FIVE

1286 Kata
Speaker yang terletak di ujung kanan atas kelas mulai menyalurkan melodi tanda kegiatan belajar-mengajar berakhir. Sang guru menutup buku pelajarannya dan para siswa memberikan salam padanya, lalu melangkah menjauh dari kelas. Para siswa baru itu mulai meriuhkan kelas. Ada yang berteriak kegirangan, mengeluh, bahkan ada juga yang berdebat. Berbeda dengan Audy yang bergerak malas dan lesu. Tidak seperti biasanya. Gadis selalu bersikap ceria itu baru saja melalui serentetan peristiwa yang berhasil membuat harinya menjadi tidak menyenangkan. Audy mengeluh. "SuAu bad day." Mendengar itu Carla tersenyum kecut dan berkata, "Maaf ya, Au, gue nggak bisa ngajak lo makan eskrim soalnya hari ini gue ada acara sama nyokap. Besok deh, besok." Audy memanyunkan bibirnya dan mengangguk lesu. "Iya, gue ngerti." "Padahal gue pengen ngerayain kesialan lo hari ini," kikik Carla. Kemudian ia menerima sebuah toyoran kecil dari Audy. Audy ikut terkikik dan menyahut, "Tega bener lo, La." Carla menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya, memberi isyarat bahwa ia meminta maaf. Permintaan maaf yang tidak serius. Tentu saja. "Swear, besok gue traktir eskrim di Baskin Robbins. Janji." Carla mengerjapkan mata dan tersenyum manis. Audy menahan rasa senangnya. "Awas lo ya, udah janji nggak boleh batal. Janji adalah hutang, you know!" ancam Audy seraya melipat kembali hoodie putih yang tergeletak di atas mejanya. Carla mengangguk semangat. Rambut pendeknya yang berawarna dark brown bergoyang-goyang, membuatnya terlihat sangat imut. "Yuk, cabut." Audy tertawa saat Carla menariknya keluar dari kelas yang kini sudah mulai kosong. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan wajah ceria. Semua kekesalan yang dialami Audy tadi pagi rasanya lenyap saat bersama dengan teman barunya ini.  "Pinky." Suara itu. Ketika mereka berada di dekat gerbang, langkah Audy terhenti saat mendengar suara maskulin itu. Begitu pula dengan Carla. Gadis itu menatap Audy dan senior berambut hitam legam secara bergantian. Senior itu adalah Gilang. Carla segera membungkukkan tubuhnya sedikit dan menyapa. "Sore, Kak Gilang." Gilang melangkah mendekati Audy tanpa menghiraukan sapaan dari Carla. Audy pun begitu, ia melangkah mendekati Gilang dengan congkak. Carla terheran. "Kepala lo masih benjol?" Mendengar pertanyaan itu Audy mendengus sinis. "Hai, Kak! Hidung lo masih penyok?" Gilang tertawa. Gemas dengan sikap Audy yang tak pernah takut atau segan pada dirinya. Rasanya Audy benar-benar ingin menonjok hidung cowok resek ini sekali lagi. Menyebalkan. Melihat tampangnya saja Audy sudah kesal, apalagi mendengar suara dan bercakap dengannya. Kepala gadis itu tiba-tiba mendidih. Audy menyerahkan hoodie putih milik Gilang dengan malas. "Nih!" Mata gadis itu mengarah ke arah lain. Tidak sudi menatap Gilang. Tangan Audy yang menyodorkan hoodie itu mulai terasa lelah karena Gilang tidak menerimanya. Cowok itu bergeming dengan kedua tangannya yang masih berada dalam saku celana. Menatap wajah Audy, lekat. Audy menggoyang-goyangkan tangan kanannya yang memegang pakaian cowok itu. Namun, sekali lagi, masih tidak ada reaksi juga. Akhirnya Audy menatap wajah seniornya dan berkata, "Ambil. Capek megangnya." Melihat tampang sewot Audy, Gilang terkekeh. "Gitu aja?" Audy mendelik. "Apa lagi?" "Gue udah nolongin lo," sahutnya. "Gue nggak minta," balasnya ketus. Gilang melengos. "Ini cewek emang-" "Apa?!" potong Audy menantang seniornya itu. Anjir, galak banget. Kalau binatang, sepertinya Audy pasti sudah menggigit. Menerima perlakuan gadis di hadapannya ini, Gilang terbahak sesaat. Luar biasa. Gadis ini benar-benar aneh dan berbeda. Audy mendengus lagi dan berkata, "Ambil nih!" Dengan susah payah Gilang menghentikan gelaknya. Tak pernah ia menyangka ada cewek yang berani menantangnya seperti ini. Bagaimana bisa? Seorang pentolan sekolah yang disegani karena prinsip anti bully dan keberaniannya dalam melawan budaya buruk itu. Seorang Gilang yang selalu berada di garis paling depan jika terjadi perkelahian antar sekolah. Saat ini, cowok itu tengah ditantang cewek bertubuh mungil, berwajah manis, berambut panjang dengan warna hitam-kecoklatan, dan cewek itu tengah menatapnya tajam-menyodorkan hoodie putih di tangannya. Gilang juga tidak pernah menyangka dirinya akan memberikan reaksi aneh seperti ini. Kotak tertawa selalu menggelitiknya ketika melihat cewek manis ini. Apalagi ketika melihat wajah dan cara bicaranya yang ketus.  Kening Audy makin berkerut. Apakah ada yang salah dengan wajahnya? Apakah ada yang aneh pada rambutnya? Apakah senior ini sedang menertawakan memar kecil yang sudah agak sembuh yang ada di jidatnya? Sial. Untuk apa ia berdiri seperti orang blo'on di depan senior aneh ini? Dengan kesal Audy melangkah, menghentakkan sepatunya, meninggalkan Gilang. Namun baru satu langkah saja, gerakan kaki kirinya terhenti ketika bahunya digenggam oleh cowok di depannya. Gilang segera menghentikan gelaknya dan mencegat si 'pinky' yang ingin menjauh meninggalkannya. "Mau ke mana?" Audy mendelik dan menepis genggaman tangan lebar Gilang dibahunya. "Lepasin!" Gilang terkekeh melihat reaksi Audy dan menyodorkan tangan kanannya, meminta pakaian yang sedari tadi dicengkram oleh cewek itu. Melihat tangan Gilang, Audy menyerahkan hoodie seniornya itu dengan malas. Tak dapat dipungkiri, ekspresi gadis mungil itu benar-benar menggemaskan. Kedua sudut bibir Gilang tidak henti-hentinya tertarik ke atas. Memamerkan deretan giginya yang putih dan sehat dengan dua gigi kelinci terdepan, membuat cowok itu terlihat semakin tampan. Mata Audy terbelalak ketika merasakan sesuatu mengelus rambutnya. Tangan senior itu.  Fokus pandangan mereka terkunci. Astaga. Demi pikachu dan serangan listriknya. Audy merasakan sesuatu yang asing saat mendapat perlakuan itu. Degup jantungnya terhenti. Napasnya tercekat. Tubuhnya membeku. Seluruh darah yang mengalir di pembuluhnya seakan-akan tertuju ke wajahnya, membuat semburat merah di pipi. Gilang menangkap moment ketika pipi gadis imut itu bersemu. Ia mengalihkan belaian tangannya ke pipi gadis itu. For the fart sakes, Audy makin tersentak. Dengan refleks ia segera mendorong tubuh senior gila itu dan berseru, "Apaan sih?!" kemudian menghentakkan kakinya, menjauh. Gilang terbahak lagi. Cewek itu benar-benar menggemaskan. Sialan. Senior k*****t itu baru saja mempermainkannya! Setelah beberapa langkah menjauh dari senior gendeng yang mengganggunya barusan, Audy tersadar, Carla sudah menghilang sejak tadi. Ia celingukan mencari temannya itu. Sial. Carla benar-benar tidak ada dan meninggalkannya. Mungkin cewek itu sudah dijemput. Audy hanya mengangkat bahunya dan bergumam, "Sebodo amat."   ☆☆☆   Audy mendengar bunyi ketukan pada pintu kamarnya. Tok. Tok. Tok! "Au." Itu adalah suara Andra. Audy menangkup kedua telapak tangan pada sisi kiri dan kanan kepalanya. Menutupi dua cuping telinganya, tidak ingin mendengar suara abangnya. "De, buka pintunya bentar." Bujuk Andra dari depan pintu kamar bertuliskan 'CUTIE AUDY'S ROOM'. Walaupun Audy sekuat tenaga menutup telinganya atau memperbesar angka volume speaker dari laptop kakaknya, tetap saja cewek itu mendengar ketukan pada pintu dan suara Andra. "Audy, buk-" Kalimat Andra terpotong ketika pintu kamar adik kesayangannya terbuka sedikit. Audy berdiri dicelah pintu dengan mata sembab, baru selesai menangis.  "De," gumam Andra. Ia menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. Canggung. Audy mendelik, namun tetap menunggu kalimat saudara kandungnya yang menggantung. "Oke deh, Kakak minta maaf. Kakak... salah. Maaf-" Kalimat Andra terpotong ketika adiknya yang mungil itu membuka pintu kamarnya dengan lebar dan menAuuak keluar untuk memeluknya. Audy menangis di d**a Andra seraya memukulkan kepalan tangannya. "Jahat! Jahat! Kakak jahat! Audy ditinggal berangkat sendirian sampe dihukum berdiri panas-panasan di lapangan bola gara-gara Kakak! Huuu, jahat!" Tangis Audy pecah dan terus memukul d**a Andra dengan lemah. Putra sulung kebanggaan  itu tak mampu menahan sumringah di wajahnya. Ia hanya diam dan mendengarkan keluh-kesal yang dituturkan oleh adiknya. Ia tahu, semua yang diledakkan oleh Audy. Ia mengetahui semuanya. Tentu saja. Andra melihat segala rentetan kejadian di lapangan bola dan gerbang sekolah dengan mata kepalanya sendiri. Namun entah mengapa, ia tidak ingin mengungkitnya sekarang. Andra memutuskan untuk menyimpan hal itu nanti. Di saat yang tepat. Karena semua yang terjadi hari ini sudah cukup membuat Audy sedih dan tertekan. Sekampret-sompretnya Andra, ia tidak ingin melihat adik perempuannya sedih. "Dimaafin nggak?" Audy menggeleng. "Gue traktir Baskin Robbins deh!" Audy bergumam, "Nggak lo, nggak Carla, kok pada pengen traktir gue Baskin Robbins sih?" "Carla?" tanya Andra dengan kening berkerut. Audy berdecak, "Temen gue." "Oh, yang rambutnya pendek lucu itu?" Audy mengangguk dan melepas pelukannya. Mendapat konfirmasi dari Audy, Andra berkata dengan alis terangkat dan senyum manis, "Minta nomer hapenya dong, De. Abang mau kenalan. Kali aja cocok dan nyantol. Kan enak. Hehehe." “Bodo!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN