#Dian POV#
Sungguh ini merupakan hari yang buruk!!! Bagaimana tidak?? Rasanya hati ini begitu hancur berkeping-keping mendengar kabar bahwa Andra memberiku sebuah kalung berliontin dua angsa yang merupakan satu-satunya gambar dan karakter kesukaanku. Padahal aku sudah merelakannya dan biarlah dia menjadi sebuah kenangan!! Namun kenapa harus datang lagi ketika aku sudah mulai membuka hati untuk seseorang??? Walau aku belum tahu itu siapa, tapi ini sungguh tidak adil!!!!!!
Hari ini aku sedang menginap di rumah kak Rey, karena ia sedang di luar kota bersama kak Brian. Kak Rey memintaku untuk menemani sang istri serta calon bayi nya dengan berdalih bahwa aku boleh membawa molly ( motor sport kesayanganku namun bukan milikku huhu ). Tentu saja dengan senang hati aku pasti menerima tawarannya. Selain karena molly, aku senang menginap disini karena kak Mila itu sangat pintar memasak dengan menu-menu western kesukaanku.
Namun hati ini terasa hancur bagai disambar petir mendengar bahwa Andra laki-laki yang sudah membuatku gagal move on beberapa tahun ini, memberiku sebuah kalung cantik di dalam sebuah hadiah pernikahan untuk kak Rey dan kak Brian. Sempat tak percaya, namun sungguh dengan jelas aku mendengar semua perkataan kak Mila dan kak Feby sesudah aku membuka sedikit pintu kamar mandi. Namun dengan sengaja aku tahan untuk tidak keluar karena banyak hal yang ingin aku dengar.
Air mata ini tak meminta izin dahulu kepadaku, dengan sengaja ia menetes begitu saja. Padahal hati dan fikiran ini menolak tapi apalah daya, mataku tak bisa berbohong. Aku merindukan Andra! Ya, aku sungguh merindukannya. Sungguh aku tak habis pikir, apakah ia dengan sengaja untuk meninggalkanku? Selalu banyak pertanyaan tentangnya di dalam benakku. Ah, aku sungguh membencinya.
Karena melihat waktu di jam tangan yang tak memungkinkan lagi aku untuk berdiam diri disini. Aku mulai menghapus air mata dan mencuci muka, semoga saja kak Feby dan kak Mila tak curiga melihatku seperti habis menangis. Dan benar saja, ketika aku keluar dari kamar mandi. Percakapan mereka pun terhenti, seakan tak ingin aku mendengarnya. Aku yang tak tahan pun mulai izin pamit untuk ke sekolah.
Kak Mil, kak Feby, gue berangkat dulu ya.. "ucapku dengan menggapai tangan kanan keduanya untuk mencium tangan tanda menghormati
Tumben lo, mau salim sama gue.. "ujar Feby
Ah lo mah, gue udah niat baik salah. Jahat juga lebih salah haha. Dah ahh, udah telat banget. Gue jalan dulu ya. Assalamualaikum.. "ucapku lagi
Masih jam 5 lewat dek, sholat dulu terus sarapan habis itu. Kakak udah buat nasi goreng lhoo.. "jawab Mila
Yah takut telat kak, sholatnya besok aja di qodho.. "ucapku asal dan langsung pergi dari tempat itu
Aku tak mau air mata ini jatuh lagi dan terlihat oleh mereka. Lebih baik aku langsung pergi dari sana. Sungguh suasana hatiku saat ini benar-benar buruk dan hari ini pun ujian praktek yang sama sekali tidak aku suka. Yaitu menggambar dan menggambar apalagi kalau memadukan warna sungguh aku membencinya. Aah aku ingin sekali terbang keluar angkasa agar bisa bebas dari semua kewajiban ini.
Perjalanan pagi ini sungguh sangat lancar, pas sekali dengan hatiku yang sedang gelisah maka aku dengan mudahnya jalan dengan molly sehingga hanya lima belas menit waktu yang ku tempuh untuk ke sekolah. Biasanya bisa memakan waktu lima puluh sampai 60 menit jika dari rumah kak Rey. Tapi tidak untuk hari ini, Tuhan sungguh masih memihak kepadaku. Sesampai disekolah aku segera pergi ke musholla untuk melaksanakan sholat subuh yang sempat tertunda tadi dan untuk menenangkan hati ini yang masih gelisah. Biar lah, semua akan ku serahkan kepadanya. Dan tak lama aku langsung pergi ke kantin untuk mengisi perutku yang sebenarnya sangat lapar ini.
Tumben yang gini hari udah nyampe sekolah .. "ucap Zafran menghampiriku
Ah lo lagi lo lagi, bosen gue lihat lo terus.. "ucapku acuh sambil memakan mie goreng yang kupesan.
Biarin kek, biar terbiasa nanti kalau kita udah berumah tangga.. "jawab Zafran
Hahaha iya gapapa kalau lo jadi pembokat gue.. "ucapku asal
Emang lo bener-bener gak mau buka hati buat gue yang? Apa sih kurangnya gue yang? Ganteng? Iya. Tinggi? Iya. Kaya? Iya. Pinter? Selalu masuk sepuluh besar. Ketua osis? Bukan. Tapi kan gue ketua futsal. Lo pasti seneng deh jadi pacar gue.. "ucap Zafran sambil menatapku serius
Aku pun berhenti sejenak dalam aktifitas sarapanku kali ini. Ya, memang benar Muhammad Zafran Arlanda adalah sosok yang sempurna bahkan semua siswa pun selalu memujanya dan mengantri agar menjadi pasangannya. Namun Zafran hanya memilihku, dia rela menungguku sehingga sampai detik ini pun ia masih dalam status Single. Sungguh aku tak ingin menyakiti hatinya, hati ini masih milik Andra.
Sorry fran, gue gak bisa. Bukannya cinta sepihak itu sangat menyakitkan? Lebih baik lo cari orang yang benar-benar tulus dan sayang sama lo. Jangan kayak gue huhu.. "jawabku serius
Cinta itu bisa berjalan diayang. Kenapa gak kita coba dulu siiih?.. "tanya Zafran lagi
Ah nama gue itu Dian Martha Sofyan kalee. Bukan Diayang. Gue gak mau lo sakit hati nantinya fran, karena gue masih bertahan di satu nama yang entah sampai kapan nama itu akan hilang.. "ucapku
Hahaha ya namanya juga panggilan kesayangan, ya seenggaknya gue selalu berusaha jadi yang terbaik buat lo. JANDA pun gak masalah untuk suatu saat nanti.. "ucap Zafran lagi
Heh.. wahh gilaak!!! Masih pagi wooy, udah gombalin anak gadis orang aja lo fran.. "ucap Tania
Ngiri aja lo.. "ucap Zafran langsung pergi meninggalkan tempat
Woiii, gue baru dateng kaliiiiiiii. Gak sopan banget sih, langsung ditinggal gitu aja .. "ucap Tania dan dihiraukan begitu saja oleh Zafran
Yuk cabut, bentar lagi bel.. "ucapku langsung meninggalkan kantin tersebut
Ah gila ya pasangan ini, serasi banget sumpah tapi kenapa gak jadian aja sih.. "gerutu Tania yang masih terdengar olehku
Setelah sampai dikelas tak lama bel berbunyi dan waktunya ujian dimulai setelah berdoa terlebih dahulu.
Ayoo Dian!!! Lo pasti bisa, ini hari terakhir ujian!!! Cayoooo!!! "batinku
Ah buntu sekali pikiran gue saat ini. Bisa-bisanya karena dia, jadi lupa searching gimana salah satu batik nusantara. Sial!!!!.. "batinku lagi
Dian!!! Apa kamu sudah selesai?.. "tanya Bu Maya
Ohm belum buuk.. "jawabku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal
Lantas mengapa kamu hanya berdiam diri? Ayo kerjakan!! "ucap Bu Maya
Ba..Baik buu.. "ucapku terbata
Dasar Andra Sial*n!!!! "batinku
Ah bodo deh gue gambar dua angsa aja , karena cuma itu yang gue bisa. Baguslah dulu Andra mau ngajarin gue bikin angsa haha.. "batinku dan aku mulai menggambar
Kali ini aku menggambar dua angsa , sengaja tak ku beri warna karna memang pada dasarnya angsa berwarna putih. Lalu ku beri sedikit aksen beberapa daun dan bunga, dengan warna dasar merah muda. Entahlah aku pun hanya asal membuatnya. Setelah selesai aku segera keluar ruangan.
Ah pasti nilai gue paling rendah deh. Mana ada batik gambar angsa. Ah bodo amat deh, ah bete gue, ah dasar Andra!!! yang udah ngerusak mood gue pagi ini.. "gerutuku
Uhuk.. uhukk.. Jadi Andra yaa saingan gue. Yang mana sih orangnya? Jadi pengen kenalan dan lihat betapa hebatnya dia.. "ucap Zafran yang kini berada di sampingku
Astaga!! Lo Zafran apa set*n sih? Ngagetin aja!!! "tanyaku
Iyaa, aku setan yang bakalan gentayangin hati kamuuuu.. "ucap Zafran
Ih sereeem, gue balik dulu. Kayaknya gue gaenak body.. "jawabku yang memang merasa perlu istirahat
Get well soon baby.. "ucap Zafran sedikit berbisik di telingaku
*******
Sampai rumah kak Rey aku pun langsung berbaring, entah kemana kedua bumil tersebut pergi dan pada akhirnya ada sebuah ide gila yang baru saja terpikirkan olehku saat ini. Aku harus mencari tahu dan melihat dimana toko butik itu berada. Ya, baju couple yang Andra berikan kepada kak Rey dan kak Brian. Aku dengar dari kak Feby kemarin toko itu berada di kota Bandung. Tak jauh jika dari Jakarta.
Aku akan mencarinya sendiri!!!!!.. "batinku
Dan setelah aku mencarinya dan aku menemukan nama butik tersebut. Yaitu "Mayandra Boutique". Aku yakin butik ini merupakan butiknya atau butik keluarganya mengingat ada nama Andra disana. Setelah itu aku mencari nama butik itu lewat Peta di Ponselku. Dan Ya, aku menemukannya.
Aku bergegas pergi, nekat membawa beberapa uang yang ku punya. Walau tak banyak namun aku yakin bisa hidup disana selama 1 minggu. Cukuplah waktu untuk mencarinya di Kota itu. Semoga saja tak ada kata sia-sia dan semua memihak padaku.