ini. “Ayo tebak,” Geno justru meledek dengan senyuman menyebalkan andalannya. “His, males banget, malah jadi tebak-tebakan. Ogah gue,” tukas Gianna memandang julid pada Geno. “Tebak aja, kan biar lo ngga bosen,” kata Geno masih berjalan mundur. Tatiana menggeleng. Ia benar-benar tidak dalam mood untuk bermain-main. “Tsk! Ngga asik,” balas Geno kembali menghadap ke depan dan berjalan normal. “Yaudah ayo kita makan dulu,” Geno kemudian berjalan sedikit cepat membuat Tatiana sedikit terseret. “Astaga, ati-ati dong, gue keseret,” seru Tatiana. “Oh, sorry,” Geno tertawa dan langsung berdiri di samping Tatiana agar langkah mereka bisa seimbang. Tatiana diam, ia hanya melirik Geno, kemudian ikut tersenyum juga pada akhirnya. * Setelah makan dan bermain cukup lama di game center, mereka berniat untuk pulang. Di dalam mobil. Sejak keluar dari gedung mall, senyum mereka terlihat belum pudar dan terlihat sangat senang. “Astaga, udah lama banget gue ngga keluar main-main kayak tadi,” kata Tatiana dengan senyumannya yang belum pudar sembari memasang seat beltnya. “Hahaha sama, thank’s udah temenin gue,” kata Geno yang juga masih sama cerahnya senyumannya. Ia juga tidak menyangka, bermain di pusat game bersama Tatiana bisa se-menyenangkan ini. “Gue yang makasih,” kata Tatiana menoleh dan menatap Geno. Geno menoleh dan balas menatap Tatiana. Sejenak mereka saling pandang hingga tiba-tiba Geno maju dan mencium bibir Tatiana. Tatiana terdiam, namun entah mengapa ia tidak terkejut, ia justru memejamkan matanya. Mengetahui Tatiana tak menolak, Geno perlahan menggerakan bibirnya. Tatiana pun masih diam dan menikmati ciuman itu. Merasa mendapat lampu hijau untuk melanjutkannya, Geno pun terus menggerakan bibirnya. Ciuman itu tidak kasar, tidak terburu-buru dan tidak menuntut. Geno hanya menciumnya dan memberikan lumatan-lumatan lembut tanpa nafsu. Ia merasa senang pergi dengan Tatiana hari ini sehingga ia memutuskan untuk meluapkannya melaui ciuman. Setelah beberapa saat mencium bibir Tatiana, Geno melepasnya, tetapi ia belum memundurkan wajahnya dan hanya menatap mata Tatiana yang perlahan terbuka dan menatapnya juga. Masih bertatapan, Geno memberikan satu kecupan pada Tatiana yang kemudian justru di tahan oleh Tatiana dengan menarik tengkuk Geno agar melanjutkan ciumannya. Geno sedikit terkejut, namun akhirnya ia memejamkan matanya dan lanjut mencium Tatiana. Kali ini bukan Geno, tetapi Tatiana yang mencium Geno. Ia yang memulainya dan itu di balas oleh Geno. Bibir mereka saling melumat, saling mengulum dan terus begitu sampai decapan dari bibir mereka memenuhi seisi mobil yang hanya ada mereka di dalamnya. Merasa tak nyaman terus mencondongkan tubuhnya, Geno melepas seat belt Tatiana dan detik berikutnya ia mengangkat tubuh Tatiana dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Ciuman mereka tidak berhenti dan justru semakin dalam. Kedua tangan Tatiana pun otomatis maju dan menyusup kedalam sela rambut Geno dan meremasnya sembari terus menarik Geno agar tetap memperdalam ciuman mereka. Tak ingin kalah, tangan kanan Geno melakukan hal yang sama pada rambut Tatiana, sementara tangan kirinya memeluk pinggang Tatiana dan terus mengusapnya. Ciuman mereka terus berlanjut dan ciuman yang awalnya hanya lumatan lembut perlahan semakin panas berubah menjadi saling bermain lidah. Tatiana bahkan melenguh tertahan saat Geno meremas pinggangnya. Decapan demi decapan semakin memenuhi mobil, bahkan kali ini di tambah dengan lenguhan dari bibir Tatiana karena beberapa kali Geno menggigit bibirnya gemas. Ciuman itu berhenti, ketika tangan Geno tanpa sadar menggerayangi p****t Tatiana dan meremasnya. Tatiana sempat mendesah, namun ia masih sepenuhnya sadar dan ia menghentikan sepihak ciuman itu. Napas mereka memburu dan mata mereka begitu sayu. Terutama Geno, ia nampak menatap penuh tanya pada Tatiana karena menghentikannya. Tatiana terdiam, ia sebenarnya masih ingin melanjutkannya, tapi ia sadar kalau ini bisa saja berlanjut ke arah yang lain. Terlebih lagi, ini masih di tempat ramai. Mereka harus berhenti. “Kenapa?” tanya Geno bingung dengan eskpresi Tatiana. “Gue … gue mau udahan,” kata Tatiana menatap Geno. “Sekali lagi, please?” ujar Geno seraya maju dan berniat menautkan bibirnya dengan Tatiana lagi. Namun Tatiana langsung mundur dan menahan Geno dengan meletakan jari telunjuknya di bibir Geno yang sudah memerah dan basah. “Udah Geno, cukup,” tegas Tatiana menolak. Geno menghembuskan nafas sedikit kecewa, tetapi ia menurut, ia tidak ingin menjadi menjadi laki-laki b******k. “Oke,” katanya mengangguk. Tatiana tersenyum, kemudian beranjak untuk kembali ke tempatnya, namun tidak bisa karena Geno menahan pinggangnya. “Hey … ,” ujar Tatiana memberi peringatan. “Okay-okay gue lepas,” Geno mengangkat kedua tangannya dan membiarkan Tatiana kembali ke tempat duduknya. Tatiana kembali ke tempat duduknya dan memasang seat beltnya. “Ina,” panggil Geno. “Hm?” Tatiana menoleh dan sebuah kecupan datang pada bibirnya dan tak hanya satu, tetapi dua. Cup, cup. Tatiana membulatkan matanya terkejut, tetapi Geno justru memakai seat beltnya. “Bonus,” katanya kemudian menjalankan mobil dan meninggalkan mall. -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN