-*-*-*-
Di sebuah kamar.
Seorang gadis terlihat sedang berbaring diatas kasurnya. Ia tertidur pulas. Tetapi tak lama kemudian. Ia mulai membuka matanya. Itu adalah Gianna. Ia membuka matanya lebar-lebar dan mulai melihat sekeliling.
"Kok ... ." -Ia kemudian duduk dan mengucek matanya.- "Kok gue udah pulang?"- ujarnya kemudian meraih ponselnya.
"Udah jam 5? Gue tidur berapa jam coba?" Gianna kemudian meletakkan ponselnya dan keluar dari kamarnya.
Ia turun untuk menemui siapa saja yang ada di rumah selain dirinya. Gianna pun melihat Geno yang sedang menonton film aksi di tv ruang tamu. Gianna menghampirinya.
"Eh, Geno," sapa Gianna.
"What?" sahut Geno singkat dan tetap fokus menatap layar tv di depannya.
"Siapa yang bawa gue pulang?" tanya Gianna kemudian.
"Gue lah! Eh iya!" -Geno membalik tubuhnya dan menghadap Gianna.- "Heh wanita! Besok-besok kalo mau tidur di rumah! Bukan di hutan berduaan sama cowok! Gil* lo ya?! Katanya ngga bisa ngelupain. Tapi sekalinya kepergok malah lagi tidur di paha cowok. Kalo bonyok lo tau gimana coba?! Ujung-ujungnya ntar gue tau yang di marahin karna ngga bisa jaga adek sepupu sendiri!" cerocos Geno meluncur begitu saja dengan cepatnya bagaikan seorang rapper. Bahkan wajahnya saat ini sudah menatap Gianna tak santai.
"Wowowowowo. Kenapa tiba-tiba lo jadi bawel? Lo kesedak tugas? Dan asal lo tau, itu bukan hutan. Tapi taman!" balas Gianna mengoreksi ucapan Geno. Tetapi entah mengapa ia tidak mengelak dari tuduhan sepupunya itu.
"Kesedak pala lo itu kesedak! Bodo amat taman atau bukan. Sopan dikit lo sama yang lebih tua!" sanggah Geno masih termakan emosi. Sebenarnya ia tidak marah, ia hanya masih terkejut dan juga khawatir jika mengingat saat ia menjemput Gianna sebelumnya.
"Lo mah cuma tua dalam urutan keluarga kali. Umur lo sama gue, jelas-jelas tua gue juga," ujar Gianna membela dirinya.
"Sama aja! Yang jelas, besok-besok gue ngga bakal mau jemput, kalo cuma buat gendong lo ke kamar ya?! Ngga habis pikir gue tadi. Cowok baru kenal. Udah berani tidur dipahanya. Untung dia lagi ngga hilang akal, bukan orang jahat. Masih baik dia mau nungguin lo sampe gue dateng. Kalo lo apes, sekarang lo ngga bakal berdiri disini," pungkasnya masih dalam mode menyidang Gianna.
"Terus dimana?" tanya Gianna berusaha menanggapi.
"Lo ngga berdiri! Tapi tidur, di kasur hotel. Ah, sebenernya masih mending kalo di hotel. Kalo dia cowok yang ngga modal, paling lo udah dibawa ke semak-semak," lontarnya memberikan kemungkinan-kemungkinan buruk untuk dibayangkan Gianna.
"Heh sembarangan!" -bentak Gianna.- "Lo do'ain gue hah?!"
"Gue cuma nyatain kemungkinan yang bakal terjadi! Yang jelas gue ngga mau lo besok aneh-aneh lagi. Lo emang udah kuliah, tapi 65% otak lo itu masih bocah. Jadi mau ngga mau gue harus sering-sering ingetin lo," tegas Geno mengingatkan, seperti seseorang yang lebih berpengalaman dari Gianna. Tapi sebenarnya kenyataannya memang seperti itu.
"Tsk! Kenapa sih lo bawel banget elah. Jadi males gue minta jemput lo lagi," keluh Gianna merengut kesal. Entah sudah yang ke berapa kalinya. Geno selalu saja rajin mengguruinya.
"Ni bocah di ingetin susah banget sih," balas Geno tak kalah kesal melihat tanggapan Gianna seperti itu.
"Iya iya iya! Btw, si Kenan ngomong apa tadi pas lo jemput gue?" tiba-tiba saja tanpa Genoveva sadari, Gianna mengalihkan pembicaraan mereka.
"Hah?" -mendengar pertanyaan itu, Geno sedikit berfikir dan kembali menatap layar tv.- "Ngga bilang apa-apa," sambungnya menjawab sedapatnya.
"Seriusan?"
"Iya. Eh dia bilang sesuatu deng," sahut Geno menoleh tiba-tiba. Membuat Gianna antusias.
"Apa?" sahutnya dengan semangat.
"Lo harus diet," jawab Geno dengan mata menatap serius.
"Hah?!" -Gianna seketika mengerutkan keduanya alisnya.- "Ngga usah bohong lo," eyelnya tak percaya. Karena kenyataannya tubuh Gianna memang kecil dan lumayan kurus akibat terlalu sering menangis selama beberapa tahun.
"Ngapain gue bohong. Gue aja setuju kok. Yaudah sana pergi. Ganggu gue lagi nonton aja. Hush!" usir Geno kembali menonton film di televisi.
"Tsk. Dasar!" decih Gianna kemudian pergi dari sana menuju kamarnya.
Begitu Gianna masuk, Geno terdiam. Matanya memang menatap televisi. Tetapi pikirannya entah berada dimana.
"I'm sorry, kalo selama ini ngga bisa jadi tempat curhat lo Ji,"
Flashback ON
Sepulang sekolah, Geno langsung ke rumahnya-rumah orangtua Gianna-.
"Ji! Jian! Dimana lo?!" seru Genoveva mencari keberadaan Gianna untuk memastikan sudah pulang atau belum. Tapi sepertinya belum, karena biasanya, saat Genoveva memanggil, Gianna pasti menjawab meskipun ia tidak segera menghampirinya.
"Tu bocah masih di hutan apa ya. Dia pulang naik apa nanti," ucapnya berbicara dengan dirinya sendiri dengan nada kesal namun masih tersirat sebuah kekhawatiran.
Tanpa bermonolog lagi, Genoveva langsung meletakkan tas nya di sembarang tempat dan segera menjemput Gianna.
Di taman.
"Dimana dia," Geno kemudian terus berjalan menyusuri jalan besar yang menjadi tempat orang biasanya lewat untuk menikmati pepohonan yang berada di kanan dan kirinya, mencari-cari keberadaan Gianna.
Tak perlu menghabiskan waktu lama, ia kemudian menemukan Gianna. Terlihat dengan jelas di depan matanya, Gianna sedang berbaring di pangkuan seorang laki-laki yang tidak di kenal oleh Geno.
Sejenak, Geno menatap curiga pada laki-laki itu. Namun tak lama kemudian ia segera menghampirinya.
"Dia tidur dari tadi?" tanya Geno tiba-tiba tanpa sapaan atau basa-basi sedikit pun.
"Eh?" -Kenan terkejut mendengar pertanyaan Geno. Namun ia tetap menjawab.- "Iya. Lo siapa?" tanya nya.
"Seharusnya sih gue yang tanya begitu. Lo siapa. Kenapa dia tidur di paha elo?" tanya Geno.
"Lo jawab dulu, baru gue jawab pertanyaan lo," balas Kenan tak kalah curiga pada Geno. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja Geno datang tanpa basa-basi. Tentu saja Kenan langsung curiga.
"Gue kakak sepupunya," jawab Geno kemudian. Ia masih dengan curiganya menatap Kenan yang wajahnya benar-benar baru di temuinya hari ini.
"Ah ... jadi lo kakak sepupu yang dia ceritain?" ujar Kenan menatap mata Geno.
"Hah? Dia cerita ke lo soal gue?" tanya Geno menatap tak percaya pada Gianna yang sedang tertidur. Pasalnya, Gianna adalah tipe anak yang tidak pernah menceritakan tentang dirinya kepada siapapun sejak kepergian Alvaro. Terutama pada orang asing. Mendengar dirinya di sebut pernah di ceritakan dari orang yang baru ditemuinya tentu merupakan sebuah kemungkinan yang langka.
"Iya, dia cerita soal lo ke gue," imbuh Kenan yakin.
"Dia bilang apa? Lo ngga ngarang kan?" sahut Geno curiga. Sulit untuk mempercayai orang asing bagi dirinya.
"Ngarang? Buat apa gue ngarang?" pungkas Kenan memicing sinis menatap Geno.
"Ya ... never mind. So? What she said about me?" tanya Geno kemudian. Sepertinya akan lebih baik jika ia mendengar penjelasan pria asing itu lebih dulu.
"Dia bilang kalo lo ngetawain dia waktu dia curhat," Akunya terlihat sangat yakin, sukses membuat mata Geno membulat tak percaya dengan apa yang baru saja sudah di dengarnya.
"Apa?" pada akhirnya hanya itu yang bisa dia ucapkan, padahal apa yang di ucapkan Kenan sudah terekam jelas di kepalanya.
"Apa gue ngomong kurang keras?"
"Bukan gitu," -Geno segera menggeleng cepat.- "Dia bilang begitu sama lo? Dia ngga mungkin curhat juga kan sama lo?" -tanya Geno terburu-buru. Kali ini ia yakin, tidak mungkin kemungkinan kali ini menjadi nyata. Gianna pasti tidak mungkin curhat pada laki-laki asing ini kan?
Tetapi jawaban laki-laki asing itu justru membalikkan ketidakpercayaan pada diri Geno.
"Dia curhat." -ujarnya.- "Dan gue harap untuk selanjutnya, lo harus temenin dia, setiap lo pergokin dia lagi ngelamun, atau bahkan saat dia sedih. Minta dia curahin masalahnya," jelasnya mengingatkan Geno.
"Lo tau apa soal gue sama dia? Gue udah ngelakuin semua itu dan dia ngga pernah mau cerita sama gue," tukas Geno merasa kesal harus dinasehati oleh orang yang baru di temuinya.
"Berarti lo kurang pinter pancing dia buat cerita. Asal lo tau aja, dia udah pendem semua masalahnya terlalu lama. Dia bahkan sampe lupa caranya nangis," ujar Kenan memberi tahu Geno apa yang baru saja ia lihat dan alami.
"Gue juga tau," -sahut Geno. Wajahnya terlihat kesal melihat Kenan amat yakin ucapannya. Seakan ia yang orang asing lebih tau tentang Gianna dibanding dirinya yang masih memiliki hubungan darah.- "Gue udah berusaha bujuk dia untuk curhat. Tapi dia ngga pernah mau. Gue bahkan sampe bela-belain pindah sekolah demi nemenin dia di rumah dan kemana pun dia pergi," tuturnya membalas Kenan sedikit sengit, karena mengingat bagaimana dirinya sudah berinisiatif untuk pindah sekolah, bahkan negara demi Gianna.
"Emang tadinya lo sekolah dimana?" tanya Kenan mencari tau. Karena kalau kenyataannya Geno hanya berbeda kota dekat sini dengan Gianna tentunya itu hanya sebuah hal yang kecil.
"Tadinya gue tinggal dan sekolah di Australia," jawabnya cepat.
"Oh," Kenan mengangguk. Ternyata jauh, pikirnya.
"Sampe akhirnya gue pindah ke sini buat temenin dia. Gue kira, dengan tinggalnya gue di rumah dia, dia bakal mau curhat. Tapi nyatanya dia tetep diem dan bersikap seolah dia ngga butuh cerita apapun sama siapapun," Geno menghela nafasnya berat. Rasanya cukup kesal ketika mengingat Gianna tidak pernah mau membuka hatinya.
"Yaah, gue ngga tau gimana cara lo ngadepin dia biasanya. Tapi yang jelas, sebenernya dia itu bener-bener butuh pundak seseorang," Kenan menunduk, matanya menatap penuh simpati pada Gianna yang tertidur pulas dan mengusap rambutnya.
"Thank's." kata Geno kemudian. Sebenarnya sedikit gengsi baginya untuk mengucapkan kata itu. Namun rasanya sangat tidak tau diri jika ia lebih mementingkan gengsinya.
"You're welcome," balas Kenan menyambut dengan senang hati.
"Yaudah, gue mau bawa pulang dia," kata Geno kemudian. Sudah cukup terlalu lama Gianna tertidur di atas orang asing.
"Biar gue yang angkat dia. Lo naik apa ke sini?" ujar Kenan menawarkan diri seraya membetulkan posisi Gianna agar bisa mengangkatnya.
"Gue bawa mobil. Mobilnya ada di parkiran depan." jawabnya.
"Oke."
"Oh ya. Nama gue Geno. Genoveva Ivander," dengan sedikit senyuman, Geno menyodorkan tangannya.
"Kenan." -Kenan menyambut tangan Genoveva.- "Alfonsus Kenan Kalandra." Ujarnya.
"Lo lahir di sungai Nil?" canda Geno kemudian setelah melepas jabat tangannya.
"Kalo gue lahir di sungai Nil, nama gue ngga perlu panjang-panjang. Cukup di kasih nama Musa," sahut Kenan menanggapi candaan Geno, akan tetapi wajahnya sama sekali tidak tertawa.
"Serah lo aja udah. Lawakan lo garing,"
"Ya terserah. Gue ngga ngelawak kok,"
"Oke, terserah,"
Kenan kemudian mengangkat tubuh Gianna di depan tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di lekukan lutut dan punggung Gianna.
Mereka kemudian pulang.
Flashback OFF
"Hahaha … ." Geno tertawa miris mengingat itu semua.
Ia pun bergumam.
"Sebodoh itu kah gue sampe ngga sadar, kalo lo udah pendem masalah lo terlalu dalem? Sebodoh itu kah gue udah kira dengan temenin dan buat lo ketawa udah cukup? Gue lupa, kalo nangis itu juga penting buat buang beban lo. Sorry Jian. Gue bakal berusaha untuk selalu di samping lo dan gue rasa, lo cocok sama Kenan. Dia tempat curhat yang cocok buat lo. Dia peka dan dia bisa mancing lo yang bandel kalo disuruh untuk curhat-"
"Mancing? Lo mau mancing sama siapa?" celetuk Gianna tiba-tiba saja muncul membuat Geno sedikit tersentak.
"Hah?" -Geno terkejut dan langsung berbalik.- "Apa?"
"Kok apa? Gue tanya, lo mau mancing sama siapa?" ucap Gianna mengulang kembali pertanyaannya.
"Siapa yang mau mancing?" Geno pura-pura tak paham dan memasang ekspresi bertanya.
"Lah. Tadi lo ngomong mancing. Itu mancing apa? Mancing keributan?" kejar Gianna semakin penasaran.
"Kepo banget lo jadi orang," Geno berdiri dan pergi meninggalkan Gianna.
‘Untung dia ngga denger semuanya,’ batin Geno.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-