-*-*-*-
Mengingat semalam Gianna merasa bersalah pada Kenan, Gianna memutuskan untuk menemui Kenan dan menemaninya hari ini begitu ia selesai kuliah.
Terasa seperti kembali pada saat ia menunggu Kenan di awal-awal ia mengenalnya dulu. Kini Gianna berdiri di lorong yang tak jauh dari kelas Kenan yang sedang berlangsung. Hanya saja kali ini sedikit berbeda, tak ada lagi yang membicarakannya seperti dulu. Mungkin ada, tapi selama itu tidak sampai ke telinganya, itu tidak masalah.
Sembari menunggu, Gianna memainkan ponselnya sampai seseorang tiba-tiba datang dan menepuk bahunya.
“Hai!” sapanya dengan suara yang begitu renyah.
Gianna menoleh dan yang ia temukan adalah Aghata.
‘Ouh, dia … kenapa dia lagi?’ batin Gianna tak begitu senang bertemu Aghata.
“Oh, hai,” balas Gianna seadanya.
“Ngapain disini? Nunggu siapa?” tanya Aghata menoleh kesana kemari dan tak melihat siapa-siapa.
“Nunggu Kenan,” jawab Gianna tersenyum. Tak bermaksud apa-apa karena ia memang sedang menunggu Kenan selesai kelas.
“Oh … ,” Aghata hanya ber-oh ria seraya mengangguk-angguk mendengarnya. Memang apalagi yang bisa di lakukan Gianna jika sudah jelas ia berdiri di dekat kelas Kenan?
“Lo darimana?” tanya Gianna berusaha berbasa-basi.
“Gue baru selesai kelas ini, mau ke kelas temen gue yang dari kelas jurnalis,” balas Aghata tersenyum seraya menunjuk ujung lorong yang kemungkinan adalah kelas jurnalis yang dimaksud.
Gianna mengangguk.
“Baru tau kelas jurnalis di situ tempatnya,” balas Gianna.
“Iya kah? Mau kesana? Nanti gue kenalin sama temen terdekat gue yang ada disitu. Di sana kita bisa tau gosip-gosip terbaru tau,” ajak Aghata sedikit berbisik di kalimat terakhirnya.
Gianna sedikit kaget mendengar alasan yang disebutkan. What the hell? Of course no, b***h Orang gila mana yang memiliki trauma dengan gosip tetapi justru masuk kedalam biangnya?
“Mm … mungkin lain kali,” cengir Gianna sedikit canggung untuk menolak.
“Kenapa? Mereka baik kok, biasanya kalo ada yang baru dateng langsung di sambut,” tawar Aghata mencoba membuat Gianna tertarik.
“Bukan ngga mau, tapi harusnya lo tau lah,” Gianna tersenyum masam berharap Aghata mengerti.
“Oh … ,” -Aghata terlihat mulai mengerti dan mengangguk-angguk.- “Lo takut jadi bahan gosip lagi ya?”
Gianna hanya tersenyum menanggapinya.
“Emang sih mereka tugasnya ngumpulin dan nyampein berita-berita resmi di kampus, tapi nyatanya kerjaan sampingan mereka antar mahasiswa itu ngumpulin dan nyebar gosip juga, seneng banget mereka kalo ada mahasiswa yang dateng buat bawa gosip, pasti bisa langsung disebar dengan gampang,” jelas Aghata menceritakan sedikit rahasia umum kelas jurnalis.
“Ah … gitu,” Gianna mengangguk-angguk. Baru saja tau, tapi ia tidak terkejut.
“Yaudah gue lanjut ya,” pamit Aghata tersenyum pada Gianna dan melanjutkan langkahnya ke tempat tujuannya.
“Gila aja gue mau ke tempat kayak gitu. Mau matiin diri sendiri?” gumam Gianna begitu Aghata sudah jauh darinya.
Gianna berusaha tak ambil pusing dan kembali menunggu Kenan. Namun tak lama kemudian, dosen kelas Kenan keluar dan mulai disusul mahasiswa/i di dalamnya. Diantara orang yang keluar itu ada satu orang yang bisa langsung Gianna kenali meskipun di telan rombongan.
“Hai Ji!” seru Kenan begitu melihat keberadaan Gianna yang tengah menatap padanya.
“Hai,” Gianna tersenyum dan melambaikan tangannya.
Kemudian dengan semangat empat lima, Kenan menghampiri Gianna.
“Udah dari tadi?” katanya begitu sampai di hadapan Gianna. Senyumnya terlihat begitu cerah.
“Lumayan,” jawab Gianna.
“Kenapa buru-buru banget udah nunggu, kan lo bisa dateng pas gue udah selesai aja biar lo ngga kelamaan nunggu,” tutur Kenan penasaran.
“Ngga papa sih, kan ngga cuma elo, gue juga bisa nunggu,” balas Gianna tersenyum bangga.
“Astaga iya deh terserah elo gimana enaknya lo,” kekeh Kenan mengacak-acak rambut Gianna.
“Kan kebiasaan kan, acak-acak rambut,” kesal Gianna seraya merapikan rambutnya yang terurai.
“Yaudah bales geh biar impas,” ujar Kenan dengan tatapan meledek.
“Ngga mau, lo nya yang seneng nanti, lo juga ketinggian lo pasti jail,” tukas Gianna tidak ingin ambil resiko menjadi korban kejahilan Kenan.
“Hahaha, lo jadi punya trust issues gitu ya sama gue,” tawa Kenan gemas.
“Gimana ngga? Elo aja tiap hari jail gitu ke gue,” kesal Gianna melirik sini Kenan. Pada dasarnya, meskipun Gianna kesal, ia sudah mulai terbiasa. Ingat, terbiasa, bukan suka. Gianna masih tetap kesal jika di jahili. Karena baginya itu menyebalkan, sangat.
“Iya deh nanti gue kurangin jahilnya. Tapi ngga janji,” Kenan kembali tersenyum meledek dan itu otomatis membuat tangan Gianna maju dan memukul lengan Kenan.
“Terserah,” kata Gianna seraya berbalik dan beranjak meninggalkan Kenan.
“Yah, ngambek,” Kenan mengejar Gianna dan kini berjalan beriringan dengan Gianna.
“Ngga, ngapain ngambek?” balas Gianna dengan nada ketus.
“Gimana sih? Katanya kemarin ngerasa bersalah sama gue, kok sekarang gue di jahatin lagi,” tanya Kenan memasang wajah merengut.
“Astaga, ngga, Kenan,” balas Gianna seraya menatap Kenan.
“Masa? Coba senyum dulu,” ujar Kenan seraya tersenyum menatap kedua manik Gianna.
“Hm!” Gianna tersenyum dengan cepat dan kembali memasang wajah kesalnya.
“Ngga ikhlas iih, ngga cantik jadinya,” kesal Kenan permintaannya tak dianggap serius.
“Ngga papa, ngga senyum juga gue udah cantik,” sahut Gianna bermaksud menghentikan Kenan yang hobi mendesaknya itu.
“Nah makanya biar makin cantik ayo senyum,” jata Kenan masih berusaha membujuk Gianna. Namun Gianna sedang tidak ingin menanggapi candaan Kenan dan memilih mengganti topik pembicaraan.
“Btw, lo tau kelas jurnalis?” tanya Gianna begitu spontan.
Kenan yang di tanya sempat me-loading otaknya sehingga menimbulkan reaksi yang paling umum digunakan orang-orang.
“Hah?” katanya.
“Lo tau kelas jurnalis?” kata Gianna mengulangi pertanyaannya.
“Oh … tau, di ujung lorong ini di belakang kita,” jawab Kenan yakin.
“Oh … yang itu,” Gianna mengangguk-angguk. Ternyata Aghata tidak berbohong padanya.
“Emang kenapa? Lo mau kesana?” tanya Kenan penasaran.
“Engga ah! Yakali Ken. Gue aja punya trauma,” balas Gianna memperjelas. Kenapa orang-orang ini selalu ingin mengajaknya ke sana? Apakah disana tempat yang sangat menyenangkan untuk berkupul? Sampai seakan-akan setiap orang ingin merekomendasikannya.
“Lah kan siapa tau? Gue mah positive thinking aja, gue pikir lo emang butuh lakuin sesuatu disana. Cari berita misalnya,” ujar Kenan juga menjelaskan maksud ucapannya.
“Oh, ngga kok. Tadi kebetulan kenalan gue lewat dan bilang mau ke kelas jurnalis, jadi gue penasaran dimana tempatnya,” tutur Gianna.
“Kirain lo mau ikut gosip disana,”
“Ngga Ken, astaga,”
“Yaudah deh, ngga usah di bahas lagi. Btw, kita ke perpus aja yuk, gue mau ngerjain tugas dulu, lo temenin gue ya?” ajak Kenan.
“Ngga mau … ,” ledek Gianna seraya tersenyum yang meledek pula.
“Kalo lo ngga mau, nanti lo gue gandeng sepanjang lorong ini loh, mau?” anca, Kenan yang membuat Gianna otomatis melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Ngga mau ya,” balas Gianna menatap tajam.
“Yaudah berarti mau ya temenin gue,” Kenan mengulangi lagi permintaannya.
“Iya iya! Emang gue bisa nolak?” balas Gianna menyanggupi dengan kesal.
“Bisa kok, kalo ada alasan jelas, hahaha,” tawa Kenan semakin senang melihat kekesalan terpasang di wajah Gianna.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-