Satu

1639 Kata
"AARRGGHHHH KENAPA HARUS ADA GURU PELAJARAN EDAN BIN LAKNAT LAGI SIH?" Teriak Abela di kantin hingga seluruh pasang mata melihatnya aneh. Tapi tetap saja ia tidak menghiraukannya. Ayolah, Abela buka tipe yang memikirkan perkataan orang lain. Pluk "Awww." Ringis Abela karena keningnya ditimpuk menggunakan sendok oleh Yova. "Ish sakit coeg." Ringis Abela sambil mengelus keningnya yang sedikit merah. "Makanya lo jangan bikin malu pake teriak segala lagi di kantin. Gue tau kalo lo itu malu-maluin, tapi seenggaknya lo gitu aja kalo lagi sendiri aja sih jangan pas lagi ada gue," dengus Friska yang saat ini ingin sekali menelan Abela, tapi diurungkannya karena ia tidak bisa melakukannya tentu saja. "Tau tuh pada liatin kita ini adoh muka gue yang cantik nan imut bin kiyut ini mau ditaro dimana coba ini hiks nanti suami masa depan gue si Lano gak mau sama gue lagi hiks pokoknya kalo sampe itu kejadian lo harus tanggung jawab." Tambah Nadine mendramatisir. Abela, Yova, dan Friska memutar bola mata mereka malas. Nadine itu adalah salah satu teman Abela yang kadar kewarasannya paling minim diantara mereka semua. Dan Nadine itu menyukai Abelano, saudara kembar Abela. Tapi sayangnya Abelano tidak pernah melirik Nadine sekalipun, padahal Nadine itu termasuk salah satu most wanted girl disana. "Ah berisik deh gue lagi mikir nih caranya ngerjain itu guru. Mana dia masih ada 2 jam lagi ih sebel deh Istrinya Steve Roger tuh." Dengus Abela frustasi sambil memikirkan rencana apa kali ini akan ia gunakan untuk mengerjai guru barunya itu. "Siram air got?" Usul Friska. "Bakar bukunya?" Tambah Yova. "Jangan bukunya, tanggung dia pasti bisa ngajar tanpa bukunya. Mending bakar sekolahnya aja sekalian!" Celetuk Nadine menggebu-gebu dengan bangga karena menurutnya usulnya itu adalah yang paling baik. "Hmm bener banget fix! AYO KITA BAKAR INI SEKOLAAN!" Teriak Abela yang membuat keadaan kantin seketika menjadi hening. "Anjirrr Stupid Ella." Yova menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya menahan malu. "Bloon banget ini anak." Friska mengacak rambutnya frustasi. "GUE GAK KENAL GUE GAK KENAL!" Teriak Nadine. Sedangkan Abela hanya memasang wajah polosnya. Seluruh penjuru kantin tertawa melihat keempat gadis itu. Mereka sudah biasa melihat keempat gadis itu berperilaku aneh, bahkan gila sekalipun. Tapi bukannya mereka dibenci oleh siswa disana, malah itu adalah sebagai daya tarik mereka. "AHAAAA GUE ADA EDI, EH IDE MAKSUDNYA!" Teriak Abela lagi dan kembali mengejutkan seluruh penjuru kantin. Sepertinya kantin itu hanya berisi teriakan milik Abela. Dan apa suaranya tidak serak karena terus-terusan teriak seperti itu? Atau sepertinya Abela punya cadangan pita suara lagi jadi ia tenang-tenang saja walau terlalu sering berteriak. "STUPID ELLA!!" Teriak ketiga sahabat Abela frustasi melihat kelakuan Abela seperti itu. ~~~ Saat ini keempat troublemaker itu sedang bercanda di kelas. Jam istirahat sudah habis tapi guru fisika mereka yang baru, Pak Frans belum masuk ke kelas. Semua murid disana tentu senang jika mengulur pelajaran itu, bahkan lebih sennag lagi jika guru itu tidak usah memasuki ruangan kelas. "La, lo bikin rencana apa buat itu guru baru?" Tanya Nadine sambil mengunyah permen karet. "Iya La, gue jadi penasaran. Biasanya otak lo tuh pali encer kalo masalah kaya gini" Tambah Yova. "Gue juga penasaran." Tambah Friska yang juga penasaran. "Ada deh, nanti lo pada liat aja apa yang bakal gue lakuin ke guru pelajaran edan bin laknat itu. Lagian siapa suruh dia mau ngajar di kelas ini, jadi kena kan sama gue." Abela mengeluarkan seringaiannya. Ketiga temannya juga melakukan hal yang sama. "Maaf saya sedikit terlambat, tadi ada sedikit urusan mendadak yang tidak bisa ditunda." Ucap Frans yang baru saja masuk di kelas 12 MIA2, kelas Abela yang dipenuhi murid yang pandai tapi hampir semuanya badung. "Iya Pak Frans yang ganteng doh makin cintah deh." Ucap Tiara, salah satu siswi yang biasa genit dengan guru yang tampan, tentu saja Frans termasuk dalam golongan tersebut.hee aku juga suka kek gitu wkwk "Huuuuu." Seluruh murid di kelas itu menyorakinya. "Sudah sudah sekarang kita mulai pembelajarannya. Buka halaman 47 dan pahami. Nanti akan saya jelaskan setelah kalian baca materi tersebut." Frans langsung duduk di kursi guru sambil membuka data-data siswa di kelas itu. Sepuluh menit kemudian, seluruh murid di kelas itu selesai membaca materi yang akan mereka pelajari, kecuali Abela dkk pastinya, mereka malah bercanda dan mengobrol. Frans yang baru masuk ke kelas itu sontak saja kesal mendapati meridnya seperti itu. Swiinngg Bletak Tiba-tiba sepidol melayang ke arah mereka. Dan pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah guru pelajaran yang menurut Abela itu edan bin laknat yang bernama fisika. Keempat gadis itu menghindari sepidol itu dengan mudahnya karena mereka sudah terbiasa dilempar sepidol oleh beberapa, ahh ralat maksudnya semua guru. Sungguh prestasi yang sangat baik, bukan? "Kenapa kalian bercanda disaat pelajaran saya? Apa kalian sudah cukup pandai? Abela, saya lihat kamu yang paling semangat tadi mengobrol dan bercandanya, coba kerjakan soal essay yang ada di halaman 49 nomor 3!" Suara Frans sedikit meninggi. Abela dan ketiga temannya saling menatap dan mengeluarkan seringaian mereka. Lalu Abela maju ke depan kelas dan berdiri di depan Frans sambil menatapnya berani. "Ah Bapak gak bisa ngerjain soal ini ya makanya nyuruh saya buat ngerjain soalnya. Nih ya Pak, kalo gak bisa soal kaya gini doang ngapain jadi guru disini? Gak guna banget." Ucap Abela sinis. "Berani ya kamu sama saya!" "Hmm kenapa saya harus tahu pada anda? Beri 1 alasan kenapa saya harus takut pada anda. Apakah anda pemakan beling? Paku? Or something like that? Tidak bukan? Jadi kenapa saya harus takut pada anda." Abela memutari tubuh Frans, lalu saat ia sedang berada di belakang Frans, ia menyiram cairan tinta berwarna merah ke celana bahan milik Frans lalu sengaja menjatuhkan beberapa tetes di lantai. Setelah selesai dengan aksinya, ia segera memasukkan cairan tinta warna merah itu ke dalam saku almamaternya, setelah cairan itu ditutup tentunya. Abela tersenyum penuh kemenangan saat Frans tidak menyadari perbuatannya. "Alasannya karena saya adalah guru anda Nona Vataro. Jadi anda harus menuruti perkataan saya selama di sekolah ini." Jelas Frans sambil menatap Abela tajam. Bukannya takut, Abela malah balik menatapnya. "Benar, anda memang guru saya. Tapi sayang sekali, saya tidak peduli dengan hal itu. Ah iya, sebagai murid yang baik saya ingin mengingatkan anda sesuatu Pak. Jika anda sedang kedatangan tamu, sebaiknya anda memakai sesuatu yang dibutuhkan bagi tamu anda, supaya tidak tembus dan jatuh menetes di lantai. Sekian." Ucap Abela sinis lalu langsung meninggalkan kelas dengan seringaian yang selalu terukir cantik di bibirnya. Lantai? Otomatis Frans langsung melihat ke bawah dan menemukan bercak merah di lantai dan celana bahannya menyerupai darah. Frans menahan amarah sedangkan seluruh siswa si kelas itu menahan tawa mereka melihat Abela yang berbuat ulah lagi. "ANJIRRR ELA KEREN BANGET COEG BISA BIKIN ITU GURU MARAH SAMA NAHAN MALU DI HARI PERTAMA DIA NGAJAR!!" Teriak Friska, Nadine, dan Yova di dalam hati tentunya karena mereka masih sedikit lebih waras dari Abela. Abela berjalan santai di koridor. Hatinya sangat senang karena ia berhasil mengerjai guru barunya. Saat sedang berjalan santai, tiba-tiba muncul Bu Fina, guru BP dari arah depan tak jauh darinya yang sedang menatapnya tajam. 'Anjir mati gue ketemu macan betina jirr bisa tamat nih gue.' Batin Abela. 1 . . 2 . . 3 . . "KYAAAA KABUURRR!!" Teriak Abela sambil berlari menjauhi Bu Fina. "Abela jangan lari kamu!" Bu Fina mengejar Abela yang sudah lumayan jauh darinya. Abela berlari menyusuri koridor yang sepi karena jam istirahat sudah usai. Ia berbelok lalu melihat kelas 12 MIA1, kelas Abelano kosong tidak ada gurunya lalu langsung masuk tanpa tau malu hingga membuat semua tatapan mata di kelas itu melihat ke arahnya. Ia masuk dengan terengah-engah mengatur nafasnya lalu menatap seluruh penjuru kelas itu sambil menaruh telunjuk di bibirnya agar mereka semua diam dan mereka semua mengangguk mengiyakan permintaan Abela sambil terkikik. Abela langsung berlari menuju kolong meja Abelano untuk bersembunyi. Abelano menatap kembarannya malas. Hal ini sudah biasa terjadi berulang kali hingga membuatnya bosan. Pintu kelas Abelano terbuka sedikit keras dan muncul Bu Fani dengan nafas yang terengah-engah. "Ada yang melihat Abela?" Tanya Bu Fani sembari mengarua nafasnya. Serempak semuanya menggeleng. "Baik, terimakasih." Bu Fani segera pergi dari kelas itu. "Akhirnya selamet gue dari itu guru." Abela keluar dari kolong meja Abelano lalu langsung duduk di pangkuan Abelano dan menyenderkan kepalanya di d**a bidang Abelano. "Kali ini lo buat ulah apa lagi hem?" Tanya Abelano sambil menyeka keringat Abela menggunakan tangannya. "Oh, tadi gue cuma ngerjain guru pelajaran edan bin laknat." "Wait, guru pelajaran edan bin laknat? Fisika maksud lo Bel?" Tanya Audry yang duduk di depan Abelano. "Iya Ry." "Gila! Dia kan guru baru udah lo kerjain aja." Komentar Brian yang duduk lumayan jauh darinya tapi masih bisa mendengar suara Abela. "Kebiasaan. Emang lo ngerjain kaya gimana?" Tanya Abelano. "Cuma gue siramin sedikit tinta merah di celana bahannya sama gue tetesin dikit di lantai. Nah kan jadi kaya orang yang nembus gara-gara kedatangan tamu bulanan. Udah itu doang." Jelas Abela polos yang membuat kelas itu seketika hening. Tapi beberapa detik kemudian mereka tertawa. "Gila sumpah gue salut banget sama lo Bela." "Itu guru baru ngajar sehari udah lo kerjain aja keren banget lo Bel." "Lain kali ajarin gue trik ngerjain guru dong Bel." "Bela the best lah pokoknya." "Kebiasaan banget sih lo." Abelano menggelengkan kepalanya. Abela hanya mengeluarkan cengirannya. "You know me so well broth-... awww sakit sakit." Tiba-tiba telinga Abela dijewer oleh Frans yang entah kenapa sudah ada di kelas Abelano, tentunya saat sudah berganti celana. "Berani ya kamu ngerjain saya." Ucap Frans masih tetap menjewer telinga Abela. Seluruh murid di kelas itu menahan tawa melihat Abela yang meringis karena dijewer oleh guru fisika mereka yang baru. "Awww sakit Pak sakit ih lepasin dong nanti kalo kuping saya putus terus berdarah gimana? Bapak mau tanggung jawab? Bapak mau ganti pake kuping Bapak? Engga kan? Makanya lepasin dong." "Tidak akan. Sekarang kamu ikut saya." Frans membawa Abela keluar dari kelas itu sambil tetap menjewer Abela. Tawa murid di kelas itu pacah saat Abela dan Frans keluar dari kelas itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN