-*-*-*-
“Ngga masuk akal gila!” seru Geno begitu Gianna selesai bercerita.
“Kok bisa ngga masuk akal?” tanya Gianna tak paham.
“Ya ngga lah! Coba lo bayangin, sewaktu masuk kuliah, cuma lo alumni dari SMA lo yang masuk kesana, bahkan semasa SMA lo ngga berteman sama siapa-siapa, yang berarti anak-anak di kampus ngga ada yang kenal sama lo. Bahkan kalaupun mereka tau ada maba yang bermasalah semacem hal yang udah disebut tadi, mereka ngga bakal peduli, sama lo, karna elo ngga bergaul sama siapa-siapa,” jelas Geno berusaha membuka mata Gianna.
Gianna hanya terdiam menyimak semua penjelasan Geno.
“Terus tadi, dari semua gossip yang kena lo, ngga ada yang pernah lo lakuin sama sekali kan. Masalah lo yang ngga mau ngomong sama cewek, ngga cuma cewek yang lo diemin, bahkan cowok pun juga gitu. Terus kalo lo dibilang ngelakuin kesalahan yang ngga elo sadari, gue rasa kalo tuh orang pinter, selama tiga tahun lo bersikap begitu, harusnya mereka udah paham karakter lo dan ngga mempermasalahkan elo yang ngga mau ngomong sama mereka dan hanya perlu menjauh dari lo. Lo bakal cuma di jauhin dan ngga bakal di omongin hal buruk karna lo ngga merugikan mereka,” kata Geno panjang lebar. Lagi-lagi Gianna tertegun mendengar penjelasan Geno. Ia baru sadar kalau ia mudah sekali untuk di pengaruhi.
“Menurut gue, semua gosip itu berawal dari lo masuk kuliah dan ngga ada hubungannya sama masa SMA lo. Kecuali ada temen SMA lo yang ngga suka sama lo sejak awal dan masuk kampus yang sama tapi lo ngga tau siapa dia,” jelas Geno mengakhiri penjelasannya.
“Terus gue harus gimana sekarang?” tanya Gianna pada akhirnya setelah beberapa saat diam menyimak.
“Gosipnya masih berlanjut?” kata Geno balas bertanya.
“Ngga,” Gianna menggeleng.
“Yaudah biarin aja kalo gitu, toh elo ngga terganggu, kalo emang gosipnya naik lagi dan elo mulai di perlakuin ngga bener lagi ya siap-siap lo selesaiin,” kata Geno seraya bersandar pada dan kembali menonton tv.
“Hm … iya bener,” Gianna mengangguk mengerti. Gianna kini merasa lebih lega. Geno benar, jika ia mau bercerita pada orang yang tepat, ia akan segera menemukan jalan keluarnya dan tidak berdebat dengan dirinya sendiri.
“Padahal gue lebih tua dari lo, tapi kok bisa sih lebih ngerti dari gue?” tanya Gianna menatap Geno heran.
“Menurut lo yang bisa dewasa cuma yang umurnya lebih tua? Makan tuh umur,” balas Geno kembali bicara seperti hari biasa.
“Ya kan gue cuma tanya! Ngga usah ngamuk!” seru Gianna kesal.
“Ngaca ya!” Geno balas berseru seraya melempar bantal sofa ke wajah Gianna.
“Heh?!” -Gianna seketika melotot protes dengan yang sudah di lakukan Geno.- “Maa! Geno lempar bantal ke mukaku!” seru Gianna memanggil mamanya seraya membalas dengan melempar bantal juga dan itu tepat mengenai wajah Geno juga.
“Tante! Jian ngelempar bantal juga!” seru Geno tak mau kalah. Ia kemudian kembali melempar bantal, namun tak mengenai Gianna.
Gianna juga kembali melempar dan kali ini ia mengenai wajah Geno lagi.
“Tante! Jian ngelempar bantal kena mukaku lagi tante!” seru Geno kesal.
“Astaga! Kalo mau kelahi di hutan sana! Teriakan kalian udah kayak monyet!” mama Gianna dari belakang balas berteriak. Ia sudah terbiasa dengan keadaan ini. Gianna dan Geno sudah seperti anjing dan kucing setiap kali berkumpul. Tidak bisa diam.
Gianna dan Geno terdiam mendapat usiran itu. Mereka hanya saling menatap seperti sedang berlomba tatapan siapa yang paling sinis. Detik berikutnya, mereka sama-sama mengangkat bantal bersiap untuk melempar dan pada detik berikutnya mereka sama-sama berteriak lagi.
“Mama!”
“Tante!”
“Yaampun! Jangan sampe Mama kesana kalian Tante jewer satu-satu loh ya? Masih mau kelahi?!” ancam mama Gianna masih dari belakang.
“Hish! Awas lo ya,” ancam Gianna.
“Elo yang awas!” balas Geno.
“Jian! Geno!” seru mama Gianna.
Geno dan Gianna seketika sama-sama membuang muka. Gianna meraih barang-barangnya dan masuk ke kamar, Geno menonton tv dengan wajah merengut.
“Mimpi apa aku bisa dapet anak macem mereka,” ujar mama Gianna dari kamar mengusap-usap d**a.
*
“Iya, jadi gitu ceritanya, kata Geno juga sih gue ngga perlu khawatir” ucap Gianna pada ponselnya bicara pada seseorang yang tersambung.
“Iya Geno bener, lo ngga usah mikirin itu, karna sekarang mereka semua udah diem,” balas Kenan dari seberang sana.
“Oke, deh. Maaf ya tadi gue diemin elo,” ujar Gianna mengingat saat ia mendiamkan Kenan siang tadi.
“It’s okay,” -balas Kenan dengan nada lembut di ujung sana yang Gianna duga Kenan sedang tersenyum padanya.- “Yang penting lo udah cerita sekarang,”
“Hmm … gue jahat ya?” tanya Gianna sedikit tertawa.
“Iya jahat banget, kok gue didiemin,” balas Kenan ikut bercanda.
“Hahaha, besok gue diemin lagi ya,” sahut Gianna tertawa.
“Iya elo diemin gue tapi gue bakal gangguin elo terus,” balas Kenan tak mau kalah.
“Yah kalo gitu nanti gue marah dong,” ujar Gianna.
“Ngga papa, yang penting elo ngga ngediemin gue,” kata Kenan menggombal membuat Gianna merasa geli.
“Apasih geli gue dengernya, Ken, elo nyebelin,” balas Gianna membuat Kenan seketika tertawa.
“Lo ngga ngantuk?” tanya Gianna begitu Kenan berhenti tertawa.
“Belum, masih ada kerjaan tugas,” jawab Kenan yang kemudian terdengar suara kasur yang tertimpa sesuatu. Sepertinya Kenan merebahkan badannya.
“Emang ngga capek? Udah malem loh,” tanya Gianna sedikit khawatir Kenan masih saja mengerjakan tugas.
“Ngga ah, udah biasa kok,” sahut Kenan dengan santai.
“Yaudah kalo masih ngerjain, tutup aja telfonnya, biar lo bisa fokus,” ujar Gianna menyarankan.
“Mm … okay,” Kenan menyanggupinya di ujung sana.
“Okay, night. Sleep well,” kata Gianna lembut.
“Night, babe,” balas Kenan yang di akhiri kecupan singkat.
“Astaga anak ini,” Gianna seketika mengomel begitu Kenan mematikan telponnya.
“Dia nyanggupin buat matiin telfon, dia juga matiin telfonnya duluan. Kayaknya tadi gue telfon dia itu ngeganggu deh,” ujar Gianna menduga-duga.
“Aduh gimana sih! b**o banget!” kesal Gianna memarahi dirinya sendiri dengan memukul-mukul bonekanya yang sebelumnya ia peluk.
“Kenan kesel ngga ya?”
Gianna semakin merasa bersalah, mengingat ia sudah mendiamkan Kenan selama di kampus tadi, ditambah ia yang menolak untuk di antar Kenan pulang, belum lagi ia pernah meretakkan lensa kamera kesayangan Kenan. Entah mengapa ia tiba-tiba teringat kekejamannya yang sudah di lakukan pada Kenan padahal Kenan tidak bersalah apa-apa padanya.
“Kalo di inget-inget kok kayaknya gue banyak salah ya sama Kenan?” ujar Gianna menatap kosong.
Padahal itu semua hanya pemikirannya saja yang berlebihan.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-