Bibirmu Kenapa?

1132 Kata
Menunggu -*-*-*- Gianna terdiam di atas kasurnya menatap keluar jendela. Atau lebih tepatnya ia melamun. Ia tengah melamun me-reka ulang bagaima adegannya bersama Kenan di kampus tadi. Setiap kali mengingatnya, ia akan tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di atas bantal. Bahkan sekarang pun ia tengah melakukan hal itu. Tersenyum malu-malu, menyembunyikan wajahnya ke atas bantal dan menghentak-hentak kedua kakinya ke atas kasur. Hmm … indahnya masa remaja. Masih sibuk melamun, seseorang memanggilnya dari lantai satu. “Jian! Austine nanti mau ke sini sama mamanya!” seru mamanya dari bawah. Gianna yang awalnya terkejut karena di buyarkan lamunannya, semakin kaget mendengar nama yang paling tidak ingin dia dengar. Matanya membulat dan tubuhnya seketika bergegas bangun. Ia simpan semua barang yang baginya beresiko akan di pinjam atau di ambil seenaknya dan keluar dari kamarnya setelah membawa semua barang yang di perlukannya di luar kamar. Ia pun tidak lupa mengunci pintunya. Terkesan berlebihan, tapi memang harus begini. Austine seumuran dengan Gianna, tapi Gianna pikir akalnya berhenti di usia anak SD peralihan dari TK. Ia benar-benar tidak punya sopan santun jika di rumah Gianna. Setelah keluar dari kamar, ia segera duduk di sofa ruang tamu dan menonton tv menunggu kehadiran Austine. Mungkin kurang tepat jika di sebut menunggu, karena Gianna sebenarnya tidak ingin Austine datang, tapi tetap saja, mau tidak mau ia harus menunggu. Setelah beberapa waktu berlalu, ada suara sebuah mobil yang masuk ke garasi mobil Gianna, tetapi itu bukan Austine. Gianna pun menengok pada pintu rumahnya dan setelah beberapa saat ia tunggu, muncul seseorang dari balik pintu dan beranjak masuk. “Baru pulang?” ujar Gianna sembari kembali menatap tv. Itu adalah Geno. Ia sudah memakai pakaian sehari-hari yang artinya ia tadi pergi main setelah pulang dari sekolah dan sempat berganti terlebih dahulu. “Mm … yah gitu,” sahut Geno seraya melangkah dan menghampiri Gianna. Begitu sampai di sofa, ia merebahkan diri sebelah Gianna dan menutup matanya. “Ngantuk tidur di kamar!” seru Gianna seraya menepuk bahu Geno. “Gue ngga ngantuk! Gue cuma capek,” sahut Geno menatap kesal pada Gianna yang sudah menepuk bahunya tanpa ragu. “Lo sekarang ngga ngantuk, tapi lo tiduran gitu gue jamin lo lama-lama tidur. Masuk gih!” omel Gianna seraya menggoyang-goyang bahu Geno agar tidak memejamkan mata. “Ah! Rese sih! Gue beneran belum ngantuk!” kesal Geno yang seketika langsung duduk dengan tegak karena risih bahunya terus-terusan di guncang. “Austine mau kesini,” ucap Gianna tiba-tiba. “Sumpah?!” -Geno yang awalnya berniat marah pada Gianna berubah menjadi kaget mendengar nama keramat itu. Namun entah mengapa ia kemudian menatap penuh selidik pada mata Gianna berusaha mencari celah kebohongan.- “Lo bohong pasti. Ya kan?” ucap Geno tak percaya. “Kalo gue bohong, ngapain gue mau diem disini? Mending gue di kamar,” balas Gianna memutar bola mata. “Ah, s**t,” Geno segera ke kamarnya dan melakukan hal yang serupa dengan Gianna kepada kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar lagi hanya dengan ponselnya. “Ngga tidur?” tanya Gianna begitu Geno mendudukkan diri di sebelahnya. “Di bilang gue ngga ngantuk, batu banget,” kesal Geno lalu menjitak kening Gianna. “Akh! Jahat!” Gianna tak mau kalah dan ikut mencubit pinggang Geno. “Aw! Sakit! Gila!” sahut Geno langsung mengusap-usap pinggangnya. Gianna tiba-tiba terdiam dan tak memperdulikan ocehan Geno. Ia kemudian mengendus pakaian Geno dan itu membuatnya bingung. “Lo ngapain lagi hah?” ujar Geno. “Bentar. Gue kok kayaknya kenal sama bau ini,” ujarnya berusaha mengingat-ingat aroma yang ada di pakaian Geno masih mengendus pakaian Geno. “Bau apa? Lo kok malah jadi kayak anjing gini sih,” sahut Geno. “Sembarangan!” kesal Gianna menatap sinis. Ia kemudian kembali duduk dengan benar dan bersandar. Ia masih berusaha mengingat-ingat. Masih diam dan mengingat-ingat, ia tiba-tiba salah fokus saat melihat bibir Geno. Matanya menyipit agar pandangannya semakin jelas. Dilihat dari samping, entah mengapa bibir Geno terlihat sedikit membengkak. Gianna mengerutkan keningnya. “Bibir lo kenapa?” tanya Gianna tanpa rasa ragu segera bertanya. “Hah?” Geno menoleh dan membuat Gianna bisa melihat semakin jelas bibir Geno yang sedikit bengkak dan memerah. Tidak seperti biasanya. “Lo habis kepentok apa sampe bibir lo bengkak merah gitu? Di sengat?” tanya Gianna penasaran. “Oh,” -Geno otomatis menyentuh bibirnya yang memang terasa sedikit bengkak.- “Ngga kena apa-apa sih, kayaknya karna gue makan pedes tadi,” ujar Geno mengangguk-angguk sendiri. Ia tau betul apa penyebab bibirnya bengkak seperti itu, tapi tentu saja ia tidak akan memberitahu Gianna akan hal itu. “Seberapa pedes sampe bibir lo jeding kayak gitu?” tanya Gianna begitu polosnya percaya. “Gue ngga tau, gue tadi pesen menu baru aja, ternyata terlalu pedes buat gue,” jelas Geno seraya kembali merebahkan tubuhnya. “Ih! Rebahan lagi, risih gue!” kesal Gianna melihat Kenan kembali merebahkan diri. “Ya emang kenapa sih? Gue cuma mau nonton sambil rebahan!” kesal Geno tak merubah posisinya. “Tsk! Yaudahlah terserah,” kesal Gianna ikut menonton tv kembali. ‘Tadi aroma prarfum apa ya? Gue ngga asing dan kayaknya pernah cium aroma itu,’ batin Gianna masih memikirkan aroma yang ada di tubuh Geno. Geno dan Gianna masih berada di posisi masing-masing dan bersantai sampai akhirnya yang mereka tunggu tiba. “Hai Geno~ Jian~” sapa orang itu dengan ramahnya begitu masuk kedalam rumah Gianna. Itu adalah tantenya dan Geno. “Hehehe, iya tante,” Geno dan Gianna bergantian mencium tangan tante mereka. “Mama kamu dimana?” tanya tante Gianna. “Di kamar tuh kayak-” “Hey~” mama Gianna tiba-tiba saja keluar dari kamarnya dan menghampiri saudara kandungnya itu. “Ah, itu tante,” tunjuk Gianna sembari duduk dan membiarkan kakak beradik itu saling melepas rindu. “Hai,” seperti yang diduga, Austine datang. Ia menyapa Geno dan Gianna, tepat setelah duduk dan mengganti siaran tv yang sedang ditonton Geno dan Gianna. Pandangan mata Geno dan Gianna pun dengan kompaknya langsung melirik pada Austine. “Hai juga,” balas Gianna dengan nada yang sangat datar. Sedangkan Geno tak mempedulikannya dan langsung meraih ponselnya untuk ia mainkan. Sedangkan Gianna, mau tak mau harus menonton apa yang Austine tonton. Beberapa saat berlalu dalam diam, Gianna merasa haus. Ia kemudian mengambil minum yang sudah ia siapkan di atas meja. Setelah minum, ia kembali menonton. Suasana benar-benar terasa garing. Di tambah Geno yang tertidur di sebelahnya membuatnya semakin kesal. Semua sunyi sampai akhirnya sebuah notifikiasi masuk ke dalam ponsel pintar Gianna dan membuatnya bergetar. Austine dan Gianna sama-sama menoleh dan kini munculah foto Kenan yang Gianna pakai sebagi lock screen. “Wah!” dengan cepat, tangan Austine menyambar ponsel Gianna. “Hey!” seru Gianna kesal ponselnya di ambil tanpa izin. “Oh, wow. Ini foto cowok di pusat belanja waktu itu kan?” -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN