Saat ini Abela sedang berada di ruangan Frans. Ia menatap Frans dengan malas.
"Pak Frans ngapain manggil saya? Ahh saya tau! Pak Frans pasti kangen sama saya kan? Padahal baru tadi loh kita ketemu." Ucap Abela dengan ekspresi senang yang kelewat dibuat-buat.
"Jangan harap kamu. Apa kamu selalu begini sama semua guru disini?"
"Engga selalu sih Pak, paling seminggu 4 kali." Cengir Abela. Frans melongo mendengar ucapan Abela, seminggu mereka sekolah selama 5 hari, jadi dalam satu minggu hanya sehari dia tidak mengerjai guru? Bukankah muridnya sangat menakjubkan?
"Jadi hanya sehari kamu tidak mengerjai guru?"
"Bisa dibilang begitu. Ini masih mending Pak, waktu SMP malah saya setiap hari ngerjain guru." Jelas Abela polos.
"Astagaaa." Frans memijit pelipisnya frustasi.
"Saya tidak mau kejadian ini terulang lagi. Saya harap ini yang pertama dan terakhir bagi saya." Tegas Frans.
"Ok bisa diatur, tapi saya tidak janji ya Pak Frans yang tampan." Abela mengeluarkan seringaiannya.
"Kamu harus menuruti perintah saya. Atau saya akan membuatmu tidak tenang." Ancam Frans.
"Anda mengancam saya?" Abela bergerak maju menghampiri Frans lalu menarik ujung kerah kemeja Frans hingga Frans berdiri dari duduknya.
"Terserah anda mau mengancam apapun ke saya. Saya tidak perduli, saya yang akan membuat hidup anda tidak tenang saat mengajar disini. Apalagi mengajar si kelas saya." Abela sedikit berjinjit menyamakan tingginya dengan Frans karena memang Frans yang tingginya jauh diatas Abela yang bertubuh mungil. Abela mendekatkan wajahnya pada wajah Frans lalu menepuk pipi Frans pelan.
"Kalo gitu, akan saya buat kamu suka sama pelajaran fisika." Frans mengeluarkan seringaiannya.
"Oh ya? Sepertinya anda harus menelan pil pahit karena itu tidak akan terjadi dan saya sangat membenci pelajaran edan bin laknat itu."
"Jika seperti itu, bagaimana jika saya membuat kamu suka pada saya?" Frans memeluk dan menarik pinggang Abela hingga tubuh mereka menempel.
Deg
Abela terkejut tapi buru-buru ia menetralkan lagi.
Ini terlalu dekat.
'Ini guru mau main-main sama gue. Ok gue ikutin permainan lo.' Batin Abela.
"Tidak akan saya biarkan hal itu terjadi. Jika dilihat dari wajah, saya akui anda memang tampan. Tapi sayang sekali anda mengajar di pelajaran yang amat sangat saya benci." Abela mengalungkan tangan kirinya di leher Frans. Sedangkan jari-jari tangan kanannya bermain mamutari kancing kemeja Frans.
"Oleh karna itu saya akan membuat kamu menyukai saya sekaligus pelajaran yang menurut kamu edan bin laknat itu." Bisik Frans di telinga Abela.
"Selamat berjuang Pak Frans yang tampan, tapi sepertinya anda harus bekerja keras untuk ini."
"Kita liat aja nanti." Frans menempelkan keningnya dengan kening Abela.
"Terserah anda saja. Dan bisa anda menjauh dari saya? Saya tidak ingin kena amuk anda karna anda sedang PMS." Abela menyeringai lalu menjauhkan tubuhnya dari Frans karena sedari tadi jantungnya berdetak sangat cepat.
Abela ingin keluar dari ruangan tapi lengannya ditahan oleh Frans.
"Ingat ucapan saya tadi Nona Vataro." Frans menarik dagu Abela lalu mengecup pipinya. Abela melongo.
"Dasar cari kesempitan dalam kesempatan huwaaaaa bundaaaa pipi cantik Ela dicium guru sableng ini huwaaaa." Abela menginjak kaki Frans lalu berlari keluar dari ruangan Frans.
'Tunggu tanggal mainnya Leonna Abela Vataro, saya akan buat kamu suka sama saya. Jangan panggil gue Frans kalo gue gak bisa naklukin bocah ingusan kaya dia.' Batin Frans.
~~~
Kriinnggg kriinnggg kriinnggg
Bel pulang yang telah ditunggu semua murid berbunyi. Murid-murid berbondong-bondong keluar kelas. Begitu juga dengan Abela dan teman-temannya, mereka keluar kelas sambil tertawa bersama dan banyak pula yang menyapa mereka yang dibalas oleh mereka semua.
Abela berpisah dengan ketiga temannya lalu berjalan menuju parkiran motor. Ia menunggu Abelano disana. Tak lama Abelano muncul.
"Udah lama?" Tanya Abelano sambil mengelus rambut Abela.
"Belom, udah yuk pulang gue mau main skate."
"Iya iya." Abelano menaiki motornya lalu menstater motornya.
"Naik." Abelano mengulurkan tangannya untuk membantu Abela naik karena motornya cukup tinggi. Abela langsung menerima uluran tangan Abelano dan naik ke motor Abelano lalu memeluk pingganya.
Abelano menjalankan motornya. Motornya berpaspasan dengan Frans yang sedang berjalan menuju parkiran mobil. Frans melihat ke arah Abela, tatapan mereka bertemu. Abela melirik Frans sinis.
~~~
"HOLLAAAA ELA YANG CANTIK NAN IMUT BIN KIYUT BALIK LAGI KE RUMAAHHH." Teriak Abela saat ia sudah membuka pintu mansion keluarga Vataro. Sedangkan Abelano mengekor di belakang Abela sambil menutup kedua telinganya.
"Berisik dear." Leonny menghampiri kedua anaknya. Abela mengeluarkan cengirnnya.
"Bunda kaya gak tau kelakuan anak bunda aja." Cibir Abelano.
Pletak
"Ish bawel." Abela menjitak Abelano.
Pletak
"Jangan songong, gini-gini gue kakak lo." Abelano balas menjitak Abela.
"Beda beberapa menit doang." Cibir Abela.
"Beberapa menit juga tetep aja gue kakak lo." Ucap Abelano.
Pletak pletak
Leonny yang jengah melihat kedua anaknya sedari tadi adu mulut langsung menjitak mereka.
"Ish sakit bunda." Dengus Abela dan Abelano.
"Makanya jangan berantem terus. Udah sana masuk, ganti baju terus makan. Bunda mau lanjut nonton TV dulu. Kalian ganggu aja." Titah Leonny yang tidak ingin dibantah lalu segera masuk ke dalam.
"Abang." Abela mengeluarkan puppy eyes miliknya.
"Apa?" Abelano tau jika Abela sudah memanggilnya dengan sebutan 'abang' pasti ada maunya. Ditambah lagi dengan puppy eyes yang paling tidak bisa membuat Abelano menolak permintaan adiknya.
"Gendong." Ucap Abela manja.
Abelano menghela nafasnya lalu membungkukkan badannya. Abela dengan senang hati naik ke punggung Abelano. Abelano berdiri secara hati-hati takut Abela jatuh. Abela memeluk leher Abelano lalu menyenderkan kepalanya di bahu Abelano. Abelano tersenyum lembut, ia sangat menyayangi adiknya.
~~~
Abela sudah siap dengan pakaian santai dengan skateboard yang ia tenteng.
"Bunda, Ela keluar ya mau main skateboard."
"Yaudah dear, jangan kesorean ya pulangnya."
"Siap bunda." Abela mencium pipi Leonny lalu langsung pergi ke komplek yang ada arena skateboard.
Ia bermain dengan semangat. Banyak juga yang memperhatikannya.
'Gila itu Bela keren banget maennya.'
'Dia udah punya cowo belom ya?'
'Mau dong jadi pacarnya.'
'Eh tapi kayaknya susah naklukin dia soalnya temen gue yang lumayan cakep aja dia tolak.'
'Cantik sih tapi sayang dia troublemaker.'
'Jarang cewe bisa maen skateboard kaya dia.'
'Gak tahan gue liatnya. Dia cantik banget.'
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan tentang dirinya tapi dihiraukan oleh Abela.
Tidak terasa sudah 2 jam Abela bermain skateboard. Ia sudah lelah dan berniat untuk pulang. Saat ia sedang menaiki skateboardnya, ada yang menarik lengannya hingga ia loncat dari skateboardnya dan hampir jatuh jika tangan itu tidak menahannya. Sedangkan skateboardnya sudah terpental sejauh 3 meter darinya.
"Hi sayang."
"Are you crazy?!"