-*-*-*-
“Mau ke rumah gue?” tanya Kenan.
“Hah?” -Gianna seketika terkejut mendengar itu.- “Ngapain?” tanya Gianna?
“Dirumah ada ortu gue kok, ada bibi gue juga, aman,” ujar Kenan menenangkan, ia sedikit terkekeh melihat kekhawatiran yang muncul di wajah Gianna.
“Baguslah, kan ngga mungkin ke rumah lo kalo kosong, disini kosong, disana kosong, sama aja,” -jelas Gianna. Ia tiba-tiba tersadar akan sesuatu dan melihat sekeliling.- “Oh iya. Geno sama Ana? Mereka kemana? Gue baru sadar mereka ilang,” kata Gianna masih melihat sekeliling halaman rumahnya.
“Oh? Mereka? Kayaknya udah pergi duluan daritadi sewaktu Geno ajak Tia keluar,” -balas Kenan.- “Yaudah yuk berangkat,” ajak Kenan.
Rupanya kali ini Kenan membawa motornya lagi, begitu sampai di motornya, Kenan memasangkan helm Tatiana ke kepala Gianna, ia kemudian sadar kalau kali ini Gianna memakai baju yang sama ketika ia mengajaknya ke pameran. Jumpsuit jeans dan tanktop sebagai atasannya.
“Harusnya tadi gue bawa mobil aja,” ujar Kenan. Gianna pun penasaran apa maksudnya bicara begitu.
“Kenapa emangnya?” tanya Gianna.
“Gue takut lo masuk angin,” jawab Kenan.
“Oh … ,” -Gianna menatap bajunya sendiri kemudian menatap Kenan.- “Rumah lo jauh?” tanya Gianna.
“Ngga sih, cuma kan ini agak panas, terus takutnya di jalan lo kena angin, kan ngga lucu kalo lo sakit abis dari rumah gue,” ujar Kenan tersenyum menjelaskan alasannya.
“Oh oke bentar,” -tahan Gianna seraya melepas helm dan memberikannya pada Kenan. Ia kemudian melepas hoodie yang menggantung di pinggangnya dan memakainya. Rupanya itu adalah hoodie milik Kenan yang di pinjamkan siang tadi. Gianna kemudian merentangkan tangannya menunjukkannya pada Kenan.- “Sekarang gimana? Niatnya baru besok mau gue balikin,” tanya Gianna.
Tubuh mungil Gianna yang memakai hoodie Kenan yang kebesaran membuatnya terlihat semakin mungil.
“Waah, kok bisa sih elo seimut ini? Sampe rasanya pengen gue kunyah,” ungkap Kenan menatap terpana Gianna yang selalu berhasil membuatnya terpesona.
“Ih!” -Gianna memukul bahu Kenan dan seketika Kenan tertawa saat itu juga.- “Ngga usah bercanda ya, sini helmnya!” sungut Gianna kesal karena Kenan selalu bercanda seperti itu.
“Jangan marah, gue cuma bercanda,” tawa Kenan seraya memasangkan helm Gianna serta mengancingkan pengaitnya.
“Ya justru itu, jangan bercanda terus!” seru Gianna semakin kesal melihat tawa Kenan tak habis-habis.
“Oh? Jadi mau beneran?” tawar Kenan kembali menggoda dan seketika ia menerima cubitan kuat di perut kanannya.
“Aw!” pekik Kenan terkejut, tetapi masih sanggup tertawa.
“Jadi pergi ngga sih? Gue masuk lagi nih,” ancam Gianna menyilangkan kedua tangannya kesal.
“Astaga iya-iya sorry, yuk naik,” ajak Kenan yang pada akhirnya mengalah.
Gianna kemudian duduk di belakang Kenan. Sport hitam itu bersiap maju, namun tiba-tiba mengerem mendadak karena baru saja ada yang menyalip dengan kecepatan tinggi dan hampir saja mereka tersenggol.
“Lo ngga papa?” tanya Kenan sedikit terkejut karena tubuh Gianna sampai membentur punggungnya akibat rem mendadak tadi.
“Ngga papa,” jawab Gianna kembali menormalkan posisinya.
“Sembarangan banget bawa motor,” kesal Kenan pada pengendara tadi, karena selain mengebut, knalpotnya juga sangat berisik.
“Iya dia warga komplek sini, kadang lewat beberapa kali, udah ada warga yang tegur tapi masih acuh aja,” ujar Gianna memberitahu.
“Tsktsktsk … ,” Kenan hanya bisa geleng-geleng kepala. Tanpa bicara lebih banyakn lagi, Kenan menjalankan motornya perlahan dan mulai melaju meninggalkan rumah Gianna.
*
“Mau ngapain ke minimart?” tanya Gianna heran saat Kenan memarkirkan motornya di depan minimart yang letaknya sudah cukup jauh dari rumah Gianna.
“Ngga mau beli makanan dulu?” tanya Kenan yang masih belum turun dari motor begitupula dengan Gianna.
“Ngga terlalu pengen sih, kan kita cuma mau ngobrol di rumah lo,” ujar Gianna yang memang tidak terlalu ingin saat ini-tidak tau kalau nanti.
“Tapi gue pengen,” balas Kenan seraya melepas helmnya.
“Yaudah gue tunggu sini,” balas Gianna seraya melepas helmnya dan turun dari motor.
“Bener ngga mau apa-apa?” tanya Kenan menatap Gianna penasaran.
“Mm … nanti kalo pengen … gue minta,” cengir Gianna tanpa rasa berdosa.
“Kan,” -Kenan otomatis mencubit pipi Gianna yang menjadi chubby karena tersenyum.- “Yaudah gue beli sendiri, awas lo ilang, diem disini tunggu,” kata Kenan seraya melangkah masuk meninggalkan Gianna.
“Yaa!” kata Gianna mengangguk-angguk.
Gianna kemudian menunggu beberapa saat dengan melangkah asal kesana kemari agar tak bosan sampai tiba-tiba seseorang tak sengaja menabraknya karena tak melihat ke depan.
“Ak! Aduh, maaf ngga sengaja … ,” mereka sama-sama terkejut dan sama-sama meminta maaf tetapi langsung terdiam begitu menatap satu sama lain.
“Eh?” Gianna terkejut karena itu adalah Aghata, jujur saja Gianna tak mengingat namanya, akan tetapi Gianna ingat kalau wanita ini adalah orang yang sudah menyatakan rasa pada Kenan namun tertolak.
Aghata sama kagetnya karena ia juga tak menyangka bisa bertemu dengan Gianna di luar kampus di hari biasa seperti ini.
Gianna bingung harus bicara apa, begitupula Aghata. Namun Gianna memilih untuk mengajaknya bicara.
“Hai,” sapa Gianna. Sedikit aneh, akan tetapi hanya itulah satu-satunya hal paling wajar yang bisa ia pikirkan saat ini.
Aghata diam, ia masih kaget, namun ia kemudian hanya bisa membalas dengan jawaban yang sama.
“Hai,” katanya begitu pelan dan kemudian segera berlalu melewati Gianna. Ia beranjak masuk ke dalam minimart dan itu bertepatan dengan Kenan yang baru saja membuka pintu untuk keluar. Gianna bisa melihat Aghata hanya menunduk dan membuang muka begitu berpapasan dengan Kenan yang juga memasang wajah terkejut.
Kenan menghampiri Gianna dengan sekantung makanan dan mungkin juga minuman dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
“Tadi lo papasan sama dia juga?” tanya Kenan seraya menyerahkan camilan yang sudah ia beli pada Gianna.
“Tabrakan malah,” ujar Gianna.
“Kok bisa?” tanya Kenan kaget.
“Sama-sama ngga lihat soalnya kita, hahaha,” cengir Gianna.
“Astaga, bisa-bisanya,” Kenan geleng-geleng kepala menatap Gianna yang sedang ia pasangkan helm.
“Ngapain dipasangin sih, gue bisa sendiri,” kata Gianna saat Kenan sedang memakai helmnya sendiri.
“Nanti ngga bener elo masangnya,” kekeh Kenan seraya menaiki motornya dan menunggu Gianna juga naik.
“Heleh!” cibir Gianna seraya naik di belakang Kenan dan motor itu kemudian mulai melanjutkan perjalanannya.
*
“Kayaknya lo happy banget ya Ji sama Kenan,” batin Aghata yang melihat dari dalam minimart melalui dinding kaca.
Lalu detik berikutnya ia hanya bisa menghela nafas berat dan melanjutkan tujuannya datang ke minimart.
*
Gianna melongo dan membeku begitu tiba di halaman depan rumah Kenan. Rumah dengan cat perpaduan antara warna krem dan coklat muda itu terlihat berdiri megah, elegan, dan juga besar. Jika Gianna lihat, rumah itu memang memiliki dua lantai seperti rumahnya, akan tetapi jika dibandingkan rumah Gianna, mungkin rumah Gianna hanya tiga perempatnya dan tentu saja perbandingan keanggunan warnanya sungguh jauh.
‘Sebenernya gue pacaran sama siapa,’
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-