-*-*-*-
"Gue ngga bisa. Karna alasan yang perlu gue jelasin terlalu panjang," Gianna menatap Kenan lagi dengan pandangan yang tidak bisa di jelaskan.
"Yaudah," -kata Kenan- "Kalo lo mau, cerita aja sama gue. Gue kan udah bilang. Mau panjang juga ngga papa," jelas Kenan meyakinkan Gianna. Kenan memang orang yang tidak banyak bicara, tetapi ia bisa menjadi pendengar yang cukup baik jika ada yang ingin bercerita akan keluh kesahnya.
"Tapi ... ." Gianna memang ingin bercerita, tetapi entah mengapa raasanya ragu. Karena Kenan adalah orang yang baru ia temui. Bagaimana jika nantinya ia tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang ada di kampusnya?
"Kenapa? Lo takut gue jadi ember bocor?" -tanya Kenan begitu melihat keraguan muncul di wajah Gianna.- "Cuma pengen lo tau. Gue tipe cowok yang ngga suka bercerita. Apalagi soal gossip," ucap Kenan kembali meyakinkan Gianna. Entah mengapa, rasanya ia ingin sekali membuat Gianna bercerita padanya. Bukan atas dasar penasaran. Tapi Kenan memang benar-benar merasa kalau Gianna harus segera bercerita kepadanya.
"Hahahaha. Kalo itu gue udah tau. Udah keliatan dari cara lo kalo ngomong. Plus, lo bilang, lo ngga tau soal gue. Kebanyakan anak kampus yang udah kemakan gossip ngga bakal mau ngajak ngobrol gue. Mereka semua langsung ikut gossipin gue gitu aja. Padahal mereka semua belum pernah ada yang ngobrol sama gue. Mereka semua yang gossipin gue, ngga tau apa-apa soal gue," ungkap Gianna tertunduk dengan bibir yang kembali tersenyum miris.
Gianna memang terlihat tidak peduli jika ada yang membicarakannya. Sekalipun yang membicarakannya itu, berada tepat didekatnya. Tetapi sebenarnya, pada saat itu Gianna tengah mati-matian menahan rasa sesak di d**a dan panas di telinganya.
"Mereka semua … ." -Kenan berhenti bicara. Otaknya seakan tengah mencerna setiap kata yang di ucapkan Gianna.- " Maksud lo?"
"Iya. Selama kuliah, gue belum pernah ngobrol sama siapa pun. Cuma lo. Cuma lo yang dengan santainya motret gue yang lagi bengong. Cuma lo yang dengan santainya samperin gue duluan. Cuma lo yang dengan santainya ngajak ngobrol gue duluan. Padahal sebelumnya, orang-orang yang liat gue langsung gossipin gue. Makanya, waktu lo ngajak ngobrol gue. Gue langsung pergi. Saat itu gue sebenernya cuma ngeblank. Karna sebelumnya, belum pernah ada yang ngajak ngobrol gue kayak lo. Makanya gue langsung pergi aja, sampe nge biarin buku-buku gue berantakan. Hp gue bahkan ketinggalan," jelas Gianna sedikit terkekeh mengingat kebodohannya beberapa jam yang lalu saat di kampusnya tadi.
"Iya," -celetuk Kenan kemudian.- "Padahal niatnya mau gue jual tadi, kalo lo ngga balik lagi," ucapnya bercanda.
"Jual aja!" -sahut Gianna menanggapi dengan enteng.- "Gue bisa aja nuntut lo dengan alasan ngambil foto paparazi plus nyuri hp gue," katanya membalas candaan Kenan.
"Haha, si*l*n!" -Kenan terkekeh melihat Gianna membalas candaannya. Gianna ternyata adalah orang yang bisa di ajak bercanda.-"Pinter juga lo."
"Hahaha … ." meskipun tawanya sampai sekarang masih terdengar cukup terpaksa. Kenan tentunya bisa membedakan, kapan seseorang tertawa dengan tulus, kapan seseorang tertawa hanya karena sebuah formalitas menghormati orang lain yang sedang tertawa juga.
"So?" -Kenan berhenti terkekeh dan kembali mulai untuk mendengarkan cerita Gianna.- "Apa alasan lo yang katanya panjang itu?" tanyanya to the point.
"Oh iya!" -Gianna tersadar dari kekehannya dan kembali pada mode seriusnya.- "Sebenernya, gue ragu buat cerita bukan karna takut lo jadi ember bocor. Gue ngga peduli kalo misalnya gue di gossipin lagi. Udah kenyang. Hahaha … ." lagi, Gianna kembali tertawa miris.
"Terus? Apa alasan lo ragu buat cerita?" tanya Kenan kemudian. Terdengar seperti orang yang kepo memang. Tapi Kenan memang benar-benar ingin membuat Gianna bercerita padanya. Entahlah, apa sebenarnya tujuan Kenan.
"Yang bikin gue ragu ... gue cuma takut. Gue takut ... ." Gianna yang sebelumnya menatap Kenan kini tertunduk. Gianna menggigit kedua bibirnya, ragu untuk bercerita. Sejenak ia menghela nafas, lalu Gianna menengok lagi dan menatap Kenan dengan bibir yang melengkung paksa.
"Kayaknya emang lebih baik gue ngga cerita ya," ucapnya.
"Ngga usah senyum. Gue tau senyum lo sekarang palsu," Ujar Kenan tajam membuat bibir Gianna seketika datar. Tiba-tiba ia teringat kalau Kenan adalah seorang fotografer. Kemudian dia kembali tersenyum.
"Haha, gue lupa kalo lo fotografer yang jeli. Gue jadi inget. Kalo lo selalu nangkep gambar gue yang lagi nunjukin keadaan asli gue. Yang sebelumnya selalu gue simpen dalam waktu yang cukup lama. Apa sebaiknya gue cerita aja ya? Dari cara lo ngomong, kayaknya lo udah tau gimana keadaan gue, walaupun belum tau cerita gue," tutur Gianna meminta pendapat.
"Kalo lo ngga mau cerita ngga papa kok. Daripada cuma jadi beban buat lo," Kenan menyerah membuat Gianna bercerita. Rasanya ia takut jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan olehnya jika ia terkesan memaksa.
"Haha, ngga papa. Gue rasa lebih baik gue cerita. Alasan gue ragu mau cerita. Gue cuma takut, kalo lo cuma penasaran, bukan peduli sama gue. Jadi, gue ngga mau curhatan gue sia-sia,” tutur Gianna Gianna yakin menatap Kenan.
"Ah ya bener. Memang sih kebanyakan orang begitu. Bikin image orang yang memang bener-bener mau jadi pendengar jadi di ragukan. Padahal ngga semua orang kayak gitu," kata Kenan menanggapi. Memang, jaman sekarang banyak sekali orang yang mengaku akan jadi pendengar yang baik, padahal banyak dari mereka yang hanya ingin memuaskan rasa penasarannya saja. Bukan benar-benar peduli kepada orang tersebut.
"Iya. Makanya gue ngga mau jelasin ke mereka. Karena kebanyakan dari mereka cuma berakhir mau gossipin gue. Bukan dengerin curhatan gue," Gianna hanya bisa menghela nafasnya yang terasa cukup berat jika mengingat perlakuan orang-orang sebegitu teganya pada dirinya.
"I know!" sahut Kenan setuju.
"Boleh gue curhat sekarang?" tanya Gianna akhirnya begitu selesai berfikir matang-matang.
"Boleh. Gue sekarang kan jadi pendengar. Jadi gue nungguin lo," kata Kenan tersenyum menjawab pertanyaan Gianna.
"Ahaha, oke. Tapi sebelumnya janji ya jangan ketawain gue?" tanya Gianna membuat persyaratan.
"Ketawa?" -alis Kenan seketika mengerut seakan ingin menyatu.- "Kenapa gue harus ketawa?" tanya Kenan heran. Apakah ada adegan yang akan membuatnya tertawa dari cerita Gianna?
"Karena sepupu gue, dia ketawain curhatan gue," Gianna terlihat kesal saat menyebut sepupunya.
"Ngga bakal. Lo curhat, ngapain gue harus ketawa?" sahut Kenan meyakinkan.
"Sepupu gue bilang. Ng ... katanya ... ." -Gianna sejenak terdiam dan menunduk.- "Katanya gue bu ... cin," -seakan menghilang, suara Gianna semakin merendah ketika mengucapkan kata yang terakhir.- "Ya intinya janji aja dulu!" seru Gianna dengan nada yang naik secara tiba-tiba membuat Kenan sedikit tersentak kaget. Gianna menatap Kenan serius. Ia bahkan menyebikkan bibirnya dan menyodorkan jari kelingking tangan kanannya. Ia benar-benar serius tidak ingin di tertawakan oleh Kenan.
Degh
Kenan tiba-tiba membeku, melihat itu serasa tertusuk jantungnya. Bukan, Kenan bukan merasa sakit. Mungkin lebih tepatnya ia merasa terpanah melihat sikap Gianna. Hal itu pun ia tunjukkan terang-terangan dengan matanya yang tidak berkedip.
"Kenan? Lo kenapa? Lo ngga ke sambet kan?" tanya Gianna sembari melambaikan tangannya di depan Kenan. Takut-takut kalau terjadi sesuatu pada Kenan. Kerasukan misalnya.
"Ah ya? Eghem!" Kenan mendeham tenggorokannya yang tak gatal dengan kikuk. Ia pun menyambut jari kelingking Gianna.
‘Yang bilang Gianna jutek siapa sih? Matanya minus 10 kali ya? Kelakuan begini imut, jutek apanya?’
‘Ah, gue lupa. Padahal gue juga sempet mikir begitu. Ravindra bener. Gianna bersikap gitu kerena gue belum kenal dia aja,’
"Oke, gue janji," ucap Kenan menyambut jari kelingking Gianna dan menautkannya.
"Hmm. Jadi gini," Gianna mengalihkan matanya dan menarik nafas yang cukup panjang sebelum memulai curhatnya.
"Gue punya temen masa kecil. Gue selalu bareng sama dia sejak gue lahir. Rumah gue sama dia sebelahan dan kita selalu main bareng. Dia orang yang spesial banget buat gue. Dia selalu ada buat gue kapanpun. Menurut gue, dia sempurna." sejenak, Gianna terlihat mengembangkan senyum manis saat ini.
"Maksud gue sempurna disini, dia itu bisa jadi sosok apapun buat gue. Ayah, kakak, sahabat, bahkan pacar. Dia selalu manjain gue. Nurutin semua yang gue mau," Gianna kembali menengok kepada Kenan, bersamaan dengan senyum manisnya.
"Gue pacaran sama dia saat gue masuk kelas 3 SMP. Sampe akhirnya ... ." -sedikit demi sedikit, senyum Gianna mulai pudar.- "Dia pergi ninggalin gue," tuturnya dengan nada tertahan.
"Dia pergi kemana?" tanya Kenan menanggapi.
"Dia keluar kota dan daftar jadi group idol. Dari kecil dia emang suka banget dance. Tapi cuma jadi hobi. Sampe akhirnya dia dapet kesempatan buat jadi idol. Dia dapet kesempatan audisi," jelas Gianna kembali mengingat masa lalunya.
"Bagus dong kalo gitu. Ngga gampang buat dapet kesempatan audisi. Jadi dia lolos?" ucap Kenan kembali bertanya dan menyimak dengan telaten. Sementara Gianna tersenyum, kemudian mengangguk.
"Iya, dia lolos. Dia seneng banget waktu di kabarin lolos audisi. Gue sih ikut seneng aja waktu dia seneng," Gianna kembali tersenyum begitu masa saat itu kembali melintas di hadapannya.- "Cuma ... dari sini masalahnya dimulai,"
Dalam sekejap, senyum Gianna yang sempat mengembang kembali berubah datar.
"Bulan-bulan pertama kita masih kontakan. Dia sering kasih kabar. Setiap dia nelfon, dia selalu kedengeran bahagia. Gue yang denger juga ikut bahagia. Tapi lama-kelamaan,"
Gianna menelan kasar salivanya. Pandangannya mulai lesu, ia juga kembali mengalihkan pandangannya dari Kenan.
"Gue mulai ngerasain dia berubah. Dia memang ngabarin kalo dia di sana bahagia. Dia bilang kalo dia seneng bisa ngelakuin hobinya di sana setiap hari. Tapi gue tau. Dia saat itu bohong." mengingat saat dirinya chatting dengan Alvaro saat itu membuat Gianna menggigit bibirnya.
"Gue nyoba tanya. Tapi dia malah jadi cuek. Dia mulai jarang kasih kabar. Dia mulai ngga pernah hubungin gue kalo gue ngga hubungin dia. Sampe akhirnya ... ." spontan, Gianna menunduk. Ia kembali merasakan sesak di dadanya.
"Kabar dia hilang. Dia ngga pernah lagi hubungin gue. Jangankan untuk nelfon. Sekedar baca pesan gue aja, dia udah ngga lakuin itu lagi. Apa ... ." nada bicara Gianna mulai bergetar. Kedua tangannya nampak mencengkeram kuat lututnya. Kenan menatap Gianna lekat seperti tengah menahan sesuatu agar tak keluar. Entahlah, sepertinya ia bisa merasakan sakit yang begitu dalam dari Gianna saat ini.
"Apa sekarang dia udah lupain gue?"
"Jian,"
"Apa gue udah ngga ada artinya lagi?"
"Jian ... ."
"Apa hobinya jauh lebih penting dari gue?"
"Jian!" Kenan berseru menyebut nama Gianna seraya membalik tubuh Gianna menghadap padanya. Gianna hanya menatap Kenan pilu. Bibirnya seakan bungkam.
"Apa dia udah ngga sayang sama gue lagi ya, Kenan?" cicit Gianna semakin kehilangan suaranya untuk bicara.
"Jian. Gue minta, lo nangis sekarang juga," perintah Kenan kemudian.
"Apa?" mendengar permintaan Kenan yang sedikit aneh itu membuat Gianna menatap bingung.
"Gue minta lo nangis. Sekarang!" tegas Kenan mengulang kembali perintahnya.
"Apaan sih?!" Gianna menepis kedua tangan Kenan dari bahunya. Ia merasa aneh mendengar perintah yang terdengar tak masuk akal baginya.
"Gue cuma minta lo nangis," ucap Kenan kembali pada perintahnya namun dengan nada yang lebih lembut kali ini. Rasanya ia benar-benar harus membuat Gianna menangis.
"Kenapa sih tiba-tiba-" -ucapan Gianna terhenti. Ia tidak sadar kalau saat ini air matanya sudah mengalir.- "Kok ... ." Gianna menyentuh wajahnya yang sudah di lewati oleh setetes air matanya.
"Gue minta lo nangis sekarang. Kalo perlu, lo boleh teriak,"
Mendengar itu, Gianna menatap Kenan dengan matanya yang semakin berkaca-kaca dan Kenan menatap Gianna tajam. Ia terlihat serius meminta Gianna untuk menangis.
Sampai akhirnya Gianna benar-benar menangis saat itu juga.
"Hiks ... ."
Gianna bahkan tidak ragu untuk mendekat pada Kenan dan memeluknya. Gianna menenggelamkan matanya diatas bahu Kenan, ia menangis cukup kuat. Kenan menghela nafasnya. Ia balas memeluk Gianna dan mengusap lembut kepalanya
‘Gue tau Ji’ Batin Kenan.
‘Lo itu cuma butuh seseorang buat tempat nangis.’
‘Lo cuma butuh tempat curhat.’
‘Lo selama ini pendem itu semua sendirian sampe semuanya numpuk di dalem batin lo. Sampe lo lupa caranya nangis. Dan gue tau, rasanya pasti berat.’
‘Gue sebenernya juga cukup kaget waktu liat foto lo. Padahal waktu pertama kali lo nolak tawaran gue, lo orangnya ketus. Setelah gue liat foto lo, ditambah lagi dengerin curhatan dari lo. Gue sadar kalo lo ternyata cuma lagi nutupin rasa rindu lo sama pacar lo yang lagi hilang kabar.’
‘Maaf deh gue udah negatif waktu lo bicara ketus ke gue. Lo boleh pinjem bahu gue buat nangis.’ batin sendu merasa sedikigt bersalah seraya memeluk Gianna lebih erat, sementara Gianna terus menangis menumpahkan semua yang menyesakkan dadanya selama ini.
"Hiks ... aku cuma kangen sama dia. Kenapa dia ngga kasih satu pun kabar lagi ke aku? Hiks. Masa dia-hiks ... masa dia lupain aku? Emang dia ngga inget-hiks ... masa-masa dia sama aku? Terus, di kampus. Aku-hiks ... ngga bermaksud pasang muka jahat sama orang-orang kampus. Hiks ... kenapa mereka semua gossipin aku? Hiks ... kenapa-hiks ... mereka ngga mau ngobrol sama aku dan justru ngomongin jelek soal aku? Mereka semua ngatain aku sombong dan lain sebagainya. Hiks ... padahal kan aku ngga bermaksud bersikap kayak gitu. Hiks ... hiks ... . Huuu ... kenapa Ken? Hiks ... kenapa?!"
Tangisan Gianna yang pecah spontan membuat Kenan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Gianna benar-benar berteriak demi menumpahkan isi hatinya tanpa ragu.
"Iya iya, aku tau. Iya mereka emang jahat. Mulut mereka emang ngga bisa di atur. Kamu nanti ngga perlu sedih lagi ya. Besok pasti keadaannya bakal lebih baik," tutur Kenan lembut sembari terus mengusap rambut Gianna menenangkannya. Sedangkan tangisan, isakan serta teriakan terus keluar dari bibir Gianna seperti yang sebelumnya diminta oleh Kenan.
"Aku-hiks ... aku sebenernya cape harus nungguin dia. Aku cape harus diem aja-hiks ... setiap kali orang-orang gossipin aku. Aku cape setiap harus berusaha lupain dia ... aku cape Ken! Aku cape!" adu Gianna dengan tangan memukul d**a Kenan beberapa kali. Mendengar tangisan Gianna yang cukup menyayat hati membuat Kenan menjadi tak tega. Ia mempererat pelukannya.
"Sssh ... iya ... kalo kamu emang ngga kuat, kamu bisa istirahat. Ceritain masalahmu, bukan malah kamu pendem sendirian. Oke?" ucap Kenan lembut dan perlahan. Ia mencoba menenangkan Gianna yang tangisannya sudah seperti orang yang ditinggal mati. Gianna mengangguk pelan dalam pelukan Kenan dan balas memeluk Kenan makin erat.
Tangisan Gianna berlangsung tak terlalu lama dan berangsur mereda. Tangisannya kini telah berubah menjadi sesengukan. Sepertinya Gianna terlalu lelah, ia masih memeluk Kenan cukup lama. Atau mungkin di samping itu Gianna merasa sangat lega bisa melepaskan bebannya. Sampai akhirnya, pelukannya mulai mengendur dan dirinya tertidur tanpa sadar.
Sadar Gianna berhenti menangis dan tak memeluknya lagi, Kenan menunduk, untuk melihat Gianna.
"Jian?" -Kenan melihat Gianna menutup matanya. Ia sudah tertidur pulas.- "Segitu capenya kah lo Ji? Lo sampe ketiduran begitu?" perlahan Kenan membalik wajah Gianna menghadap padanya.
Kenan kemudian mengusap sisa air mata Gianna. Bisa terlihat dengan jelas, wajah Gianna yang tengah tertidur dengan ekpresi yang terlihat sangat tenang, Kenan terdiam.
"Gue seneng sih kalo lo udah tenang begini. Tapi, segitu tenangnya kah lo? Lo sampe lupa kalo gue ini cowok normal,"
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-