-*-*-*- “Akh, nanti aja deh dipikir lagi,” Tiana tiba-tiba menyeletuk dan meneguk tehnya yang hampir dingin karena ia biarkan karena berpikir. “Hm … ,” Gianna menatap layar ponselnya yang masih menampilkan foto Aghata. Kenapa ia bisa tidak ingat dengan Aghata di masa SMA? Jangankan Aghata, bahkan sebangkunya pun sepertinya Gianna tidak ingat. “Hhh … ,” -Gianna menghembuskan nafas beratnya.- “Sebenernya seburuk apa sih kelakuan gue dulu? Apa yang gue alami seblumnya ini sebenernya cuma karma ya?” adu Gianna terdengar begitu berat. “Jangan ngomong gitu dong, kalo kayak gitu namanya lo setuju sama omongan dia,” protes Tiana menyangkal. “Iya sih … tapi … ,” “Oh Ken!” Tiana mengangkat tangannya melambai pada Kenan untuk memberi tanda keberadaan mereka karena keadaan yang sedikit ramai. G

