"Astaga, Au, lo kenapa bisa telat gini sih?" tanya Carla dengan raut wajah sangat cemas saat Audy masuk ke kelas.
Audy dengan ekspresi super duper bete mengeluh, "Gue ditinggal abang, La. Punya abang kejam banget. Elah, nasib." Ia membongkar tas ransel lagi dan mengambil botol minuman infusnya.
"Kok bisa?" Carla mengibas-ngibaskan kipas tangannya kepada Audy, membantu gadis itu menghilangkan rasa pengap dan dahaga.
Audy menghempas bokongnya ke bangku dan bersandar dengan malas. "Gue kesiangan," sahut Audy. Ia mendongakkan kepalanya. Rasa panas akibat sinar matahari dan udara kering di lapangan bola tadi masih menempel di kulit.
Carla tersenyum kecut dan terus mengipasi Audy. Merasa iba. Tentu saja. Pasti Audy mendapat hukuman yang berat dari Guru Matematika yang sangar itu.
"Kok panas banget ya?" keluh Audy.
Carla tertawa. "Ya iyalah panas. Lo lepasin dulu gih itu hoodie. Ngapain juga pake hoodie abang lo begitu?"
Hoodie?
Audy mengerutkan keningnya.
Seketika Audy menundukkan kepalanya dan tersadar bahwa ada hoodie putih yang bergantung di leher dan menutupi dadanya. Tercium semilir aroma cologne maskulin di hidung kecilnya.
"Astaga!" Audy segera meremas hoodie itu dan melepaskannya, membuat rambut panjang hitam-kecokelatannya berantakan.
Carla mengernyitkan keningnya dan tertawa, "Kenapa lagi?"
Gadis bersurai hitam-kecoklatan itu segera melempar pakaian itu ke atas mejanya. Panik. Menyaksikan reaksi dari Audy membuat kening Carla makin berkerut.
"Astaga, La, ini punya dia!" Kata Audy dengan mata terbelalak.
"Kalo ngomong yang jelas, Au, dia siapa?"
Audy menatap Carla horor. Dramatis. "Senior yang bikin pala gue benjol," desis Audy. Ia menahan napas saat mengucapkan kalimat itu.
Mata membesar dan mulut terbuka lebar merupakan tanggapan yang diberikan oleh Carla. Gadis berambut pendek itu tidak sadar bahwa kipas bergambar karakter Elsa pada film Frozen telah terjatuh dari tangannya dan tergeletak di lantai.
Tidak jauh beda dengan Audy yang menatap teman sebangkunya itu dengan dramatis. Matanya ikut berkedip-kedip mengikuti Carla yang tergagap.
"K-kok bisa?"
Audy membuang karbon dioksida dari organ pernapasannya dengan kasar dan menjawab, "Tadi pas dihukum, dia nyamperin gue. Seragam gue basah, dia pakein ini biar d**a gue nggak keliatan."
Carla masih mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Audy. "Nyamperin?"
Audy mengangguk.
"Kok bisa?" tanya Carla lagi.
"Nggak tau. Gue ngembaliinnya gimana ya? Apa gue buang aja? Males ketemu dia lagi, sumpah."
Carla segera menngelengkan kepalanya dengan cepat. "Gila lo, Au, jangan! Balikin aja. Kalo nggak, bisa dicincang lo entar," sergahnya.
"Tapi-"
"Gimana kalo minta tolong abang lo aja?" tukas Carla tiba-tiba. "Abang lo kan anak kelas tiga juga?"
Wait, Andra? That was a bad, a very very bad idea.
Itu adalah ide gila. Tentu saja Audy segera menggeleng. Ia tidak ingin kakak laki-lakinya itu mengetahui hal ini. Jangankan itu, penyebab kepalanya membenjol pun Andra tidak peduli. Anak sulung yang kadang suka semena-mena itu memang terkesan sangat cuek.
Lihat saja apa yang ia lakukan pada adiknya, ia tidak mau membuang waktunya untuk membangunkan Audy yang kesiangan, membiarkan adiknya berangkat dan pulang sekolah sendirian, berpura-pura tidak mengenal Audy jika berada di kawasan SMA Pelita Bangsa, dan lain sebagainya. Jadi jika ingin memberitahu apalagi meminta tolong untuk mengembalikan pakaian Gilang itu, sebaiknya lupakan dan buang ide itu jauh-jauh.
"La."
"Ape?" Bibir kecil Carla membulat.
Audy mendengus, "Gila aja kalo gue minta tolong sama dia. Mana dia peduli?"
Carla memonyongkan bibirnya. Tersadar dan setuju. "Bener juga sih," katanya. Tiba-tiba merasa pupus.
Melihat reaksi temannya, Audy tersenyum pahit. "Kok jadi lo yang sedih?"
"Kasian aja sama nasib lo," sahut Carla seraya menepuk pundak Audy. Membuat Audy mencubit lengan temannya. Sebal.
☆☆☆
"Tugas dikumpulkan besok pagi pada Ketua Kelas. Johan, tolong resume yang sudah dikumpulkan ditaruh di meja saya paling lambat jam delapan tiga puluh besok."
Johan mengangguk dengan sopan, "Baik, Pak."
Speaker pun berbunyi nyaring. Mendendangkan melodi yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa SMA Pelita Bangsa.
"Berdiri. Beri salam."
Sang Guru pun keluar dari kelas, melangkah menjauhi berbagai keluhan murid senior yang keberatan oleh tugas yang diberikannya.
Andra menyikut lengan Johan dan berkata, "Jadi gimana?"
Belum sempat Johan menjawab, terdengar suara seorang cowok yang berjalan ke arah mereka. "Jadi, kan?" tanya cowok berambut hitam itu.
"Kayaknya gue nggak jadi deh, Lang," sahut Andra, "gue absen buat latihan hari ini. Barusan aja kita ada PR Matematika, sekarang resume Sejarah. Kita tunda besok aja."
Johan mengangguk setuju. "Lagian anak-anak kan ada yang udah lapor nggak bisa ikutan hari ini."
Mereka berdua menatap cowok berperawakan atletis itu, menunggu keputusannya. Gilang tepekur sejenak. Menimbang-nimbang. Matanya menatap Andra dan Johan bergantian.
"Lo kasih tau Mikael, biar dia yang cancel. Soalnya dia yang mesan lapangan." Ia menggaruk keningnya yang agak gatal dengan jari telunjuk kanannya.
Johan mengangguk. "Sip," sahutnya seraya mengacungkan jempol.
"Gue duluan," pamit Gilang seraya mengangkat tangan kanan dan membalikkan tubuhnya.
Sepeninggal Gilang, Johan menyenggol Andra yang menatap lekat kepergian cowok itu. "Lo kenapa ngeliatin dia kayak kucing mau nerkam tikus gitu?" tanya Johan penasaran atas sikap sahabatnya. "Ah! Soal tadi pagi?"
Mendengar pertanyaan sahabatnya, Andra segera menoleh. Ia terkekeh dan mengalihkan topik pembicaraan. "Lo jadi beli?"
Johan mendengus ketika mendapat pertanyaan itu. Ia mengerti. Andra tidak suka jika orang lain menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan adiknya. Terutama teman-teman yang selalu tertarik pada adiknya yang manis itu. Johan hafal sekali dengan sifat over-protictive Andra itu. Tentu saja. Johan sudah berteman dengan Andra sejak kelas satu, namun baru beberapa bulan ini Andra mulai mengundang dan mengajaknya untuk singgah ke rumah. Johan tahu, Andra sebenarnya adalah cowok yang sangat tertutup walapun ia ramah.
Berbeda dengan Johan yang merupakan anak tunggal dan tidak mempunyai saudara kandung. Ia tidak tahu bagaimana rasanya mempunyai adik perempuan yang manis. Jika saja ia berada di posisi sahabatnya itu, mungkin Johan akan melakukan hal yang sama.
Menurut Johan, dari sudut pandangnya terhadap Andra dan Audy, mempunyai saudara pasti sangat menyenangkan. Apalagi adik seperti Audy yang asyik banget kalau lagi diajak ngobrol dan bercanda. Terutama saat sedang dijahili. Ngegemesin banget!
"Jadi dong! Mumpung duitnya masih ada. Kalo ditunda, takutnya nanti kepake buat yang lain," sahut Johan. Ia menutup tas ransel dan menaruh salah satu strapnya ke bahu. Mereka pun beranjak dari bangku.
Andra berjalan keluar dari kelas lebih dulu. Dengan dua tangannya yang tersimpan di kantong celana dan ransel yang bergantung asal di salah satu bahunya. Wajah Andra memang terkesan ramah. Namun dibalik keramahannya itu, tersimpan kekejian seorang kakak laki-laki. Mungkin bagi kita istilah itu terlalu berlebihan, namun bagi Audy itu adalah kata yang tepat untuk abangnya.
Banyak murid perempuan dari kelas lain yang naksir pada Andra. Johan pun mengakuinya. Andra memang tampan dan berperawakan tinggi, merupakan tipekal cowok idaman bagi para cewek. Supel dan smart. Berbeda dengan Johan yang memang benar memilik tampang good-looking dan tak kalah tinggi dari Andra, namun ada salah satu kekurangan Johan. Cool dan berwibawa. Tampangnya sangat sesuai untuk menjadi Ketua Kelas. Kekurangan dalam berkomunikasi, terutama komunikasi bersama manusia berjenis kelamin perempuan. Komunikasi secara romantis.
Johan terkekeh saat melihat salah satu cewek menghampiri Andra dengan sekaleng soda dingin. Seperti biasa, temannya itu memang terkenal sebagai salah satu jejeran cowok famous SMA Pelita Bangsa. Walaupun peringkat ketenaran Andra tidak melebihi dari Gilang. Jelas saja, jangan lupa bahwa Gilang Melviano adalah alpha dari sekolah tenar ini.
Tiba-tiba langkah Johan terhenti ketika ia bertubrukan dengan punggung sahabatnya. Andra berdiri mematung di depannya.
"Woy, kenapa stop?" tanya Johan dengan dahi berkerut.
Andra tidak menjawab. Mata cowok itu tertuju pada satu titik. Satu titik di mana terproyeksi pada sepasang manusia, cowok dan cewek, yang terlihat sangat mesra. Johan mengikuti ke mana pandangan mata Andra tertuju. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari apa yang disaksikan oleh ia dan sahabatnya.
Si cewek menyerahkan sebuah pakaian berwarna putih cerah yang terlipat rapi kepada seorang cowok. Si cowok menerimanya dan mengusap-usap kepala si cewek dengan senyum di wajahnya.
Dua insan itu adalah Gilang dan Audy.
Apa yang sebenarnya mereka lakukan?