-*-*-*-
“Oh, kalian temen-temen Jian? Ada perlu apa?” tanya Austine ikut bicara. Entah mengapa Gianna sempat lupa kalau sejak tadi Austine berdiri menahan pintu.
“Mm … kepengen mampir aja sih kita ke sini, mau ngobrol,” jawab Tatiana mewakili Kenan.
“Langsung masuk aja!” seru Geno dari dalam.
“Oh, ya,” sahut Kenan.
Mau tak mau, Austine menyingkir dan mempersilahkan Kenan dan Tatiana masuk.
“Hai,” sapa Kenan tak bisa menahan senyumnya bertemu dengan Gianna.
“Hai,” balas Gianna yang juga tak bisa menahan senyumannya.
“Hai manis,” sapa Geno begitu Tatiana duduk di sebelah Gianna.
“Apasih,” tukas Tatiana balas melirik sinis.
“Yaampun galaknya, jadi suka,” ledek Geno sembari bertopang dagu dan menatap Tatiana.
“Ngga usah rese lo ya,” kesal Tatiana mengancam. Ia kemudian membuang mukanya.
“Kalian ke sini mau ngerjain tugas?” tanya Austine tak mau kalah ikut dalam pembicaraan.
“Ngga kok, emang kita aja yang pengen mampir,” kata Kenan di sebelah Geno.
“Oh,” Austine hanya ber-oh ria dan kembali menatap tv.
“Btw, lo siapa?” tanya Tatiana penasaran, karena ia memang tidak tau siapa Austine.
“Gue?” -Austine menoleh sembari menunjuk dirinya sendiri.- “Gue Austine, sepupu Gianna,” jawabnya penuh percaya diri.
“Oh … ,” Tatiana mengangguk-angguk.
“Lo sendiri siapa?” tanya Austine sekedar ingin tau.
“Gue Tatiana,” jawab Tatiana.
“Ribet banget namanya. Kalo elo?” lanjutnya menunjuk Kenan menggunakan dagunya.
Mendengar respon Austine seketika membuat Tatiana melipat kening. Ia kemudian menoleh pada Gianna. Paham dengan ekspresi Tatiana, Gianna segera mendekatkan bibirnya pada telinga Tatiana.
“Emang anaknya tabokable,” bisiknya memasang wajah kesal.
“Gue? Gue Kenan,” kata Kenan.
“Oh gitu, kalian cuma temennya Kenan kan? Ohya elo, elo tau? Jian pasang foto yang lo ambil diem-diem loh, dia juga ngaku-ngaku pacar lo coba. Aneh banget,” adunya terkekeh membuat Geno, Tatiana, dan Kenan saling pandang bergantian. Sedangkan Gianna hanya bersandar pada sofa dan menonton tv. Ia masih tidak tau apa tujuan Austine berbicara seperti itu.
Kenan pun menatap Gianna dan nampaknya Gianna tak peduli.
“Sebenernya sih gue emang pacarnya dan gue yang suka duluan sama dia,” jelas Kenan.
“Lagian, ngapain Gianna ngaku-ngaku? Seorang Kenan buat apa di aku-akuin sebagai pacar? Kalo gue sih ogah,” balas Tatiana memperkuat jawaban Kenan.
“Sialan!” hardik Kenan kesal mendengar ucapan Tatiana. Sementara Tatiana hanya memberi tatapan menghujat pada Kenan.
“Kalian dibayar berapa sih sampe mau disuruh ngaku-ngaku jadi orang yang dukung Gianna? Segitunya pengen gue percaya,” tawa Austine meremehkan.
“Terus? Gue harus gimana biar lo pecaya?” tanya Kenan. Gianna yang sebelumnya tak peduli seketika duduk dengan tegak.
“Udah Ken! Omongan dia ngga usah di tanggepin, dia cuma cari perhatian,” ujar Gianna membuat Kenan menoleh.
“Kenapa?” tanya Kenan.
“Emang ngga penting aja,” kata Gianna kembali bersandar dan tak peduli.
“Gimana kalo-”
“Austine ayo pulang,” baru saja Austine mau bicara, mamanya memanggil dan mengajaknya untuk pulang.
“Cepet banget udah selesai?” tanya Austine.
“Udah lah, cuma ngobrol biasa,” -sahutnya. Ia kemudian tersadar kalau ada tamu lain di rumah Gianna.- “Loh ada tamu?” kata mama Austine.
“Ah, iya tante,” angguk Tatiana. Kenan hanya mengangguk dan tersenyum.
“Ini pasti pacar Jian dan kamu pacar Geno,” ujar mama Austine menebak.
“Ahahaha, iya tante,” Kenan terkekeh terlihat bangga. Sedangkan Gianna hanya tersenyum geli melihat Kenan.
“Saya bukan kok tante,” sahut Tatiana mnengingat hubungannya dan Geno masih belum jelas.
“Iya bukan, tante, tapi calon pacar,” sahut Geno dengan bangganya.
Gianna yang mendengar itu seketika duduk tegak dan melebarkan matanya.
“Hah?” serunya tak percaya.
“Oh pdkt … ,” -mama Austine hanya mengangguk paham. Lau ia kemudian mengingat tujuannya dan kembali mengajak Austine untuk pulang.
“Ayo pulang,” ajaknya.
Pada akhirnya, Austin pulang. Gianna kembali bernafas lega dengan duduk dengan tegap.
“Kayaknya elo ngga suka banget sama dia,” ujar Tatiana setelah melihat reaksi Gianna yang begitu jelas.
“Siapa yang bisa suka sih, kalo kelakuannya aja ngga tau sopan santun,” sahut Gianna seraya mengambil beberapa kacang dan melahapnya.
“Keliatan sih,” Tatiana mengangguk mengerti, mengingat setelah memperkenalkan diri pada Austine tadi.
“Ya kan? Ngga tau lagi gue,” Gianna mengedikkan bahu, tiba-tiba saja Geno bicara.
“Jian, tukeran tempat yuk,” katanya.
“Hah? Mau ngapain?” -tanya Gianna menatap Geno tak paham. Melihat Geno, entah mengapa teringat sesuatu dan menoleh pada Tatiana. Ada satu hal yang membuatnya salah fokus tadi. Ia kemudian menoleh pada Tatiana.- “Oh ya. Bibir lo kenapa ya? Gue dari tadi mikirin bibir lo. Kok kayaknya bengkak? Geno juga loh, mana kalian bentuk bengkaknya agak sama. Kalian abis jatoh bareng atau gimana?” tanya Gianna.
Mendengar pertanyaan itu, Kenan dan Tatiana tersedak kacang. Gianna yang melihat itu kaget dan bingung.
“Kenapa kalian kaget?” tanya Gianna heran.
“Ngga papa,” Tatiana buru-buru menjawab dengan mengusap dadanya agar bisa bernafas normal.
Kenan melirik Geno dan Geno menatapnya.
“Apa?” kata Geno, sementara Gianna dan Tatiana mengobrol. Kenan dan Geno pun mengobrol.
“Ajak keluar gih, gue bakal jelasin ke Gianna,” saran Kenan sedikit menahan tawa. Ia baru sadar kalau Gianna polos seperti ini.
“Ide bagus,” -Geno setuju dan langsung menjalaninya. Ia duduk tegap dan menatap Tatiana.-“Ina,” panggilnya.
Tatiana menoleh.
“Apa?”
“Keluar bentar yok, ada yang mau di sampein,” ajaknya.
“Ngapain keluar?” kata Tatiana penasaran.
“Makan cloud bread!” -jawab Geno kesal.
“Hah?” Tatian semakin tak paham.
“Udah ikut aja, mau main monopoli kita,” ajak Geno seraya beranjak berdiri dan membawa Tatiana keluar.
Begitu Tatiana di luar, Kenan langsung menanyakannya pada Gianna.
“Tadi Tia jawab, kenapa bibir dia begitu?” tanya Kenan.
“Ngga,” jawab Gianna langsung menggeleng.
“Mau tau?” tanya Kenan tersenyum meledek.
Sadar dengan senyuman Kenan, Gianna memandang waspada.
“Kenapa lo senyum kayak gitu?” tanya Gianna.
“Ngga papa kok, seneng aja bisa ketemu lo,” senyum Kenan membuat Gianna semakin bingung.
“Lebay ish,” sahut Gianna.
“Hahaha, gue beneran ngga ngapa-ngapain, pengen kasih tau lo aja, barang kali lo penasaran,” jelas Kenan tersenyum.
“Iya pengen tau sih … emang kenapa sama bibir mereka?” tanya Gianna.
“Jujur, sebelumnya gue ngga ada maksud apa-apa, tapi gue bener-bener cuma pengen kasih tau apa yang mereka lakuin loh ya,” kata Kenan mengingatkan. Gianna hanya mengangguk dan menyimak dengan serius.
“Mereka ngelakuin apa yang tadi kita lakuin, tapi lebih ‘ganas’ katanya,” jelas Kenan memberi tanda kutip.
Sejenak, wajah Gianna tak berubah dari sejak ia menyimak. Ia nampaknya sedang mencoba mencerna apa yang di katakan Kenan.
“Emang tadi kita ngapain?” tanya Gianna tak sampai.
Kenan lagi-lagi tertawa dan mengacak-acak rambut Gianna.
“Masa ngga inget?”
“Ngga- eh … bentar,” Gianna menunduk dan berusaha mengingat. Tak lama kemudian ia teringat dan langsung menutup mulut dengan kedua tangan.
“Udah inget?” tanya Kenan terkekeh.
“Masa? Mereka? Serius?”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-