-*-*-*-
Kenan lagi-lagi tertawa dan mengacak-acak rambut Gianna.
“Masa ngga inget?”
“Ngga- eh … bentar,” Gianna menunduk dan berusaha mengingat. Tak lama kemudian ia teringat dan langsung menutup mulut dengan kedua tangan.
“Udah inget?” tanya Kenan terkekeh.
“Masa? Mereka? Serius?” tanya Gianna dengan matanya yang membulat.
“Hahaha, reaksi lo gitu amat,” tawa Kenan melihat reaksi Gianna yang begitu polos.
“Ngga, maksud gue, emang mereka pacaran? Kok tau-tau begitu?” tanya Gianna masih dengan matanya membulat. Ia benar-benar terkejut.
“Matanya biasa aja coba. Ngga lucu kalo keluar,” -ujar Kenan mengingatkan dan Gianna langsung berhenti membulatkan mata.- “Jadi lo kaget karna mereka ngelakuin itu tapi ngga pacaran?”
Gianna mengangguk cepat.
“Bukan karna lebih ‘ganas’?” tanya Kenan menggoda Gianna.
Gianna lagi-lagi terdiam dan mencerna ucapan Kenan.
“Emang lebih ‘ganas’nya mereka maksudnya gimana?” tanya Gianna meminta penjelasan, karena ia memang tak paham.
“Yakin mau tau?” tanya Kenan sedikit terkekeh. Ia benar-benar tak menyangka kalau Gianna itu polos.
“Mm … gue mikir sendiri dulu deh,” Gianna kemudian terdiam dan menatap kosong lantai, ia berusaha memahami apa maksud Kenan.
‘Kayak yang gue lakuin sama Kenan, lebih ganas. Emang bisa lebih ganas kayak gimana,’ batin Gianna berusaha menebak.
“Emang gimana caranya cuma lakuin itu bisa bikin bibir mereka bengkak?” tanya Gianna kembali menatap Kenan yang dengan setia menunggunya.
“Yaampun, Ji,” -Kenan mencubit hidung Gianna gemas, padahal Gianna masih memasang wajah plongo dan belum menggapai apa yang dimaksud Kenan.- “Besok lagi kalo emang ngga tau, tanya sama gue aja, jangan sama orang lain, takutnya elo di kerjain. Terutama cowok, kalo soal beginian jangan tanya ke mereka,” jelasnya tersenyum lembut.
“Emang kenapa?” lagi-lagi Gianna tak mengerti.
“Gue jelasin dulu deh yang tadi biar lo paham semua,” ujar Kenan. Namun sebelum menjelaskan, ia melihat sekeliling dulu, takut-takut ada mama Gianna yang mendengarkan dan salah paham, ia kemudian menjelaskan menggunakan drama remaja dewasa sebagai contoh agar tidak menjelaskannya terlalu v****r.
Setelah beberapa penjelasan tersirat yang tidak detail.
“Jadi kemaren mereka ngelakuin salah satu hal yang mungkin ada di drama ataupun film, mereka juga ngelakuin itu di-”
“Wait!” Gianna mencegah Kenan melanjutkan penjelasannya. Kenan yang di potong penjelasannya hanya bisa tersenyum menatap Gianna yang mulai menangkap maksudnya.
Seketika wajah Gianna berubah akward membayangkan segala kemungkinan yang terjadi, mengingat drama-drama yang pernah ia tonton.
“Jadi … akh udah deh, nyesel aku tanya,” sesal Gianna menjatuhkan tubuhnya pada sandaran sofa.
“Hahaha, sekarang paham kan kenapa lebih baik jangan cerita ke orang lain? Mending tanya gue, Tia, atau Geno aja,” jelas Kenan masih terkekeh melihat reaksi Gianna, sementara Gianna hanya mengangguk-angguk sebagai respon.
“Tapi,” -Gianna tiba-tiba duduk tegap dan menatap Kenan serius.- “Lo yakin mereka belum jadian?” tanya Gianna tak percaya hubungan Tatiana dan Geno baru sekedar pdkt.
“Iya? Tadi lo denger sendiri kan Geno bilang baru pdkt pas mamanya Austine tanya?” jelas Kenan balas bertanya.
“Iya sih,” Gianna mengangguk dan entah mengapa memasang wajah menyesal.
“Hahaha, kenapa emangnya?” tanya Kenan penasaran.
“Mereka baru pdkt kok udah sampe begitu?” tanya Gianna heran.
“Ntahlah,” -Kenan mengedikkan bahunya. Ia juga tak mengerti kenapa ada orang yang bisa melakukan itu.- “Emangnya lo mau juga?” tanya Kenan bermaksud meledek, walaupun kalau Gianna mau ia juga tidak menolak.
Gianna mendongak.
“Mau ap- ngga eh!” -hampir saja Gianna tak paham apa maksud ucapan Kenan, namun ia segera menangkapnya. Ia kemudian maju dan memukul bahu Kenan, pipinya nampak memerah namun ia tutupi menggunakan tangannya yang lain.- “Dasar ngga sopan!” kesal Gianna menatap sinis.
“Hahaha, gue cuma bercanda Ji,” tawa Kenan semakin gemas dengan reaksi Gianna yang malu-malu.
“Tetep aja!” balas Gianna berseru sedikit membentak.
“Heh … apa itu bentak-bentak,”
Tiba-tiba saja mama Gianna datang dari kamar dengan tangan yang fokus mengacak-acak isi tasnya.
“Mama? Ngga papa ma, tadi Kenan rese,” jawab Gianna seraya menoleh pada mamanya yang berdiri di belakang sofa. Sedangkan Kenan hanya tertawa tanpa suara.
“Tetep aja ngga boleh bentak-bentak orang lain, apalagi dalem rumah,” balas mama Gianna masih sibuk dengan tasnya.
“Iya … ,” Gianna hanya mengalah kemudian melirik Kenan yang hanya tersenyum meledek padanya. Gianna pun mendelik dan memberi ancaman tangannya yang siap untuk memukul Kenan kapan saja.
“Mama mau pergi kerumah tante Eva, dia mau masak-masak buat acara,” ucap mama Gianna kemudian menatap ponsel pintarnya mengirim pesan.
“Iya, terus?” tanya Gianna menatap mamanya.
“Terus? Kalian mau lanjut ngobrol berdua doang disini? Rumah kosong loh,” ujar mama Gianna menatap Gianna dengan pandangan bertanya.
“Ah … ,” Gianna menangkap maksud mamanya dan mengangguk-angguk.
“Ah, yaudah tante kalo gitu saya pulang,” Kenan berniat pamit jika maksud mama Gianna memintanya pergi.
“Tante ngga bermaksud ngusir yah Ken, tapi ya, paham, kan?” ujar mama Gianna meminta pengertian Kenan.
“Iya tante, kalo gitu saya pulang aja,” pamit Kenan, tetapi wajahnya nampak tidak ikhlas karena ia masih ingin mengobrol dengan Gianna.
Mama Gianna kemudian sadar dengan pandangan mata Kenan yang tak rela pergi secepat ini.
“Tapi kalo kalian masih mau ngobrol, kalian boleh kok pergi main keluar. Asal jangan dirumah kosong begini. Mama ngga bermaksud ngelarang kalian ngobrol bareng,” ujar mama Gianna menatap Gianna.
“Ah … gitu ya tante. Yaudah kalo gitu, saya izin ajak Jian keluar, tante,” ujar Kenan dengan semangat yang spontan membuat Gianna menoleh.
“Hah? Mau kemana?” tanya Gianna.
“Ikut aja,” kata Kenan.
“Yaudah sana kalo mau keluar, cepetan siap-siap, Mama tunggu disini,” kata mama Gianna mengizinkan.
“Mm … okay,” tak banyak bicara, Gianna segera berdiri dan melangkahi sandaran sofa untuk beranjak ke kamarnya.
“Makasih tante udah izinin saya ajak Jian keluar,” ujar Kenan tersenyum begitu Gianna naik kekamarnya.
“Sama-sama,” -kata mama Gianna balas tersenyum.- “Yang penting kalian jangan pulang terlalu malem, apalagi pagi loh ya,” imbuh mama Gianna meledek.
“Hahaha, siap tante,” kata Kenan.
Beberapa saat kemudian, Gianna keluar dengan rambut yang diikat dan membawa hoodie yang terikat di pinggang, rupanya mama Gianna dan Kenan sudah menunggu di luar.
“Yuk!” ajak Gianna begitu sampai diluar dan mengunci pintu.
Mama Gianna menoleh.
“Yaudah kalo gitu mama berangkat, hati-hati ya Ken,” pamit mama Gianna pada Kenan dan Gianna.
“Iya ma, mama hati-hati juga,” ujar Gianna.
“Hati-hati tante,” kata Kenan seraya mencium tangan mama Gianna.
“Ya,” mama Gianna kemudian masuk ke bagasi dan keluar dengan menggunakan motor matic.
Kenan sedikit kaget saat melihatnya. Begitu mama Gianna pergi, Kenan bertanya pada Gianna.
“Lo punya motor?”
“Iya, kenapa?” Gianna balas bertanya.
“Kenapa ngga pernah lo pake?” tanya Kenan heran.
“Gue pake, kalo ke toko waktu disuruh mama,” jelas Gianna.
“Ah … kirain ngga bisa pake,” Kenan mengangguk-angguk.
“Bisa ya! Btw, kita mau kemana?” tanya Gianna mengalihkan topik.
“Kemana ya? Gue juga bingung,” ujar Kenan nampak berpikir.
“Lah? Kirain lo udah mutusin mau kemana,” protes Gianna bingung.
“Ya gimana, gue cuma masih pengen ngobrol sama lo, tapi rumah lo kosong kan ngga mungkin. Walaupun gue juga ngga ada niat apa-apa,” jelas Kenan menatap Gianna yang lebih pendek darinya.
“Oh … ,” Gianna hanya menyimpan senyumannya mendengar ucapan Kenan dan mengalihkan pandangannya.
“Oh!” Kenan tiba-tiba teringat sesuatu membuat Gianna sedikit terkejut dan refleks memukul lengan Kenan.
“Apa?” kata Gianna sedikit kesal.
“Mau ke rumah gue?” tanya Kenan.
“Hah?”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-