Hei Ndra.. "ucap wanita yang sangat cantik menurutku, begitu fashionable dan harum sekali. Seketika itu aku langsung mundur dan tak ingin mendengar obrolan mereka
Hem.. "jawab Kak Andra
Lo sama Rey dan Brian ya kesininya? "Tanya nya lagi
Hem.. "jawab Kak Andra yang tak bergeming dan tetap fokus dengan ponselnya
Hallo kenalin gue Stefani, calon pacarnya Andra. Lo siapa? "Ucap wanita itu kepadaku
Hmm, gue Dian kak. Adiknya kak Rey. "Ucapku singkat
Oh adeknya Rey. Panggil gue kak Fani ya. Gue kira bakalan jadi saingan. Gataunya masih bocah yah haha "jawabnya enteng
Tapi gak menutup kemungkinan kalau bocah ini bakalan jadi milik gue kan.. "ucap kak Andra yang seketika itu membuat situasi diantara kami menegang
Heiii, ada lo Fan. Dari kapan? Feby mana? "Tanya kak Brian yang tak tahu obrolan kami tadi
Dia masih diparkiran sama Febry, tadi nyokap nya nelfon dulu. Jadi gue tinggal aja, abis gak sabar sih mau ketemu sama Mas Andra hehe.. "ucap Kak Fani dengan lirikan tajamnya ke arahku
Kenapa tuh cewek, sinis banget sih ngeliat gue! Jelas-jelas kak Andra yang ngomong kenapa jadi gue yang dilirik gitu.. "batinku
Datanglah kak Rey dan sedikit berbicara dengan kak Fani. Entahlah, aku tidak ingin mendengar nya karena aku sedikit menjaga jarak dengan mereka dan selang beberapa saat kak Feby pacarnya kak Brian datang bersama Mas Febry kembarannya dan kebetulan satu kantor dengan kak Rey
Tak lama, terdengar suara intro dari lagu yang sering sekali aku dengar. Siapa lagi kalau bukan PAS Band. Kami pun mulai berlari menuju panggung untuk melihat penampilan mereka. Setelah sampai kami berdesakan menuju depan panggung. Kak Rey begitu erat memegang tanganku, jujur aku takut sih karena tak pernah berdesakan seperti ini sebelumnya apalagi banyak sekali Passer di sini.
Setelah sampai, aku mulai mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan. Walaupun tak pernah ku mencoba menghafal tapi entah mengapa sudah ada diluar kepala jika masalah lirik lagu-lagu darinya.
Baru saja dua lagu di mainkan, ada salah satu perempuan yang jatuh pingsan karena berdesakan. Tentunya ka Rey melihat kejadian itu dan ada kebimbangan diwajahnya. Pasti dia memikirkan aku, takut seperti orang itu. Pada waktu yang tepat kak Andra menghampiri kami
Biar Dian sama gue aja dibelakang ya, kasian dia.. "ucap kak Andra
Oke bro, thanks ya. Kamu sama Andra dulu ya dek, bentar lagi kakak nyusul kesana.. "ucap kak Rey dan aku hanya mengangguk saja
Kak Andra pun mulai merangkul pundakku agar menjauhi kerumunan yang tentunya tak ada ruang yang kulihat. Penuh sekali penontonnya, kami terus berjalan dan banyak sekali yang mendorong-dorong kami membuat jarak diantara kami begitu dekat. Belum sampai jauh dari para penonton, ada siraman air yang membuatku sedikit basah namun kak Andra segera memelukku agar terhindar dari siraman itu.
Seketika itu kami pun terdiam, aku begitu menikmati pelukkan kak Andra walau jantungku berdetak begitu kencang tapi aku mulai nyaman dan terasa aman. Tanpa ku sangka , kak Andra melepaskan satu tangan dari pelukannya dan mengangkat daguku. Kami pun saling menatap dan beberapa saat kemudian dia mulai mencium bibirku. Aku sempat menolak, namun tangan kak Andra memegang tanganku seolah meyakinkanku. Dan akhirnya kami pun mulai berciuman. Entahlah, aku hanya diam tapi yang kurasa dia sedikit mencecap bibirku.
Setelah selesai dia segera memandangku, kemudian memeluk tubuhku dengan eratnya.
Tunggu aku ya, aku pasti akan kembali untuk menemuimu.. "ucapnya
Aku yang tak mengerti hanya menganggukkan kepala. Dan kak Andra membalikkan tubuh kami menuju panggung dan mulai mengikuti lirik lagunya tanpa melepaskan rangkulannya
Hari hari sendiri kulalui
Lewati angan yang lelah berliku
Kutapaki karang yang membisu
Laut dan hutan mengiringi langkahku
Gelisah terus menghantui aku
Tak bisa menghapuskan rasa rindu
Keras hati tak pernah luluhkan
Kehampaanku tanpa kehadiranmu
Gelisah terus menghantui aku
Tak bisa menghapuskan rasa rindu
Cahayamu terangi diriku
Kudamba kau menuntun ku pulang
Cahayamu terangi diriku
Kudamba kau menuntun ku pulang
Kuinginkan semua tak jadi semu
Sisa hidupku terisi cahayamu
Cahayamu terangi diriku
Kudamba kau menuntun ku pulang
Cahayamu terangi diriku
Kudamba kau menuntun ku pulang
Sesekali aku mencuri pandang ke Ka Andra dan sepertinya ia pun melakukan hal yang sama karena pandangan kami suka bertemu saat itu. Namun suatu hal terjadi. Ponsel Andra berdering menuliskan kata "Mama" dan dengan segera ia mengangkatnya. Raut wajahnya sungguh tidak berteman dan entah kenapa ia kembali memelukku dengan erat lebih erat dari yang tadi.
Gue mau beli sesuatu dulu bentar, lo bisa tunggu disini dulu? Gue udah telepon Rey buat temenin lo disini. Plis tunggu gue, jangan kemana-mana ya.. "ucap Andra dan hanya dibalas anggukan olehku
Kak Andra mau kemana? ”tanyaku yang sedikit penasaran
Cuma sebentar. Tuh udah ada Rey. Gue pergi dulu ya.. bye love.. "jawab Andra sambil melambaikan tangan ke kak Rey yang memang sudah berada 3 meter dihadapanku
Mau kemana dia? " tanya kak Rey yang sudah berada disampingku
Entahlah, dia bilang cuma sebentar "jawabku masih dengan penasaranku
Oh, kebelet kali ya.. "jawab Kak Rey
Maybe.. "ucapku
Hingga lagu terakhir diputar, Andra pun tak pernah kembali hingga akhirnya kak Rey memutuskan untuk mengajakku pulang karena sudah menunjukkan pukul 10 malam. Jujur saja, aku ingin menunggunya lebih lama lagi. Tapi orang tuaku pasti tidak mengizinkanku untuk pulang lebih larut lagi. Apalagi mama sudah menelponku sebanyak 6 kali. Aku tak bisa membayangkan jika lebih malam lagi.
Satu, dua dan tiga hari selepas aku pergi ke Pekan Raya Jakarta. Sosok kak Andra tak pernah lagi muncul dihadapanku dan yang lebih mengagetkan lagi. Aku dapat kabar bahwa dia sudah pindah rumah seminggu yang lalu. Yang artinya saat kita pergi, kak Andra sudah pindah dari rumahnya. Tak ada satupun teman yang tahu kemana pindahnya kak Andra termasuk kak Rey dan kak Brian. Hanya saja, kabar yang ku dengan dari tetangga rumahnya. Ayah dan Ibu kak Andra resmi bercerai 2 minggu lalu hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah ini.
kak Rey dan kak Brian pun hendak mencari ke kantor tempatnya berkerja namun tak mendapatkan kabar apapun dari kak Andra. Dia telah mengundurkan diri seminggu yang lalu. Namun mengapa kak Andra memesan kepadaku untuk menunggunya?
Tak dapat dipungkuri bahwa aku merindukannya, merindukan pelukannya. Entah kenangan itu sungguh manis di dalam hatiku. Walau nyatanya aku masih dalam masa pubertasku namun aku yakin bahwa aku begitu menyukainya.
Apa kita akan bertemu lagi suatu saat nanti? "ujarku di dalam hati