-*-*-*-
Gianna masih membeku menatap rumah Kenan sampai saat Kenan mengampirinya ia segera tersadar.
“Ayo masuk,” ajak Kenan.
“Ken, ini beneran rumah lo?” tanya Gianna langsung menoleh pada Kenan.
“Iya … ngga sih, rumah ortu gue tepatnya, bukan punya gue, emang kenapa?” kata Kenan garuk-garu kepalanya yang tak gatal.
“Lo … anak mafia ya?” tanya Gianna melantur.
“Hahaha apasih Ji!” Kenan seketika tertawa mendengar pertanyaan Gianna.
“Ya ngga, gimana ya, maksud gue tuh-”
“Shh … denger ya Ji. Ini, rumah orang tua gue, yang punya, orang tua gue. Kasarannya gue masih numpang di rumah ini dan gue masih beban. Kalo lo sempet mikir tentang perbedaan atau segala macem yang bikin lo kaget, please berhenti mikir gitu. Kita sama-sama mahasiswa biasa kok, oke? Gue tau elo bukan orang yang begitu, jadi gue harap lo bisa perlakuin gue kayak temen pada umumnya. Ah, tapi kan gue pacar lo. Pokoknya maksud gue itu, haha,” tutur Kenan panjang lebar membuat Gianna terdiam.
“Iya sih, omongan lo bener, tapi kan … ,” Gianna masih tidak bisa berkata-kata. Ia tidak menyangka kalau nyatanya selama ini ia sudah menjalin hubungan dengan orang dari keluarga yang mungkin saja terpandang. Gianna tidak bermaksud apa-apa, tetapi ia hanya terkejut.
“Yaudah kalo gitu anggep biasa aja, ayo kita masuk sekarang,” ajak Kenan seraya merangkul bahu Gianna.
Gianna kaget begitu Kenan merangkul bahunya. Ia segera menoleh dan protes.
“Ngga papa lo rangkul gue kayak gini?”
“Emangnya kenapa?” tanya Kenan heran.
“Ngga enak sama orang rumah lo,” kata Gianna.
“Oh, tenang, mereka santai kok,” Kenan acuh saja dan terus maju dengan tangan yang merangkul bahu Gianna. Namu karena Gianna tak enak hati, ia melepas rangkulan itu dan menggantinya dengan gandengan tangan.
Kenan kemudian hanya tersenyum, mengusap rambut Gianna dan terus saja maju.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka kemudian masuk ke dalam rumah besar itu dan Gianna terkejut saat melihat ada banyak orang di dalam rumah itu.
Seketika ia masuk, orang-orang itu menoleh padanya dan Kenan. Gianna yang kaget spontan bersembunyi di belakang Kenan.
‘Duh gila! Kenapa pas banget ada banyak orang sih? Untung gue pake hoodie,’
“Kenan? Baru pulang?” sapa suara seorang wanita paruh baya yang bisa Gianna tebak adalah mama Kenan.
“Iya ma,” jawab Kenan tersenyum. Sadar Gianna sembunyi, Kenan langsung menoleh ke belakang dan berbisik.- “Lo ngga mau nyapa Mama gue?” tanya Kenan.
“Gue malu sama temen-temen Mama lo,” kata Gianna masih sembunyi.
“Eh, Jian ya? Salaman dulu sini,” panggil wanita paruh baya tadi menyebut Gianna.
Tubuh Gianna tersentak mendengar namanya di sebut.
‘Astaga malah dipanggil. Oke tenang Jian, ini cuma kenalan, bukan lamaran atau minta restu. Santai,’ batin Gianna berusaha menguatkan diri. Lalu perlahan ia bergeser dan memunculkan dirinya. Begitu mendapat tatapan-tatapan dari banyak orang itu, senyum Gianna seketika keluar sedikit canggung.
“Iya tante,” balas Gianna seraya perlahan maju.
Sedangkan Kenan di sebelahnya justru menahan tawanya. Gianna sadar akan hal itu dan reflek menyikut tubuh Kenan agar berhenti menahan tawanya.
Begitu di hadapan mama Kenan, Gianna melepas gandengan tangannya dengan Kenan dan menyalami mamanya.
“Siang tante,” sapa Gianna berusaha se sopan mungkin, tak lupa juga ia membungkuk hormat pada tamu yang ada disana dan memberikan senyuman.
“Ternyata bener kata Kenan ya, kamu imut banget, mungil lagi,” ujar mama Kenan melontarkan kata-kata yang tidak ia duga.
“Eh, gitu ya tante,” Gianna bingung bagaimana harus menanggapinya sehingga ia hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Iya, Kenan kadang cerita ke tante, pamer, bangga banget kayaknya punya pacar imut,” ungkap mama Kenan membocorkan dan seketika langsung ditahan oleh Kenan.
“Maa … ,” Kenan bersuara menahan mamanya agar tidak membocorkan lebih jauh.
“Kan, giliran di bocorin malu dia,” ujar mama Kenan melirik pada anaknya yang saat ini tersenyum menyebalkan.
Gianna rasa mamanya Kenan adalah tipe yang asik untuk di ajak mengobrol. Ia juga terlihat ramah dan tau bagaimana caranya membawa perasaan lawan bicaranya. Ia jadi penasaran apa pekerjaannya.
Gianna hanya terkekeh melihat mama dan anak yang sedang mengobrol itu.
“Yaudah sana kalo kalian mau ngobrol di lantai dua aja, di bawah sini rame,” -saran mama Kenan.- “Nanti kalo Kenan macem-macem, lapor aja ke tante ya, Jian? Biar nanti tante urus,” ujar mama Kenan mengingatkan.
“Jian mah galak ma, aku ngga berani ngapa-ngapain,” -ujar Kenan tiba-tiba membuat Gianna langsung menyikutnya lagi.- “Tuhkan ma, bisa-bisa nanti aku habis dia gebukin kalo berani macem-macem,”
“Apasih Ken,” Gianna langsung menegur Kenan agar berhenti mempermalukannya.
“Udah-udah jangan berantem disini, Mama mau lanjut ngobrol,” mama Kenan kembali menghadap teman-temannya. Sejak tadi teman-temannya pun hanya menyimak dan memberi respon sewajarnya pada Kenan dan Gianna tanpa memberi komentar pedas-tidak tau kalau di belakang.
“Yaudah ma, aku masuk ya,” pamit Kenan kembali menggandeng tangan Gianna, tetapi Gianna melepas gandengan tangan itu. Ia tak enak harus bergandengan tangan di hadapan orang-orang dewasa itu.
“Permisi tante,” pamit Gianna.
“Santai santai,” balas mama Kenan kembali mengobrol dengan tamu-tamunya.
Kenan dan Gianna kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.
“Mama lo kerja apa sih? Kok kayaknya lancar banget ngobrol sama gue kayak udah lama kenal,” tanya Gianna menanyakan hal yang sejak tadi membuatnya ingin tau.
Kenan menoleh.
“Mama gue? Dia guru SMA biasa kok,” jawabnya kemudian kembali menghadap ke depan.
“Oh … ,” Gianna mengangguk-angguk.
Setelah beberapa saat melangkah, mereka kemudian masuk kedalam sebuah ruangan yang sebelumnya jika Gianna tidak salah lihat, ruangan ini di apit oleh dua ruangan yang Gianna tebak keduanya adalah kamar Kenan dan Tatiana masing-masing.
“Ada ruang kayak gini di lantai dua,” ujar Gianna begitu masuk kedalam ruangan yang tidak terlalu luas, yang lantainya begitu empuk dan lembut. Ada satu tv ukuran sedang, ada satu sofa panjang dan ada satu tempat tidur single bad, ada rak yang agak besar dan juga beberapa barang lain yang biasanya berada di ruang keluarga.
“Biasanya gue sama Tia kalo ngobrol disini, atau kadang kalo ada temen deket kita yang dateng, kita ngobrol disini,” ujar Kenan seraya duduk di lantai di depan sofa panjang yang didepannya terdapat meja. Ia meletakkan ponsel dan kunci motornya ke atas meja, ia juga melepas jaketnya dan menaruhnya di atas sandaran sofa.
“Oh … ,” Gianna hanya mengangguk-angguk dan masih melihat setiap sudut ruangan. Ia kemudian memilih duduk di atas sofa di samping Kenan, karena ia tidak memperhatikan kalau Kenan duduk di lantai.
Melihat Gianna memilih duduk di sofa, seketika Kenan menarik tangan Gianna perlahan agar duduk di lantai Gianna kemudian menoleh.
“Di bawah aja, gue mau lurusin kaki dulu,”- ujarnya dan Gianna langsung menyanggupinya dan duduk di lantai di samping Kenan. Sadar Gianna masih memperhatikan isi ruangan itu membuat Kenan sedikit merengut.- “Serius banget sih,”
Gianna menoleh dan yang mendapati yang ia lihat saat ini adalah Kenan yang menyandarkan kepalanya ke atas sofa dan menatapnya dengan pandangan merengut.
“Ngapain lo merengut gitu?” tanya Gianna.
“Gue kan ngajak lo ke sini buat ngobrol, la elo malah ngeliatin apa,” ujar Kenan dengan nada kesal.
Namun Gianna justru memandangnya dengan pandangan jijik dan mata menghujat.
“Elo kerasukan ya?” tanya Gianna karena sadar Kenan hanya berakting.
“Hahahaha … tau aja gue bercanda,” tawa Kenan kembali memasang ekspresi seperti biasa. Ia kira ia bisa mengerjai Gianna, ternyata ia justru tau kalau Kenan hanya berakting.
Kenan kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Gianna.
“Gua boleh tidur bentar ngga?” tanya Kenan.
“Katanya mau ngobrol, gimana si,” balas Gianna kesal jika ia datang hanya untuk di jadikan bantal oleh Kenan.
“Tiba-tiba gue ngantuk, kalo lo bosen makan aja itu cemilannya,” ujar Kenan tak peduli dan tetap menyandarkan kepalanya.
“Terserah elo deh,” balas Gianna seraya mengambil ponselnya. Baru saja ia akan memainkannya, Kenan menangkup sisi kiri wajahnya dan Kenan pun mengecup pipi kanannya.
Cup
“Kalo udah kelamaan bangunin ya, sayang,” ucap Kenan dengan suara yang sedikit serak.
Tubuh Gianna membeku, darahnya berdesir dan di dalam perutnya seketika penuh akan kupu-kupu.
‘What the f ... ,’ Gianna tak paham lagi, Kenan selalu saja berhasil membuatnya tak bisa berkata-kata hanya dengan setiap hal yang dilakukannya. Apalagi kali ini, hanya dengan satu kecupan dan ucapan ‘sayang’ saja berhasil membuatnya kaku.
“Tsk! Pegel lama-lama kalo disini,” ujar Kenan mengejutkan Gianna dan langsung pindah posisi dengan merebahkan kepalanya di atas paha Gianna.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-