SIX

1159 Kata
    Bulir cairan asin keluar dari pori-pori kulit Audy. Terik cahaya matahari pagi dan udara yang lembab benar-benar membuat mulut Audy tidak henti-hentinya mengeluh. Kicauan keluh-kesah yang Audy lontarkan pada dunia benar-benar membuat Andra, kakak laki-lakinya itu terganggu. Andra memasang earphone untuk mengganjal telinganya. Kemudian ia mulai menyalakan ipod-nya, memainkan musik up tempo dan menikmati iramanya.  "Gue dehidrasi. Gue perlu asupan isotonik. Gue perlu antioksidan. Kak, beliin gue isotonik! Pocari aja gimana? Pocari! Kak! Kakak!" Andra tidak menggubris kicauan adiknya. Ia justru menaikkan volume ipod-nya. Meredam suara cempreng Audy.  Audy menoleh ke belakang dan mendapati kakaknya yang menggumamkan irama dan lirik-lirik aneh. Emosi membuncah. Ditambah lagi dengan hawa musim panas yang dengan mudah memancing amarah. Dengan gusar Audy menarik tali earphone yang menggantung di d**a Andra.  Seketika telinga Andra terasa perih. Cowok itu meringis. "Apaan sih, De?!" bentak Andra. "Kok lo ngacangin gue sih?" "Lo bawel!" "Lo jahat!" "Gue nggak peduli!" "Beliin gue isotonik!" "Beli sendiri!" "Duit gue sisa dua puluh ribu nih!" "Terus, masalah buat gue?" "Gue dehidrasi." "Sebodo amat!" "Kakak!" "Apaan sih?!" "Panas!" "Siapa bilang dingin? Disini semua orang kepanasan!" "Beliin Pocari!" "Ogah!" "Di depan situ! Buru!" "Diem lo! Bacot!" Mendengar bentakan terakhir, seketika Audy terdiam.  Mengucapkan bentakan terakhir, seketika mata Andra membulat. Namun ia kembali berseru, "Lo... diem!" Bukannya takut, Audy justru menerjang abangnya. Ia menjingkitkan kakinya dan mencengkram rambut Andra, menjambaknya. Dengan ganas Audy meremas-remas rambut Andra. Rasanya rambut tebal Andra lepas semua dari kulit kepala. Jelas saja. Adiknya dengan amarah meletup-letup berteriak, "Jahat! Dasar Jahat! Kakak penjahat! Dasar Penjahat!!!" Andra mengerang. Berteriak seperti orang gila. Tentu saja. Siapa yang tidak merasa kesakitan saat rambut kalian dijambak dengan ganas seperti yang dilakukan oleh adiknya? Setelah puas menyalurkan rasa kesalnya, Audy melepas cengkraman pada rambut abangnya. "Puas lo?!" teriak Andra.  Begitulah Andra. Ia tidak pernah membalas perlakuan jelek adiknya. Walaupun ia menerima k*******n secara fisik, Andra tidak akan membalasnya. Mengapa? Karena jika ia membalas dengan cara yang sama, Audy akan dilarikan ke IGD atau bahkan ke ICU. Andra tahu benar kapasitasnya sebagai laki-laki. Setelah membentak adiknya untuk terakhir kali, Andra melangkahkan kakinya yang jenjang menuju gerbang sekolah yang berjarak sekitar lima puluh meter dari tempat mereka berkelahi. Audy baru saja tersadar ketika Andra berjalan menjauh lebih dulu. Mereka sudah menjadi tontonan beberapa pengguna jalan yang kebanyakan adalah murid SMA Pelita Bangsa. Tengsin, Audy ngebut mengekori abangnya. Memasuki gerbang sekolah, Andra segera menghampiri Johan yang berdiri di depan sebuah motor Ducati merah. Kakak sulungnya Audy itu berlari kecil mendatangi sahabatnya dan berteriak, "YO!" Johan! Pangeran impian Audy. Mata cewek berambut panjang dengan warna hitam kecoklatan itu berbinar-binar saat melihat pangeran impiannya tersenyum cerah, menyapa kakaknya. Refleks Audy tersenyum. Memuja dan memuji ketampanan Johan. Musim panas? Bukan. Seandainya dia berada di negara empat musim, pasti sekarang Audy merasakan musim semi di hatinya. Seakan-akan kini bunga-bunga mulai bermekaran dengan indah di relung jiwanya. Segala dahaga, pengap dan berbagai keluhannya sirna saat melihat pangeran impiannya itu. Langkah pendek Audy terhenti ketika melihat cowok yang turun dari motor sport itu melepas helm dan menyapa abangnya. Rambut hitam legam, perawakan tinggi atletis dan wajah tampan layaknya anggota boyband.  Sial. Itu adalah Gilang. Andra segera merangkul Gilang dan menepuk bahu Johan. Astaga. Bagaimana bisa abang dan pangeran impiannya bisa berteman sangat akrab dengan iblis pembuat benjol seperti Gilang. Rupanya sedang ada perkumpulan cowok-cowok famous SMA Pelita Bangsa sekarang. "Aw!" ringis Audy ketika merasakan tabrakan pada bahu kirinya.  "Eh, maaf, De. Lo nggak pa-pa?" Audy mendelik kesal pada cowok yang sepertinya adalah seorang senior. Namun tatapan tajam Audy segera berubah menjadi sangat lemah ketika melihat sosok laki-laki yang baru saja menabraknya. Di hadapan Audy, berdiri cowok tinggi dengan mata bulat dan tajam. Audy merasa terintimidasi hanya karena tinggi badan dan aura maskulin cowok ini. Ia menciut. Audy bergumam, "Nggak, Kak, saya nggak pa-pa." Cowok itu tersenyum sejenak. Lega. Ia meletakkan telapak tangannya ke bahu Audy. "Lain kali jangan bengong di tengah jalan ya, De. Untung tadi lo nggak sampe jatuh." 'Anjir, lama-lama gue bisa meleleh juga! Di sekolah ini bertaburan cogan!' batin Audy. Lama-kelamaan, cowok itu mengerutkan keningnya saat melihat wajah Audy dan berkata, "Kayaknya gue pernah liat lo deh." "WOY! MIKAEL!" Audy dan cowok yang baru saja menabraknya tadi mengalihkan pandangan mata mereka ke asal suara. Gilang berjalan mendekati mereka dengan mata setajam elang yang siap mencengkram mangsanya. Senior bernama Mikael itu segera menarik tangannya dari bahu Audy. Ia mengangkat kedua tangannya dan melangkah mundur dengan tawa halus. Tanda mengalah.  "Pinky." Andaikan saja Audy adalah Squirtle, karakter dari serial Pokemon yang berwujud kura-kura berwarna biru yang imut, cewek itu pasti akan segera menyerang Gilang dengan serangan semprotan air dengan ganas. Namun itu hanyalah khayalan Audy belaka.  Khayalan liar itu buyar ketika ia kembali mendengar suara Gilang, "Baru datang, De?" Audy mendelik. Menatap Gilang sinis. Namun kemudian nyalinya menciut lagi saat Kim Mikael bertanya, "Ini cewek yang--" "Iya, si pinky." Malu abis!  Pipi Audy bersemu mengingat kejadian memalukan itu. Andaikan saja ia mempunyai Pokeball berisikan Eevee, dengan kekuatan tanahnya, ia akan meminta Pokemon itu untuk menguburnya sekarang.  Audy hanya bisa menggigit bibirnya dan menunduk. Rasanya ingin menangis saja. Namun ia menahannya sebisa mungkin. Audy berdiri mematung di tempat. Tidak berani mengangkat pandangan matanya. "Pinky, rumah lo di mana sih, De? Besok biar gue jemput ya?" Audy merasakan dua jari menyentuh dagunya dan mengangkat wajahnya. Gadis itu hampir menangis. Ia masih menahan malu. Ia sangat membenci panggilan itu. Pinky.  Rasanya musim semi yang baru saja ia rasakan sesaat yang lalu sirna. Ia kembali ke realita. Bahkan lebih parah. Bagaikan matahari berada satu jengkal dari ubun-ubun. Panas membakar. Dengan lava panas yang meludah dari permukaan matahari. Rasanya Audy ingin segera pergi ke NASA dan menyusup ke salah satu roket yang akan meluncur ke ruang angkasa dan menghilang ke gargantua. "Pinky kenapa?" gumam Gilang saat melihat mata cewek di hadapannya itu telah berkaca-kaca. "Besok gue jem-" "De! Ngapain lo di situ?!" Andra datang menghampiri adiknya yang tersudut oleh dua senior yang notabene adalah teman-temannya. Dengan wajah kaku dan Sister Complex Syndrome-nya, Andra melangkah pasti. Ia segera mendorong Gilang menjauh dari adiknya dan mengacak-acak rambut Audy sehingga orang lain tidak melihat bulir air mata yang terjatuh ke pipi gadis itu. Menyaksikan apa yang dilakukan Andra, Johan terkikik. Dua saudara favoritnya. Si Sulung yang protektif dan Si Bungsu yang bawel. Gilang kaget bukan main. Sama halnya dengan Mikael. "Ndra, ini cewek lo?" tanya Mikael. Mendengar pertanyaan itu, Andra terbahak. Mendengar pertanyaan itu, Gilang mengepalkan kedua tangannya. "Ini adek gue, monyet!" sahut Andra. Kemudian menatap adiknya kembali dan berkata, "Buru gih, masuk sana. Bentar lagi bel." Audy segera mengangguk dan memeluk Andra sesaat. Adik manja. Dengan gemas, Andra mengacak rambut Audy sekali lagi. "Buru masuk!" Audy pun ngibrit. Kabur. Ia baru saja tersadar, ia kembali menjadi tontonan di SMA Pelita Bangsa.  Terima kasih untuk Andra. Audy merasa sangat bangga pada kakak semata wayangnya itu. Terima kasih sudah menjadi Ultraman Nexus dan menyelamatkannya dari serangan monster jahat bergenus Malviano dengan spesies Gilang. Satu hal lagi, Audy kembali kehilangan kesempatan mendekati Johan. s**l.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN