-*-*-*-
“Lama? Sejak kapan?” tanya Gianna penasaran.
“Sejak awal masuk kuliah,” jawabnya membuat Gianna semakin terkejut.
“Hah?” refleks Gianna menutup mulutnya karena terkejut dengan jawaban itu.
“Hahaha serius, sebenernya sejak awal kuliah, gue udah sering lihat lo. Lo yang sering diem, pasang muka jutek, ngga pernah ngobrol sama siapa-siapa, suka sendirian di perpus. Kadang gue heran, kok elo bisa ngga peduli sama omongan-omongan yang bisa aja jelas banget ada di belakang lo ngomongin hal buruk tentang lo. Lo keliatan santai banget bisa pasang muka datar dan ngga peduli sama omongan-omongan itu,” jelas Pansy menceritakan kesan di ingatannya yang ia lihat dari Gianna.
“Ah … gitu, di mata lo keliatannya gitu ya,” kata Gianna tertawa canggung. Walaupun nyatanya memang itu niat dari semua sikapnya. Bersikap biasa saja.
“Emang aslinya lo gimana?” tanya Pansy.
“Mm … ya jujur aja sakit pasti sih bagi gue di omong-omongin begitu. Tapi ya mau gimana lagi? Gue sendirian, bakalan kalah kalo gue mau debat mereka, yang ada gue malah habis jadi bahan gosip baru nanti,” jelas Gianna hanya tertawa miris.
“Ah, iya, pasti berat ya? Tapi kayaknya gue liat-liat, lo sekarang banyak senyum kok, ngga kayak sebelumnya. Lebih cerah,” puji Pansy berdasarkan fakta yang sudah ia lihat.
“Oh ya? Hahahaha, thank’s,” balas Gianna sedikit canggung mendapat pujian dari orang yang tak dikenalnya untuk pertama kali.
“Lebih cantik juga,” kata Pansy menambahkan.
“Hah? Apa?” Gianna sedikit kaget mendengar perkataan terakhir Pansy.
“Oh iya, gue balik dulu ke kelas ya? Thank’s udah mau kenalan dan ngobrol. See you next time,” Pansy beranjak berdiri dan meninggalkan Gianna tanpa menjawab pertanyaan Gianna atau membiarkan Gianna menjawab pamitnya.
“O-okay,” Gianna tetap menjawab dengan suara pelan walaupun tau Pansy tak akan mendengarnya karena kini ia sudah menghilang.
‘Tuh orang random banget. Kalo emang udah kenal dari awal kenapa ngga nyapa gue atau apa? Selama ini dia diem aja sewaktu gue di bully?’ batin Gianna heran dengan tingkah orang yang baru dikenalnya itu.
Untuk beberapa saat, Gianna masih diam di tempatnya untuk menunggu Kenan. Namun karena ia mulai bosan, ia beranjak meninggalkan tempat itu dan melangkahkan kakinya menuju ke perpustakaan.
Sesampainya di perpus, ia segera menghampiri tempat paling sudut di ruangan itu. Begitu sampai, Gianna mendaratkan tubuhnya di atas tempat duduk panjang dan mengim pesan kalau ia menunggu di perpustakaan.
Sepertinya Kenan sangat sibuk sehingga ia belum sempat menjawab pesan Gianna. Namun Gianna paham, ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dengan mode getar.
Pada awalnya, Gianna hanya membaca novel, sampai pada akhirnya karna sudah lelah dan bosan, ia tanpa sengaja tertidur di atas meja itu.
Beberapa saat berlalu dan ia terkejut karena saat ini kepalanya berada di atas meja dengan tangan seseorang sebagai bantalnya. Namun begitu menghirup aroma parfumnya, ia tidak kaget lagi.
“Ken … kenapa ngga bangunin?” dengan suara khas baru bangun itu, Gianna mengusek matanya dan mulai duduk dengan tegak. Ia membuka matanya dan mendapati Kenan menatapnya dengan senyum hangat. Hangat seperti biasa. Oh … tiba-tiba saja Gianna takut senyum itu pudar akan sesuatu yang tidak ia harapkan karena selama ini Kenan selalu baik dan tersenyum padanya.
Gianna tiba-tiba memiliki firasat akan ada hal buruk terjadi.
“Siapa yang tega bangunin kalo lo tidur pules kaya- eh?”
Kali ini Kenan yang terkejut karena Gianna baru saja menghambur kedalam pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dalam d**a Kenan. Kenan yang kenal betul bagaimana kesalnya Gianna jika Kenan melakukan skinship di area lingkungan kampus seketika sadar kalau ini adalah hal yang langka dan juga aneh.
“Hei … what happened to you? Hm?” pada akhirnya Kenan hanya bisa mengusap lembut rambut Gianna dari atas sampai ke punggung. Tak lupa ia juga balas memeluk Gianna.
Ah … sepertinya Kenan mulai mengerti, Gianna baru saja bangun, sepertinya nyawanya belum terkumpul sepenuhnya sehingga sepertinya Gianna tak sepenuhnya sadar melakukan ini.
“Anything it’s fine, I just want to hug my boyfie,” jawab Gianna dengan suara yang teredam d**a Kenan yang berbalut kaus dan sweater hangat, karena cuaca hari itu cukup dingin karena sedikit mendung.
Oh my. Demi apapun hanya dengan mendengar kalimat itu berhasil membuat kedua pipi Kenan menjadi hangat dan mulai memerah. Kalau begini caranya, Kenan akan sering-sering berada di sisi Gianna setiap kali ia tertidur agar ia bisa bertemu dengan sisi manis Gianna yang seperti ini.
“Really my dear?” Kenan semakin mengeratkan pelukannya dengan senang hati bahkan menghirup dalam-dalam aroma rambut Gianna yang tanpa ia sadari menjadi favoritnya. Ia tak tau shampoo apa yang Gianna gunakan akan tetapi ia menyukainya setiap kali berdekatan dengan Gianna dan bisa mencium aroma itu yang mungkin sudah bercampur dengan aroma alami dari tubuh Gianna. Kenan kemudian mengakhiri dengan mengecup puncak kepala Gianna.
Beberapa saat berlalu dalam diam dan Gianna tak melakukan banyak pergerakan.
“Ji?”
“Heum?” jawab Gianna dari bawah sana. Ia masih betah memeluk Kenan dan itu membuat Kenan berpikir Gianna kembali tidur dan yang tadi di lakukannya hanya melindur.
“Masih ngantuk?” tanya Kenan yang masih setia terus mengusap rambut Gianna yang terasa sangat lembut di tangannya.
“Ngga sih … sedikit,” balas Gianna yang belum ada niatan untuk menjauhkan diri dari Kenan.
“Lo kenapa sih, tiba-tiba jadi manis gini? Abis mimpi apa?” Kenan yang terlalu senang Gianna bersikap tak seperti biasanya otomati mendekatkan wajahnya mengecup hidung Gianna. Gianna tak langsung menjawa Kenan dan malah menatap mata Kenan membuat pemiliknya canggung dan tanpa sadar salah tingkah di buatnya.
Sampai pada akhirnya satu hal yang paling tidak Kenan duga adalah tangan Gianna yang menangkup sisian kiri rahangnya dan mengecup bibirnya dua kali. Satu dengan kecupan singkat dan satu kecupan yang agak lama sebelum akhirnya Gianna hentikan. Pun Gianna kembali memeluk Kenan dan menyembunyikan wajahnya.
Sementara Kenan?
Gianna tega membuat Kenan tak bergeming dengan apa yang baru saja dibuatnya. Matanya hampir tak berkedip dan tubuhnya membeku tak bergerak. Hal ini benar-membuat Kenan tak bisa berkata-kata. Gianna yang baru saja bangun dari tidur benar-benar tak baik untuk jantungnya.
“Ji, elo ngga salah makan kan?” tanya Kenan dengan sedikit mendekatkan dirinya pada telinga Gianna agar bisa terdengar.
“Ngga, lo liat sendiri tadi gue makan apa kan,” balas Gianna masih memeluk Kenan dan bersandar pada dadanya.
“Oh gitu ya, berarti gue yang aneh,” balas Kenan masih tak bisa mencerna yang baru saja Gianna lakukan padanya. Apakah ia sedang bermimpi? Gianna terlalu manis sehingga rasanya terlalu aneh untuk jadi nyata.
“Lo ngga suka ya?” tanya Gianna menduga.
“What? Of course big no. I love it. Gue cuma kaget, Ji. Ngga biasanya elo begini,” Kenan mengeratkan pelukannya yang sempat mengendur dan mengecup puncak kepala Gianna.
“Oh, sorry udah buat lo kaget kalo gitu,” kata Gianna mendongak, menatap Kenan dan langsung disusul Kenan yang juga langsung menunduk untuk menatapnya.
“Btw, boleh minta lagi?” pinta Kenan. Sebenarnya ia hanya berniat menggoda Gianna dan mengira Gianna akan memukulnya dan melepas pelukannya. Namun di luar ekpektasi Gianna menjawab hal lain.
“Boleh,” kata Gianna tanpa ragu dan dengan santainya mendekatkan wajahnya pada Kenan membuat yang memintanya kewalahan sendiri karena dibuat kaget.
Kenan mengedipkan matanya beberapa kali seakan tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Pada akhirnya karena tak ingin membuat Gianna menunggu dan pegal karena terlalu lama menengadahkan kepalanya, Kenan mendekatkan wajah dan mengecup bibir Gianna. Terasa begitu lembut dan hangat, Kenan menyukainya.
Begitu memberikan apa yang Kenan mau, Gianna berangsut kembali memeluk Kenan lagi.
“Btw, kita ngga jadi ke taman?” tanya Gianna.
“Ngga deh, besok lagi. Gue lagi mau manjain pacar gue disini,” kata Kenan sembari mengusel rambut Gianna dengan hidungnya. Ia semakin menyukai Gianna hari ini. Ia merasa bersalah sudah meragukan Gianna sebelumnya.
“Hm … padahal gue udah nungguin, kirain bakal ke taman,” kata Gianna menanggapi. Ia tidak kecewa, ia hanya merespon apa adanya. Lagipula Kenan berada disebelahnya sekarang sehingga itu tak masalah baginya yang sudah menunggu sampai tertidur.
“Mau ke taman sekarang kalo gitu?” tanya Kenan menawarkan, kalau saja Gianna sebenarnya sudah menanti-nanti untuk bisa pergi ke taman, tapi tak jadi karena Kenan membatalkannya.
“Ngga, disini aja, udah mager kalo disuruh pindah,” balas Gianna seraya menyesakkan wajahnya ke d**a Kenan yang terasa bidang dari balik sweaternya yang begitu lembut.
“Oke,” Kenan hanya menuruti Gianna dan membiarkan Gianna berulah semaunya karena jarang sekali Gianna bisa bersikap begini.
*
“Hai Tia,” sapa seorang laki-laki yang baru saja memasuki kelas yang hanya ada Tatiana di dalamnya. Tatiana terlihat sedang mengambar asal di atas buku catatannya di bagian belakang. Sepertinya ia sedang bosan.
“Oh hai Pansy, tumben udah dateng,” sapa Tatiana balas memberikan senyuman pada Pansy yang sudah menyapanya. Ia kini duduk di bangku yang ada di sebelah Tatiana.
“Bosen nunggu di food court, bawaannya pengen makan mulu,” ujar Pansy sedikit terkekeh seraya mengeluarkan persiapannya untuk mengikuti kuliah seperti hari biasa.
“Ohya? Hahaha, sama kalo gitu, makanan di sana enak-enak soalnya,” balas Tatiana menyetujui pendapat Pansy.
Sedikit info, Pansy sebenarnya adalah salah satu mahasiswa yang kelasnya sama dengan Tatiana.
“Kan? Mana gue lagi diet, bisa-bisa gagal kalo kelamaan disana,” sahut Pansy begitu semangat mendapati Tatiana setuju dengannya. Mereka sebenarnya tidak terlalu akrab. Namun percakapan sehari-hari sebagai teman sekelas seperti ini sudah biasa mereka lakukan jika mereka tak sengaja berdekatan begini.
“Hahaha, lagian lo ngapain kesana walaupun udah tau lagi diet?” tanya Tatiana semakin terbahak mendengar keluhan Pansy.
“Pengen aja makan bekal yang udah gue siapin disana, sekalian tadi nyapa doi, pas banget gue tadi ketemu, happy banget gue akhirnya bisa nyapa dia,” jawab Pansy dengan senyuman yang begitu manis melekat. Ia terlihat senang menceritakan orang yang di maksud.
“Ow … lo punya gebetan nih? Gue baru tau,” balas Tatiana basa-basi. Tentu saja ia baru tau karena, siapa dia? Mereka hanya teman sekelas yang saling kenal yang terkadang tak sengaja saling mengobrol seperti ini.
“Iya, gue ngga umbar-umbar soalnya, makanya lo baru tau. Malah kayaknya ini lo orang pertama yang tau,” ujar Pansy menatap Tatiana.
“Oh? Iya kah? Emang lo ngga cerita sama temen-temen lo?” tanya Tatiana sedikit heran. Bukan merasa spesial atau bagaimana, ia justru merasa heran, karena biasanya laki-laki akan sangat terbuka dengan teman-temannya mengenai seseorang yang biasa di sebut gebetan.
“Nope, gue aja baru nyapa tuh cewek beberapa menit yang lalu. Gue juga sebelumnya cuma sekedar merhatiin tuh cewek setiap ngga sengaja ketemu di sekitar kampus dan kalo gue itung-itung udah hampir satu semester gue perhatiin dia dan baru hari ini gue bisa ngobrol sama dia,” jelas Pansy memberikan alasan kenapa Tatiana bisa menjadi yang pertama tau.
“Oh gitu, penggemar rahasia dong?” tanya Tatiana semakin tertarik mendengar cerita Pansy.
“Ngga, soalnya gue kasih tau dia kalo selama ini gue perhatiin dia. Udah bukan rahasia lagi,” balas Pansy tersenyum penuh arti pada Tatiana.
“Berarti udah ngga lama lagi dong? Btw reaksi dia gimana?” tanya Tatiana menanggapi begitu antusias.
“Reaksi dia tadi ngga jadi masalah sih. Cuma masalahnya dia lagi deket sama orang lain,” jelas Pansy sedikit menghela nafas berat.
“Cuma deket kan? Bukan pacaran?” tanya Tatiana memastikan Pansy tidak sedang mendekati milik orang lain. Salah-salah, ia bisa tertuduh merebut pacar orang karena tidak mencari tau.
“Kalo gue perhatiin mereka cuma deket sih. Belum ada kabar mereka jadian, tapi mereka kadang lumayan deket macem orang pacaran,” jelas Pansy menatap awang sembari bertopang dagu menghadap ke depan.
“Pastiin lagi deh besok atau nanti. Takutnya lo deketin cewek orang, kan ngga lucu kalo elo deketin dia tapi ternyata udah punya pacar. Masih mending kalo pacarnya mau maklum dan cuma simpen masalah itu buat kalian bertiga. Kalo nanti kesebar? Bisa-bisa ada aja yang dituduh dan di gosipin ngga bener di antara kalian bertiga,” jelas Tatiana mencoba memperingatkan Pansy untuk berhati-hati.
Pansy setuju dan mengangguk-angguk.
“Iya lo bener, besok haru gue pastiin lagi,”
Tatiana tersenyum, ia senang Pansy tidak cinta buta dan main asal terjang tanpa baca situasi.
“Kalo gue boleh tau nama ceweknya siapa? Siapa tau gue kenal,” tanya Tatiana penasaran.
“Oh iya ya, siapa tau lo kenal. Namanya Gianna, baru aja gue kenalan hari ini, lo tau dia?” kata Pansy dengan semangat berharap Tatiana tau dan memberikan jawaban bagus.
Tentu saja nama itu bukan lagi sekedar Tatiana kenal. Nama itu sudah sangat akrab ia dengar selama setengah semester terakhir. Gianna tentu saja terkejut mendengar nama itu keluar dari mulut Pansy. Nama yang tidak ia duga, bahkan terbesit juga sama sekali tidak.
“Hah?!”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-