-*-*-*-
“Tsk! Pegel lama-lama kalo disini,” ujar Kenan mengejutkan Gianna dan langsung pindah posisi dengan merebahkan kepalanya di atas paha Gianna.
Gianna terkejut dan matanya seketika membulat.
“Astaga, Ken, nanti kalo ada ortu lo gimana,” ujar Gianna mengingatkan.
“Terakhir kali ortu gue ke ruangan ini sewaktu Tia teriak karna jatoh dan itu ntah berapa tahun lalu,” balas Kenan santai masih memejamkan matanya.
“Tapi kan-”
“Sshh … gue ngantuk beneran, Ji, bentar aja ya,” ujar Kenan dengan lembut memotong ucapan Gianna.
“Tsk! Bentar ya?” kata Gianna menatap Kenan serius, padahal Kenan memejamkan matanya.
“Hm … ,” Kenan hanya bergumam.
Gianna hanya bisa menghembuskan nafasnya dan mulai membuka camilan yang Kenan bawa.
“Ow,” Gianna sedikit terkejut saat melihat ada satu batang coklat yang sama dengan yang diberikan waktu itu, saat ia membantu Kenan mengoreksi soal-soal teman kelasnya.
Gianna terdiam.
Kalau di pikir-pikir, sudah cukup banyak momen yang ia lewati bersama Kenan dan ia tidak menyangka ia bisa menjadi kekasih Kenan saat ini. Gianna kemudian melirik Kenan dan nampaknya Kenan mulai tertidur.
‘Thank’s udah temenin gue selama ini,’ batin Gianna yang tanpa sadar tersenyum menatap Kenan.
Gianna kemudian membuka coklat itu dan mulai memakannya.
Selama beberapa menit berlalu, Gianna hanya memakan coklat sembari memainkan ponselnya. Tanpa Gianna duga, Kenan tiba-tiba merubah posisinya menjadi menghadap perutnya. Gianna sedikit terkejut tetapi Kenan terlihat sangat pulas. Ia sepertinya kelelahan.
Tanpa kita sadari, sebenarnya Kenan adalah mahasiswa yang cukup sibuk. Ia termasuk mahasiswa yang sering kesana kemari dan itu sebenarnya mungkin cukup melelahkan jika ditambah dengan tugas-tugas yang diterima Kenan setiap harinya.
Tangan Gianna yang sebelumnya memakan coklat kini meletakkan coklatnya dan berinisiatif mengusap rambut Kenan.
Beberapa saat kembali berlalu, Gianna hanya memainkan ponselnya seperti sebelumnya.
Lalu tiba-tiba sesuatu masuk kedalam ruangan itu dan Gianna spontan menoleh.
“Yaampun,” -tanpa Gianna sadari, otomatis mulutnya bicara begitu dan langsung menutup mulutnya.- “Imut bangeeet … ,” seru Gianna menahan teriakan.
Ternyata yang masuk adalah seekor anak anjing golden retriever. Tubuhnya yang pendek dan begitu gemuk terlihat menghampiri Gianna dengan sedikit berlari.
Gianna seketika meraih anjing itu dan mengangkatnya.
“Astaga imutnya,” Gianna memasang ekspresi super gemas begitu anjing tersebut terus mengendus tubuhnya.
Tubuh Gianna yang tiba-tiba saja terus bergerak membuat Kenan menggeliat dalam tidurnya dan semakin mendusel wajahnya ke perut Gianna. Gianna yang merasakan Kenan melakukan itu langsung menoleh dan melihat Kenan masih tertidur pulas.
“Oh, kita bangunin aja yuk?” tanya Gianna tersenyum menatap anak anjing mungil itu. Anak anjing itu terlihat hanya menjulurkan lidahnya menatap Gianna dengan ekor yang terus bergoyang.
Gianna kemudian meletakkan anak anjing itu di depan perut Kenan. Awalnya anak anjing itu hanya menatap Gianna, tak mengerti apa yang diinginkan Gianna. Namun Gianna kemudian menunjuk Kenan dan menunjukkan bahasa-bahasa isyarat seadanya yang ia tidak tau akan berhasil atau tidak.
Setelah sesi saling menatap yang agak lama, anak anjing itu mulai mengendus Kenan dan mulai menyerang d**a Kenan dengan kedua kaki depannya yang sangat kecil, Gianna sedikit tertawa melihat keimutan anak anjing itu. Sementara Kenan nampak tidak terganggu dan tetap tertidur pulas seakan tak ada gangguan sama sekali.
“Ayo ganggu lagi!” bisik Gianna menyemangati anak anjing itu yang sempat terdiam menatap Gianna seakan mengadu kalau Kenan tidak mempedulikannya sama sekali.
Anjing itu kemudian berusaha mengganggu Kenan lagi, kali ini ia mengendus dagu dan leher Kenan dan itu berhasil membuat Kenan bersuara.
“Astaga Mochi, jangan ganggu dulu, sama Jian aja,” ujar Kenan seraya menghalangi hidung Mochi menyentuh dagunya dengan telapak tangannya.
Sedangkan Gianna hanya menahan tawanya karena akhirnya Kenan terbangun tanpa harus ia bangunkan.
“Astaga Mochi,” Kenan mengalah, akhirnya ia membuka matanya dan membalik tubuhnya yang menyamping agar terlentang. Mochi seketika naik keatas tubuhnya dan mulai mengendus wajah Kenan dengan agresif.
“Hahaha, seneng banget dia akhirnya lo mau bangun,” ujar Gianna terkekeh melihat Mochi yang begitu senang Kenan tidak mengabaikannya.
“Lo yang suruh dia bangunin gue ya?” tanya Kenan menatap Gianna dari bawah.
Gianna mengalihkan matanya dan memasang ekspresi pura-pura tidak tau.
“Dia tiba-tiba dateng kok,” ujarnya.
“Kenapa ngga elo aja yang bangunin gue? Hm?” tanya Kenan dengan suara seraknya yang baru saja bangun dari tidur.
‘Astaga jantung. Bisa-bisanya gue deg-deg’an denger suara Kenan yang kayak gini,’
“Ng … gue ngga enak hati kalo harus bangunin, kayaknya lo capek banget,” kata Gianna mencari alasan.
Kenan sejenak menatap Gianna, kemudian ia bangun dan duduk di sebelah Gianna dengan Mochi yang masih dalam pelukannya.
“Padahal kalo elo mau bangunin mah bangunin aja, gue ngga secapek itu kok,” kata Kenan menatap Mochi yang masih begitu semangat menciumi dagu Kenan.
“Dia selalu begitu tah kalo ketemu lo?” tanya Gianna penasaran.
“Ngga cuma sama gue, sama siapapun yang dia temuin selalu begini. Semangat banget,” kata Kenan tersenyum menatap Mochi yang begitu polos wajahnya menatap Kenan.
“Gue di rumah ngga punya sih,” ujar Gianna ikut tersenyum menatap Mochi.
“Kenapa? Ngga boleh sama tante?” tanya Kenan menoleh pada Gianna.
“Ngga kok, cuma ngga kepikiran buat adopsi aja selama ini,” Gianna memang menyukai anjing, tapi dia belum berniat untuk memeliharanya.
“Oh … yaudah kalo mau main sama anjing, sering-sering kesini aja, sekalian ketemu gue,” saran Kenan mulai tersenyum menyebalkan. Gianna pun langsung meliriknya.
“Ya itu mah elonya aja yang mau ketemu sama gue,” sindir Gianna seraya menusuk pipi Kenan dengan jari telunjuknya.
“Haha, kan gue bonus,” -kekeh Kenan. Lelah terus berdiri dan mengejar dagu Kenan, kini Mochi hanya berbaring di atas pangkuan Kenan.- “Imut ya,” ujar Kenan yang membuat Gianna menatap Mochi beralih menatap Kenan.
‘Kalo dipikir-pikir, sebenernya muka Kenan mirip anakan Golden Retriever,’
“Iya, sama kayak lo mukanya, sama-sama imut,” ujar Gianna yang sedang menatap sisi kiri wajah Kenan.
Kenan langsung menoleh mendengar itu.
“Hah? Baru kali ini gue dibilang imut,” ujar Kenan sedikit tertawa.
“Emang biasanya apa?”
“Ganteng dong!” katanya dengan senyum percaya diri.
“Iya elo ganteng, bonusnya imut,” balas Gianna mengiyakan kepercayaan diri Kenan sembari mengacak-acak rambutnya.
Kenan terdiam mendengar itu, ia seketika langsung membuang mukanya dengan langsung menatap Mochi.
“Astaga, lo ngomong gitu doang bikin gue deg-deg’an Ji,” ungkap Kenan blak-blak’an tak bisa menghentikan senyumnya.
Gianna juga tersenyum menatap Kenan, entah mengapa kali ini rasanya ia ingin terus menatap Kenan. Sampai detik berikutnya ia berinisiatif maju dan mengecup pipi Kenan dan itu membuat Kenan seketika membeku selama beberapa saat.
Gianna mundur dan melipat bibirnya kedalam, entah mengapa kali ini ia mulai terbiasa mengecup pipi Kenan.
Kenan yang sebelumnya membeku tiba-tiba terkekeh sekilas dan menoleh dengan menunjuk bibirnya.
“Padahal disini juga boleh,” ujarnya yang seketika membuat pipi Gianna memerah.
“Heh!” serunya langsung memukul bahu Kenan dan disambut dengan gelak tawa Kenan yang senang sudah berhasil menggoda Gianna.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-