Mau Ke Taman?

1327 Kata
-*-*-*- Di dalam perpustakaan, saat ini sudah ada Gianna dan Kenan yang sedang duduk di dekat jendela di balik rak. Tak hanya mereka, ada beberapa mahasiswa lain yang ada di dekat, bahkan ada dua mahasiswa yang duduk satu bangku dengan mereka, karena bangku yang mereka duduki adalah bangku panjang dengan meja. Gianna hanya membaca novel sementara Kenan mengerjakan tugasnya di dalam laptop. “Nanti mau keluar ngga?” tanya Kenan di sela jari-jari tangannya yang mengetik tugas-tugasnya. “Hm?” -Gianna menoleh.- “Kemana?” tanya Gianna. “Kemana ya? Mau ke taman?” kata Kenan masih menatap layar laptopnya. Gianna kembali bertanya. “Tumben banget, mau ada pemotretan?” Tidak biasanya Kenan mengajaknya ke taman seperti ini. “Ngga kok, pengen aja jalan-jalan sama lo,” -ujar Kenan menatap Gianna.- “Jadi mau?” Gianna balas menatap Kenan, wajahnya seperti berharap agar Gianna menyanggupinya. Gianna rasa Kenan ingin menyampaikan sesuatu tapi ia tak tau apa itu. “Boleh,” Gianna mengangguk. Seketika Gianna menjawab begitu, Kenan tersenyum senang. “Sehabis ini ya?” “Emang lo habis ini ngga ada jam lagi?” tanya Gianna. “Ngga ada kok atau lo nanti mau makan dulu sebelum ke taman?” tawar Kenan yang kembali menatap layar laptopnya. “Ngga deh, langsung aja,” tolak Gianna yang juga kembali membaca novelnya. “Yakin? Nanti laper di jalan,” kata Kenan memastikan seraya menatap wajah Gianna. Gianna terdiam mendengar ucapan Kenan. Terdengar seperti deja vu, ia sangat ingat dengan kata-kata itu. ‘Kenapa tiba-tiba harus inget itu?’ “Awas loh ya kalo di tengah jalan gue harus gendong elo, gue ngga nolak sih, tapi nanti pasti elo yang nolak,” lanjut Kenan yang seketika membuat Gianna semakin membeku mendengarnya. ‘Gue … kenapa sih?’ Gianna semakin kaget karena ini semakin mirip dengan yang pernah dialaminya dengan Rafael. Gianna kemudian menoleh pada Kenan dan menatapnya dengan pandangan heran. “Ken,” panggil Gianna. Kenan menoleh. “Hm?” katanya menatap dengan pandangan bertanya. “Gue ngga lagi mimpi kan?” tanya Gianna membuat Kenan tersenyum heran. “Hah?” kata Kenan tak mengerti kenapa Gianna bertanya begitu. “Apa sekarang gue lagi mimpi?” tanya Gianna mengulang pertanyaannya. “Ngga lah, Ji,” -Kenan terkekeh melihat Gianna yang terlihat kebingungan.- “Emang kenapa lo bisa mikir ini mimpi?” tanya Kenan penasaran. “Ngga … barusan gue ngerasa aneh aja, tapi kayaknya cuma perasaan gue aja,” jawab Gianna kembali membaca novelnya. “Hahaha, lo udah laper mungkin,” sahut Kenan menduga-duga.s “Ngga ih, gue ngga laper,” “Yaudah nanti temenin gue makan aja ya?” ajak Kenan. “Iya nanti gue temenin,” Gianna mengangguk-angguk saja karena ia mulai fokus lagi pada tiap lembar berisi tulisan yang ada di hadapannya. * Pada akhirnya, begitu tiba di food court Gianna memesan makanan juga karena ia menjadi cukup lapar saat melihat orang-orang dengan makanannya masing-masing. “Gue tau lo laper, makanya gue ajak ke sini,” celetuk Kenan begitu mereka mendapatkan meja. “Dasar. Padahal tadinya gue ngga laper, tapi karna lo ajak, gue jadi laper,” balas Gianna sedikit kesal melihat wajah Kenan yang meledek padanya. Sementara Kenan hanya berusaha membuat Gianna tak kekurangan makan, sehingga ia mengajaknya untuk bisa makan juga bersamanya. Bahkan niatnya jika Gianna tidak memesan makanan, ia akan memberikan Gianna beberapa suap. “Ngga papa, malah niatnya tadi mau gue suapin,” “Ih! Ogah!” tukas Gianna memberikan tatapan sinis seraya menusuk makanannya. “Astaga galaknya,” ujar Kenan menatap kaget pada Gianna yang tiba-tiba menusuk makanannya. “Udah, makan aja makanan lo, jangan rese,” balas Gianna seraya menyuap makanannya ke dalam mulutnya. “Iya-iya,” Kenan tersenyum dan mengusap-usap rambut Gianna yang berada dibagian tengkuknya kemudian lanjut memakan makanannya. Mereka pun menikmati makanan pesanan mereka dengan santai dan sesekali mereka juga mengobrol agar suasana tidak terlalu garing. “Hoi Ken, lu disini ternyata,” seseorang tiba-tiba datang dan mengagetkan Kenan juga Gianna. “Kenapa lu? Dateng-dateng ngagetin,” balas Kenan memasang wajah kesal. “Yaampun, baru aja gua dateng, udah emosi,” ujar Ravindra menatap Kenan dengan penuh hujatan. “Ya elu ngagetin. Emang ada apaan?” tanya Kenan sembari membukakan botol minum dan memberikannya pada Gianna karena Gianna baru saja tersedak. “Biasa, dosen manggil elu,” ujar Ravindra seraya menunjuk ke arah ia datang. Gianna menerima minuman yang dibuka oleh Kenan dan spontan menoleh padanya. Padahal Kenan sedang fokus mengobrol dengan Ravindra, tetapi ia masih sempat membukakan minuman untuknya. “Astaga, tuh dosen lama-lama kebiasaan manfaatin gua. Emang sih gua suka di jurusan gua, tapi lama-lama gua bisa jadi babu,” omel Kenan sedikit kesal mengetahui dosennya yang mengutus Ravindra untuk memanggilnya. “Buka cuma elu, gua juga, gue makin sering disuruh belakangan ini,” imbuh Ravindra tak mau kalah. “Yaudah gua nanti nyusul, duluan aja,” kata Kenan seraya menyuap makanan terakhir yang tersisa di piringnya. “Gua tunggu, ngga usah kelamaan lu ya! Awas aja kalo lama,” ancam Ravindra mengingatkan. “Iya ah bawel lu! Lu dateng pas gua makan!” kesal Kenan mendengar ancaman Ravindra. “Ya ngga peduli,” Ravindra mengedikkan bahunya dan beranjak meninggalkan Kenan dan juga Gianna. “Astaga, gua gaplok lu,” -kesal Kenan hanya bisa membalas dengan tatapan menahan marah dan matanya yang membulat.- “Duh, sorry Ji, gue harus ketemu dosen dulu, kalo elo bosen, pulang aja ya,” kata Kenan mengingatkan. “Gue tunggu kok,” balas Gianna seraya menutup botol air minum yang baru saja ia tenggak airnya. “Oh yaudah, nanti kalo gue kelamaan dan lo mau pulang, kabarin aja ya, gue pesenin taxol,” saran Kenan membereskan barang-barangnya dan menyimpannya ke dalam ransel. “Ngga usah kali! Gue pesen sendiri. Lagian kalo lo sibuk, selesai’in aja dulu, ngga usah bingung mikirn gue,” pungkas Gianna tak ingin Kenan menjadi semakin repot hanya karenanya. “Oh, oke, gue tinggal dulu ya,” pamit Kenan dengan ransel yang menggantung di salah satu pundaknya. “Hm … ,” balas Gianna hanya mengangguk dan membiarkan Kenan mengacak-acak rambutnya sebelum akhirnya ia hengkang dari tempat duduknya. Gianna pun melanjutkan makannya. “Hai, sendirian aja?” seorang laki-laki menyapa dan Gianna mengacuhakannya karena ia mengira sapaan itu tidak dimaksudkan untuknya. “Hei, gue ngomong sama elo tau, elo yang pake kemeja putih di depan gue sekarang,” ujarnya membuat Gianna langsung mendongak. “Oh? Gue?” tanya Gianna menunjuk dirinya sendiri. “Iya elo, gue boleh duduk disini?” tanya laki-laki itu. Sepertinya laki-laki itu adalah tipe mahasiswa yang cukup disukai banyak wanita. Ia berperawakan tinggi dan berwajah tampan. Senyumnya terlihat canggung, namun garis wajahnya terlihat tegas dan tubuhnya terlihat cantik. Pakaiannya juga terlihat cukup stylish. Seperti model. “Mm … boleh,” Gianna mengangguk saja karena bangku itu memang kosong. Gianna kemudian menggeser makannya karena ia sudah selesai.s “Lo sendirian aja?” tanyanya lagi karena tadi Gianna belum menjawabnya. “Oh? Iya ini, lagi nunggu,” jawab Gianna seadaanya. Ia sebenarnya tidak tau siapa pria yang ada didepannya ini, ia bahkan belum pernah melihatnya sebelumnya. “I see. Btw, gue Pansy, Pansy Zean Morissete,” katanya seraya tersenyum manis pada Gianna. “Gue Jian, Gianna Dirandra,” balas Gianna ikut tersenyum. “Tadi itu Kenan kan?” tanya Pansy seraya menatap ke arah Kenan pergi tadi. “Iya, elo kenal?” tanya Gianna. “Iya, gue pernah liat dia presentasi kenalin diri sendiri sewaktu pameran, gue masih inget, nama lo juga gue masih inget,” jelasnya membuat Gianna sedikit kaget. Lalu untuk apa ia repot-repot mengenalkan diri tadi? “Oh ya? Lo tau gue juga sebelumnya?” tanya Gianna sedikit penasaran. “Iya, gue tau lo udah lumayan lama sebenernya,” Gianna semakin penasaran mendengar jawaban Pansy. Kalau memang begitu, kenapa ia tidak pernah melihat Pansy sebelumnya? “Lama? Sejak kapan?” tanya Gianna penasaran. “Sejak awal masuk kuliah,” jawabnya membuat Gianna semakin terkejut. “Hah?” -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN