Bad Mood

1554 Kata
 -*-*-*- “Btw, tumben ngga sama Kenan?” tanya Aghata berbasa-basi. “Masih sama-sama nugas soalnya,” kata Gianna kembali melanjutkan tugasnya yang hampir selesai. “Kenan juga kayaknya sayang banget sama lo ya,” ujar Aghata sembari mengetik tugasnya. Gianna sejenak melirik keatas, ia melihat Aghata yang fokus pada layar laptopnya. Entah mengapa ia merasa pembicaraan ini terdengar aneh. Aghata sudah di tolak oleh Kenan, kenapa sekarang dia membahas Kenan bersama gadis yang berstatus sebagai pacar Kenan. “Mm … maybe? Maksud gue kayaknya iya gitu yang gue rasain,” kata Gianna menanggapi. Ia masih melirik Aghata untuk mengamati bagaimana reaksinya. “Oh … yayaya, gue juga liatnya gitu,” ujar Aghata tak mengalihkan matanya dari laptop. Ekspresinya nampak normal. ‘Kayaknya gue yang berlebihan, dia juga biasa aja,’ batin Gianna menghela nafas dan kembali mengerjakan sketsanya. ‘Kayaknya gue cuma terlalu sensitif karna terlalu banyak orang aneh belakangan ini,’ “Kalo boleh tau, elo sebelumnya SMA dimana ya?” tanya Aghata kini menatap Gianna. “Gue SMA 2 sebelumnya, elo sendiri dari lulusan mana?” tanya Gianna tanpa menoleh dari sketsanya. “Eh serius? Gue juga dari SMA itu loh sebelumnya,” kata Aghata terdengar exited. “Ohya?” -Gianna mendongak dan kini ia melihat wajah senang yang ada di wajah Aghata.- “Gue pikir angkatan gue ngga ada anak alumni dari SMA yang sama kayak gue,” balas Gianna. “Gue juga gitu, gue sama sekali ngga ada temen yang dari SMA,” ujar Aghata tersenyum senang. “Tapi ada temen-temen baru kan?” tanya Gianna ikut tersenyum sedikit canggung. “Ada dong, soalnya bagi gue punya temen itu wajib,” kata Aghata masih tersenyum kemudian kembali mengerjakan tugasnya. “Oh, syukurlah. Jangan sampe ngga ada temen, apalagi ada musuhs. Ngga enak soalnya,” saran Gianna yang juga lanjut mengerjakan tugasnya. “I know, makanya gue cari temen,” -balas Aghata.- “Tapi gue ngga bisa bayangin sih gimana rasanya kalo di jauhin orang-orang, padahal kita ngga salah apa-apa,” kata Aghata yang membuat Gianna berhenti mengerjakan sketsanya. ‘Gue bisa. Udah pernah gue rasain dan ngga mau gue alami lagi,’ batin Gianna yang sempat terdiam akibat ucapan Aghata. Aghata melirik Gianna yang terdiam. “Kalo elo pasti banyak temen kan ya? Soalnya elo ramah, cantik juga. Pasti banyak yang deketin cowok ataupun cewek,” ujar Aghata membuat Gianna sadar dari lamunannya dan menatap Aghata. “Gue? Banyak temen? Kalo bisa punya satu sewaktu awal-awal kuliah aja rasanya udah bersyukur banget,” ujar Gianna tertawa masam. “Loh, emang kenapa?” tanya Aghata penasaran. “Gue ngga tau, tanpa alasan, tiba-tiba banyak orang yang ngomongin hal buruk tentang gue. Gue bahkan di jauhin,” Gianna tersenyum miris jika mengingat hari-hari itu. Rasanya seperti membuka luka lama, karena saat itu ia benar-benar belum bisa melupakan Rafael. “Ohya? Pasti sakit dong, emang sebelumnya elo ngelakuin apa?” Aghata kembali bertanya membuat Gianna diam sejenak. Namun kembali bicara untuk menjawab. “Gue ngga ngelakuin apa-apa di kampus ini, bahkan alasan mereka ngomongin gue itu ngga masuk akal,” balas Gianna mengingat semua omongan buruk yang dilontarkan kepadanya. “Mungkin bukan yang lo lakuin di kampus ini, tapi sebelum lo masuk kuliah, semasa SMA lo ngelakuin hal buruk dan kabarnya kebawa sampe lo masuk kuliah. Who knows?” jelas Aghata membuat Gianna terpaku menatapnya. “Gue bahkan ngga ngelakuin hal yang bisa bikin gue pantes nerima itu semua sebelumnya. Kalaupun iya, gue pasti sadar,” kata Gianna berusaha membantah. “Gimana kalo yang lo lakuin itu ngga lo sadari dan sebenernya yang lo lakuin itu bikin sakit hati dan bikin orang berprasangka buruk sama lo?” tanya Aghata memberikan kemungkinan berdasarkan pada pendapatnya dan lagi itu berhasil membuatnya terdiam. “Gue ngga tau,” balas Gianna menggelengkan kepalanya. “Kan? Gue ngga bermaksud nuduh elo, tapi mungkin aja elo ngga tau kalo bisa ada asumsi semacem ini,” jelas Aghata yang kini menutup laptopnya. Gianna hanya mengangguk, kini kepalanya kembali memikirkan semua masalahnya yang pernah terjadi dan rasanya tak nyaman. “Tapi gue yakin elo anak baik kok, gue pergi dulu ya? Ada kelas,” pamit Aghata memasang senyuman. “Oh? Iya, hati-hati,” balas Gianna melambaikan tangannya. Begitu Aghata pergi, Gianna kembali diam menatap kosong pada hasil sketsanya. ‘Gue ngelakuin apa sewaktu SMA?’ tanya Gianna pada dirinya sendiri. Gianna kehilangan mood. Ia tak bisa melanjutkan sketsanya sehingga ia memutuskan untuk menyimpan hasil sketsanya ke dalam tas khusus menyimpan kertas-kertas tugasnya. Ting! Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Sedikit malas, Gianna membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan. Kenan -Chat- Kenan -Dimana sekarang? Gianna terdiam menatap pesan itu, entah mengapa ia benar-benar kehilangan mood dengan segalanya. Haruskah ia bertemu Kenan? Ia takut nanti menyinggung Kenan dengan kata-katanya karena moodnya yang sedang buruk. Tapi pada akhirnya ia tetap memberikan balasan. Gianna -Halaman kampus -Tapi gue lagi badmood  -Terserah lo mau dateng atau ngga -Tapi jangan kaget kalo nanti mulut gue pedes. Kenan -Ow - ‘-’ -Sorry Gianna -Bukan salah lo Kenan -Tunggu -Gue bentar lagi dateng. Gianna tak membalas pesan yang terakhir dikirimkan Kenan. Ia hanya menidurkan kepalanya di atas meja dan menatap apa saja yang ada di depannya. ‘Kesalahan apa yang gue buat sampe harus terima semua omongan itu? Semua omongan buruk bahkan perlakuan buruk yang udah gue dapet, apa itu semua karma?’ Gianna hanya terus diam sampai seseorang datang tak lama setelahnya. Gianna bisa menebak siapa yang datang karena ia kini meletakkan minuman dingin di depan Gianna. Kenan tak bicara apa-apa dan Gianna pun begitu. Ia tak berniat menyapa Kenan bahkan sekedar menoleh pun tidak. Sampai beberapa saat berlalu, Gianna mengalah. Ia menegakkan tubuhnya dan menoleh. Ia mendapati Kenan sedang sibuk dengan kameranya. Sadar Gianna sedang menatapnya, Kenan berhenti dengan kameranya dan menatap Gianna. “Udah baikan?” tanya Kenan dengan nada yang begitu lembut. Gianna hanya menggeleng dan wajahnya masih saja merengut. “Ngga mau cerita?” Gianna kembali menggeleng “Yaudah, nanti-nanti aja kalo kamu mau,” Kenan hanya tersenyum dan mengusap lembut dari kepala hingga pipi Gianna. Gianna kemudian mengangguk dan menyandarkan kepalanya ke atas meja menatap Kenan yang kembali sibuk dengan kameranya. Mereka terus dalam posisi itu dengan kegiatan masing-masing tanpa bicara satu sama lain. Namun jujur saja Gianna lebih nyaman begini. Ia lebih suka Kenan diam dan menemaninya jika sedang badmood seperti ini. Ia lebih nyaman memperhatikan Kenan sibuk denga kegiatannya sementara dirinya juga sibuk dengan pikirannya yang tengah berdebat dengan diri sendiri. Sementara Kenan. Isi kepalanya pun tak kalah ramai dengan perdebatan yang ada di kepala Gianna. Padahal pada awalnya ia berniat untuk bertanya pada Gianna mengenai Rafael. Ia ingin tau bagaimana karakter orang yang pernah membuat Gianna seperti orang yang tidak memiliki nyawa dan selalu suram sepanjang harinya hanya untuk memikirkan seseorang. Tapi begitu mendapat kabar Gianna sedang badmood, ia segera mengurungkan niatnya. Ia akan fokus menemani Gianna saja saat ini. * Sampai akhir, Gianna tidak juga menceritakan alasan moodnya berubah buruk hari ini. Ia bahkan menolak diantar dan memilik menaiki kendaraan yang ia pesan online. Tetapi Kenan berusaha maklum. Setidaknya Gianna mau meminum air pemberiannya dan membawanya pulang. Begitu saja sudah cukup bagi Kenan, karena ia paham terkadang seseorang memang butuh waktu sendiri.s * ‘Sorry, Ken. Nanti kalo mood gue udah baikan, gue pasti cerita,’ batin Gianna sedikit tak enak hati sudah mengabaikan Kenan sepanjang Kenan menemaninya tadi. Gianna hanya diam sepanjang jalan supir mobil pesanannya membawanya pulang ke rumah Gianna. Sesampainya di rumah, Gianna langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sepertinya Geno belum pulang dari sekolahnya. Sementara mamanya ia tidak tau kemana. Rumahnya kosong. Karena sudah mengunci pintu, Gianna perlahan memejamkan matanya dan berniat untuk tertidur. Entah mengapa ia merasa sangat lelah hanya karna memikirkan ini dan itu. Tanpa sadar, Gianna benar-benar tertidur dan itu cukup lama. Mamanya yang pulang tak lama setelah Gianna tidur beberapa menit hanya membiarkannya, karena ia melihat wajah Gianna yang terlihat lelah. Waktu kembali berlalu dan kini Geno yang pulang. Sama dengan mama Gianna, ia hanya membiarkan Gianna tertidur dan memilih untuk duduk bersebrangan dengan dengan Gianna setelah ia berganti pakaian. Setelah beberapa puluh menit berlalu, Gianna terbangun karena mendengar suara tv yang yang sedang di tonton oleh Geno. Sebenarnya suara tv itu tidak terlalu besar dan tidak mengganggu Gianna, akan tetapi ia hanya ingin terbangun setelah mendengar suara tv. Ia kemudian menggeliat dan merenggangkan semua ototnya. “Udah bangun lo? Atau cuma mau pindah ke dalem?” tanya Geno tanpa menoleh pada Gianna. “Pengen bangun aja,” jawab Gianna masih merebahkan dirinya dan ikut menonton tv. “Kata Kenan tadi lo badmood, kenapa lo?” -tanya Geno to the point.- “Cerita sama gue,” pintanya masih tak menatap Gianna. “Mm … ,” Gianna nampak ragu, ia kemudian bangun dan duduk. “Inget, kalo elo ngga cerita, lo ngga bakal nyelesai’in masalah itu, karna biasanya lo cuma bertanya-tanya tanpa bisa mikirin jawabannya,” jelas Geno menusuk tepat pada jantung Gianna. “Tsj! Maksa!” kesal Gianna merengut. Mau tak mau, ia menceritaka semua yang sudah membuatnya kepikiran. Tak lupa, ia juga memberitahu tentang Aghata. “Ngga masuk akal gila!” seru Geno begitu Gianna selesai bercerita. “Kok bisa ngga masuk akal?” tanya Gianna tak paham. -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN