"LEONNA ABELA VATARO!" Teriak Frans karena mukanya hitam oleh tinta spidol.
Frans ingin bersiap mengejar Abela tapi
PRANG BLETAK KEDEBUG SWING PLETAK PLETEK TRANG
Barang-barang Frans yang ada di mejanya jatuh karena saat ia ingin berlari, taplak meja yang diikat oleh Abela di tali gesper Frans ikut tertarik dan semua barang Frans yang ada di meja jatuh.
Frans sangat geram terhadap murid pintar tapi troblemaker itu.
"Itu anak bisa gje telen gak sih? Bisa-bisa gue darah tinggi terus kalo disini." Gumam Frans frustasi.
Frans segera pergi ke kamar mandi yang ada di ruangannya dan mencuci wajahnya yang sudah belepotan dengan tinta spidol hitam.
Setelah selesai mencuci wajahnya, Frans segera mencari Abela. Ia mengelilingi sekolah tapi tidak menemukannya.
Tempat terakhir yang dituju adalah lapangan basket. Dan ya, Abela ada disana sedang bertanding basket melawan Abelano, kakaknya.
"Jadi troublemaker itu bisa maen basket." Frans terus memperhatikan Abela dan Abelano bermain basket.
~~~
Jam sekolah sudah berakhir. Frans masih memasukkan nilai ke buku nilai dan menggelengkan kepalanya melihat nilai Abela yang terus saja 'do-re-mi'.
"Gimana caranya bikin ini anak suka sama pelajaran gue?" Frans memijit pelipisnya.
Setelah selesai memasukkan nilai, Frans memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tapi sebelum pulang Frans tidak sengaja melihat Abela sedang bermain basket di taman komplek dekat rumah mereka.
Rumah Frans dan Abela ternyata hanya berjarak beberapa blok dan dipisah dengan taman komplek, jadi Frans selalu melewati taman komplek dulu sebelum sampai di rumahnya.apa banget ini bahasa gue -_-
Frans turun dari mobilnya lalu berjalan menuju lapangan basket yang ada di komplek taman itu. Tepat pada saat itu Abela men-shoot bola dan bola itu meluncur dengan mulus ke ring.
Prok prok prok
Frans bertepuk tangan. Abela membalikkan badannya. Ia langsung mendengus ketika berbalik karena yang bertepuk tangan adalah Frans, guru pelajaran edan bin laknat itu.
"Bapak ngapain disini? Pergi sana, saya males berusan berantem sekarang soalnya lagi gak mood." Ketus Abela lalu mendribble dan memasukan bolanya ke dalam ring lagi.
"Aku gak mau ganggu kok sayang, aku cuma mau ngasih penawaran aja." Ucap Frans santai.
"Penawaran? Penawaran apa?" Abela mengerutkan keningnya.
"Jadi aku mau nantang kamu tanding basket. Kalo aku menang kamu harus nerima aku sebagai pacar kamu seutuhnya dan kamu harus mau nurutin semua perintah aku. Perintah yang masih batas wajar tentunya." Tambah Frans saat melihat Abela memelototinya.
"Terus kalo saya yang menang?" Tanya Abela.
"Gimana kalo nilai fisika kamu aku kasih 90 dan aku gak akan ganggu kamu lagi."
"Tambah ya saya mau ditraktir makan selama sebulan." Tawar Abela.
"Ok." Mata Abela berbinar.
Frans menggulung kemeja lengan panjangnya dan melepas dua kancing kemejanya. Abela melongo dan sempat terpesona melihat pemandangan gratis itu.
'Anjirrrr gila ini guru gue? Kok gue baru nyadar kalo dia ganteng banget! GUE BUTUH OKSIGEN PLISSS! DD GAKUADH KAMERA MANA KAMERA?!' Teriak batin Abela.
Frans menyeringai karena ia melihat Abela yang memperhatikannya tanpa kedip. Misinya sepertinya akan berjalan mulus.
Pertandingan dimulai dan bola langsung berada di tangan Frans. Abela langsung berusaha merebutnya dan berhasil mencetak three point.
Frans juga tidak mau kalah. Ia juga berkali-kali memasukkan bola ke dalam ring. Abela juga melakukan hal yang sama.
Hingga waktupun habis dan pemenangnya tidak lain dan tidak bukan adalah Frans dengan skor 12-8. Frans sangat jago bermain basket karena dulu saat SMA ia dipilih sebagai kapten basket di sekolahnya.
Abela melempar basketnya asal karena kalah. Ia tidak mau menjadi pacar guru sablengnya sekaligus menuruti perintahnya yang pasti akan sangat merugikan Abela.
"Gimana sayang? Aku menang kan? Kamu harus nepatin kesepakatan kita." Frans mengeluarkan seringaiannya. Abela malah lemas mendengarnya.
"Mati gue hidup gue gak bakal tenang lagi." Gumam Abela pelan.
"Aku denger loh sayang."
"Bodo ah gue mau pergi bhay!" Abela berjalan pergi tapi tangannya ditahan oleh Frans.
"Inget perjanjian kita sayang." Frans mengeluarkan seringaiannya.
Glek
'MATI GUE MATI COEG RASANYA GUE PENGEN MUTILASI INI GURU GANTENG DAH! Ehh tadi gue bilang ganteng ya? Ralat deh jelek aja. Tapi kenyataannya emang dia ganteng sih aarrgghhhh bodo ah.' Batin Abela berperang(?).
"Aish iya iya." Abela menghela nafasnya. Frans tersenyum penuh kemenangan.
"Ponsel kamu mana?" Frans menjulurkan tangannya.
"Buat apa?" Abela mengerutkan keningnya.
"Udah siniin."
"Nih." Abela memberikan ponselnya pada Frans. Frans dengan senang hati mengambil ponsel Abela lalu memainkan ponselnya.
"Bapak ngapain?" Abela memincingkan matanya curiga.
"Gak ngapa-ngapain kok kamu tenang aja. Ah udah nih." Frans memberikan ponsel Abela ke pemiliknya lagi.
"Oh iya aku mau kamu kalo diluar lingkungan sekolah jangan manggil aku 'Bapak'. Terus jangan ngomong formal lagi." Pinta Frans.
"Terus apa? Ok ok."
"Sayang? Darl? Honey? Baby?" Frans menaik-turunkan alisnya.
"Ewh jijik. In your dream." Abela memutar bola matanya malas.
"Ahahaha." Frans mengacak rambut Abela.
"Yak! Jangan diacakin ih."
"Ahaha maaf maaf darl." Frans merapihkan rambut Abela dengan jarinya.
Deg
'Jantung gue kok pada disko semua.' Batin Abela.semua? emang jantungnya ada berapa wkwk
"Ok yang lebih waras dan yang paling bener manggilnya 'Kak Frans' aja. Dan no protes ok?"
"Ok baby."
'Kayaknya gue harus beneran nerima ini guru biadab jadi pacar gue. Lumayan lah kalo jalan gak malu-maluin gara-gara dia ganteng, tapi sayangnya tetep aja dia guru dari pelajaran yang edan bin laknat itu.' Batin Abela mengeluh.
"Kamu mau pulang?"
"Gak ah aku masih mau main basket lagi." Abela mendribble bolanya lagi.
"Yaudah aku pulang duluan ya, aku masih mau ngoreksi kertas ulangan dulu." Abela hanya mengangguk.
"Kamu jangan lama-lama main basketnya, bye." Frans mengecup kening dan bibir Abela lalu langsung pergi.
Abela melongo, ia masih tidak percaya jika guru biadab pelajaran edan bin laknat itu adalah kekasihnya sendiri.
~~~
"ANOOOOOO." Abela langsung masuk ke kamar Abelano dan ikut berbaring disamping Abelano yang sedang membaca komik Naruto Shippuden lalu memeluknya.
"Apa? Berisik banget sih." Ketus Abelano tapi beda dengan perilakunya yang langsung memeluk dan mengelus rambut Abela.
"Eng...gak jadi deh." Abela menenggelamkan kepalanya di leher Abelano. Ia ingin bercerita tentang kejadian tadi pada Abelano tapi ia urungkan.
"Yaudah lo bisa cerita ke gue kapan aja kalo lo siap." Abelano mencium puncak kepala Abela.
"Ano..." Abela menatap Abelano dengan puppy eyesnya. Abelano memutar bola matanya malas.
"Apa? Lo minta apa hm?" Abelano tau jika Abela sudah mengeluarkan puppy eyesnya pasti dia akan minta sesuatu.
"Mau ice cream." Abela menusuk-nusuk pipi Abelano dengan telunjuknya.
"Yaudah lo mandi dulu terus kita ke kedai Magnum Cafe." Putus Abelano.
"Kyaaaa lo emang kembaran gue yang paling gue sayang." Abela mencium pipi Abelano berkali-kali. Abelano hanya terkikik melihat Abela sang ice cream lovers.
~~~
Abela dan Abelano sudah berada di Magnum Cafe dan sedang memakan pesanan mereka. Abela memakan ice cream dengan lahap hingga belepotan. Abelano terkikik melihatnya.
Drrttt drrttt
Ponsel Abela bergetar ada pesan masuk. Abela langsung mengeceknya.
From: My Handsome Boy
Makannya jangan belepotan gitu sayang nanti aku cium loh
"WHAT THE FU-..."
"Berisik Ela." Untung saja Abelano langsung membekap mulut Abela.
Abela syok membaca pesannya lalu mengedarkan pandangan matanya ke penjuru cafe dan berhenti di satu titik, Frans. Abela melotot melihat Frans, sedangkan Frans mengedipkan sebelah matanya.