1. Awal
Di teras rumah berlantai dua yang tampak sederhana tetapi terkesan elegan, seorang gadis tengah berdiri sambil menengadah menatap langit menyaksikan sang rembulan bersinar. Ia menikmati udara malam yang sejuk dan pemandangan jalan raya di depan rumahnya yang tampak ramai oleh pedagang kaki lima. Saat ia tengah sibuk dengan pikirannya tiba-tiba ada suara lembut yang memanggilnya, dengan cepat ia menoleh ke sumber suara.
“Sya sudah malam Nak, kamu harus tidur besok sekolah lho,” ucap seorang perempuan paruh baya yang terlihat cantik.
“Iya, Bund, Syana tidur dulu ya Bund,” pamit gadis itu sambil mencium pipi bundanya dan tersenyum lebar.
Perempuan paruh baya itu melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti langkah putrinya. Gadis itu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamar dengan gerakan perlahan, ia tidak langsung pergi tidur melainkan ingin menonton drama Korea yang terbaru. Saat ia meraih laptopnya yang berada di atas meja belajar tidak sengaja netranya menatap sebuah bingkai foto yang terdapat dua insan berbeda jenis kelamin dengan pakaian putih-biru khas anak SMP.
“Gak kerasa ya sekarang sudah hampir enam tahun kita berpisah,” gumam gadis itu dengan pelan.
Malam makin larut, rembulan terus merangkak menuju tempat bersemayamnya di ufuk barat. Gadis itu masih setia melihat ke arah layar laptopnya meskipun beberapa kali ia menguap karena rasa katuk mulai menyerang. Perlahan ia mulai memejamkan mata dan mulai menjelajahi dunia mimpi dengan laptop yang masih menyala. Gadis itu tidur dengan posisi tengkurap dan kedua tangannya yang menjadi bantal.
Jam terus berjalan, kini di ufuk timur tampak langit berwarna orange, sinar putih menjulang tanda sang mentari akan menampakkan jati dirinya sudah terlihat, burung-burung mulai bertengger di dahan pohon untuk menyambut indahnya pagi hari. Di sebuah kamar, seorang gadis masih berada di alam mimpinya. Ia sama sekali tidak merasa terusik meski ketukan pintu kamarnya sangat keras.
Tok tok tok
“Syana bangun Nak, ini sudah pagi,” teriak perempuan paruh baya yang sedang berada di depan kamar gadis itu.
Tok tok tok
“Sya, kamu bisa telat ke sekolah kalau bangun siang lagi,” suara teriakan sang bunda kembali terdengar.
Gadis itu mulai membuka matanya secara perlahan karena terusik dengan teriakan bundanya. Ia mulai membuka mata dan menatap jam dinding yang terpasang di atas pintu kamar, gadis itu melebarkan matanya ketika melihat jam yang menunjukkan pukul 05.50 WIB dengan cepat ia menuruni ranjang.
“I-iya, Bunda, ini Syana mau mandi,” sahut gadis itu dengan berteriak cukup keras.
“Kalau sudah cepat turun ya, Nak, Bunda mau ke bawah dulu lanjutin nyiapin sarapan,” ucap bunda.
Syana berlari masuk ke dalam kamar mandi dan segera menjalankan ritual mandi dengan secepat kilat, gadis itu takut telat masuk sekolah seperti kemarin ia sudah telat karena bangun kesiangan serta jalanan yang macet. Selesai bersiap syana duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut panjangnya serta memakai make up yang cukup tipis.
“Kenapa semalam pakai acara ketiduran dan lupa nyalain alarm sih,” gerutu Syana sambil mengoleskan lipsblam di bibir mungilnya.
Dengan cepat ia meraih tas sekolah dan turun menuju meja makan, di sana bundanya sudah menunggu. Dengan senyum lebar lebar Syana melangkah menghampiri bunda. Di maja makan sudah tersaji nasi goreng kesukaan Syana lengkap dengan telur ceplok setengah matang serta segelas s**u rasa stroberi.
“Wahh ini nasi goreng kesukaan Syana kan, Bund?” tanya Syana memastikan dengan mata yang berbinar.
“Iya, Sayang, itu nasi goreng kesukaan kamu,” jawab Bunda dengan senyum yang mengembang.
“Terima kasih Bunda,” ucap Syana sambil menampilkan deretan giginya.
Selama sarapan berlangsung tidak ada yang berbicara karena sudah menjadi peraturan di rumah itu jika sedang makan tidak boleh berbicara supaya bisa lebih menikmati dan menghargai makanan, mereka berdua menikmati menu sarapan dengan tenang. Selesai sarapan Syana segera berpamitan dengan Bunda, tidak lupa mencium tangan. Saat ia melangkah keluar rumah tiba-tiba Bunda memanggilnya kembali, gadis itu menengok ke arah bunda dengan tatapan bertanya serta alis yang bertaut.
“Sya!” panggil Bunda dengan lembut.
“Iya Bund, ada apa?” tanya Syana dengan penasaran.
“Nanti kamu langsung pulang, ya. Hari ini Papa dan Bang Aldi pulang,” ucap Bunda dengan senyum yang mengembang serta melangkah menghampiri putrinya.
“APA? Bunda serius nanti Papa sama Bang Al pulang?” pekik Syana dengan melebarkan bola matannya.
“Iya Sayang, Bunda serius,” sahut Bunda sambil mengelus kepala putrinya.
“Kalau begitu nanti Syana langsung pulang. Bund Syana pamit dulu, keburu telat,” ucap Syana lalu melangkah masuk ke dalam mobil, gadis itu melambaikan tangan pada bundanya sebelum menutup kaca mobil.
Dalam perjalanan ke sekolah Syana sibuk dengan ponselnya, saat berhenti di lampu merah tepat di samping mobil Syana ada motor CBR merah yang berhenti seketika Syana yang melihat itu mengerutkan keningnya, karena ia merasa tidak asing dengan postur tubuh si pengendara motor itu. Ketika Syana hendak menurunkan kaca mobilnya tiba-tiba lampu sudah hijau dan mobil kembali berjalan.
“Kok orang tadi gak asing ya,” gumam Syana dalam hati.
“Maaf Non, ada apa ya?” tanya Mang Janjang sopir pribadi Syana, penasaran mengapa majikannya itu tampak gelisah dan melihat ke arah belakang terus.
“Ah tidak Pak, tadi seperti lihat teman, hehe,” sahut Syana yang sedikit terkejut.
Mobil terus melaju menuju sekolah SMA TUNAS HARAPAN tempat Syana menimba ilmu. Sesampainya di gerbang sekolah Syana segera turun dan melangkah masuk. Banyak siswa yang berdatangan, Di parkiran sekolah, Syana melihat kedua sahabatnya tengah memarkirkan motor mereka, dengan langkah cepat Syana menghampiri kedua sahabatnya itu.
“Hallo Guys,” sapa Syana dengan sedikit berteriak membuat kedua sahabatnya berjingkat kaget.
“Astagfirullah Sya, lo bikin gua jantungan tahu gak,” Avki dengan wajah kesal.
“Untung gua gak ada riwayat jantung, Sya,” timpal Mutia sambil menatap tajam Syana yang tengah tersenyum tanpa merasa bersalah.
“Sorry Guys, ya sudah kita ke kelas yuk bentar lagi bel,” ajak Syana sambil melangkah menuju kelas.
Di sebuah tempat, terdapat seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi kayu sambil memandangi sebuah foto seorang gadis yang tampak cantik, laki-laki itu menampilkan senyum jahatnya dan menatap licik ke arah foto itu, “Lo gak akan bisa lari lagi dari gua,” gumam laki-laki itu dengan pelan.
Laki-laki itu mengalihkan atensinya pada ponselnya, ada sebuah pesan masuk. Entah apa isi pesan tersebut tetapi setelah membaca sederet pesan itu, laki-laki tersebut menampakkan wajahnya yang terlihat marah.
Pranggg
Ponsel yang semula dalam genggamannya ia lemparkan pada tembok, sehingga membuat ponsel tersebut hancur tak berbentuk.
Sedangkan di dalam kelas Syana sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, pikirannya dipenuhi oleh orang yang mengendarai motor CBR merah tadi pagi. Ia yakin orang yang dilihat itu adalah orang yang sedang ia hindari. Wajah Syana nampak gelisah, pandangannya kosong membuat kedua sahabatnya menatap Syana keheranan.
Syana memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan pikiran buruk dalam benaknya mengenai orang yang tadi pagi ia lihat, sejujurnya ia mulai merasa takut saat ingatan masa lalu berkelebat dalam benaknya. Perlahan Syana menghembuskan napasnya pelan dan berusaha fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung.
Kringggg
Jam istirahat tiba, Syana enggan untuk keluar kelas apalagi pergi ke kantin, ia merasa malas jika harus berdesak-desakan. Ia berencana pergi ke perpustakaan untuk membaca novel. Sepanjang koridor sekolah banyak siswa-siswi yang berlalu lalang, ada juga yang duduk di pinggir koridor sambil berbincang dengan temannya.
Jarak perpustakaan dengan kelasnya cukup jauh, karena kelas Syana yang berada di lantai dua sedangkan perpustakaan di lantai satu dekat ruang kepala sekolah. Gadis itu berjalan masuk dan mengedarkan pandangannya menyusuri setiap rak buku yang tertata rapi. Ia mengambil satu novel yang berada di urutan rak tengah dan terletak pada urutan nomor dua dari atas, jemari lentik Syana meraih novel itu dan ia duduk di bangku yang masih kosong.
Selama ia membaca novel, Syana nampak gelisah ia merasa sedari tadi ada orang yang selalu memperhatikan dengan gerakan pelan ia kembali mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu dan menatap satu persatu siswa-siswi yang juga berada di sana.
“Tidak ada yang mencurigakan,” ucap Syana dalam hati.
Saat jam istirahat selesai, Syana segera menuju kelasnya dengan langkah cepat. Ia merasa ada yang tidak beres karena seolah ada orang yang tengah mengawasinya, jantung Syana kembali berdetak tidak karuan ketika ada sekelebat bayangan tentang sosok di masa lalunya. Sesampainya di kelas ia langsung di berondong dengan pertanyaan oleh kedua sahabatnya.
“Sya, lo dari mana saja sih?” tanya Avki sambil menatap penasaran.
“Iya dari mana, Sya? Lo juga kelihatan pucet begitu, lo sakit?” tanya Mutia yang tengah menampakkan wajah khawatir.
“Gua dari perpustakaan, gua baik-baik saja kok, beneran,” sahut Syana cepat dengan menampilkan senyum simpulnya.
“Oh ya Sya nanti pulang sekolah kita pergi nonton yuk,” ajak Mutia sambil tersenyum ceria.
“Iya kita sudah lama gak hang out bareng ini,” ujar Avki sambil memasang wajah cemberut.
“Lain waktu saja bagaimana? Hari ini bang Aldi pulang dari US dan nyokap nyuruh gua langsung balik,” ucap Syana memberi penjelasan pada Avki dan Mutia, sebenarnya Syana tidak tega untuk menolak tapi ia juga tidak ada pilihan lain.
“What? Jadi abang lo yang tampan itu pulang dari US?” pekik Avki dengan heboh.
“Ki jangan teriak-teriak malu g****k,” ucap Mutia sambil menatap tajam Avki.
“Sudah-sudah jangan ribut,” lerai Syana pada kedua sahabatnya itu.
Aldi memang tinggal di US, sejak lulus SMP ia melanjutkan studynya di sana hingga meraih gelar master. Sudah 10 tahun Aldi tidak pulang ke tahan air, ia memilih tidak pulang karena ingin belajar mandiri dan mencari pengalaman baru di negeri paman sam. Aldi meraih gelar masternya di Universitas California-Barkeley, dengan bekal kecerdasannya yang di atas rata-rata membuatnya mampu meraih gelar Sarjan dan Master dalam kurun waktu yang relatif singkat. Syana sangat merindukan kakak laki-lakinya, itulah alasannya ia begitu antusias saat mengetahui kepulangan Aldi.
Tanpa terasa jam pulang sekolah tiba, semua murid berhamburan keluar dari kelas, begitupun Syana dan kedua sahabatnya. Ketiga gadis itu berjalan menuju parkiran, hari ini Syana pulang bersama Avki karena sopir pribadinya sedang menjemput kakak dan papanya di Bandara. Beruntung Avki rumahnya searah dengan Syana jadi ia tidak merepotkan sahabatnya itu jika pulang bersama.
“Ki, tumben Mutia bawa mobil sendiri hari ini?” tanya Syana penasaran, karena biasanya Mutia selalu bersama Avki meskipun arah rumah mereka itu berlawanan.
“Katanya sih hari ini dia mau jenguk neneknya, Sya,” jawab Avki sambil memundurkan mobilnya.
Saat melewati gerbang sekolah, tanpa sengaja pandangan Syana menangkap seseorang yang tadi pagi ia lihat di lampu merah, orang yang saat ini ia lihat juga mengendarai motor CBR merah dan sedang berada di sebrang gedung jalan. Syana seketika memicingkan matanya berharap ia melihat dengan jelas wajah pengendara motor CBR merah tersebut, tapi nihil karena banyak pengendara yang berlalu lalang.
“Lo liat apaan sih, Sya?” Tanya Avki sambil mengikuti arah pandang Syana.
“Eh, bukan apa-apa kok,” sahut Syana yang sedikit terkejut, hal iu justru mengundang rasa penasaran Avki.
“Yakin, lo, dari tadi lo liat pengendara yang di seberang jalan itukan?” tanya Avki memastikan.
“Gak kok Ki, mending kita langsung pulang aja yuk,” ajak Syana yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Beruntung karena Avki tidak bertanya lagi dan langsung melajukan mobilnya untuk menyeberang jalan.
Dalam perjalanan hanya ada keheningan, karena Syana memilih memejamkan matanya saat merasakan pusing. Gadis itu tidak benar-benar tidur, pikirannya melalang buana pada kejadian di masa lalunya, di mana ia sempat berhadapan dengan sosok laki-laki yang mengerikan menurutnya. Avki tahu jika Syana sedang tidak baik-baik saja, tetapi ia memilih diam dan membiarkan Syana siap untuk berbagi cerita padanya. Tanpa terasa kini mobil Avki sudah sampai di depan rumah Syana.
“Sya bangun, sudah sampai ini,” ucap Avki sambil menggoyangkan bahu Syana dengan perlahan. Syana membuka matanya dan mengedarkan pandangannya.
“Eh sudah sampai hehe, makasih ya Ki atas tumpangannya,” ucap Syana sambil menampilkan deretan giginya yang rapi pada Avki serta turun dari mobil.
“Iya Sya sama-sama, see you tomorrow beb,” sahut Avki sambil melambaikan tangan pada Syana yang baru saja menutup pintu mobilnya.
“Dih geli tahu Ki,” jawab Syana sambil menatap Avki dengan tajam, sedangkan Avki hanya tertawa renyah.
Setelah mobil sahabatnya menjauh, Syana melangkah menuju gerbang rumahnya. Saat ia mulai membuka gerbang rumah, tiba-tiba ia merasa ada orang yang sedang memperhatikannya. Dengan cepat Syana mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah, entah kenapa ia sedari tadi pagi selalu merasa ada yang sedang mengawasinya, tetapi lagi-lagi tidak ada siapa-siapa yang mencurigakan berada di sekitarnya.
“Kenapa gua selalu merasa di awasi ya hari ini,” gumam Syana dalam hati.
Karena ia merasa takut, akhirnya dengan buru-buru menutup gerbang dan berlari masuk ke dalam rumah. Saat akan menutup pintu rumah Syana melihat seorang laki-laki yang berada di seberang jalan tengah menatap ke arahnya, tatapan mereka bertemu membuat jantung Syana berdegup kencang, tatapan laki-laki itu terasa begitu familiar.
“Sya kamu sedang apa berdiri di depan pintu begitu?” tanya bunda dengan suara yang lembut dan berhasil membuyarkan pikiran Syana yang sempat bercabang ke mana-mana.
“Eh Bunda, gak apa-apa Bun,” sahut Syana yang tengah menyembunyikan ekspresi terkejutnya dengan senyum lebar.
“Masuk Nak, dan segera makan siang ya! Tadi Bunda masakin sup ayam kesukaan kamu loh,” ujar Bunda seraya menggandeng tangan putrinya dan melangkah memasuki rumah.
“Bund, Syana ke atas dulu ya mau mandi hehe,” pamit Syana, saat sang bunda mengangguk ia segera melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
Di dalam kamar Syana tidak langsung berganti pakaian melainkan berdiri di depan pintu balkon sambil menatap luar. Ia penasaran apakah laki-laki yang sempat ia lihat masih berada di seberang jalan atau sudah pergi. Setelah memastikan bahwa laki-laki itu tidak ada, ia meraih ponsel yang ada di dalam tas sekolahnya dan melihat ke room chat.
“Apa aku harus mengatakan tentang hari ini pada Kakak ya?” tanya Syana pada diri sendiri, ia masih merasa bimbang untuk bercerita pada kakaknya nanti.
Syana segera mandi dan makan siang, setelah itu ia berencana untuk tidur sambil menunggu kakak dan papanya datang. Selesai makan siang Syana kembali ke kamar tapi sang bunda tiba-tiba memanggilnya dari arah depan, karena penasaran Syana berbalik dan menghampiri bundanya.
“Syana!” panggil sang bunda dengan nada sedikit berteriak.
“Iya ada apa Bund?” tanya Syana sambil berjalan mendekat.
“Ada paket untuk kamu Nak, tapi bunda tidak tahu siapa yang mengirim karena di sini tidak ada nama pengirimnya,” jelas sang Bunda sambil menyodorkan sebuah kotak yang berukuran medium pada putrinya.
“Perasaan Syana tidak lagi belanja online deh Bund,” celetuk Syana sambil menerima paket tersebut.
“Mungkin itu hadiah dari teman kamu Sya,” sahut Bunda yang berjalan ke arah dapur.
Tanpa pikir panjang Syana membawa kotak paket itu menuju kamarnya, dalam benak ia terus bertanya-tanya tentang siapa yang telah memberinya paket dan siapa pengirimnya, kotak itu terasa ringan membuat Syana ragu untuk membuka. Sesampainya di kamar Syana meletakkan kotak itu di atas meja belajarnya lalu ia meraih sebuah cutter dan mulai membuka kotak itu dengan gerakan pelan. Saat ia mengetahui isi dalam kotak tersebut, ia tidak merasa terkejut justru mengerutkan kening keheranan.
“Boneka,” ucap Syana dengan tangan yang meraih boneka panda yang berukuran medium.
“Siapa orang yang sudah kirim boneka ini ya?” tanya Syana dalam hati sambil melihat ke dalam kotak lagi, ia berharap ada kartu yang berisikan identitas pengirim, tapi nihil.
Saat ia hendak menaruh boneka itu kembali ke dalam kotak, tiba-tiba ada sebuah kartu ucapan yang tergantung pada punggung boneka tersebut, Syana membuka karti itu dan membaca isi pesan yang tertulis.
TO:ISYANA GHABRELIA PRASETYO
Aku telah kembali dan akan memperjuangkan mu lagi
FROM: Masa lalu
Syana mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti maksud dari pesan tersebut. Orang di masa lalu Syana adalah sahabatnya yang telah meninggal enam tahun lalu akibat kecelakaan. Gadis itu berpikir bahwa orang yang telah meninggal tidak akan kembali hidup, akhirnya ia menganggap orang yang memberinya boneka ini hanyalah orang iseng.
Tanpa terasa matahari telah kembali ke dalam peraduannya, menyisakan bumi yang di selimuti kegelapan. Langit tampak hitam dengan hiasan ribuan bintang, malam ini adalah malam membahagiakan untuk keluarga Prasetyo.
“PAPA, KAKAK!” pekik seorang gadis yang berlari menuruni tangga dan langsung menghambur ke dalam pelukan sang papa.
“Apa kabar putri Papa yang cantik ini, hem?” tanya Danu sambil membalas pelukan putrinya.
“Baik Pah, Syana kangen sama Papa,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kalau sama Kakak enggak ya?” celetuk seorang laki-laki yang berdiri di samping Danu sambil tersenyum lebar pada Syana.
“Kakak, kangen lah,” seru Syana dengan antusias dan melepaskan pelukan pada papanya, gadis itu beralih memeluk kakak laki-lakinya dengan arat.
“Ternyata kamu makin cantik ya sekarang hehe,” seloroh Aldi sambil mencubit hidung Syana.
“Sakit ih Kakak begitu,” pekik Syana sambil memasang wajah cemberutnya, hal itu membuat semua yang ada di ruang keluarga itu tertawa.
“Sudah-sudah sebaiknya kita makan malam, acara melepas rindunya dilanjut nanti,” celetuk Dinda, Bunda Syana.
Mereka berempat menikmati menu makan malam dengan suasana hening, tetapi membahagiakan. Selama ini keluara Prasetyo jarang berkumpul dengan anggota lengkap seperti malam ini, semua itu karena Danu yang sering mengurus bisnisnya di luar negeri dan sang anak sulung yang tengah menempuh pendidikan di negeri Paman Sam.
Selesai makan malam mereka bersantai sambil menonton TV bersama dan sesekali terlibat perbincangan ringan, malam semakin larut membuat rasa katuk menyerang Danu dan istrinya, kini tinggal Aldi dan Syana yang masih menonton TV dan mulai terlibat pembahasan yang serius.
“Kak,” panggil Syana pelan.
“Ada apa Sya?” tanya Aldi dengan lembut.
“Tadi siang aku dapat kiriman paket berisi boneka panda dari seseorang,” ucap Syana sambil menatap Aldi.
Sedangkan Aldi mengerutkan keningnya tanda ia tidak paham ke mana arah pembicaraan adiknya.
“Dari pacar?” sahut Aldi mencoba menebak.
“Bukan lah. Syana jomblo hehe,” sahut Syana seraya menampilkan deretan giginya.
“Sebenarnya Syana mau menanyakan sesuatu sama kakak,” lanjut Syana dengan menghela napas pelan.
“Tanya apa dek?” ucap Aldi sambil memposisikan duduknya menghadap Syana.
“Apa ada sesuatu yang Syana lupakan mengenai masa lalu Syana kak?” tanya Syana dengan tatapan penuh selidik pada Aldi.
Deg
Dada Aldi mendadak sesak, ia tidak menyangka adiknya akan menanyakan hal ini saat ia kembali. Aldi mulai paham arah pembicaraan Syana ke mana, tetapi ia juga tidak bisa menjawab pertanyaan sang adik yang sempat di lontarkan tadi karena bukan hak Aldi untuk menceritakan semua itu terlebih saat ini Syana sudah menjadi sosok gadis yang ceria. Aldi bungkam seribu bahasa, ia mengusap wajahnya kasar dan mengalihkan pandangan dari Syana karena takut adiknya akan curiga dan terus melontarkan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
“Maksud kamu apa Sya?” tanya Aldi pura-pura tidak tahu.
“Hari ini aku merasa di awasi sama seseorang kak, dan kebetulan setelah aku sampai di rumah, paket itu datang dan mengatakan bahwa ia adalah orang dari masa lalu aku. Sedangkan orang dari masa lalu aku itu adalah Kevin yang sudah meninggal,” jelas Syana menggebu-gebu.
“Ma-maksud kamu? Jujur kakak gak paham,” jawab Aldi dengan sorot mata kebingungan.
Syana merogoh saki celana dan menyerahkan sebuah kartu ucapan yang tadi berada di punggung boneka panda pada Aldi. Ia sengaja tidak membuang kartu itu karena ia berharap kakaknya mengetahui sesuatu atau bisa jadi petunjuk tentang orang yang tengah mengawasinya hari ini. Syana tidak yakin dengan semua itu tapi ia tetap menyangkut pautkan orang yang tadi siang ia lihat dengan paket itu.
Deg