-*-*-*-
Pagi hari.
Seperti biasa, Gianna diantar oleh Geno dengan mobilnya.
"Thank's. Gue berangkat dulu," ucap Gianna bersiap keluar dari mobil.
"Urwell. Have a nice day Jian," balas Geno seperti biasanya.
Sedangkan Gianna, ia tidak menjawab. Tetapi dia mengangguk dan memberikan senyuman pada Geno dan seketika membuat Geno membulatkan matanya.
"Gue berangkat," katanya segera membuka pintu mobil.
"Wait!" belum sempat pintu di sebelah kiri Gianna terbuka, Geno menahan tangan Gianna dan langsung menangkup wajahnya.
"It's really you huh?! What happen? You smile!!!" seru Geno heboh dengan kedua matanya yang seakan bersiap keluar dari tempatnya.
Se-langka itukah fenomena Gianna menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk satu garis lengkungan? Sampai-sampai Geno berseru kaget seperti saat ini? Mungkin iya.
"Ih apaan sih Geno! Lepas!" -risih dengan perbuatan tiba-tiba yang di lakukan Geno, Gianna langsung melepaskan paksa tangan Geno dari wajahnya.- "Emangnya salah kalo gue senyum hah?!" serunya ketus kembali berwajah kesal.
"No no no. It is not like that. Gianna? Lo ngga kerasukan kan? Or ... apa gue mimpi? Slap me. Tampar gue buat bukti kalo gue ngga mimp-"
Plak!
Tangan Gianna yang teramat ringan langsung saja menampar Geno tanpa ragu dan dengan tenaga yang cukup kuat. Geno terdiam. Bibirnya bungkam sejenak.
"Lo beneran Anna. Kok bisa elo senyum?" ujar Geno masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.
"Hey! What's wrong? Emang apa salahnya kalo gue senyum? Kurang air lo kayaknya," senyumnya yang sempat singgah di wajah Gianna kini pudar akibat respon Geno yang aneh baginya. Gianna pun langsung keluar dari mobil tanpa bicara lagi dengan Geno.
"Demi apapun. Tuh bocah beneran senyum? Fix, Kenan. Gue ngga bakal biarin lo jauh-jauh dari Anna," ucapnya bermonolog dengan mata tak berkedip melihat punggung Gianna yang kian menjauh masuk ke dalam universitas nya. Setelah selesai bicara sendiri dan kehilangan sosok Gianna, Geno segera menuju sekolahnya.
"Tsk. Geno kenapa sih. Emang aneh ya kalo gue senyum?" Gianna merasa heran sendiri dengan tingkah Geno dan akhirnya hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya Gianna tidak ada kelas pagi ini. Tapi ia merasa malas kalau harus ke sekolah dengan taxol ataupun ojol sendirian. Jadi Gianna lebih memilih berangkat dengan Geno.
Seperti biasa, Gianna pergi ke perpustakaan sambil menunggu kelasnya. Gianna berjalan di koridor yang tidak terlalu sepi. Sampai ia melihat rombongan perempuan 4-5 orang berjalan berlawanan menuju padanya. Tidak ingin cari masalah, Gianna memilih berjalan menepi.
Tapi sial.
Rombongan itu yang sedang mencari masalah.
Bruk!
Salah satu dari mereka sengaja menabrak Gianna membuat buku-buku Gianna jatuh.
"Aduh maaf. Ngga keliatan,"
"Hahahahaha,"
Mereka semua tertawa. Gianna hanya menghela nafas dan berjongkok untuk mengambil buku-bukunya. Rombongan itu kemudian pergi seperti tak terjadi apa-apa.
"Pertama kalinya?" ucap seseorang, tiba-tiba sudah berdiri dan bicara padanya. Gianna terkejut dan wajahnya segera mendongak.
"Kenan?" jawab Gianna sedikit tak percaya melihat Kenan kini berdiri di hadapannya.
Kenan tak menghiraukan ucapan Gianna. Namun ia kemudian berjongkok dan membantu memungut buku-buku Gianna. Gianna yang sadar tidak menjawab pertanyaan Kenan, segera bicara.
"Ngga kok. Udah pernah. Beberapa kali. Hahaha," recehnya tertawa miris.
"Ohya? Dan lo diem aja?" sahut Kenan bertanya.
Kenan menyerahkan buku terakhir Gianna. Mendapat pertanyaan seperti itu, Gianna hanya justru terdiam. Ia memilih untuk tidak menjawab.
"Makasih," katanya tanpa berbasa-basi dan berniat pergi meninggalkan Kenan. Merasa di abaikan, Kenan sontak ikut berdiri mengikuti Gianna.
"Hei hei. Mau kemana?" tanya Kenan mengiringi langkah Gianna. Sementara Gianna hanya melirik sejenak kemudian kembali melihat ke depan.
"Perpus," jawabnya singkat.
"Gila lo ya. Baru kemaren lo nangis-nangis sama gue dan sekarang lo udah berubah jadi cewek jutek lagi," sindir Kenan tak santai. Ia sedikit kesal Gianna mengabaikannya lagi seperti pertama kali ia bertemu.
Degh.
Wanita yang disindir itu seketika tersadar. Langkahnya terhenti. Gianna teringat saat ia menangis kemarin. Tanpa di sadari, pipinya justru memerah.
"Tsk! Jangan lo ingetin!" serunya memukul d**a Kenan kesal. Wajahnya terang-terangan merenggut kesal.
‘Oh sh*t!’ batin Kenan.
Tidak.
Kenan tidak marah mendapat pukulan dari Gianna. Ia hanya terpanah (lagi). Sikap imut itu lagi-lagi menancap pada jantung Kenan.
"Ya ... ya gimana. Kalo ngga diingetin, lo pasti bakal jadi cewek jutek," balas Kenan sedikit gugup.
"Gue ngga jutek," sanggah Gianna kembali memasang wajah ketus.
"Tuh tuh. Kayak gitu apanya yang ngga jutek? Coba geh lo senyum," ujar Kenan meledek.
"Tsk! Ogah!" tukas Gianna langsung melangkah pergi dan meninggalkan Kenan.
"Hei-hei tunggu!" melihat Gianna mempercepat langkahnya, Kenan berusaha menyusul Gianna. Tetapi seorang gadis tiba-tiba menghentikannya.
"Kenan? Mau kemana?" tanya gadis itu dengan senyuman melekat bahagia menatap Kenan. Kenan langsung saja menoleh mendengar namanya di sebut. Langkahnya berhenti mengejar Gianna.
"Eh? Elo. Gue mau ke kantin," jawabnya asal, kembali menatap ke arah Gianna menjauh. Padahal sudah jelas ia berniat menyusul Gianna yang kini mungkin sudah hampir sampai di perpustakaan.
Bagaimana tidak? Langkahnya saja sudah hampir secepat berlari. Tidak mustahil kalau ia sekarang hampir sampai di perpustakaan yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini.
"Oh gitu. Gimana? Lo udah dapet model atau belum?" ucap gadis tadi kembali bertanya. Akan tetapi kali ini dengan sedikit pancaran binar-binar harap di matanya.
Kenan menggaruk kepalanya yang tak gatal mendengar pertanyaan itu, lalu menoleh.
"Belum sih. Emang kenapa?" ujarnya balas bertanya.
Senyum gadis itu langsung merekah mendengar kata belum keluar dari bibir Kenan.
"Lo beneran ngga mau pertimbangin gue tah? Gue beneran pengen jadi model lo," jelasnya menawarkan diri dengan senang hati. Terlihat jelas memang di wajahnya saat ini ia ingin menjadi model potret tugas Kenan.
Kenan terdiam, berpikir sejenak. Rasanya ia sudah pernah menegaskan masalah ini kepada wanita itu sebelumnya. Tapi ternyata wanita itu belum menyerah. Dengan satu helaan dan tarikan nafas, Kenan memulai kembali jawabannya.
"Please deh, jadi gini ... ng ... sebentar, siapa nama lo?" tanya Kenan menatap gadis itu.
"Lo ngga inget nama gue?" mata gadis itu melebar. Ia tidak percaya, rumor yang mengatakan kalau Kenan sulit mengingat nama orang yang bagi dirinya orang itu tidak penting, ternyata benar. Sedikit sakit rasanya. Karena secara tidak langsung ia baru saja membuktikan kalau ia bukan orang yang penting bagi Kenan.
"Aghata, Kenan. Aghata Kanaya," jawabnya mencoba memasang senyuman di wajahnya. Meskipun terlihat cukup terpaksa.
"Ohya Aghata. Sorry. Gue susah kalo disuruh inget nama," -Kenan tersenyum masam sedikit merasa tak enak.- "Jadi gini, Kayangan-"
"Kanaya," sela Aghata buru-buru meralat ucapan Kenan. Sesulit itukah mengingat satu nama yang hanya terdiri dari dua kosakata?
"Oh ya itu pokoknya, sorry. Gue ngga bisa terima lo. Lo ngga cocok sama konsep gue. Jadi please. Cari fotografer lain yang konsepnya cocok sama lo. Okay? Maaf," tutur Kenan berusaha jujur. Setelah berkata seperti itu Kenan pergi meninggalkan Aghata tanpa menunggu atau bahkan membiarkan Aghata menjawabnya.
"Astaga Kenan. Please. Gue kurang apa buat jadi model lo?" Aghata menatap kecewa pada Kenan yang terus berjalan semakin menjauh meninggalkannya.
"Tapi gue pengen tau sih. Siapa cewek yang lo cari-cari. Sampe-sampe lo ngga mau ambil gue buat model," ujarnya begitu melihat Kenan berbelok di salah satu tikungan koridor dan menghilang. Aghata kemudian pergi.
Sementara itu Gianna.
Gianna sudah sampai di perpustakaan sejak tadi. Ia berniat memilih beberapa buku novel untuk dibaca sehabis ia mengerjakan tugas nantinya. Selagi ia memilih buku. Gianna kembali teringat saat dirinya menangis kemarin.
"Ngga tau kenapa ... batin gue udah ngga kerasa sesek lagi sekarang. Padahal gue masih sedih setiap mikirin Pony. Tapi rasanya udah ngga sesakit biasanya. Kenapa ya?" ujar Gianna berbicara sendiri seraya berusaha meraih buku di rak tertinggi.
"Itu karna lo curhat sama gue," Kenan tiba-tiba muncul dari belakang seraya mengambil buku yang hendak di ambil Gianna.
Tunggu.
Sebenarnya Kenan berjalan secepat apa? Padahal Gianna juga baru sampai dan Kenan juga belum lama menyusul Gianna. Kenapa ia tiba-tiba saja sudah sampai? Mungkinkah ia berlari?
"Sombong banget ya lo, mentang-mentang berhasil bikin gue nangis. Baru kali ini gue liat cowok bangga bikin cewek nangis," sahut Gianna tak tersentuh sedikitpun dengan ucapan Kenan. Kenan menyerahkan buku yang sudah diambil pada Gianna.
"So pasti. Toh itu nangis yang baik," ucap Kenan membela diri.
"Yayaya. Banggain aja diri lo. Ambilin lagi dong yang itu," cibir Gianna tak perduli seraya menunjuk buku yang tidak bisa diambil olehnya.
"Lo nyuruh?" sahut Kenan seraya menunduk untuk menatap Gianna yang membelakangi dirinya.
"Tolong," kata Gianna tanpa menoleh.
"Yang ikhlas coba," ujar Kenan mencoba menggoda Gianna.
Gianna menarik nafas panjang lalu berbalik. Ia mendongak menatap Kenan yang tubuhnya cukup lebih tinggi darinya.
"Kenan ... tolong yaaa ... ." Gianna tersenyum manis menatap dalam mata Kenan dan mengedipkannya beberapa kali ala puppy eyes.
Hal itu tentunya cukup membuat Kenan sesak. Sepertinya belakangan ini ia menjadi lemah jika berhadapan dengan sesuatu yang imut. Jantungnya seperti tertusuk puluhan panah hanya dengan menatap tingkah Gianna.
‘Mampus gue,’ umpat kenan dalam batinnya. Kenan mengira Gianna akan marah, sehingga ia sengaja menggodanya. Tapi siapa sangka kalau Gianna ternyata memiliki jurus puppy eyes?
Senjata makan tuan.
Kenan segera mengalihkan pandangannya. Ia menjadi salah tingkah, tetapi ia menyembunyikannya dan berusaha terlihat cuek dan tak peduli. Ia kemudian segera meraih buku yang di maksud Gianna.
"Ngga usah sok imut," pungkasnya seraya menepuk kening Gianna dengan buku yang sudah di ambilnya.
"Akh! Gimana sih. Katanya suruh minta tolong yang bener. Giliran gue minta tolong bener-bener. Di bilang sok imut. Mau lo apa sih?!" omel Gianna kesal.
"Dah dah. Ngga usah ngomel. Gue juga mau baca buku," balas Kenan tak peduli. Kenan berlalu meninggalkan Gianna menuju rak buku yang lain.
"Oh damn," -Lirih Kenan begitu sudah melangkah jauh dari Gianna.- "Gue berani jamin. Orang-orang yang bilang Jian jutek. Bakal kaget begitu ngobrol sama orangnya langsung. Gue aja sampe salah tingkah begini," ujar Kenan menggerutu sendiri tanpa bisa di dengar oleh Gianna.
Ia kemudian menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk fokus. Kenan pun mengambil beberapa buku kumpulan foto hasil fotografer untuk di jadikan referensi. Selesai memilih, Kenan berniat duduk bersama Gianna. Begitu melangkah keluar dari jajaran rak buku, ia melihat Gianna sudah duduk dan mengerjakan tugasnya.
Lalu untuk apa ia mengambil buku novel kalau tidak di baca? Kenan kemudian menghampiri dan sengaja duduk di samping Gianna.
"Tugas lo banyak?" tanya Kenan setelah mendaratkan tubuhnya diatas bangku, di sebelah Gianna.
"Ngga juga sih. Cuma kalo ngga di kerjain ya mungkin bakal numpuk dan beranak pinak," Gianna bicara seperti itu tanpa menengok dan tetap fokus mengerjakan tugasnya. Sementara Kenan fokus menatap Gianna. Kenan sedikit heran melihat Gianna.
Kenapa ia terlihat seperti model yang sedang berpose bebas? Kenan kemudian memangku rahang kirinya masih menatap Gianna.
"Jian,"
"Hm," balas Jian cuek.
"Kenapa sih apapun yang lo kerjain keliatannya kayak lagi di potret?" tanya Kenan heran.
Mendengar pertanyaan itu, Gianna menghentikan tangannya yang sebelumnya sedang menulis diatas kertas buku tugasnya.
Lalu ia menengok.
"Mana gue tau. Gue kan ngga bisa liat diri gue sendiri kalo ngga ngaca," jawabnya datar tanpa memasang ekspresi lebih.
"Tsk! Serius. Lo sebelumnya emang ngga pernah ikut acara pemotretan gitu?" tanya Kenan masih penasaran.
"Ngga, Kenan," ujar Gianna menegaskan dengan sabar.
Entah mengapa rasanya Kenan berubah menjadi manusia yang amat ingin mau tau segalanya, semenjak pertemuannya dengan Gianna di taman kemarin.
"Waw. Bakat alami kah?" timpal Kenan terlihat takjub mendengar jawaban Gianna.
Gianna mengedikkan bahunya tak peduli.
"Ngga tau," sambungnya lalu kembali fokus pada buku tugasnya.
"Jian,"
"Astaga," -hidung Gianna mendengus kesal, namun ia tetap menoleh lagi pada Kenan.- "Apa?" jawabnya ketus.
"Mau ya, jadi model gue?"
Pertanyaan itu. Kenan lagi-lagi membuat Gianna terdiam. Ingin rasanya Gianna menolak. Tapi ia takut kalau ia menolak, kata-kata kasarnya keluar lagi.
Bagaimana? Haruskah Gianna menerimanya?
*
*
*
Sementara itu Geno di koridor menuju kelas di suatu sekolah.
"Tapi ... gimana caranya biar Kenan ngga jauh-jauh dari Jian?" tanya nya tersadar akan ucapannya sendiri yang ingin Kenan tidak jauh-jauh dari Gianna. Geno terus saja begumam sendiri selagi berjalan sendirian. Tetapi beberapa siswa yang mengenal Geno menangkap sesuatu yang berbeda pada Geno. Lalu meneriakinya.
"Hei Geno! Pipi lo kenapa? Hahaha … ."
"Wah! Kayaknya ditampar cewek nih!"
Mendengar itu, Genoveva hanya merotasi bola matanya. Lalu mengacungkan jarinya yang ke tiga tak peduli dan tetap berjalan menuju kelasnya
"Bukan urusan lo," sergahnya ketus. Rupanya, Gianna menampar Geno cukup kuat, sampai-sampai pipinya memerah.
"Ah, sialan Anna. Dia ngga pernah sungkan kalo di suruh tampar gue," Decihnya kesal sembari mengusap-usap pipinya yang sedikit perih.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-