Jangan Mengaku-ngaku!

1137 Kata
-*-*-*- “Oh, wow. Ini foto cowok di pusat belanja waktu itu kan?” seru Austine seraya menatap layar ponsel Gianna. “Balikin hp gue!” tegur Gianna menyodorkan tangannya. “Yaampun, ganteng benget ternyata kalo diliat-liat lagi. Lo foto diem-diem pasti kan?” tanya Austine tak mempedulikan tangan Gianna yang sudah terulur. “Bukan urusan lo dan cepet balikin!” perintah Gianna dengan mata tajam. ‘Geno ngga berguna banget sih malah tidur, bukannya bantuin,’ Gianna semakin kesal menyadari Geno yang tidak terbangun mendengar seruannya. “Tsk! Pelit banget sih, gue cuma mau liat foto ini doang,” bantah Austine masih tak mengembalikan ponsel Gianna. “Tapi gue butuh, lo denger sendiri kan tadi ada notif? Itu ada pesan yang masuk,” balas Gianna menahan emosinya. “Apa kodenya biar gue buka,” Austine semakin melunjak, ia mulai mengetik kode-kode asal yang ia tebak. Gianna tak bisa menahan lagi sehingga beberapa detik kemudian ia maju dan merampas ponselnya. “Ngga sopan banget jadi orang,” ujar Gianna sinis seraya membuka layar ponselnya. “Ih apasih, gue cuma mau bacain pesan masuk elo, kok sewot banget jadi orang,” cibir Austine membuat Gianna semakin mendidih isi kepalanya. Astaga, padahal mereka berada di umur yang sama dan sama-sama menempuh kuliah, tapi lihatlah. Bagaimana bisa sikap ini dilakukan oleh seorang mahasiswi? Bukankah sangat tidak sesuai? Gianna ingin membalas omongan itu, akan tetapi ia tidak ingin cari masalah, ia kemudian hanya menganggapnya angin lalu. Mengenai lockscreen Gianna yang sudah berganti, Gianna merasa terlalu berlebihan jika memakai fotonya bersama Kenan di layar ponsel pintarnya sehingga ia mengganti lockscreen serta wallpapernya dengan foto Kenan yang pernah ia ambil. Rupanya Kenan lah yang mengiriminya pesan, dengan semangat, ia segera membalasnya. Rasa kesalnya kini telah hilang seketika. Isi pesan itu hanya obrolan biasa sepasang kekasih pada umumnya, tetapi Gianna nampak semangat membalas. “Seneng banget kayaknya. Emang lo ada dapet chat dari siapa?” tanya Austine sembari mengambil beberapa biji kacang goreng dari toples yang ada di meja. Tanpa sadar, Gianna menoleh dengan bibir tersenyum. “Hah?” jawabnya. “Siapa yang ngechat lo sampe bikin lo bahagia gitu? Lo kan ngga punya pacar,” ulangnya tanpa ada rasa berdosa. “What?” -Gianna mengernyitkan kedua alisnya, tak paham dengan pemikiran Austine.- “Menurut lo, orang-orang cuma bisa bahagia karna pacar?” sahut Gianna kembali memasang wajah kesalnya. “Ya kalo buat anak-anak kayak lo sih yang bisa bikin happy cuma pacar. Sedangkan elo ngga ada cowok,” ujarnya sembari mengunyah kacang gorengnya. “Hahaha, gue ngga setuju sama pemikiran lo, dan tebakan lo itu salah. Gue ada cowok kok,” tukas Gianna kesal, sekalian saja ia buat Austine kesal. “Haha, mustahil! Emang lo pikir siapa yang mau sama lo?” Austine terkekeh dan memberi tatapan mengejek. “Kenapa harus mustahil? Buktinya, gue pacaran sama dia sekarang,” Gianna menunjuk foto Kenan yang menjadi locscreennya. “Halah, ngaku-ngaku doang lo pasti. Lo sendiri bilang kalo kalian ngga ada pacaran dan lo bilang gue boleh deketin dia kalo gue mau,” ocehnya menampik pengakuan Gianna. “Mm … ya pas itu emang iya, tapi sekarang udah beda. Gue udah official sama dia,” balas Gianna tersenyum sinis. “No bukti? Hoax!” balas Austine tak percaya, ia pun membuang mukanya dengan kembali menonton tv. “Haha, buat apa gue buktiin ke elo? Ngga penting banget,” Gianna tersenyum mengejek dan kembali memainkan ponselnya membalas pesan Gianna. “Dih, bilang aja kalo lo ngga bisa buktiin, dasar pembohong,” sahut Austine masih mencibir. Namun Gianna tak mempedulikannya. Ia hanya fokus membalas pesan Kenan. Kenan -Pengen keluar ngga? -Gue jemput Gianna menghembuskan nafas berat membaca pesan itu. Ia kemudian segera mengetik balasannya. Gianna -Mmm … -Pengen sih. -Tapi gue belum bisa keluar Kenan -Kenapa? Gianna -Ada tamu rese dirumah gue -Mama gue pasti ngga bolehin gue pergi karna harus temenin dia -Padahal sih liat mukanya aja males gue Kenan -Tamu? -Siapa? -Kok sampe lo harus temenin? Gianna -Sepupu gue, -Cewek -Kalo gue tinggal bakal sama Geno doang dia temen ngobrolnya -Mama kita lagi ngobrol rahasia negara Kenan -Hahahaha XD -Apasih Ji -Rahasia negara Gianna -Iya, mereka ngobrol di kamar mama, pintunya di tutup -Apalagi kalo bukan rahasia? Kenan -Oke terserah lo deh -Jadi lo beneran ngga bisa keluar? Gianna -Hm … -Ya gitulah Kenan -Yaudah ngga papa, lo ngga usah sedih. Gianna -Siapa yang sedih sih -,- -Gue cuma kesel sama sepupu gue yang ngga punya sopan santun sama gue. Kenan -Berarti kalian ngga akur? Gianna -Ngga berharap sih Kenan -Wkwkwkwk -Bosen ya Gianna -Jelass -Banget Kenan -Oh yaudah -Gue mau beli cemilan dulu Gianna -Oh yaudah -Take ur time Kenan -Ngga mau tanya ngapain gue beli cemilan? Gianna -Buat di makan kan? -Ngapain harus tanya lagi? Kenan -Yaampun lo lucu banget sih. -Kalo gue disitu udah gue cubit pipi lo Gianna -Sialan, ngga boleh! -Gue jitak lagi nanti Kenan -Galaknya Gianna -Makanya jangan nyebelin. Kenan -Yaudah gue pergi dulu, -Ngga habis-habis gue ngobrol sama lo. Gianna -Yang chat duluan loh siapaa. Kenan -Iya-iya gue. Gianna -Kan Kenan -Iya salah gue -Yausah gue mau keluar dulu, bye Gianna -Okay bye Gianna menutup layar ponselnya dan menguncinya. Ia kemudian meletakkan ponselnya tepat disebelahnya. Ia tak ingin sepupunya kembali melakukan hal yang sama pada ponselnya. Merampasnya. Untuk beberapa saat, mereka terdiam, tak ada satupun yang berniat memulai percakapan. Terutama Geno. Ia tertidur pulas di sofa. ‘Tutorial tuker sepupu plis,’ batin Gianna. Melihat kelakuan kedua sepupunya yang membuatnya naik darah. Beberapa menit kembali berlalalu dan tiba-tiba ada tamu dari pintu. “Hm? Siapa,” Gianna bersiap berdiri setelah beranjak untuk membuka pintu. Namun Austine menahannya. ”Biar gue,” kata Austine seraya meletakakan kacangnya. “Oh, oke,”Gianna hanya mengangguk dan membiarkan Austine membuka pintu. ‘Seenggaknya sedikit berguna dia,’ batin Gianna. Setelah beberapa saat. “Hai cantik?” sapa seseorang kepada Gianna. Gianna tak asing dengan sura itu sehingga ia mencarinya atau lebih tepatnya ia menoleh pada asal suara. Mata Gianna membulat saat mengetahui yang datang. Kenan nampak tersenyum padanya dan melambaikan tangan. “Elo … ,” Gianna tak bisa berkata-kata karena tak menyangka Kenan akan datang. Tak lama dari belakang Kenan muncul satu orang lainnya. “Hai Jian!” sapanya begitu cerah. Itu adalah Tatiana. “Ana?” balas Gianna semakin tak percaya dengan kedatangan dua orang itu. “Hah? Ina?” Geno yang sebelumnya tidur seketika terbangung mendengar nama Tatiana disebut. “Dih! Tadi kayaknya tidur!” hardik Gianna menoyor pelipis Geno. “Akh, sakit!” amuk Geno menatap kesal pada Gianna. “Oh, kalian temen-temen Jian? Ada perlu apa?” tanya Austine ikut bicara. Entah mengapa Gianna sempat lupa kalau sejak tadi Austine berdiri menahan pintu. ‘Waw, kenapa bisa pas Kenan dateng?’ batin Gianna bingung harus senang atau khawatir. -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN