Enam

1095 Kata
Hari ini Abela sedang bercanda dikelas bersama ketiga temannya. Ia tidak memperhatikan apa yang diterangkan oleh Frans. Frans melempar spidolnya yang otomatis dihindari oleh keempat murid durhakanya itu. Keempat murid itu hanya bersikap acuh tak acuh. "Untung gak kena." Dengus Nadine. "Apaan sih Pak?" Tanya Friska malas. "Tau ih ganggu aja kan kita lagi sibuk." Tambah Yova. "Iya nih Bapak kalo mau ngajar ya ngajar aja gak usah gangguin kita berempat. Anggep aja kita gak ada, simple kan?" Timpal Abela. "Kalian ini!" Suara Frans naik satu oktaf. "Apa?" Abela mengeluarkan seringainnya. "Bapak mau ngeluarin kita dari kelas?" Tanya Nadine semangat. "Leh ugha Pak. Kita dengan senang hati keluar dari kelas ini." Tambah Yova. "Kalo perlu sampe pulang Pak." Timpal Friska. "Jangan harap. Kalian pandai kan? Karna saya malas menjelaskan materi hari ini bagaimana jika salah satu dari kalian menjelaskan materi yang yang saya berikan tadi?" Frans mengeluarkan seringaiannya. Abela dan ketiga temannya saling tatap lalu mengabaikan Frans dan melanjutkan obrolan mereka yang tertunda. Emosi Frans sudah sampai di ubun-ubun. "Bagaimana jika Leonna Abela Vataro yang menerangkan materi hari ini? Dan gantikan saya menjadi guru sekarang. Dengar-dengar kamu paling pandai diantara kalian berempat." Abela memandang Frans malas. "Ok, siapa takut." Abela berdiri dari duduknya dan berjalan menuju depan kelas disamping Frans. Semua pasang mata melihat kearahnya. "Ehem ehem test test 1 2 3 gue check sound dulu sebelum ngajar." Semua teman Abela tertawa melihat Abela, tapi tidak dengan Frans. "Sekarang yang jadi guru saya kan?" Abela mengeluarkan seringaiannya. Frans hanya mengangguk. "Ok jadi...GUYS KARNA GUE JADI GURU SEKARANG, JADI SECARA RESMI PELAJARAN YANG EDAN BIN LAKNAT BERNAMA FISIKA ITU DIHAPUS KHUSUS UNTUK KELAS 12 MIA 2 ULALAAAA TRALALA TRILI-..." Frans buru-buru membekap mulut Abela sebelum Abela berbicara yang aneh-aneh lagi. "Baca halaman 137 dan kerjakan latihan soalnya. Saya ada perlu dulu sama Abela." Frans membawa Abela pergi dari kelas menuju ruangannya. Sepeninggal Abela dan Frans, para murid di kelas itu tertawa lepas. Mereka sudah biasa melihat kelakuan Abela seperti itu. Saat sudah sampai di ruangan Frans, Abela menggeplak tangan Frans karena dia kehabisan nafas. Frans yang menyadari hal itu langsung melepaskan tangannya. Abela mengambil nafas sebanyak-banyaknya. "Saya keabisan nafas ih guru kmvred dasar." Dengus Abela. "Kan aku bisa ngasih kamu nafas buatan kalo kamu kehabisan nafas." Frans mengedipkan sebelah matanya. "Jijik ewh." Dengus Abela. Frans menarik tangan Abela lalu membawanya menuju sofa yang ada di ruangan itu. Frans mendudukkan Abela di pangkuannya. "Apaan sih ih." Abela mencoba berdiri tapi tidak bisa karena Frans memeluk pinggang Abela. "Aku mau berduaan sama kamu. Untung aja kamu bikin ulah jadi aku punya alesan buat bawa kamu kesini." Frans menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Abela. "Nyesel gue bikin ulah tadi." Abela menghela nafasnya. "Aku sih seneng-seneng aja kalo perlu kamu bikin ulah terus di pelajaranku aku rela kok sayang." Ucap Frans. "Serah ah udah sono jauh-jauh ih ini di sekolah Pak." Abela mendorong tubuh Frans tapi tidak bisa karena Frans memeluknya erat. "Jangan ngomong terlalu formal sayang. Lagipula  kita kan cuma berdua." Abela memutar bola matanya malas. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Frans menangkup kedua pipi Abela lalu menempelkan kening mereka. "Ngomong apa?" Abela mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. "Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Aku mau kamu coba buat belajar sayang sama aku. Aku tulus sayang sama kamu, aku akan buat kamu beneran jatuh cinta sama aku, sayang ke aku. Dan aku akan nunggu sampe kamu bener-bener sayang sama aku." Ucap Frans. Deg "Ka...kamu serius?" Abela tergagap. "Aku serius sayang, sangat serius." Frans mencium kening Abela lama. Abela menutup matanya, ia merasa nyaman berada di dekat Frans. "Let's try." Ucap Abela tulus. "Makasih sayang." Frans mendekap Abela lagi. Abela tersenyum menganggukkan kepalanya, ia membalas pelukan Frans. "Yaudah kamu ke kelas gih." Frans mengelus rambut Abela. "Males ah aku ngantuk. Apalagi sekarang pelajaran edan bin laknat punya kamu noh rasanya aku jadi mules seketika." Abela menyenderkan kepalanya di d**a bidang Frans. "Jangan gitu lah liat noh nilai kamu. Kamu nanti kalo UN gimana?" Frans menarik pinggang Abela. "Entar liat nanti aja yang jelas aku ngantuk mau tidur." Abela menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Frans lalu memejamkan matanya. Frans menghela nafasnya, ia mengelus rambut Abela agar Abela nyaman. Tak lama kemudian Abela tertidur pulas. Frans menidurkan Abela di sofa. Ia mengecup bibir Abela singkat lalu pergi dari ruangannya. ~~~ "HOLLAAAAA LEONNA ABELA VATARO YANG CANTIK NAN IMUT BIN KIYUT BERSAMA LEONARD ABELANO VATARO YANG KADAR KEJELEKANNYA SUDAH SANGAT AKUT KAMBEK KE RUMAH KAMI TERCINTAH!" Teriak Abela dan dihadiahi jitakan mulus di keningnya oleh Abelano. "Berisik tau." Dengus Abelano. "Ih sakit." Abela mengerucutkan bibirnya. Abela dan Abelano langsung berjalan menuju ruang keluarga karena Peter dan Leonny sedang menonton TV disana. Abelano langsung duduk diantara Peter dan Leonny yang membuat Peter mendengus ke anak laki-lakinya itu. Sedangkan Abela langsung duduk di pangkuan Peter. "Halo ayah, bunda." Abela dan Abelano mengeluarkan cengiran mereka. "Kalian ganggu kita lagi berduaan aja." Dengus Peter. "Jangan dengerin ucapan ayah kalian kids, kalian udah makan?" Tanya Leonny. "Tuh bunda aja gak marah yee." Abela memeletkan lidahnya. Peter mencubit pipi Abela gemas. "Tau tuh ayah ribet banget. Ya gak bun?" Leonny hanya mengangguk mendengar ucapan Abelano. "Yah ke mall yuk, Ela bosen dirumah terus. Mumpung ayah lagi dirumah." Abela mengeluarkan puppy eyes andalannya yang pasti tidak pernah bisa dibantah oleh mereka semua. "Iya iya, Ela sama Ano siap-siap dulu sana. Nanti kita ke mall." Peter mengelus rambut Abela. "Beneran yah? Ayeaayyy ayo curut kita ganti baju!" Abela langsung menarik tas Abelano yang pastinya yang punya tas juga ikut tertarik. Abelano mendengus kesal. Peter dan Leonny tertawa melihat kelakuan kedua anaknya itu. Beberapa menit kemudian Abela dan Abelano sudah selesai siap-siap. Mereka memakai pakaian yang sangat pas di tubuh mereka yang membuat mereka semakin menawan.   Peter dan Leonny juga sudah siap. Lalu mereka langsung berangkat ke mall. Saat sudah sampai di mall, mereka memutuskan untuk menonton film dan berbelanja. Setelah mengitari mall selama dua jam, akhirnya mereka semua makan di restaurant yang ada disana. Mereka mencari tempat disamping jendela. "Biar bunda sama Ano aja yang pesen makanannya ya?" Abela dan Peter hanya menganggukkan kepala mereka. Leonny dan Abelano langsung pergi memesan makanan. "Yah, nanti beli ice cream dulu ya?" Abela mengeluarkan puppy eyes andalannya. "Tanpa kamu keluarin puppy eyes kamu itu ayah pasti beliin kok." Peter mencubit pelan pipi Abela. "Ayeayy makasih ayah I love you so much." Abela memeluk dan mencium pipi Peter. Ckrek Tanpa mereka sadari ada seseorang dengan seringai yang tidak lepas dari sudut bibir orang itu. Ia memotret Abela yang sedang memeluk dan mencium pipi Peter lalu langsung pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN