Aku Juga Heran

1124 Kata
 -*-*-*- “Cie yang punya pacar, gua sekarang di cuekin, ‘aku kira hubungan kita spesial, Ken,’ hiks,” ujar Ravindra meledek Kenan yang kini sedang membalas pesan Gianna. Tanpa berkata-kata, Kenan hanya mendorong pipi Ravindra tanpa mengalihkan mata dari layar ponselnya. “Ngga usah bacot lu ya. Hampir delapan jam sehari setiap mata kuliah ditambah kegiatan organisasi gua habisin sama elu. Gianna yang harusnya sedih, bukan elu. Sampe muak tau ngga gua,” ujar Kenan membalas ucapan Ravindra di pagi hari di dalam perpustakaan untuk mencari bahan dan referensi. “Sialan lu,” Ravindra mendorong bahu Kenan. “Oh ya, btw katanya bakal ada perwakilan jurusan kita yang dipilih buat ikut di pertemuan artis sama model, itu bener?” tanya Kenan menoleh pada Ravindra. “Oh? Desas-desus itu? Kayaknya sih begitu,” Ravindra membenarkan pertanyaan Kenan karena ia juga sudah mendengarnya. “Kira-kira itu kapan?” kata Kenan bertanya lagi. “Belum tau juga gua, namanya juga baru desas-desus,” Ravindra hanya mengedikkan bahunya. Kenan tidak bertanya maupun berkomentar lagi, ia hanya kembali membaca bukunya yang sempat ia abaikan. * Gianna kini berada di halaman kampus yang terdapat meja dan kursi. Ia sedang mengerjakan tugas dari jurusannya. Menggambar. Beberapa saat berlalu sampai seseorang datang menghampirinya dan menyapa. “Hai? Boleh duduk di sini?” ucapnya. Gianna merasa seperti mengenal suara itu, namun ia tidak yakin dan ia mendongak. “Oh? Ya … boleh kok, itu kosong,” kata Gianna mempersilahkan Aghata duduk di bangku yang bersebrangan dengannya. ‘Waw, apanih. Kenapa dia mau duduk sama gue? Baru kemaren kita tabrakan,’ batin Gianna bingung dan mulai lanjut menggambar. “Wah, gambar lo bagus banget, anak dkv emang keren-keren ya gambarnya,” pujinya tiba-tiba saat melihat hasil sketsa Gianna. “Eh?” -Gianna menoleh pada Aghata kemudian melihat gambarnya.- “Sebenernya kalo lo mau bandingin sama hasil gambaran anak-anak di kelas gue, punya gue termasuk biasa aja, biasa banget malah, tapi makasih,” jelas Gianna menanggapi pujian Aghata. “Ahahaha sama-sama, kalo dibanding sama gue, elo lebih keren kok,” -balas Aghata.- “Oh iya, kita belum kenalan ya? Gue Aghata, Aghata Kayana,” Aghata mengulurkan tangan kanannya pada Gianna. “Ow, gue Gianna, Gianna Dirandra,” Gianna membalas jabatan tangan Aghata. Kini Gianna ingat kembali siapa nama wanita di depannya ini. “Mm … maaf kalo misalnya gue bikin lo canggung, soalnya lo pernah ngga sengaja mergokin gue sama Kenan di tangga waktu itu,” ujar Aghata tersenyum canggung seperti tak enak hati pada Gianna. Gianna bingung, bagaimana harus menanggapi ini ia justru merasa tak enak karena saat ini dia berada di posisi sebagai pacar Kenan yang duduk di hadapan wanita yang pernah ditolak oleh Kenan. “Ah, ya, gue … gue ngga masalah kok, gue malah ngga enak hati sama lo jadinya,” balas Gianna ikut tersenyum dengan begitu canggung. “Yaampun gue udah biasa aja kali, lagian bukan salah lo juga, ngga ada yang salah disini,” Aghata semakin memasang wajah tak enak hati mendengar ucapan Gianna. Gianna hanya mengangguk dan tersenyum seadanya. “Btw, gimana rasanya jadi modelnya Kenan?” tanya Aghata sembari membuka laptopnya. Sepertinya ia akan mengerjakan tugasnya juga. “Gimana ya? Jujur asik sih, karna Kenan cuma minta gue ngelakuin apa adanya, Kenan juga selalu bawa gue ketempat bagus yang belum pernah gue datengin sebelumnya, karna jujur aja gue sebenernya kalo diminta pose depan kamera rasanya aneh,” jelas Gianna menceritakan sedikit potongan pengalamannya selama bersama dengan Kenan. “Oh ya? Kayaknya Kenan muji elo banget deh, jadi harusnya mungkin ngga sesimple itu yang lo lakuin,”balas Aghata makin penasaran. “Tapi gue emang cuma lakuin itu, kayak semisal sewaktu pemotretan di gereja, gue cuma jalan-jalan aja. Dia manggil gue, gue nengok, kalo ngga ya jalan lagi biasa,” lanjut Gianna kembali menjelaskan. “Sesimple itu ternyata,” Aghata mengangguk-angguk. “Gue juga sebenernya ngga paham, kenapa Kenan bilang gue itu berbakat, padahal gue sendiri ngga pernah kepikiran jadi model,” ungkap Gianna sembari melanjutkan sketsanya. “Hahaha iya, gue juga heran,” kata Aghata lirih. “Eh? Gimana?” Gianna mendongak merasa mendengar sesuatu yang di ucapkan oleh Aghata. “Bukan kok, bukan apa-apa,” -kata Aghata tersenyum.- “Btw, tumben ngga sama Kenan?” tanya Aghata berbasa-basi. “Masih sama-sama nugas soalnya,” kata Gianna kembali melanjutkan tugasnya yang hampir selesai. * “Btw, si Jian itu udah ngga pernah nangis lagi ya semenjak sama lu?” tanya Ravindra. “Pernah, sewaktu dia kena tampar orang ngga jelas waktu di pantai, sewaktu dia minta maaf ke gua karna ngira dia yang bikin gua kena tonjok tuh orang, terus … ,” “Bukan yang begitu b**o!” hardik Ravindra mendorong bahu Kenan. “Lah terus apa anjing! Lu ngomong kurang jelas!” seru Kenan balas beseru. Saat ini mereka sedang berada di lorong yang jauh dari perpustakaan sehingga mereka bisa bicara lantang sesuka hati mereka. “Maksud gua masalah mantannya,” kata Ravindra memperjelas. “Oh … gua hampir lupa alasan awal gua deketin tuh anak,” ujar Kenan menatap awang di hadapannya memutar kembali saat-saat ia mendekeati Gianna. “Nah, sebenernya gua penasaran sama mantannya, sebenernya orangnya gimana sampe-sampe Gianna ngga bisa lupain itu mantannya, elo ngga penasaran?” tanya Ravindra membuat Kenan diam sejenak. “Kalo dipikir-pikir, gua termasuk ngerebut pacar orang ngga sih?” balas Kenan tiba-tiba. “Ngga sih menurut gua, lagian tuh cowok udah ilang tiga tahun kan? Ngga ada kabar ngga ada apa,” balas Ravindra yakin. Rafael memang sudah menghilang selama tiga tahun dan belum ada kabar hingga sekarang. “Yang permasalahan bukan itu deh kayaknya menurut gua,” ujar Ravindra. “Apa?” tanya Kenan menoleh. “Gianna udah lupa atau belum?” ujar Ravindra menbuat Kenan tersadar. Kenan diam sejenak nampak berpikir. “Bener juga, gue bakal ngga ada kepikiran kesana pastinya kalo elu ngga bilang,” -ujar Kenan kembali menatap awang.- “Jadi penasaran Rafael orangnya gimana sampe Gianna diem aja dan bertahan tiga tahun,” “Iya kan? Sama. Ganteng ngga ya?” balas Ravindra membuat Kenan langsung menoleh. “Sebenernya lu niat nanya atau emang mau bikin gue emosi hah?” tukas Kenan kesal. “Oke, gantengan elo kok, jauh!” ujar Ravindra tertawa. “Ngga usah cari masalah lu ya, udah cukup gue pengen tau alasan apa Gianna ngga bisa lupain, ngga usah nambah pikiran yang lain-lain,” tegas Kenan memperingatkan. “Hahahaha, mungkin ganteng, jadi ngga bisa lupain,” kekeh Ravindra kembali meledek. “Ngga juga, buktinya sekarang Gianna masih inget sama gue, selalu. Sedangkan elu? Ada yang inget?” balas Kenan membalikkan ucapan Ravindra. “Sialan. Yaudah iya gue ngga bahas lagi,” Ravindra membuang muka jika sudah seperti ini. Kenan tak bakal mau mengalah. -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN